
Dapat dibayangkan betapa tegangnya hati Han Fu Ji yang melihat ke arah pertempuran dahsyat itu. Ternyata kepandaian tiga orang naga itu sama sekali tak dapat dipandang ringan. Gerakan mereka demikian cepatnya seolah seperti naga mengamuk.
Seorang Han Fu Ji yang selamanya belum pernah melihat ahli-ahli silat bertempur demikian hebatnya, membuat sepasang matanya silau dan beberapa kali dia terhuyung. Namun ia paksa terus untuk melihat untuk menanti bagaimana tiga orang pelecehnya itu akan tewas.
Di lain pihak, Sung Hwa sendiri merasa terkejut dan kagum bukan main. Dia yang sudah menguasai hawa sakti, dapat membedakan mana serangan yang digerakkan oleh hawa sakti atau tenaga dalam. Dan dalam pertarungan kali ini, dia benar-benar dibuat bingung.
Ternyata mereka bertiga itu kepandaiannya sudah demikian tinggi seolah mereka memang pendekar sejati itu sendiri. Namun setiap serangan masih digerakkan dengan tenaga dalam. Sampai sini tahulah Sung Hwa kalau tiga orang itu walaupun lihai, namun belum dapat disebut sebagai pendekar sejati. Namun untuk sekelas pendekar biasa, agaknya yang akan dapat mengalahkan tiga orang ini hanya dapat dihitung jari.
"Bress-bresss-plaaakk!!"
Pertarungan sudah hampir mencapai jurus ke dua ratus. Saat itu Naga Hitam dan Naga Putih melakukan serangan dengan saat yang hampir berbareng. Akan tetapi dengan kecekatannya, Sung Hwa tak hanya mampu menangkis melainkan malah berhasil mementalkan mereka dalam tangkisan itu.
Pada saat itu, belum ada satu tarikan napas, Naga Angin sudah menerjang dari depan. Sung Hwa dengan cepat balas menyerang dengan tapak tangan kanannya.
"Kau amatlah tangguh nona....!!" desis Naga Angin yang sedang beradu kuat ketika kedua tangan mereka saling tempel itu. Sungguh dia merasa kagum sekali.
Sung Hwa tersenyum miring mendengar pujian ini. Dia tidak hendak mengejek, namun memberi balasan pujian itu dengan senyuman. Hanya karena dia mengerahkan tenaga, sehingga ekspresi ngotot akan pengerahan tenaga dan senyum itu bercampur menjadi satu seolah seperti senyum mengejek.
"Hyaaahhh!!"
Dua orang berseru nyaring. Ketika itu di celah-celah antara dua telapak tangan meraka, nampak sinar kilat menyilaukan. Disusul terpelantingnya tubuh keduanya yang segera bergulingan.
Sung Hwa sudah cepat-cepat bangkit berdiri, dia sadar telah terluka dalam walaupun hanya luka ringan, maka dapat dengan cepat dia sembuhkan. Akan tetapi begitu debu mengepul telah sirna, nampaklah dia bahwa Naga Angin tadi telah menggeletak tanpa nyawa. Terlentang dengan mata serta mulut terbuka lebar.
"Sialan!!"
"Bangsat!"
Dua naga yang lain menjadi berang mengetahui naga terkuat mereka telah terlentang tanpa nyawa. Maka mereka sudah mengambil keputusan nekat, mengadu nyawa dengan gadis ini yang tentu sudah dapat dipastikan tak akan mampu mereka kalahkan.
Mereka melakukan serangan bersamaan dengan hawa berlainan, panas dan dingin. Naga Putih dengan hawa dingin sedangkan Naga Hitam dengan hawa panas.
Sung Hwa tak menjadi gugup dan mengerahkan tenaganya untuk memapaki dua serangan itu sekaligus.
"Blaaarr!!"
