Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 195 – Gempa


__ADS_3

Jenderal Tang Lin bersama para pasukan bergerak menuju utara menuju Goa Emas itu. Makin lama firasat jenderal Tang Lin makin tidak enak. Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya dia kembali memutuskan untuk berhenti dan memanggil salah seorang terpercayanya.


"Selidiki. Hati-hati, itu pasti pertempuran, kalian bisa mendengar suaranya kan?" jenderal itu berkata, matanya memandang ke atas sana penuh perhatian, "Tak usah banyak-banyak. Cukup tujuh orang saja jika dirimu dihitung. Selidiki ke sana, pastikan siapa yang bertempur, jangan ikut campur!"


Orang-orang yang berdiri di sekitar jenderal itu memandang dengan mata terbelalak dan muka berubah sedikit pucat. Bagaimanapun mereka adalah para tentara yang sudah terlatih dengan berbagai macam pertempuran, akan tetapi pertempuran di tempat setinggi itu, juga mendengarkan suara-suaranya yang cukup janggal, mereka menduga yang bertempur pastilah para pendekar.


Orang suruhan jenderal Tang Lin tadi memanggil enam orang kawannya yang menurutnya dapat bergerak paling cepat dan tangkas. Setelah siap dan mendapat persetujuan jenderal Tang, mereka berangkat ke atas menuju Goa Emas yang berupa tebing tinggi itu.


Akan tetapi baru saja mereka pergi, mungkin sekitar seperempat jam, mereka kembali lagi dengan tubuh masih sehat. Tang Lin mengerutkan kening.


"Sudah selesai? Cepat sekali? Siapa yang bertempur?" jenderal itu bertanyan tak sabar.


Tujuh orang itu saling pandang beberapa saat dengan ragu. Lalu yang disuruh oleh jenderal tadi untuk menyelidik itu akhirnya angkat bicara, "Kami yang hanya berjumlah tujuh orang saja agaknya mustahil mencapai Goa Emas. Apalagi pasukan sebanyak ini, tidak mungkin lagi jenderal."


Jenderal Tang Lin mengerutkan kening, "Maksudmu?" tanyanya tak paham karena benar-benar asing dengan daerah sekitar sini.


"Tebing di sana menjulang terlalu tinggi tuan. Kalau hendak mendaki, bisa saja namun harus berurutan dan berbaris. Akan tetapi jika begitu, akan terlalu memakan banyak waktu dan membahayakan diri kita." lapor jenderal itu.


Jenderal Tang merasa penasaran, dia turun dari kudanya dan berkata kepada pembantunya itu, "Antar aku ke sana!"


Pergilah jenderal ini diantarkan oleh tujuh orang itu. Dia berjalan cepat-cepat dan karena rasa penasarannya terus bergejolak di dalam dada. Jika tebingnya setinggi itu, lantas bagaimana ada pertempuran di atas yang agaknya bukan pertempuran kecil itu?


Setibanya di sana, jenderal ini tanpa mampu ditahan berdiri terperangah dengan kepala mendongak. Menatap ke atas ke sebuah tebing menjulang yang seolah hendak menusuk langit itu.


"Ini....bagaimana cara kita mendaki?"


"Melalui jalan itu jenderal." kata seorang pembantunya menunjuk ke sebelah kanan. Kemudian mereka menbantarkan jenderal ke tempat itu, sedikit menanjak dan sampailah ke sebuah jalan yang Tok Ciauw sebut sebagai jalan rahasia.


Namun bagi orang biasa, jalan itu hanya sedikit lebih baik dari dinding-dinding sekelilingnya. Hanya bedanya sedikit landai saja, namun bagi para tentara tak mungkin melewati jalan ini dengan pasukan sebesar itu.

__ADS_1


"Ini sih mustahil. Tetap bisa saja jika membuat barisan satu atau dua orang secara berdampingan, tapi sampai berapa lama kita akan mendaki? Kita bukan orang sakti?" gumam jenderal itu mengemukakan pemikirannya.


Mereka menemui jalan buntu, jalan yang benar-benar buntu. Memang jarang sekali orang sekitar kota raja mengetahui jalan menuju Goa Emas. Jenderal Tang sudah tahu bahwa jalan menuju ke atas adalah melalui pantai, namun dia mendengar pula jika pasukan kekaisaran Jeiji sudah dekat pantai. Maka dia ingin memyamnut pasukan itu dengan memunggu lebih dulu di Goa Emas.


Kiranya memang tidak ada jalan lain selain pantai itu. Dan keadaan sudah begini, bagaimana mereka hendak melanjutkan tugas.


"Aahhh!!!"


Tiba-tiba delapan orang itu terguncang dan terhuyung, lalu jatuh terduduk kecuali jenderal itu. Akan tetapi wajah pria paruh baya ini kelihatan panik dan pucat. Dengan mata membeliak, dia cepat menyuruh seluruh anak buahnya bangun.


