
Puluhan orang itu hanya mampu main mundur menghadapi amukan pedang Sung Han. Tepat ketika tangan kanan pemuda ini mencekal pedang itu, pikiran aneh serasa merasuki kepalanya dan membuat Sung Han gelap mata.
"Bunuh....bunuh....bunuh...."
Sung Han berusaha menolak dan mengendalikan diri. Namun akhirnya sadar kalau pikiran itu berasal dari dia sendiri, seolah dirinya sendiri yang membisikkan kata-kata itu.
Lama kelamaan, makin keras ia menentang, makin hebat pengaruh bisikan-bisikan itu. Awalnya ia masih ingin menahan diri, namun kian lama Sung Han malah membenarkan perbuatannya.
Menganggap Siauw Goan dan Phiang Bi Sun hanya pengganggu semata dan sudah sewajarnya kalau mereka dilenyapkan.
Pikiran itu bukan suatu kesalahan, tapi yang salah adalah cara membunuhnya. Bagaimana ia mengayunkan pedang seperti orang golongan hitam, penuh tipuan dan siasat licik. Padahal gurunya sekali pun tak pernah mengajari yang demikian.
Dan juga cara membunuhnya cukup mengerikan. Tak ada satu jasad pun di sana yang hanya berlubang dada atau tenggorokan. Semuanya mati dalam keadaan tercacah
"Cukup bocah!" agaknya Sung Han mampu membangkitkan amarah Siauw Goan yang selalu nampak berkelakar itu.
Kakek ini mengayunkan kaki kanan dan kain celana panjangnya berkelebat, merupakang gulungan sinar hitam mengancam pelipis Sung Han. Sedangkan Phiang Bi Sun juga tak tinggal diam. Kedua tangan menotok leher dan dada, sedangkan rambutnya naik ke atas dan menukik hendak menusuk batok kepala Sung Han.
Disusul oleh serangan gelap dua orang lain dari belakang, benar-benar membuat Sung Han mati langkah.
Tapi walau pun mati langkah, Sung Han tak habis akal. Ia putar pedangnya di punggung untuk menangkis serangan dua senjata lawan dari belakang. Lalu sedikit merendahkan tubuhnya dan berakibat fatal bagi kedua lawan. Celana hitam Siauw Goan dan rambut Phiang Bi Sun saling bentrok dan melibat satu sama lain.
Dalam kekagetan keduanya, Sung Han menyambut totokan dua jari nenek itu dengan aneh sekali. Ia buka mulut lebar-lebar dan menggigit totokan ke arah leher dan dada secara berurutan.
"Ahhhh....bocah sinting!"
Pekik Phiang Bi Sun kesakitan. Karena rambutnya tertarik dan membuat ubun-ubun nyeri bukan main, serta jari-jari di kedua tangannya terasa seperti diiris.
Ia menarik kedua tangan dan melompat pergi.
"Aduh!" kali ini Siauw Goan yang berteriak. Kiranya celanannya masih terlibat di rambut nenek itu dan membuatnya terpelanting saat Phiang Bi Sun melompat.
Nenek Bibir Merah itu tak ambil peduli ketika Siauw Goan sibuk melepaskan lilitan. Dia lebih terfokus kepada dua jari dimasing-masing tangan yang sudah buntung. Jari telunjuk dan tengah.
"Phuh!" Sung Han meludah dan mengeluarkan empat buah jari.
Tubuh Phiang Bi Sun gemetaran, nafasnya memburu disertai wajah yang memerah. Melihat dua jari tangannya kena dibuntungi dengan cara demikian aneh, Phiang Bi Sun merasa dihina.
Ia memekik panjang sambil melompat maju, "Binasalah engkau!!!"
__ADS_1
Tangan kiri mengirim tapak beracun menuju muka Sung Han. Sedangkan rambutnya bergerak-gerak seperti ular yang ingin mematok jalan-jalan darah pemuda itu. Lalu tangan kanannya bersiap untuk serangan susulan.
Menghadapi serangan yang hebat ini Sung Han tak menjadi gugup, justru sebaliknya, dia malah tersenyum.
Ketika Phiang Bi Sun tiba dekat, entah bagaimana tahu-tahu ada sinar berkelebat dan Sung Han sudah berdiri di empat meter sebelah kiri. Di sana ia sudah merobohkan dua orang.
Namun heranlah semua orang. Saat nenek itu mendarat, bukannya mendarat dengan kaki menyentuh tanah, seketika tubuhnya rontok dan berserakan. Terpotong-potong menjadi banyak bagian.
"Satu lagi..." katanya melirik Siauw Goan yang sudah bangkit dan lari menerjang.
Pemuda ini mendengus dingin. Tak mau ia hanya menunggu Siauw Goan datang mendekat. Maka sembari berlari menyongsong lawan, pedangnya berkelebat ke sana-sini menghabisi sisa pasukan. Dan tepat ketika keduanya saling berhadapan, seluruh pasukan lawan telah habis menyisakan Siauw Goan seorang.
Pertarungan keduanya lebih sengit dan hebat lagi. Sampai sini jelas membuktikan bahwa Siauw Goan jauh lebih lihai dari Phiang Bi Sun. Namun walau pun begitu, Sung Han tak dapat didesak barang sekali. Justru dengan pedangnya, Sung Han selalu memaksa Siauw Goan menghindar beberapa kali dan hanya bertahan.
