Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 256 – Titah Kaisar


__ADS_3

Putri Chang Song Zhu kemudian memutuskan untuk mengirim seorang utusan pergi menuju ke kota raja guna mengabarkan segalanya pada kaisar. Tentang kedatangan Sung Han dan Sung Hwa serta kemungkinan buruk itu.


Selain mengirim seorang utusan, dia juga menyuruh para jenderal dan perwiranya untuk melatih barisan prajurit dengan lebih ketat lagi. Menciptakan berbagai macam siasat, barisan pengepungan atau pasukan pendam. Semua ini dilakukan untuk menambah kemahiran perang para prajurit tersebut.


Untuk para pendekar sendiri, mereka telah melakukan latihan mandiri tanpa disuruh terlebih dahulu. Meditasi di kamar masing-masing, adu ilmu dengan teman, atau berlatih dengan berburu binatang di hutan.


Namun dari itu semua, yang paling mencengangkan dan menakjubkan adalah latihan lima orang Raja Dunia Silat generasi dua. Latihan ini kadang-kadang menyita perhatian para pendekar maupun para prajurit. Sehingga tak jarang banyak yang menonton secara sembunyi-sembunyi.


Bagiamana tidak, latihan yang mereka lakukan terlalu berbahaya dan jika tak ingat mereka adalah seorang pendekar tingkat tinggi, kiranya tak mungkin ada orang berani melakukan latihan sehebat itu.


Nie Chi, si Pendekar Tongkat Besi, berlatih teknik pernapasan dengan cara kelewat aneh. Dia menancapkan tongkat besinya ke langit-langit goa, lalu kakinya melingkar ke tongkat itu dan membuat tubuhnya bergantung dalam posisi terbalik. Selain bermeditasi, dia juga harus memfokuskan diri untuk menjaga keseimbangan dan kekuatan tongkat agar terus menancap. Sekali gagal dan tongkat itu jatuh, kepalanya bisa remuk mengingat ketinggian langit-langit itu ada sepuluh meter.


Khuang Peng si Pendekar Pedang Darah, melatih kekuatan otot tangan dan ketajaman pedangnya dengan cara di luar nalar. Setiap hari dia melompat dari atas tebing lalu menancapkan pedang itu ke tebingnya. Jika sampai tubuhnya tertahan, maka dia akan kembali naik lagi ke atas dan mengulang perbuatannya. Dia menganggap latihan itu berhasil jikalau sekali lompat dengan pedang menancap pada dinding tebing, sama sekali tidak berhenti dan menciptakan garis lurus dari atas sampai ke dasar.


Masih di dekat tebing Khuang Peng, Gu Ren lebih hebat lagi. Bahkan dia ini harus dikawal beberapa anggota Naga Hitam yang mengkhawatirkan keselamatannya selama latihan.


Pasalnya, pria paruh baya ini yang memiliki ilmu angin dahsyat sekaligus berfokus pada ilmu meringankan tubuh, melatih jurusnya dengan cara seperti orang mau bunuh diri. Melompat dari atas tebing, kemudian dengan kedua kipas dikebut-kebutkan, dia mencoba menuruni tebing hanya menggunakan kaki. Tangannya hanya berfungsi sebagai penyeimbang. Begitu pula dengan naik. Dia melakukan itu berulang-ulang.


Untuk suami istri bermarga Sung, latihan mereka terbilang paling normal dan sederhana. Namun sejatinya, di mata para ahli, latihan merekalah yang paling berbahaya dan seperti orang bosan hidup.


Mereka berdua setiap hari melakukan latihan kekompakan, bukan dengan beradu pedang atau ilmu silat, melainkan beradu hawa sakti. Keduanya duduk bersila dengan jarak lima meter. Dengan kedua tangan terangkat ke depan, kemudian menembakkan hawa sakti sekuatnya satu sama lain.

__ADS_1


Nantinya, hawa sakti itu akan bertemu dan bersitegang. Inilah bagian berbahayanya. Semua pendekar tahu jika sedang beradu tenaga dalam atau bahkan hawa sakti, mereka sama sekali tak boleh diganggu atau salah satunya celaka bahkan mungkin si pengganggu itu yang celaka.


Demikian pula dengan sepasang suami istri ini. Jika saja salah satunya ceroboh dan lengah sedikit saja, tak menutup kemungkinan akan terhimpit tenaga sendiri ditambah tenaga pasangan dan berakhir tewas. Bahkan mereka juga merubah-rubah unsur dalam hawa sakti. Kadang panas, kadang dingin.


Untuk mengakhiri latihan, mereka harus mengurangi tembakan hawa sakti perlahan-lahan, secara bersamaan atau salah satunya akan tewas. Lebih hebatnya, semua itu dilakukan tanpa suara, hanya melalui kode mata dan gerak bibir saja. Itu adalah latihan kekompakan yang sangat gila.


Demikianlah hingga beberapa hari bahkan minggu, keadaan sama sekali tak berubah. Mereka sedang menunggu perintah dari kaisar dan dalam waktu itu, memfokuskan diri untuk meningkatkan kekuatan.


...****************...


"Utusan baginda kaisar!"


Mendengar seruan disusul lonceng ditabuh ini, semua prajurit yang berada di dekat sana menepi dan memberi jalan kepada seorang panglima yang naik seekor kuda besar.


"Selamat datang saudara, mari masuk," ujar Jenderal Tang menyambut kedatangan tamu. Dia mengambil pelana kuda, berniat mengarahkan kuda itu ke kandang, namun panglima itu enggan turun.


"Maaf jenderal, tapi saya amat terburu-buru dan ingin segera melanjutkan tugas. Tolong sampaikan surat ini kepada paduka putri, ini titah dari kaisar langsung," panglima itu berkata, lalu melompat turun dari kuda dan menyerahkan sepucuk surat. "Saya harus pergi ke benteng sekitar sini dan mengabarkan hal yang sama."


"Mari saya antar langsung ke paduka putri."


Panglima itu menggeleng. "Tidak perlu, saya percaya kepada anda, Jenderal Tang. Ini gawat."

__ADS_1


Kemudian panglima ini naik lagi kudanya dan memberi hormat. Dengan sikap terburu-buru, dia membentak dan kudanya lalu lari cepat keluar dari benteng tersebut.


Jenderal Tang tak merasa tersindir sungguhpun sikap itu sedikit tak sopan. Memberikan surat yang seharusnya langsung diberikan kepada tuan putri, namun dia malah memberikannya kepada orang lain.


Akan tetapi mengingat situasi sekarang, jenderal Tang tak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Dia segera lari ke kediaman tuan putri berada dan sesampainya di sana, segera diketuklah pintu itu.


"Masuk!" suara berwibawa yang khas terdengar dari dalam.


Jenderal Tang masuk dan tanpa basa-basi, memberi hormat lalu berkata. "Baru saja seorang panglima dari kota raja, mengirimkan surat ini untuk paduka."


Putri Song Zhu buru-buru menyambar surat itu dan membolak-balikkannya. Memastikan apakah surat itu benar-benar dari kaisar. Akan tetapi keningnya berkerut. Tanpa mengalihkan perhatiannya, dia bertanya. "Kenapa tak langsung diberikan kepadaku?"


Jenderal Tang memaklumi ketidak senangan tuan putri. "Mohon dimaklumi paduka. Panglima itu berkata dia harus segera mengabarkan hal yang sama ke benteng-benteng lainnya."


Wanita itu mengangguk-angguk paham. Kemudian merobek ujung surat dan membukanya. Dibacalah surat itu penuh perhatian, wajah tuan putri selalu nampak tegang dengan kedua alis seakan hampir bersatu. Ini membuat jenderal Tang ikut tegang juga.


Setelah beberapa waktu, akhirnya dia membacakan isi surat itu keras-keras. "Laporanmu benar, banyak yang mengatakan serupa, bahwa para pasukan Jeiji yang terkurung di utara sedang berdiam diri di suatu tempat untuk menunggu. Namun dari penjelasanmu, kini kami tahu siapa yang sedang ditunggu oleh pasukan terkurung itu. Maka dengan perintahku, hancurkan mereka sebelum pasukan dari selatan tiba. Semoga saja dugaanmu benar bahwa kita sedang mendapat uluran tangan dari kerajaan manusia gunung."


Tuan putri menutup surat itu kembali dan menghela napas. "Begitulah isinya," dia melirik jenderal Tang. "Lakukan apa yang baginda perintahkan. Siapkan prajurit, masing-masing jenderal membawa satu pasukan. Lalu tolong panggilkan Raja Dunia Silat kemari!"


Jenderal Tang mengangguk dan menjura dalam. "Baik, paduka!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2