Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 210 – Tujuan Berikutnya


__ADS_3

"Semangatlah sedikit," ujar Sung Han. "Setidaknya jangan buat orang di sekitarmu ikut larut dalam kesedihan."


Sung Hwa mendelik, ingin rasanya ia menampar pelipis pemuda itu ketika ia berkata dengan bersungut-sungut. "Jangan bicara seolah kau lebih semangat dariku!" Kemudian lanjutnya. "Korban asmara."


Memang keadaan Sung Han dan Sung Hwa sangatlah memprihatinkan. Dua orang saudara sepupu yang sangat jauh itu sedang dibendung duka dengan perginya sosok yang paling berharga.


Yang Ruan, tanpa dapat diduga oleh keduanya, ternyata mereka menganggap gadis itu lebih berharga dari apapun di dunia ini. Setelah kepergiannya, barulah terasa oleh keduanya jika saat ini mereka tak punya siapa-siapa. Sung Hwa yang mencinta gadis itu sebagai saudara, dan Sung Han yang mencinta gadis itu sebagai seorang wanita. Kepergiannya benar-benar menyiksa hati.


Sudah dua hari mereka berada di kaki gunung tempat di mana pertarungan itu berlangsung. Mereka belum punya nyali untuk keluar dan berhadapan dengan banyak tokoh sakti yang memperebutkan pedang gerhana itu. Bukannya teramat takut, namun alasan terbesar yang membuat mereka untuk berdiam di tempat ini beberapa waktu adalah karena kedukaan itu. Jika mereka harus menghadapi musuh dalam keadaan batin tertekan, entah nasib buruk apa yang akan dihadapi.


"Apa yang akan kita lakukan ke depannya?" tanya Sung Hwa.


Setelah beberapa saat, terdengar Sung Han menjawab. "Kenapa kau putus asa begitu. Perginya Yang Ruan bukan berarti hilang semua tujuan hidup kita."


Kembali Sung Hwa mencebikkan lidah dan mendelik. Memelototi pemuda itu. "Aku ragu jika aku tak ada di sini, kau sudah menggorok leher sendiri."


"Hmph, seorang gagah tak akan mengambil jalan bunuh diri dan lari dari kenyataan dalam keadaan apa pun juga!!" tegas Sung Han.


"Bagaimana jika hukum dunia mengatakan jika bunuh diri merupakan tindakan biasa yang diwajarkan. Maksudku, yang tidak membuat seseorang dianggap pengecut?"


Sung Han tak langsung menjawab. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menentramkan batinnya.


"Bagaimana tanggapanmu?" Sung Hwa bertanya lagi.


Sung Han menghela napas panjang. "Kalau benar begitu, pasti sudah kulakukan dari kemarin."


"Kalau begitu aku tak akan pergi dari sampingmu! Julukanmu Setan Tanpa Wajah ternyata tak semengerikan itu." Sung Hwa menjawab ketus.


"Jangan anggap serius," Sung Han menyahut. "Hanya bercanda."


Keduanya lalu saling diam cukup lama. Sampai matahari tiba di ufuk barat, belum juga ada yang bergerak dari tempat duduk masing-masing, dan belum juga ada yang membuka pembicaraan.


"Besok kita pergi dari sini."


"Kenapa nada bicaramu seperti memerintah?" Sung Hwa tak terima.


"Kau akan setuju denganku."


Sung Hwa diam. Memang dia setuju dengan pemuda itu. Untuk apa berlama-lama di tempat ini? Mungkin ketika mereka sedang bercakap-cakap ini, kekaisaran Jeiji sedang menghimpun kekuatan untuk meruntuhkan Chang.


"Sung Hwa?" nada suara Sung Han melembut, tidak putus asa seperti sebelumnya.


"Apa?"


Sung Han memandangnya penuh arti. "Bisa tolong carikan makan? Aku lapar, haus juga."


"Kau kira aku ibumu? Mati sana!!"

__ADS_1


...****************...


Keesokan paginya, mereka segera berkemas untuk meninggalkan wilayah ini. Belum tahu secara pasti mereka hendak pergi ke mana, yang jelas tidak ke kota raja. Karena status Sung Hwa masih buronan, dan Sung Han sudah diketahui bahwa ia masih hidup.


Sung Han menyembunyikan dua pedang gerhana di balik lengan jubah. Melindungi tubuhnya dengan mantel hitam lebar, caping dan kain hitam penutup wajah, dia sudah siap berangkat.


Demikian pula dengan Sung Hwa. Gadis itu bahkan sudah siap sejak tadi.


"Kita hendak pergi ke mana?"


"Tidak tahu," jawab Sung Hwa seadanya. "Aku pun bingung mau pergi ke mana. Sebelumnya kami hanya ikut guru, lalu setelahnya membalas dendam. Dan sekarang ..., entah."


"Aku baru saja keluar dari tempat pelatihanku. Bagaimana pergerakan Jeiji di utara akhir-akhir ini?"


"Jenderal Hong Ciu katanya telah tewas," jawab Sung Hwa.


"Siapa?"


"Jenderal nomor satu di kekaisaran, yang menggantikan posisi tuan putri di selatan sana," jelas Sung Hwa. "Karena hal inilah wilayah selatan Chang berhasil jatuh ke tangan Jeiji."


