
Perguruan Awan tentu saja gempar, mengetahui bahwa Ki Yuan tiba-tiba hilang tanpa bekas. Kay Su Tek dibantu oleh Coa Ow yang entah sejak kapan sudah menjadi orang kepercayaannya, mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan mereka semua.
Mereka berkata jujur, bahwasannya Ki Yuan telah menipu mereka, menculiki banyak gadis untuk menyempurnakan ilmunya. Namun ada tokoh persilatan yang tiba-tiba datang menolong dan membunuh kakek itu.
"Soal ketua kalian itu urusanku, selaku putra kandungnya. Aku hanya perintahkan kalian untuk mengurusi mayat para gadis di penjara bawah tanah!" Kay Su Tek mengakhiri pidatonya pada pagi hari ini sebelum berbalik dan pergi dari sana meninggalkan kerumunan masa Perguruan Awan.
Bersama Coa Ow, dia berjalan menuju ke gerbang samping secara diam-diam, untuk menemui seseorang.
Dari kejauhan sudah nampak tiga orang yang sedang bercakap-cakap. Di jalan yang sedikit menurun itu, Kay Su Tek sudah dapat mengenal dengan jelas tiga orang itu.
"Kau yakin tak ingin tinggal lebih lama?" Kay Su Tek bertanya sekaligus menyapa Sung Han yang duduk di atas sebuah akar pohon, menemani dua orang wanita yang saling tukar cerita.
Tak ada niatan menjawab, justru Sung Han bertanya akan hal lain, "Baju dan sabuk ungu itu boleh kuambil? Aku tak ada baju lain untuk kuberikan pada Bu Cai."
"Boleh saja." jawab Kay Su Tek, "Lagipula kau ambil di gudang bukan? Baju seragam itu sekarang sudah tak berlaku, itu telah diganti sejak beberapa bulan lalu."
"Baguslah." Sung Han bangkit dan menghampiri Bu Cai, "Ayo pulang. Katakan di mana rumahmu, akan kuantar ke sana."
Bu Cai yang sebelumnya mendengarkan omongan Fang Chu mengalihkan pandangan dan sedikit tersenyum, terlihat jelas dari gerakan matanya.
"Rumahku dekat, tak perlu kau mengantarku. Aku tinggal di desa Lonceng Perak seberang Sungai Buaya."
"Aku ikut, aku juga lewat sana setelah ini."
Mereka lalu saling berpamitan, mengucap sepatah dua patah untuk sekedar salam perpisahan.
Sebagai tambahan, tidak ada orang Perguruan Awan yang mengetahui perihal Sung Han dan Bu Cai. Mereka hanya tahu soal ruang bawah tanah yang menjadi tempat kurungan para gadis culikan, serta terbunuhnya Ki Yuan.
"Tunggu!" seru Kay Su Tek berhasil menghentikan langkah Sung Han dan Bu Cai.
"Sebelum pergi, bolehkan aku mengetahui wajah nona? Sekedar untuk mengenal?" katanya kemudian.
Sung Han memandangnya dengan tidak suka, dari tarikan bibirnya jelas terlihat bahwa pemuda itu hendak mengirim cacian. Namun lengannya dicekal oleh Bu Cai, disusul gelengan perlahan sembari berbisik, "Biarlah."
Begitu pula dengan Fang Chu, ia menjadi pucat dan memandang Kay Su Tek dengan ekspresi sulit. Satu hal yang membuat Coa Ow kebingungan.
Perlahan, Bu Cai membuka cadarnya. Tak sampai tiga detik, sudah ia tutup kembali. Kemudian ia menjura kearah tiga orang itu dan pergi dari sana setelah mengajak Sung Han pula.
Kay Su Tek dan Coa Oe terbelalak, sedangkan Fang Chu memalingkan muka menahan isak tangis.
...****************...
__ADS_1
"Kau tinggal sendirian?" tanya Sung Han memecah kesunyian di antara keduanya.
"Tidak, ada kakek di rumah."
"Oh...." jawab singkat Sung Han. Tapi tiba-tiba ia tersentak saat teringat akan sesuatu, "Apakah kakekmu tukang perahu?"
Kali ini Bu Cai yang tersentak dan memandang tak percaya, "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kemarin waktu aku datang kemari, aku diantar oleh seorang kakek yang di mana dayungnya itu bisa mengusir pergi satu buaya penghuni sungai. Hebat." ujar Sung Han yang sudah menebak siapa kakek ini. "Aku senang kalian dapat berkumpul kembali."
Bu Cai memerhatikan Sung Han dari belakang, pemuda bertubuh tegap itu seakan tak peduli akan sekitar, tapi entah bagaimana ia justru merasa sebaliknya.
Wajahnya terkesan acuh, tapi setiap kali berkata nadanya lembut dan ramah, sama sekali tidak menyinggung perasaan orang. Ia bahkan benar-benar tak mengijinkan Kay Su Tek melihat wajahnya kalau saja dia sendiri yang memperbolehkan.