Sekali ini bahkan Han Fu Ji yang melihat dari jauh sampai terkejut dan jatuh terduduk dengan muka pucat. Angin bertiup kencang langsana badai mengamuk. Batu-batu dan pasir berterbangan ke segala arah, di tengah kekacauan itu, Sung Hwa memekik nyaring penuh kekagetan dan wibawa.
"Haaaaiiit!!"
__ADS_1
Dia sendiri pun terkejut jika serangan ini jauh lebih kuat dari yang tadi, kiranya dua orang itu telah mengerahkan tenaga terakhir dan tak punya keinginan menyelamatkan diri lagi. Sung Hwa pun sadar akan hal ini dan dia dapat menduga, tentu setelah ini dua lawannya akan jatuh tanpa nyawa.
Keduanya terus bersitegang mengadu tenaga sampai cukup lama. Makin lama, wajah dua orang itu makin pucat. Begitu pula dengan Sung Hwa yang masih awam soal hawa sakti, sehingga penguasaannya sungguhpun kuat, namun belum terlalu lihai. Dia mulai kerepotan walau keadaannya jelas lebih baik dari dua orang itu.
Hampir seperempat jam kemudian, tubuh kedua orang naga itu mulai bergoyang-goyang, disusul wajah yang kian memucat dan makin kurus. Lalu sekitar lima menit setelahnya, dua orang itu mengeluarkan pekik nyaring dan Sung Hwa dapat merasakan daya kejut luar biasa akibat daripada itu.
Ia terdorong beberapa langkah, namun ketika dapat mampu menyeimbangkan diri lagi, ternyata dua orang lawannya sudah jatuh menelungkup tanpa napas. Tahulah dia bahwa dua lawannya telah tewas.
Cepat-cepat ia jatuhkan diri bersila dan mengatur pernapasan. Bagainamapun himpitan dua tenaga tadi telah berhasil melukai sebelah bagian dalam tubuhnya.
Ketika sudah selesai dan membuka mata, hampir dia terperanjat saat mengetahui di sebelahnya telah duduk bersimpuh seorang gadis muda. Seorang gadis cantik namun wajahnya pucat penuh kedukaan.
"Nona gagah perkasa, kau sungguh mengagumkan hatiku dan kiranya hanya engkau seorang yang saat ini dapat kumintai tolong." kata gadis itu penuh permohonan yang bukan lain adalah Han Fu Ji.
...****************...
Dengan dalih tak nyaman melihat mayat ketiganya, Sung Hwa mengajak Han Fu Ji mendaki ke puncak bukit sebelah depan. Selain memang untuk menjauhi tiga mayat itu, dia juga ingin sedikit mengurangi kesedihan di wajah Han Fu Ji dengan memperlihatkan pemandangan indah di atas bukit ini, di pinggiran tebing yang menampak hamparan bukit-bukit dan gunung-gunung indah. Han Fu Ji tak menolak.
"Tunggu!" kata Sung Hwa cepat-cepat ketika Han Fu Ji hendak bercerita. Ini kedua kalinya Sung Hwa menolaknya untuk buka mulut.
"Akan kucarikan makan dulu." katanya lagi dan sudah melesat cepat meninggalkan Han Fu Ji yang bengong terlongong.
Setelah dia selesai, Sung Hwa terkejut bahwa daging kelinci di tangan Han Fu Ji tak habis. Lekas dia bertanya, "Mengapa tak kau habiskan?"
"Tak ada perlunya."
"Heh?" Sung Hwa memasang wajah bingung, "Maksudmu?"
"Dengarlah ceritaku nona! Karena aku benar-benar butuh bantuanmu!" kali ini Han Fu Ji berkata tegas. Sedikit mendesak Sung Hwa.
"Kau percaya padaku jika aku dapat membantumu?"
"Nona pasti orang baik, aku yakin!" tegas Han Fu Ji.
"Kau pasti sudah tahu aku seorang pemberontak." Sung Hwa tersenyum pahit.
Han Fu Ji menatap sepasang mata itu penuh perhatian. Dia tak memedulikan lagi dan lekas bercerita.
"Ini terjadi belum lama, desa kami...."
__ADS_1
Cerita itu didengarkan oleh Sung Hwa penuh perhatian. Makin lama wajahnya kian menegang saking hebatnya cerita itu. Betapa ibunya diculik orang dan akhirnya diketahui bahwa pelakunya adalah orang yang mengaku berjuluk Rajawali Merah. Kemudian datang dua pendekar yang bernama Sung Han dan Yang Ruan.
Bentrokan antara Sung Han dengan orang-orang tak dikenal, yang akhirnya ia ketahui bahwa kemungkinan itu adalah Sung Han palsu. Lalu penyerahan Sung Han sebagai tumbal, betapa pemuda itu tidak marah sama sekali. Penangkapan Sung Han, kematian ibunya setelah dia dan ibunya diperkosa dan lain sebagainya. Tanpa dikurangi dan ditambah.
Sung Hwa merasakan panas dihatinya ketika gadis di hadapannya ini memuji-muji Sung Han berulang kali. Bagaimanapun, masalahnya dengan Sung Han adalah urusan pribadi, orang luar tak boleh tahu! Maka dia hanya diam dengan raut wajah datar.
Setelah selesai bercerita, berkatalah Sung Hwa, "Lalu, apa bantuan yang bisa kulakukan untukmu nona?"
Han Fu Ji menarik napas panjang, dia melepas gelangnya, "Sungguh aku merasa menyesal dan berdosa kepada kak Sung Han, dia seorang pendekar yang jujur namun aku malah menyerahkannya kepada orang jahat." Sambil berkata demikian, Han Fu Ji menyerakan gelangnya kepada Sung Hwa.
"Apa maksudnya ini?" heran Sung Hwa ketika diberi gelang itu. Dengan bingung dia menerimanya.
"Aku ingin, agar nona mencarinya dan menyampaikan permintaan maafku. Aku tahu ini merepotkan karena kita baru pertama kali jumpa, namun aku tak memaksa. Jika nona tak berkenan, maka tak apalah jika tidak melakukan permintaanku ini. Namun hanya pesanku, agar nona membawa gelang itu sebagai hadiah."
"Uh...baiklah." Sung Hwa yang masih bingung, berkata gugup sambil mengagumi gelang itu. Kebetulan sekali, dia pun hendak mencari Sung Han
Han Fu Ji menampakkan raut penuh kelegaan. Dia menghela napas dan berjalan ke depan menuju tebing curam itu. Pemandangan di bawah sungguh indahnya.
Dia berdiri di pinggiran tebing itu, "Oh...satu lagi, tolong sampaikan pesanku ini."
"Nona, aku akan mencari Sung Han. Katakanlah apa pesanmu." Sung Hwa menekan-nekan rasa marahnya terhadap Sung Han dalam perkataannya ini.
"Katakan padanya, kau orang baik...."
"Ahhh....Nona!!!!"
Sung Hwa cepat melompat, kepandaian meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi sampai seperti terbang cepatnya. Namun tetap saja kurang cepat untuk mencegah tindakan nona Han itu.
Selesai berkata demikian, Han Fu Ji dengan mulut tersenyum melangkahkan kakinya ke depan, membiarkan kaki itu berjalan di udara tanpa pijakan. Tak berselang lama, kaki sebelahnya tanpa perlawanan membiarkan tubuhnya mendoyong ke depan. Air matanya mulai mengalir.
"Sekarang, semuanya telah selesai......" gumaman ini hanya dapat di dengar oleh hati kecilnya. Dia memejamkan mata.
"Nonaaaaa!!!" Sung Hwa histeris melihat Han Fu Ji yang tanpa ragu menerjunkan diri ke dalam tebing curam itu. Dia memandang dari pinggir tebing dengan muka pucat.
Ketika itu, tubuh Han Fu Ji yang sedang meluncur deras hanya terlihat sebagai titik hitam kecil. Mustahil untuk diselamatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1