"Karena itu pula yang menyebabkan Jeiji lambat laun mulai menginvasi utara?"


"Kurang lebih begitu," kata Sung Hwa. "Setiap hari entah sedikit atau banyak, orang-orang Jeiji dari selatan melewati Pegunungan Tembok Surga dan datang ke utara. Mungkin mereka hendak menghimpun kekuatan di sini."


"Namaku Setan Tanpa Wajah belum lama ini dikenal orang dan itu kudapat setelah menghabisi orang-orang Jeiji," ujar Sung Han. "Semuanya masih berkumpul di utara."


"Itu artinya, mungkin sekali jantung kekuatan mereka masih berkumpul dekat Pegunungan Tembok Surga. Sedangkan yang sudah sampai wilayah utara sini adalah para penyelidik mereka."


"Benar," timpal Sung Hwa. "Kemungkinan begitu."


"Kita harus menyelidiki ini."


"Apa?" kaget Sung Hwa.


"Lalu mau apa lagi? Kita buronan, selain mendekam di dalam goa, tugas kita sebagai pendekar harus membasmi segala macam penjajah!" Sung Han menegaskan.


"Aku ikut!" Sung Hwa menyahut. "Aku bingung hendak pergi ke mana."


Sung Han mengangguk. "Kalau begitu mari bergegas."


Maka berangkatlah mereka pada pagi hari itu menuruni kaki gunung itu. Melakukan perjalanan yang tidak terburu-buru, hanya berjalan santai selayaknya orang berpelesir.


Ketika hari sudah terang, mereka sampai ke jalan yang mulai datar. Namun keduanya merasa heran dengan keadaan di sana. Banyak orang dari berbagai golongan, duduk di sana-sini seolah menunggu sesuatu.


Sebelum keduanya sempat menyadari, terdengar suara siulan nyaring yang serentak menyadarkan mereka semua. Dengan gerakan bersamaan, orang-orang itu bangkit dari duduk dan memandang ke atas, tanpa mampu dicegah lagi pandangan mereka bertemu dengan pandangan dua muda-mudi itu.


"Sial! Mereka sudah menunggu kita dari kemarin!" Sung Han berkata.

__ADS_1


"Ada lima puluh orang lebih, apa yang harus kita lakukan?"


"Terpaksa, kita ambil jalan aman. Aku tak mau adanya pertumpahan darah di antara bangsa sendiri mengingat akan penjajahan."


Saat itu Sung Hwa tidak banyak membantah dan menurut oleh ucapan Sung Han.


Sung Han mengambil jalan menuju jalur timur. Mereka langsung mengerahkan ilmu lari cepatnya tanpa tanggung-tanggung lagi. Nyawa mereka dipertaruhkan di sini.


Akan tetapi yang berkumpul di sana itu adalah orang-orang berilmu tinggi. Bukan sekadar jago kampung tukang pukul. Maka baru saja beberapa langkah melesat, mereka sudah dikurung tujuh orang yang sikapnya kereng sekali.


"Perlahan dulu, orang muda," ucap salah satunya menghentikan keduanya.


Sung Han tak mau ambil sikap basa-basi, ia turunkan capingnya untuk menyembunyikan wajahnya. Suaranya terdengar seperti dari alam lain.


"Ada apa sobat?"


"Hahaha, tak usah kau malu dengan menutup mukamu. Kami sudah mengerti bahwa kau adalah Sung Han yang ternyata belum mampus!" ujar suara lainnya.


Sung Han diam-diam mengumpat. Saat itu mereka sudah dikurung makin banyak orang.


"Sung Han!" seru seseorang entah dari mana. Sung Han tak mau repot-repot mencarinya. "Untukmu saja cukuplah satu pedang, berikan salah satu pedangnya kepada kami."


"Mengapa harus?"


"Anak muda, kau tak bisa terlalu serakah."


Sung Hwa menggertakkan gigi. Gadis yang berwatak keras ini membentak. "Kalianlah yang serakah! Sung Han merupakan pewaris Pedang Gerhana Matahari. Dan pemilik Pedang Gerhana Bulan baru saja mati. Tak ada yang boleh lebih pantas memilikinya daripada Sung Han!"


"Rajawali Merah!" seru suara dari kanan. "Pemberontak hina, tentu saja kau menghendaki pedang itu pula!"


"Bangsat!"


Sung Han sudah menarik tangan gadis itu untuk mendekat ke sisinya.


"Kalau aku menolak?" tanya Sung Han. Sama sekali tidak menunjukkan rasa takut karena sudah menduga akan hal ini sebelumnya.


Pandangan semua orang menjadi tak suka. Lalu entah dari mana, terdengar jawaban. "Kalau begitu, artinya pertumpahan darah."


Sung Han mengeluarkan Pedang Gerhana Bulan dari balik lengan bajunya, memberikannya pada Sung Hwa.


"Fokus cari jalan keluar, setidaknya salah satu dari kita harus keluar dalam keadaan hidup!"


Sung Hwa tak ada waktu untuk menjawab karena pengeroyokan banyak orang itu sudah dimulai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2