"Kembali, tarik pasukan!! Gempa!!"


...****************...


Kepala jenderal Suga telah terpisah dari badan dan ditancapkan di ujung tombak, kemudian tombak itu ditancapkan di atas batu tinggi besar untuk dipamerkan kepada pihak Jeiji bahwa mereka baru saja kalah.


Melihat kepala jenderal lawan, mata Sung Han kemudian mencari-cari. Setelah menemukan sesuatu yang dicarinya, dia berlari cepat kearah itu sambil merobohkan beberapa orang yang lumayan banyak.


Bendera kekaisaran Jeiji, itulah incarannya. Bendera yang ditancapkan di barisan belakang barisan selama perang, dan dijaga oleh tiga orang yang kini hanya mampu berdiri mematung menatap ke kepala jenderal Suga yang nampak pucat di ujung tombak itu.


Sung Han meloncat, menggerakkan kaki tangan dan robohlah terpelanting tiga orang itu. Kemudian dengan senyum di bibir seolah tidak sedang terjadi perang, dia melompat dan merayap menyusuri tiang bendera itu. Kemdian sekali renggut, sobeklah bendara Jeiji.


"Penjajah!! Menyerahlah!! Tidak ada ruang lagi bagi kalian untuk terus melawan!" seruan topeng emas ini seolah menjadi sambaran petir bagi mereka. Semangat mereka lenyap sudah dan banyak yang jatuh berlutut.


Bahkan Kushinage Tenko, dia memilih untuk menancapkan pedangnya di atas batu. Dengan dada terangkat dan senyum jumawa, katanya dengan nyaring, "Memang pendekar Chang hebat semua. Hahaha!!"


Berangsur-angsur, perlawanan mulai berhenti dan tak ada pilihan bagi mereka untuk tidak menyerah. Mereka membuang senjata, bagi yang terus senjata, akan dibunuh di tempat.


Dengan cekatan, para pendekar itu tanpa membutuhkan belenggu menotok lumpuh samurai-samurai dan para ronin itu. Dengan totokan khusus yang sukar dibuka dengan cara biasa.

__ADS_1


Maka berangkatlah rombongan yang membawa banyak tawanan ini turun dari bukit ini. Menuruni jalan ketika mereka berangkat tadi.


Akan tetapi baru saja beberapa orang yang turun dengan kecepatan lumayan, tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar. Awalnya hanya halus saja sehingga mereka tidak begitu menghiraukan dan hanya menganggap sebagai akibat kelelahan saja.


Namun makin lama goncangan itu makin keras, dan mereka mulai terhuyung.


"Gempa...hem, ini sudah biasa terjadi." suara serak-serak basah milik Tok Ciauw menyadarkan mereka. Orang ini masih berada dalam petinya yang berdiri di salah satu batu.


Topeng emas, Kay Su Tek dan lainnya memandang kakek ini tajam. Penuh selidik. Lalu terdengar Yu Fei berkata, "Katakan apa yang kau sembunyikan!"


Tok Ciauw melirik dari balik petinya, "Hem....sudah beberapa kali terjadi gempa di sini, dan setiap kali gempa berlangsung, pasti akan merubah keadaan bukit ini." dia diam sejenak dan melirik tempat sekitar, "Kalian lihat bukit ini, datar dan penuh bebatuan. Bisa saja nanti setelah gempa, medan di sini bisa berubah menjadi miring atau sebagainya."


Semua orang memucat, "Cepat pergi turun." entah siapa yang berseru ini karena keadaan makin panik dengan berguncangnya tempat itu yang semakin keras.


"Aughh!!"


Sung Han sudah mengerahkan tenaga ke kakinya untuk membuatnya melekat, namun tetap dia jatuh tejengkang dan bergulingan. Ketika itu ada bau besar yang runtuh dari atas.


"Sial!!" dia mengelak dengan bergelindingan ke samping. Namun ketika bangun, dia sudah melihat genangan darah di bawha batu itu, darah dari tubuh yang hancur seorang yang tadi dipondongnya sebagai tawanan.


Lambat laun, tempat mereka berdiri mulai retak dan makin lama terbelah. Satu demi satu orang-orang terjatuh ke dalam jurang baru itu. Akan tetapi Sung Han masih bertahan dengan bergelantungan di salah satu batu. Tangannya memegang batu itu erat.


"Ahh....sekali ini aku akan mati sungguhan." gumam Sung Han saat melihat batu besar melubcur dari atas. Dia sudah tak pedulikan lain-lain lagi. Tak sempat melihat siapa yang berhasil turun lebih dulu dan siapa yang masih di atas sini. Dia hanya memejamkan mata.


"Daaarrr."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2