Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 205 – Keramaian di Puncak


__ADS_3

Hampir semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar omongan Sung Han tadi. Kecuali beberapa orang yang memang tak acuh atau orang-orang tua yang cukup kosen. Orang-orang kosen itu memiliki pandangan yang cukup tajam, sehingga melihat cara jalan, wibawa serta sinar mata Sung Han saja mereka sudah tahu bahwasannya pemuda ini tak bisa dibikin main-main. Karena itulah mereka memandang dengan hati tertarik.


Sung Han tak pedulikan segala macam omongan serta ejekan lain orang. Dia lebih tertarik akan monyet raksasa itu. Mengapa dia tak turun ke mari untuk menghabisi orang-orang itu? Seakan monyet itu memang bergerak dalam suatu wilayah yang dibatasi.


Sung Han melangkah mendekati.


"Grrr...."


Pemuda ini menaikkan sedikit topi capingnya, jubahnya yang berkibaran itu tak luput dari pandangan si monyet yanng waspada. Hewan itu sedikit menundukkan badan, dengan kedua tangan dipentangkan siap untuk menubruk. Sung Han masih acuh.


"Ggrrr.....!!" gerengan itu makin keras. Sedetik kemudian, dia meloncat mengirim serangan. Tubrukan dari depan berupa cengkeraman tangan dari kanan kiri.


Mata Sung Han melebar. Jubah lebarnya berkibaran tak karuan. Baru sekarang terbuka matanya jika gerakan itu adalah semacam ilmu silat yang didasarkan pada gerakan harimau. Menubruk dibarengi raungan nyaring sekali. Pemuda ini terheran-heran, bagaimana bisa seekor monyet melakukan gerakan silat?


Apalagi saat dirasakannya angin hempasan yang menerpa seluruh tubuhnya. Benar-benar dahsyat dan hebat bukan main. Kiranya jika pendekar biasa saja, terkena hempasan ini sudah lemas seluruh urat syaraf.


Namun ini adalah Sung Han, pemuda gemblengan yang telah memiliki ilmu-ilmu silat tingkat tinggi. Menghadapi gerakan monyet itu dia tak menjadi gugup. Justru dia mulai mempersiapkan kuda-kuda.


Kaki kiri ditekuk di depan, sedangkan kaki kanan ditarik ke belakang. Kedua tangan membentuk cakar.


Begitu serangan monyet tiba dekat, para penonton itu menahan napas saking tegangnya. Mengira bahwa Sung Han akan mati dengan tubuh hancur.


"Breessshhh!!"


Suara seperti guntur terdengar begitu dua telapak tangan monyet saling hantam sendiri. Suara dari tepukan tangan itu bahkan membuat beberapa pendekar yang kurang kuat pingsan seketika.


Namun betapa kaget mereka ketika tidak menemukan Sung Han di sana. Kiranya pemuda itu sudah berkelit dan melompat ke udara. Melakukan gerakan-gerakan aneh namun indah, lalu menggunakan lengan raksasa monyet sebagai tolakan dan dia melambung lebih tinggi.


Dibarengi bentakan nyaring, kedua tangan yang membentuk cakar itu meluruk ke arah dua mata si monyet.


"Haiiittt!!"


"Dukkk"


Beruntung monyet itu sempat bergerak. Untuk menangkis dengan tangan tidak bakal sempat, sebagai gantinya dia mengandalkan kekebalan tubuhnya dan menangkis dengan serudukan kepala.


Keduanya terpental sejauh beberapa tombak, kemudian berdiri saling berhadapan dengan sinar mata mencorong.


Sampai lama keduanya berdiri saling hadap itu, seolah hendak mengintimidasi lawan hanya dengan sinar mata. Dan hal ini semakin menambah ketegangan di hati para penonton.


Namun agaknya Sung Han lah pemenangnya. Terbukti setelah beberapa saat kemudian, monyet itu mengeluh dan terhuyung. Lalu ambruk ke tanah.

__ADS_1


Semua orang menahan napas, bahkan ada yang sampai berdiri dengan muka pucat.


Ilmu Sung Han tadi tak lebih dari gerakan dasar yang diberi sedikit variasi. Berupa ilmu silat yang meniru gaya seekor naga terbang. Namun tak pernah disangka siapapun juga, hanya menggunakan gerakan sederhana seperti itu Sung Han mampu merobohkan seekor monyet hanya dalam sekali gebrak. Ini menimbulkan rasa jeri di hati semua orang.


"Itu pendekar sejati, sama seperti sebelumnya," bisik orang-orang itu.


"Tidak penasaran aku jika memang dia pendekar sejati,"


Monyet itu kembali menggereng, mengibas-ngibaskan kepalanya dan bangkit berdiri. Seakan tak pernah mengalami luka, dia dapat berdiri tegak kembali seperti sedia kala.


"Masih belum kalah?" Sung Han menebak dan dia sudah kembali bersiap.


Tindakan selanjutnya dari si monyet sungguh luar biasa. Dia menggereng dan berjalan minggir, seolah memberi jalan kepada Sung Han. Pemuda itu melongo heran.


Namun sebentar kemudian Sung Han sudah dapat menebak. Pastilah monyet ini merupakan binatang peliharaan orang sakti yang sengaja dilatih silat. Dan hari ini, monyet itu ditugaskan berjaga di lembah guna menyaring siapa-siapa yang pantas masuk.


Sung Han menjura. "Terima kasih."


Ia melanjutkan perjalan naik ke atas. Setelah tiba di sana, ternyata keadaan tak lebih ramai dari yang di bawah. Di sini suasana cukup lenggang, hanya kurang lebih sebanyak tiga lima belas orang saja.


Sung han melihat ke sana-sini dan menemukan fakta bahwa baik pihak Kay Su Tek maupun topeng emas belum sampai.


"Ini merupakan tempat terasing," gumamnya seraya memandang sekitar. "Boleh jadi tiga orang itu merupakan pertapa-pertapa di sini. Dan sekarang mereka ikut menonton pertandingan luar biasa ini."


Demikian pendapat Sung Han dan itu memang benar. Tiga orang kakek yang rambut jenggotnya sudah putih semua itu memang pertapa-pertapa di gunung ini. Mereka mendengar kabar selentingan yang mengatakan akan diadakannya pertempuran di puncak ini, maka mereka hadir sebagai wasit. Dan monyet raksasa itu merupakan peliharaan salah satu dari kakek tersebut.


Melihat ke sekeliling, Sung Han merasakan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Suasana di sini amat berat dan menegangkan. Tak bisa dipungkiri lagi, sekali pandang dia sudah tahu, mereka semua yang berkumpul di sini adalah pendekar-pendekar kawakan. Bahkan tak jarang yang merupakan pendekar sejati.


"Sung Han."


Pemuda ini terkejut dan cepat menoleh. Ternyata ada yang sudah mengenalnya. Begitu memandang, yang memanggil itu adalah sosok yang amat dikenal dan dihormatinya. Ketua Rajawali Putih, Sie Kang.


Sung Han cepat menghampiri dan berlutut dengan sikap hormat sekali. Kakek itu sudah amat sepuh dan rentan, Sung Han sedikit merasa prihatin.


"Salam...hormat...ketua..." ucapnya dengan canggung.


Sie Kang tersenyum. "Tak ada julukan ketua. Kau bukan lagi bagian dari Rajawali Putih dan aku sudah pensiun dari jabatan ketua."


Sung Han terkejut, namun sebisa mungkin menyembunyikannya.


Tiba-tiba, dari atas terdengar suara krasak-krusuk yang tidak wajar. Sung Han melirik dan matanya melotot seketika.

__ADS_1


"Oh, ternyata kau," sapa seorang kakek cebol yang bergelantungan di atas pohon menggunakan kaki itu. Kakek aneh pemilik rumah terbalik. "Apa kabar?" tanyanya gembira.


"Cukup baik," jawab Sung Han singkat. "Setidaknya, sampai sekarang."


Kakek cebol itu mengangguk-angguk, kemudian naik lagi ke atas pohon dan main-main dengan ular hijau. Cium-ciuman dengan mesranya. Melihat itu Sung Han merasa ingin muntah.


Suasana antara Sung Han dan Sie Kang canggung sekali. Sung Han belum berani mengangkat kepalanya, dia masih dalam keadaan berlutut. Berkali-kali mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun ia bingung harus memulai dari mana. Terakhir kali ia bertemu dengan Sie Kang, kakek itu menganggap dia sebagai pemberontak.


"Maaf, tuan. Aku–"


"Sudah, tak perlu mengungkit masa lalu," Sie Kang memotong dengan ucapan lembut. "Aku percaya padamu. Kau bukan pemberontak."


Berdebar hati Sung Han, matanya membeliak lebar sekali. Suaranya sedikit serak seperti ada sesuatu yang menahannya. "T-tapi...kenapa?"


"Intinya aku percaya, hahaha!"


"Hahaha...!!" kakek yang di atas itu, tanpa mengetahui apa yang diomongkan, ikut tertawa pula.


"Duduklah sini dan mari kita lihat." ujar Sie Kang. "Nah, dua jagoannya sudah tiba."


Sung Han memandang dan memang benar, dari arah berlawanan, datanglah beberapa orang. Yang datang dari arah kanan, empat orang yang dipimpin oleh pemuda berpakaian serba putih dan berlengan satu. Sung Han sudah mampu menebak siapa adanya orang ini.


Sedangkan dari arah kiri, datang lima orang. Di mana mereka itu terdiri dari topeng emas, Naga Bertanduk, Burung Walet Hitam dan dua orang wanita lain yang memakai jubah hitam berkerudung lebar. Salah satu wanita itu berjalan terpincang-pincang dibantu tongkat, setelah Sung Han menyipitkan mata, ternyata kaki kiri wanita itu telah raib.


Setibanya mereka, segala kesibukan para pendekar itu terhenti dan mereka memandang penuh perhatian. Bahkan tiga kakek sepuh yang sejak tadi memejamkan mata kini mulai bangun dari semedinya.


Dua rombongan ini berdiri saling berhadapan.


Topeng emas buka suara. "Siapa jago mu?"


"Tak perlu bertanya," Kay Su Tek menjawab singkat. "Jika engkau yang maju, pertandingan tak akan lama."


Terdengar suara kekehan dari topeng emas. "Bukan aku yang maju," kemudian dia mempersilahkan salah satu gadis berkerudung itu maju. Gadis sehat yang lengkap anggota tubuhnya. "Dialah yang mewakili kami."


Gadis itu membuka tudung jubahnya, dan semua orang terkejut. Begitu pula dengan Sung Han dan Kay Su Tek. Bahkan kakek cebol yang masih bermesraan dengan ular hijau itu menjatuhkan ularnya.


"Wah, wah, siapa sangka? Kiranya si rajawali. Hahahaha!!" demikian ucap kakek cebol yang berjuluk Kakek Pendek Maha Sakti itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2