Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 25 – Satu Lawan Banyak


__ADS_3

Selesai menghabiskan berbagai macam ular dan kera, Sung Han segera terjebak dalam kepungan puluhan orang manusia.


Dia memandang ke bawah, tepat ke arah puluhan orang itu berdiri menunggu dirinya lompat turun. Mereka juga cerdik sekali, melempari Sung Han dengan senjata rahasia guna memaksa pemuda itu terjun.


"Serr–ser!"


Dua senjata rahasia berupa paku panjang meluncur menuju leher dan ulu hati. Sung Han tak mampu melihat jelas, hanya tertolong oleh obor-obor yang dibawa para pengepung, membuat paku itu memantulkan cahaya dan dapat Sung Han lihat kelebatannya.


"Trang!"


Sekali pedang menyambar, dua senjata itu runtuh. Namun kembali terdengar banyak angin tajam mendekat tatkala senjata-senjata rahsia lain menyerang saling susul.


"Itu benar Pedang Gerhana Matahari!" seru si codet saat menyipitkan matanya untuk melihat jelas pusaka di tangan Sung Han.


"Dasar keras kepala!! Hati Iblis pembuat onar!"


Kesimpulan ini ia dapat ketika melihat seragam Hati Iblis yang sudah dihafalnya. Maka tanpa ragu lagi, Sung Han meluncur turun dengan pedangnya terlebih dahulu menghadap bawah, mengarah batok kepala si muka codet.


"Wahhh!" muka codet kelabakan dan melompat mundur. Seraya melompat ia cabut sepasang pedang pendeknya yang menjadi senjata.


Namun baru saja dia mendarat dan mengangkat muka, kiranya Sung Han sudah berloncatan ke sana-sini mengelebatkan pedang dan membunuhi pasukannya satu-satu.


Muka codet menjadi marah, bagaimana pun juga ia belum mengakui kelihaian Sung Han. Agaknya pikiran yang sama juga merasuki otak Jin Yu yang melakukan rencana ini.


Orang itu terlalu memandang ringan Sung Han, sehingga dia hanya kirimkan si muka codet berdua dengan si rambut panjang yang sedang perjalanan ke mari. Dua orang itu kesaktiannya sudah tinggi, sedikit lebih lemah dari empat anggota utama.


Tapi sekali gebrakan saja, muka codet sudah dibikin kaget dengan serangan Sung Han yang demikian berbahaya. Dari sini saja sudah terlihat kalau dia kalah lihai dan kalah pandai.


Tapi dasar berwatak keras, dia tak mau terima kenyataan dan nekat menerjang maju menggunakan sepasang pedangnya menggunting leher.


"Hyaaaahh!!!"


Sung Han tahu serangan orang ini, dia menundukkan kepala sambil bergulingan. Seraya berguling, kakinya bekerja untuk menendangi balakang lutut lawan-lawannya. Maka saat ia bangun, sudah ada tiga orang yang berdiri bengkok sambil kesakitan karena sambungan lutut mereka telah putus. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Sung Han potong kepala mereka bertiga dalam sekali tebas.


Kemudian dilanjut untuk meladeni si codet yang keras kepala dan hanya pandai teriak-teriak peramai suasana. Hatinya panas menghadapi tukang ngoceh ini.


Di sisi lain, di atas sebuah pohon, Yu Ping yang diikat tangan, kaki, serta mulutnya itu memandang terbelalak. Wajahnya pucat pias dan tubuhnya gemetaran. Kalau badan mungilnya tak diikat ke batang pohon, mungkin gadis ini sudah jatuh saking hebatnya getaran tubuh itu.

__ADS_1


"Kakak Han, berjuanglah!" dia hanya mampu berdoa dalam hati.


Akan tetapi, betapa putus asa hatinya kala melihat sinar-sinar obor di kejauhan. Di bawah sinar obor itu, nampak jelas bayangan putih-putih yang berjumlah tidak sedikit. Ketika sampai dekat, kiranya mereka ini adalah orang-orang yang tadi mempertontonkan pertunjukan silat di desa.


"Biadab!! Setan!" Yu Ping meronta, seolah ingin menahan laju pasukan yang baru tiba ini. Namun mana mungkin dia bisa lolos dari kekangan tali akar yang begitu kuat.


Sehingga gadis ini hanya mampu memandang Sung Han dengan ketakutan yang nampak jelas di matanya. Tak berselang lama, dia hanya mampu meramkan mata ketika kakaknya itu mulai dikeroyok oleh orang-orang berjubah putih. Tak tega ia lihat penderitaan kakaknya itu.


...****************...


Mayat-mayat malang melintang di sekeliling tubuhnya. Ada beberapa buah mayat yang membentuk seperti gunung, bertumpuk-tumpuk saling tumpang tindih.


Entah sudah berapa lama pertempuran berjalan tak ada yang sempat untuk menghitung waktu. Semuanya sibuk untuk membunuh musuh dan melindungi nyawa yang sama-sama berjumlah satu.