"Kau perhatian sekali ya....menolongku, orang tak dikenal. Juga menyatukan sepasang kekasih itu." Bu Cai berkata.
Sung Han berdeham singkat, "Ehm, hanya kebetulan. Tujuanku ke mari hanya untuk membunuh si botak Ki Yuan."
Dari balik cadarnya, Bu Cai hanya tersenyum. Tapi senyum itu lenyap seketika saat Sung Han mengirim pertanyaan.
"Apa yang dilakukan Ki Yuan padamu?"
"Aku yakin lebih buruk dari dugaanku, benar?"
Bu Cai memandang sengit, tampak sedikit tak suka. Tapi akhirnya menjawab juga, "Aku diberi obat, itu menghancurkan rahimku. Karena itulah, selain diperkosa dan mengambil mahkota kami para gadis, setan itu juga menghisap darah dari hancurnya rahim." katanya berapi-api dan dengan intonasi meninggi.
Sung Han bergidik sampai merinding bulu tengkuknya. "Itu artinya...."
"Aku tak bisa punya anak!!" bentak Bu Cai.
"Maaf menyinggungmu...."
...****************...
Sampai di pinggiran sungai Buaya, nampak di ujung sana barisan perahu berjejer-jejer tak karuan memenuhi sepanjang pantai sungai. Ada beberapa perahu Perguruan Awan pula yang letaknya dekat dengan dua orang itu.
Sung Han memicingkan mata, jarak lima puluh meter lebih itu tak membuat penglihatan pendekar sepertinya kabur. Kecuali saat malam hari tentunya.
Matanya sedikit melebar waktu melihat perahu yang sudah dikenalnya sedang berjalan menuju timur. Si pendayung perahu itu nampak familiar.
"Itu kah kakekmu?" tanya Sung Han menunjuk ke arah penunggang perahu yang sedang menuju ke timur itu.
__ADS_1
Bu Cai bungkam, tak membenarkan atau menyangkal.
"Kau takut dia tahu akan wajahmu?" kembali Sung Han bertanya, yang kini dijawab anggukan oleh wanita itu.
"Tak masalah, aku tak berpikir dia akan membuangmu hanya karena hal itu."
Sung Han hendak berteriak, mengerahkan tenaga dalam untuk memanggil si kakek. Ia ingin menuruti ucapan kakek itu beberapa waktu lalu saat ia tiba di sini.
Namun tangannya dicengkeram oleh Bu Cai ketika wanita itu berkata, "Aku malu, aku sudah rusak! Kakek pasti membuang aku!"
Mendengar ini hati Sung Han tergetar, teringatlah ia akan Yu Ping. Sebentar lagi pasti Bu Cai akan mengatakan hal yang sama seperti gadis cilik waktu itu.
"Ijinkan aku ikut dengamu!" katanya kemudian sesuai perkiraan Sung Han.
Pemuda itu menarik lengannya sedikit paksa, ia membuang muka saat berkata, "Tidak!" katanya tegas, "Kau harus pulang dan temani kakekmu yang sudah tua. Jangan membikin susah hatinya lagi. Dia sudah sengsara semenjak kepergianmu dari rumah."
Tatapan Bu Cai nampak sayu, ia menunduk, "Begitu ya...." katanya lirih sebelum melanjutkan, "Mungkin benar, aku harus pulang. Mempertahankan diri sendiri di ruangan gelap itu, dan merasakan sakit setiap malam. Mungkin aku harus beristirahat di rumah."
"Jangan begitu, aku tak bilang kau akan menjadi beban kalau kau ikut." ucap Sung Han yang sudah tahu isi hati Bu Cai, "Hanya saja, jika kau tahu apa yang akan menimpaku di masa depan kelak, kau mungkin akan menyesal mengikuti aku."
Sung Han mengusap ujung kepala Bu Cai, "Kau sudah berjuang keras di sana, sekarang istirahatlah dan temani kakekmu."
Bu Cai melepas cadarnya, membuat Sung Han terkejut sekali dan ingin membuang muka. Tapi takut akan merobek hati wanita itu, ia tahan keinginan ini dan tersenyum.
Mulut yang sudah tak berbibir, menampakkan rahang atas dan bawahnya secara terbuka. Namun di balik kengerian itu, Sung Han tahu Bu Cai sedang melempar senyum.
"Wajah ini kurusak agar setan tua itu menjauh dariku, tapi hasilnya sama saja." katanya lirih seperti berbisik, "Kau tak merasa jijik?"
"Untuk apa?" ucapnya mantap, "Hanya seperti ini aku harus jijik, untuk apa? Itu tidak menjijikkan, setidaknya bagiku." kata Sung Han.
Bu Cai tersenyum, walaupun nampak mengerikan, tapi Sung Han tahu itu adalah senyum tulus.
"Kau orang baik."
"Dan kau orang kuat." kata Sung Han menimpali sebelum berbalik dan berteriak keras.
"Kakek!! Sesuai janji, antarkan aku ke seberang!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1