
Setelah jauh dari kerumunan penduduk, dua orang yang berperan sebagai "orang tua" Yu Ping ini segera mengerahkan ilmu lari cepatnya. Sang ayah langsung menggendong Yu Ping bak membawa karung beras untuk kemudian dibawa lari menuju barat desa.
Di sebelah barat ini berupa hutan lebat yang berisi berbagai macam hewan. Kera, ular, atau bahkan sesekali nampak hewan hitam putih yang seperti boneka, panda.
Hewan-hewan ini jarang sekali bisa masuk ke wilayah desa karena selain tembok di barat ini lebih tinggi, juga di desa terdapat beberapa tukang pukul yang akan bertindak sok gagah begitu ada hewan masuk desa.
Dua orang ini dan rombongan mereka yang sudah menunggu sengaja memilih tempat di barat guna memasang berbagai macam jebakan untuk Sung Han.
Beberapa waktu berlalu dan sampailah dua orang ini bersama Yu Ping di tempat yang dikerumuni pohon-pohon tinggi. Sebentar kemudian, muncul lima puluhan orang yang menyambut.
"Ini orangnya?"
"Benar." kata si ayah menurunkan Yu Ping yang sudah pucat pasi dan hampir menangis.
Melihat dari seragam mereka yang hitam-hitam dan ada pola khusus di aksen baju mereka, maka mudahlah untuk dikenali dari mana mereka berasal.
"Hati Iblis? Benarkah itu?" batin Yu Ping yang mengenal tanda itu. Dia pernah mendengar cerita dari Sung Han mengenai pola-pola khas pada seragam Hati Iblis.
"Tak kusangka ini akan berhasil." ucap seseorang yang datang mendekat. Dia ini adalah orang yang menghilang dari Naga Hitam dan sejatinya merupakan anggota Hati Iblis.
"Tak sia-sia pengamatanku beberapa tahun ini." lanjut orang itu, "Kau cukup unik ya, adik manis. Tak bisa silat namun cukup gemar silat. Nah, kegemaranmu hari ini akan mencelakakan orang itu."
Tak perlu diberitahu dua kali dan Yu Ping sudah mengerti kalau "orang itu" adalah Sung Han.
"Cepat bersiap dan sembunyikan bocah ini sampai waktunya!" seru seorang pria lain yang agaknya menjadi pimpinan.
Orang itu cukup muda, tak sampai tiga puluh tahun usianya. Ada luka melintang dari kanan ke kiri wajahnya. Melihat luka itu saja sudah membuat orang takut karena menambah keseraman wajahnya.
Lima puluhan orang ini segera bergerak cepat, menyiapkan berbagai macam perangkap untuk menyambut Sung Han nanti. Setelah semuanya siap, mereka kembali ke tempat persembunyian masing-masing untuk menunggu orang yang ditunggu.
...****************...
"Ayo cepat!" pemimpin acara pertunjukan silat itu meneriaki kawan-kawannya untuk segera naik ke kereta kuda.
Dia berusia sekitar tiga puluhan tahun, rambutnya panjang dan hitam legam. Matanya mencorong tajam dengan tarikan bibir melambangkan keangkuhan. Jika si wajah codet tadi pemimpin pasukan di hutan, maka si rambut panjang ini pemimpin pasukan pertunjukan–yang sejatinya juga merupakan orang berkedudukan di Hati Iblis.
Setelah siap, mereka melesat menuju ke barat desa di mana tadi Sung Han sudah lari keluar lebih dulu. Pemimpin rambut panjang ini menyeringai.
__ADS_1
"Pedang Gerhana Matahari, eh? Kau terlalu ceroboh untuk membawanya seorang diri bocah." gumamnya.
...****************...
Kecepatan lari Sung Han sungguh di luar dugaan, bahkan dia sendiri menjadi kaget.
Entah memang ilmunya sudah tinggi atau karena didorong perasaan cemas luar biasa, namun dalam beberapa meter, Sung Han mampu mencapai hanya dalam satu kali lompatan.
"Yu Ping, dimana engkau...." gumamnya yang bertambah cemas.
Tapi dia terus lari ke arah barat. Selang beberapa saat, dia melihat satu sinar obor yang bergerak-gerak di ujung sana, ia percepat langkahnya untuk melihat sinar itu.
Begitu sampai, dapat ia lihat ada sebuah obor yang tertancap di salah satu batang pohon. Melihat sekilas saja mampu ia simpulkan kalau obor itu baru dihidupkan.
"Apakah mereka mengejekku?" Sung Han bergumam seraya memandang sekeliling yang nampak sepi.
Tapi karena khawatir, dia tak peduli lagi dan berjalan menghampiri obor, bertujuan menggunakan benda itu untuk alat bantu penerangan.
Akan tetapi betapa sial, baru dua tindak ia melangkah, telinganya mendengar suara mendesing dari kanan kiri.