"Sial....sial....ini bukan manusia lagi namanya...." gerutu si rambut panjang.


"Jika sekuat ini, kalau pun salah satu dari empat orang tua itu turun tangan, aku masih ragu bocah ini dapat dikalahkan. Apakah mereka terlalu meremehkan musuh?" jawab si codet putus asa.


"Kiranya hanya para pendekar sejati saja yang mampu menahan orang ini. Tapi....apakah pendekar-pendekar itu sungguh ada?"


"Heh....nyawa sudah berkemas hendak pamit pulang, kau masih ingin mendongeng?" cela si codet dengan raut jengkel.


Sedangkan di hadapan mereka, di bawah sinar obor, nampak Sung Han yang berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan. Sebuah pedang hitam yang berubah warna menjadi merah akibat terlalu banyak minum darah.


Nafasnya sedikit memburu, tapi dibandingkan sisa pasukan itu, dia masih jauh lebih baik.


"Hei Hati Iblis, apakah hanya ini yang kalian kirim untuk mencuri pusaka ini dari ahli warisnya?" tanya Sung Han tiba-tiba. Membuat sepuluh orang itu terperanjat karena berpikir Sung Han hendak menerjang.


"Heh, siapa yang menghendaki engkau menjadi ahli waris pedang gerhana?" seru si codet, "Aku, Manusia Tangan Pedang, selamanya menolak percaya!!" lanjutnya.


"Aku pun!" sahut si rambut panjang, "Walau nyawa sudah di ujung tanduk, aku, Si Besar Tenaga Raksasa, tidak percaya atas omonganmu!"


Sung Han meludah, mengejek secara berterus terang. "Tak peduli apa pun julukan kalian, percaya atau tidak, tapi ku dapatkan pedang ini bukan melalui jalur curi atau rampok! Hayo maju, pedang ini jadi milik kalian kalau nyawaku lah yang hari ini pergi ke alam baka!"


Dengan putus asa, Manusia Tangan Pedang dan Si Besar Tenaga Raksasa maju menerjang. Tak peduli akan hidup dan mati lagi, mereka melakukan serangan nekat.


Si codet menyerobot dari bawah dengan serangan tusukan pedang ke arah kedua lutut Sung Han. Lalu si besar rambut panjang itu menggunakan kedua telapak tangan, menampar kepala Sung Han dari kanan dan kiri. Kalau sampai tepat sasaran, kepala pemuda itu pastilah remuk jadi bubuk.

__ADS_1


Sung Han mendengus. Ia gerakkan pedangnya seperti orang megantuk dan akibatnya terdengarlah pekik nyaring menyanyat.


Kedua tangan codet dan si rambut hitam telah terbabat putus!!


"Nah, matilah!"


"Sraaat–sraaat!"


Dua kali pedang itu berkelebat, menampakkan kilat hitam kemerahan, kepala dua orang ini menggelinding seketika. Dua orang yang sudah cukup punya nama di rimba persilatan, tewas di tangan seorang pemuda tak dikenal.


"Nah, jangan kalian pura-pura bodoh. Kali ini giliran kalian!" berkatalah Sung Han kepada delapan orang yang ketakutan itu. Tubuhnya melambung tinggi, pedangnya berkelebat dan, dalam sekali putaran tubuh, kepala delapan orang terlepas dari badan.


...****************...


"Yu Ping?"


Sudah sekitar lima menit Sung Han mencari-cari di sekeliling tempat itu, namun nihil, Yu Ping sama sekali tidak diketemukan.


Lalu tiba-tiba dia mendengar suara gemersak dari atas pohon, dan suara seperti orang sedang dibekap mulutnya. Saat ia arahkan obor ke arah sana, legalah hatinya.


"Yu Ping, bertahanlah, aku segera ke sana!"


Kiranya gadis ini tadi sudah pingsan menyaksikan sepak terjang kakaknya yang luar biasa. Membunuhi sekumpulan manusia itu seperti memotong rumput saja.


Maka saat Yu Ping sadar, ia langsung panik dan berteriak-teriak. Tapi karena mulutnya diikat, maka suaranya teredam


Tapi karena hal inilah Sung Han mengetahui keberadaannya. Akan tetapi saat dia sampai di atas, Yu Ping sudah kembali pingsan setelah mengetahui banyak sekali mayat bergelimpangan.


Ia gendong tubuh mungil itu dan lekas pergi dari hutan, kembali ke arah desa dan keluar desa lagi melalui pintu gerbang timur yang menuju ke markas Naga Hitam.


Selama perjalanan ini, entah kenapa firasatnya makin tak enak. Namun Sung Han mencoba hiraukan itu dengan menikmati alunan merdu suara jangkrik atau memandangi cantiknya sang rembulan.


Dia tak mampu tenang atau tersenyum lagi saat tiba di gerbang timur, ketika matanya memandang ke kejauhan lebih tepatnya ke atas sebuah bukit.


"Asap? Apakah itu? Eh.....itu tempat pemukiman murid baru!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2