"Haaaa!!"
Serangan terakhir dan teriakan putus asa ini jelas merupakan bunuh diri. Siauw Goan menghentakkan tangan kanan seraya tangan kiri memukul dadanya sendiri, mengeluarkan seluruh tenaga dalam dengan paksa.
Jarak antara keduanya hanya terpisah satu dua jengkal, tentu saja Sung Han tak sempat mengelak. Terpaksa ia menggerakkan tangan kiri menangkis sambil tangan kanannya melakukan gerakan menusuk menuju jantung.
"Desss–craaapp!"
"Uhuk....uhuk...."
"Sial....dia cukup kuat..." gumamnya mengagumi Siauw Goan. Ia berjalan menghampiri dan mencabut pedang gerhana yang tertancap pada dada kakek itu.
Sembari mengerahkan tenaga guna melawan rasa sesak di dada, ia pandang sekeliling. Tatapannya nanar dan sulit diartikan. Tak berselang lama, ia kembali memandang mayat Siauw Goan.
"Beruntunglah dirimu. Kau mati dalam keadaan yang paling baik." gumamnya.
Memang melihat dari mayat-mayat itu, hanya Siauw Goan seorang yang matinya paling wajar, serta jasadnya utuh. Yang lainnya sudah tercerai berak tak karuan, terkoyak dan hancur.
"Pedang setan...." katanya perlahan sembari berlalu pergi.
...****************...
Nampak di bawah sana, markas Hati Iblis yang sedang dalam keadaan siaga penuh. Anggota-anggotanya berjaga di sekeliling markas dan bersikap amat waspada, agaknya sudah tahu akan penyerangan kali ini.
Rombongan yang berjumlah seratusan lebih ini memandang penuh perhatian. Diam-diam mereka memandang sebelah mata kepada Hati Iblis karena jelas menang jumlah banyak, namun juga rasa heran melingkupi diri mereka.
__ADS_1
"Kenapa sedikit sekali? Apakah semacam jebakan?" kata Wan Jin setelah menghembuskan asap dari cangklongnya.
Sie Kang menoleh memandang Giok Shi, "Serang sekarang?" tanyanya singkat.
Giok Shi pun nampak sedikit ragu-ragu, ia melihat ke sana-sini untuk memastikan sekiranya ada pasukan pendam dari Hati Iblis. Setelah beberapa waktu, akhirnya terdengar dia menjawab.
"Nanti dulu. Tujuh orang, pergi awasi keadaan di sana, dan laporkan hasil penyelidikan paling lambat setengah jam dari sekarang!"
Segera saja tujuh orang Naga Hitam berlompatan menuruni bukit dan hilang di balik rerimbunan pohon.
"Nah, kita menunggu sekarang." kata Giok Shi mendudukkan diri di atas tanah.
Kurang lebih dua puluh menit berselang, ada seorang anggota Hati Iblis yang datang tergesa-gesa dari kejauhan, ia buru-buru menghampiri si penjaga gerbang dan mengatakan sesuatu.
Karena tempat rombongan ini terlalu tinggi, maka mereka tidak mampu mendengar barang sedikit pun. Akan tetapi diam-diam mereka mengharapkan agar tujuh mata-mata itu bisa mencuri dengar.
Selang lima menit, tujuh orang ini kembali dengan wajah cerah. Salah satu dari mereka segera melapor kepada Giok Shi.
"Guru, ada seorang Hati Iblis yang baru datang dan mengatakan kalau pengepungan Phiang Bi Sun dan Siauw Goan digagalkan seseorang. Mereka dibantai."
Giok Shi mengerutkan kening, "Phiang Bi Sun?"
"Si Nenek Bibir Merah, itu nama aslinya. Sedangkan Siauw Goan kalau tidak salah nama julukannya Kakek Kaki Panjang." jawab Sie Kang. "Lanjutkan!" katanya kepada si pelapor itu.
Orang itu mengangguk, "Katanya dua orang itu gagal untuk menyerbang kita."
Semua orang jelas terkejut mendengar penuturan ini. Kiranya mereka semua sudah diincar dari awal dan tidak berhasil disergap. Sontak seluruh orang Naga Hitam menolehkan kepala kearah Sie Kang. Diam-diam mereka kagum sekali kepada kakek itu yang agaknya sudah memprediksi hal ini dan menyuruh mereka melakukan perjalanan dengan terpisah-pisah.
"Terima kasih." kata Giok Shi sambil memberi hormat.
"Itu bukan masalah. Yang jadi masalahnya, berarti kita berhasil melewati mereka tanpa sepengetahuan dua pasukan itu, kita telah mengelabuhi mereka. Tapi, siapa yang bisa membantai dua orang lihai ditambah pasukannya itu?" Sie Kang berkata. Keningnya berkerut tanda berpikir.
"Sudah, jangan ributkan hal itu. Intinya kita selamat dan sekarang anggota mereka berkurang banyak. Waktunya menyerang." Giok Shi bangkit berdiri.
"Bersama regu dua orang kalian, kepung markas dari segala penjuru!" perintah Giok Shi yang juga telah disetujui Sie Kang.
"Kita berangkat!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG