Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 81 – Perang Kecil di Desa


__ADS_3

Yang Ruan segera bersiaga mendengar seruan lawannya. Ia merendahkan kuda-kuda dengan tangan kanan di depan dalam keadaan telapak terbuka, sedang tangan kiri terkepal di pinggang. Kaki kanan di depan dan kaki kiri di belakang.


Ia berseru, "Kalian tiga orang pendekar, jaga penduduk!! Mereka bukan kelompok yang bisa dikalahkan hanya dengan cangkul!!"


Tiga orang pemuda itu mencabut pedang masing-masing dan melompat ke pinggiran barisan warga. Membentengi warga desa ini yang menjadi kebingungan. Sedangkan kepala desa sudah berdiri gemetaran karena kerbaunya lari ketakutan.


"Lakukan!!" komando salah satu pria bertopeng.


Yang Ruan mengedarkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk bersiap. Namun dia terbengong ketika melihat tindakan lawan-lawannya itu.


Pasalnya setelah teriakan ini, Yang Ruan kira mereka akan menyerbu secara bersamaan. Kiranya tiga puluhan orang ini turun dari genteng dan menyelinap ke balik bangunan atau dalam rumah. Sehingga sebentar saja tempat itu menjadi sepi, menyisakan si kakek lihai tadi yang kini sedang duduk bersila.


"Mereka takut?" salah satu pemuda, yang bersikap sok gagah di depan Yang Ruan itu sudah berulah lagi. Tapi kali ini dalam hati gadis itu pun sedang berpikir demikian.


Ia melirik ke kanan kiri, melihat puluhan orang itu berkelebatan di sela-sela rumah atau di belakang bangunan. Gerakan mereka ringan sekali, mengurung seluruh warga desa dengan cara berputaran. Sehingga sungguhpun tempat ini terkesan sepi, padahal sedang dikurung rapat.


Melirik ke belakang, Yang Ruan sedikit khawatir akan keselamatan para warga. Namun mencoba menyakinkan diri sendiri bahwa tiga pemuda itu akan dapat mengatasi. Walaupun tampang mereka kurang meyakinkan.


Ia kembali memandang ke depan dan menerjang. Ke arah kakek yang sedang duduk bersila itu. Ini merupakan serangan pancingan untuk memaksa keluar beberapa orang yang sedang berkelebatan itu.


Dan berhasil! Ketika telapak Yang Ruan hampir menyentuh wajah tertutup topeng itu, dia merasakan adanya angin tajam menyambar dari kanan dan kiri. Begitu menoleh kiranya di sana sudah ada dua batang pedang yang meluncur deras ke arahnya.


"Hm..." Yang Ruan bergumam tak jelas.


Ia lalu menarik pulang tangannya untuk kemudian merebut dua pedang itu secara tiba-tiba. Dua pemilik pedang berseru kaget.


Belum hilang rasa kaget mereka, Yang Ruan sudah meloncat dan berputar searah jarum jam. Sembari berlaku demikian, kedua tangannya direntangkan dan secara otomatis membabat leher dua orang tersebut.


"Aiiihhh!!"


Orang yang di kanan meloncat mundur, sedangkan yang di kiri menundukkan badan. Gesit sekali gerakan mereka dan ini membuat Yang Ruan memuji dalam hati.


Orang di sebelah kiri, sudah mencabut belati dari balik bajunya. Yang Ruan bertindak cepat, tangannya berkelebat dengan kecepatan di luar perkiraan untuk menusuk batok kepala orang itu.


Terpaksa ia menarik belati dan melompat mundur, kemudian kembali lenyap di balik bangunan.

__ADS_1


"Awaaaasss!!"


Yang Ruan berteriak ketika dari atas para warga menyambar turun seorang bersenjata tombak. Ia menargetkan kepala desa yang sudah ketakutan dari tadi.


Yang Ruan menggerakkan tangan melontarkan dua pedangnya. Pedang itu meluncur deras namun dapat ditangkis dengan sempurna oleh pemegang tombak itu.


Ingin ia menyusul ke sana tapi sudah tak keburu lagi. Beruntung tiga pemuda itu bertindak cepat menghalau serangan.


"Akkhhh!!" Yang Ruan terpekik dan jatuh tersungkur ketika punggungnya kena hantam telapak tangan orang. Kiranya si kakek sudah bergerak lagi.


Dengan marah, Yang Ruan menerjangnya dan kembali terjadi pertempuran sengit antara dua orang itu. Yang Ruan yang tidak fokus karena mengkhawatirkan keselamatan warga, berkali-kali terpaksa harus menerima serangan.


Sedang tiga pemuda itu, menjadi kualahan sekali menghadapi pengeroyokan puluhan orang itu seorang diri. Satu orang setidaknya harus melawan sepuluh sampai empat belas orang. Sungguh merepotkan.


"Desss! Buagh!!"


Mencapai jurus lima puluh, pukulan si kakek berhasil mendarat di pundak kiri Yang Ruan. Beruntung gadis itu sudah waspada sehingga hanya terpelanting beberapa langkah. Pada saat itu juga, Yang Ruan sudah melanjutkan gerakan berupa tendangan ke dagu.


"Buughh!!" kakek itu terjajar sampai empat langkah jauhnya.


Memandang sekeliling, Yang Ruan merasa tak ada pilihan lain lagi. Keadaan sudah kacau dan dilihatnya beberapa waga telah tewas. Hal ini benar-benar menyusahkan hatinya. Maka tak ada pilihan lain ia harus segera mengalahkan kakek ini dengan ilmu simpanannya.


Si kakek kagum sekali memyaksikan kuda-kuda yang kelihatan amat mengancam itu.


"Ho....kau sudah hendak serius nona? Baiklah, aku tak akan menahan diri!!" Kakek ini pun merendahkan kuda-kuda dan dari kedua tangan terdengar suara berkerotokan.


Yang Ruan bersiap saat kakek tersebut menerjang dibarengi teriakan mengerikan. Ia sabetkan kipas di kiri untuk membabat perut. Namun betapa kaget ketika tangannya seolah menyentuh dinding tak kasat mata, dan membalik.


"Aaahhh!!"


Tanpa diduga siapa saja, dua orang itu terlempar sampai dua tombak jauhnya.


Entah bagaimana, tahu-tahu di sana sudah berdiri seorang kakek cebol yang sikapnya aneh sekali. Berdiri tegak dengan dua kaki terpentang dan berkacak pinggang. Mulutnya menggereng-gereng sebal.


Sedang di belakang Yang Ruan telah berdiri pemuda tinggi tegap yang sudah menahan luncuran tubuh Yang Ruan.

__ADS_1


"Siapa kalian?" Yang Ruan bertanya heran.


Pemuda ini sedikit menjauh dengan wajah sungkan lalu menjura dan berkata, "Hanya murid dan guru yang kebetulan lewat sini."


Yang Ruan terkejut dan cepat-cepat menoleh ke belakang. Di sana masih terjadi keributan hebat berupa keroyokan puluhan orang itu, bahkan salah satu pemuda telah tewas.


Cepat ia menerjang ke sana dan mengamuk hebat. Tapi kali ini Yang Ruan tetap menahan diri, menyimpan sepasang kipas itu dan hanya mengandalkan kaki tangannya. Bagaimana pun juga, ia masih segan untuk menunjukkan ilmu dari kitab keramat itu, terlebih lagi dia tahu telah datang orang sakti cebol tersebut.


"Ah...sial!! Keras kepala sekali!!" Yang Ruan mengumpat kesal. Karena orang-orang ini terus bergerak dan sulit ditangkap, apalagi mereka pandai menyelinap di tengah kerumunan warga. Di sisi lain, dia juga jengkel kepada si pemuda yang baru datang itu sama sekali tidak membantu.


Nasib sial menghampiri Yang Ruan. Gadis ini tak pernah memgira kalau sebenarnya orang yang sama kuat dengan si kakek juga ada di rombongan ini. Dia berciri-ciri sama, rambutnya putih dan agaknya sama tua dengan kakek pertama. Hanya saja rambutnya pendek.


Dengan gerakan tangkas dia meluncur dari belakang dan menusuk punggung Yang Ruan. Gadis ini bergerak cepat mengelak kemudian balas menyerang.


"Bugh! Dess! Dess!"


Satu tendangan berhasil ditangkis sedang dua tinjunya keda hantam lawan dan malah dirinya sendiri yang terpental.


"Memang hebat, Ratu Elang. Sesuai julukannya...." kata orang itu. Sedetik kemudian ia mengangkat tangan, seketika penyerangan terhenti.


"Sandera semua warga. Kalau diteruskan, walaupun kita keroyok ratu ini, pastilah tak akan menang." kata orang itu yang sudah berhasil menganalisa situasi.


Maka para warga itu ditotok lumpuh dan diseret ke pinggir, memberi ruang pada kakek dan ratu itu untuk bertarung.


"Apa mau kalian sebenarnya? Apakah yang menarik dari desa ini?" gertak Yang Ruan.


"Apakah kami ke mari karena tertarik dengan desa kecil ini? Hm, sama sekali tidak." jawab orang ini mengejutkan Yang Ruan. Ia terkejut lagi ketika terdengar ucapan berikutnya, "Semua ini dilakukan untuk menemukan orang-orang macam kalian. Jadi tenang, kau dan mereka tak akan mati." katanya sambil menunjuk murid dan guru di belakang itu.


"Untuk apa kalian mencari kami!!?"


Terdengar kekehan dari mulut orang ini, Yang Ruan makin bingung.


"Untuk menghadapi orang itu, kalau perlu menariknya ke sisi kami, menjadi sekutu kami. Tak ada pilihan lain, kami harus mendapatkannya."


Kening Yang Ruan berkerut dalam.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2