Instingnya bergerak cepat, Sung Han melompat dan bersalto di udara. Satu detik setelahnya, terdengar suara benturan keras yang ternyata berasal dari dua balok kayo sebesar sepemelukan orang dewasa.
"Siapa pun kalian, kembalikan adikku!!" melihat dua balok itu, makin yakin hatinya kalau di sini ada orangnya. Ia menendang dua balok kayu dan seketika dua balok itu pecah. Sengaja ia gunakan itu untuk menakut-nakuti lawan.
Namun baru kakinya yang tadi melakukan tendangan menginjak tanah kembali, terdengar suara kemersak dari bawah kakinya. Ingin ia melompat, namun terlambat karena jaring-jaring yang berasal dari akar pohon kuat telah menjeratnya dan menariknya ke atas.
"Sialan! Keparat!" umpat Sung Han sambil bergelantungan. Ia cabut pedangnya dan membabat putus jaring akar tanaman itu.
Dan ketika mencapai bawah, segera terdengar suara-suara mendesis disertai bau amis yang datang dari segala sisi. Ketika dia melayang turun, barulah sadar kalau di sekujur tubuhnya terkena cairan aneh yang lengket.
"Sialan, siapa sih yang memasang jebakan demikian teliti? Cairan ini membawa bau yang menarik para ular!" lalu dia terperanjat saat melihat bayangan-bayangan yang berasal dari atas pohon. "Keparat! Para kera itu juga ikut andil!"
Begitu menginjak tanah, Sung Han segera direpotkan dengan kerumunan ular dan kera yang jumlahnya entah berapa. Beberapa waktu berlalu dan dia menyadari kalau spesies ular ini demikian berbahaya dengan racun mematikan. Maka dari itu ia tak ragu-ragu membunuhi mereka dengan pedangnya.
Untuk para kera sendiri, mereka tak terlalu berbahaya. Hanya merepotkan sekali karena menarik-narik jubah Sung Han untuk kemudian dijilatinya. Sepertinya cairan di tubuh Sung Han ini sangat menarik perhatian dua jenis hewan itu.
"Hyaaaahh!"
__ADS_1
"Craaass!"
Satu kepala kera terpotong dan terbang tinggi ke atas. Sung Han kebetulan memandang terbangnya si kepala dan ia membelalakkan mata.
Bukan karena kepala itu, melainkan karena benda lain yang meluncur cepat dari atas kepala kera. Kiranya itu adalah sebuah anak panah!
Tak hanya satu, setelah itu mulai disusul dengan panah-panah lain sampai jumlahnya puluhan atau bahkan ratusan.
"Syuut–syuut–syuut!"
Sung Han mendongkol bukan main. Kiranya dia bukan hanya dijebak dengan kepungan manusia, namun si manusia ini juga cerdik sekali dengan memanfaatkan para hewan penghuni hutan untuk mengurungnya!
"Bagus!! Benarkah dugaanku kalau para sahabat ini berasal dari Hati Iblis?" seru Sung Han sambil menangkis dan menghindari hujan anak panah. Bahkan ada beberapa anak panah yang ia lempar pulang ke arah pemiliknya.
Tak ada jawaban yang menyahut.
Sung Han yang merasa kesal, memutar pedang di atas kepala membentuk seperti sebuah payung. Kemudian tangan kirinya melempari ular atau kera ke arah atas di mana para pemanah tidak terlihat karena terselimuti bayangan gelap dari rimbunya daun pohon.
Kali ini keadaan menjadi seru dan tegang sekali. Sung Han menggunakan pedang melindungi kepalanya, namun hewan-hewan yang ia lemparkan itu merupakan sebuah "peluru" untuk memapaki hujan anak panah.
"Sial, dia lihai sekali!" umpat salah seorang pemanah.
Akan tetapi hatinya mencelos saking terkejutnya saat ada satu tubuh kera yang menghalangi pandangannya sudah roboh kena panah, dan saat itu tubuh Sung Han telah lenyap.
"Sial, ilmu siluman! Ke mana dia!?" orang ini panik dan menoleh ke sana-sini.
Punggungnya merasakan dingin, disusul pandangannya yang tiba-tiba melonjak tinggi dan berputaran. Ia memandang bengong, dan saat sudah jatuh ke bumi, ia melihat jelas tubuhnya yang tanpa kepala melayang turun dari atas pohon.
"Eh....?"
Orang ini merupakan korban pertama yang tidak tahu bagaimana cara musuh membunuhnya. Kemudian disusul suara berdebuknya tubuh-tubuh tanpa kepala yang juga agaknya tidak tahu bagaimana Sung Han membunuh mereka.
Di atas pohon itu, Sung Han menunjukkan identitasnya. Kelihaiannya baru nampak jelas dan membuat mereka jeri ketika setelah lima detik kemudian, sudah tujuh orang kehilangan nyawa.
"Sialan! Dia bukan manusia!! Kepung!!" teriak si wajah codet dengan tergesa-gesa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG