
Selepas perginya Sung Han melawan dua orang lainnya, tanpa banyak cakap lagi Kay Su Tek segera membuka serangan pertama. Pedangnya diputar sedemikian rupa melindungi seluruh tubuh dengan sinar-sinar menggiriskan.
Begitu tiba dekat, ia mengelakkan satu pukulan Jin Yu yang mengarah ke pelipis. Dia menundukkan badan dan dari bawah pedangnya mencuat ke atas menuju dagu Jin Yu.
"Sraaatt!!"
Terlambat sedikit. Dagu Jin Yu berhasil tergores pedang Kay Su Tek walau hanya sedikit.
"Jangan sombong dulu anak muda!!" bentak Jin Yu yang langsung menggunakan kakinya, ia menendang ke atas.
Kay Su Tek melihat serangan dan menghindar ke kiri. Kemudian pedangnya kembali melakukan tusukan mengarah wajah lelaki besar itu.
"Sriiingg–buagghh!!"
Pedang berhasil dielakkan. Sebagai gantinya kepalan tangan kanan Jin Yu dengan telak mengenai wajah Kay Su Tek, membuat pemuda itu terhuyung beberapa langkah.
"Heheh...." kekeh Kay Su Tek dan kembali menerjang.
Terjadilah pertarungan yang amat sengit dan seru, dua orang tua dan muda yang sama-sama mempertahankan kehormatan perkumpulan. Jika melihat kondisi, boleh dibilang kalau dua orang itu merupakan anggota terakhir partai masing-masing di tempat tersebut. Karena pada saat itu sisa-sisa anggota Hati Iblis sudah tewas atau kabur, sedangkan Sung Han sibuk melawan dua orang bertopeng.
Suara berdesing pedang dan kepalan itu terdengar sampai jauh, angin menderu-deru bagai badai yang sedang melanda Perguruan Awan. Walaupun begitu sampai puluhan jurus pun belum ada yang terdesak.
Jin Yu terkejut juga mengetahui kepandaian murid tingkat satu Perguruan Awan itu. Diam-diam dia harus merasa kagum akan ilmu pedang dan kegesitan yang dimilik Kay Su Tek.
Memang pemuda itu telah mainkan ilmu pedangnya yang amat ampuh, yaitu Ayunan Pemecah Surya. Ilmu ini mengeluarkan hawa aneh yang membuat musuh dapat bergidik entah karena apa. Ditambah dengan wibawa Pedang Gerhana Bulan, membuat keampuhan jurus ini meningkat
Mencapai jurus ke enam puluh, Kay Su Tek melesat ke kanan menggunakan ilmunya Menapak Langit. Sehingga tubuhnya hanya berubah menjadi kelebatan putih yang tahu-tahu telah berdiri di samping Jin Yu.
Dilanjut serangan maut berupa bacokan pedang yang kecepatannya sukar diikuti pandang mata. Andai saja si Jin Yu tidak memiliki kepandaian tinggi di tambah pengalaman mumpuni, kiranya saat itu kepalanya sudah terputus dari badan.
Pria besar ini berkelit dengan mundurkan kepala, sungguhpun begitu baju bagian dadanya masih kena serempet senjata lawan. Ia kerahkan tenaga ke telapak tangan dan menampar pelipis Kay Su Tek keras.
"Heyaaaahhh!!"
"Deeesss!!"
"Uughh!!"
Keduanya sama-sama terhuyung beberapa langkah. Kay Su Tek tiga langkah sedangkan Jin Yu enam langkah. Hal ini sudah membuktikan siapa yang lebih kuat.
Tepat ketika telapak Jin Tu hendak memecahkan kepala Kay Su Tek, pemuda ini bertindak cepat dengan menarik tangannya dan menyikut telapak tangan itu. Ini merupakan serangan sekaligus pertahanan yang penuh resiko. Jika gagal karena tenaganya kalah kuat, maka tangan tunggalnya itu akan hancur.
__ADS_1
"Uaaghh!!" Jin Yu memuntahkan darah segar. Kiranya dia terluka dalam karena tadi saat bentrokan, tenaganya malah membalik.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kay Su Tek menerjang dengan tusukan maut menuju jantung. Diiringi pekik nyaring, tubuhnya meluncur deras.
"Heeeaaaahhh!!"
Terdengar lengking nyaring seorang perempuan yang berhasil menggetarkan jantung mereka. Kay Su Tek menghentikan gerakannya dan dia harus cepat-cepat mengerahkan tenaga untuk menstabilkan tubuhnya.
Begitu menoleh, kiranya sudah berdiri seorang gadis muda yang cantik dengan rambut dikepang, memandang sekeliling dengan ekspresi marah.
"Apa.yang terjadi di sini!!!!??"
...****************...
Dia adalah Sung Hwa. Ya, gadis yang baru datang dan membentak marah itu memang Sung Hwa adanya.
Sebelumnya dia bersama Mi dan Yu melakukan perjalanan cepat menuju Perguruan Awan saat mendengar berita bahwasannya Hati Iblis mengambil tempat itu. Awalnya ia menolak percaya, namun setelah sampai di tempat kejadian dan melihat semuanya, tidak ada alasan untuk tidak percaya.
Saat mereka bertiga datang, keadaan di sana sudah kacau balau. Banyak sekali mayat bergelimpangan dengan keadaan mengenaskan. Begitu sampai di pelataran depan, terkejutlah ia denagn pertarungan beberapa orang yang sangat hebat itu.
Melihat ayahnya terdesak oleh lawan, ingin hatinya membiarkan orang itu mati. Tapi mengingat saudara-saudaranya yang mati, dia tak dapat menahan diri untuk tidak melompat keluar dari tempat sembunyi dan membentak demikian.
Ia pandangi wajah orang-orang itu satu per satu. Ketika Mi dan Yu tiba, semua orang sedang memandang ke arahnya.
"Tak perlu tahu siapa aku, yang jelas cepat bunuh keparat itu!!"
Dibarengi bentakan ini, dengan pedang terhunus Sung Hwa menerjang dengan ganas. Pedangnya mengeluarkan sinar-sinar menyilaukan ketika tubuhnya meluncur ke depan.
Kay Su Tek yang melihat gelagat tidak baik dari Jin Yu, segera ambil tindakan untuk menyerang.
Tapi betapa kaget ia ketika lelaki besar itu membentak bagai auman singa. Yang berakibat bumi bergetar dan daun-daun pohon rontok.
Baik Sung Hwa dan Kay Su Tek yang berada di dekatnya merasakan sesak napas luar biasa. Dada mereka sakit seperti dihantam godam raksasa. Tanpa sadar keduanya jatuh berlutut.
Jin Yu memekik nyaring dan melarikan diri. Agaknya lengkingan ini merupakan sebuah tanda bagi dua orang bertopeng itu yang juga segera bangkit.
"Mau ke mana!!?" Sung Han tak mau tinggal diam dan berlari menghadang.
Tapi dia sedikit menyesal karena menjadi ceroboh dan lengah. Ternyata dua orang bertopeng itu kembali menyatukan kekuatan dan mengirim serangan serupa seperti sebelumnya ke arah Sung Han.
Pemuda itu yang masih dalam keadaan berlari, sehingga postur tubuhnya condong ke depan, hanya mampu melakukan gerakan refleks berupa elakan dan tangkisan seadanya.
__ADS_1
"Breessss!!!"
Sung Han terpelanting sejauh empat tombak. Walaupun begitu agaknya dia tidak luka terlalu parah karena sudah bisa bangkit kembali.
"Hah...!!" tetapi saat tubuhnya hendak kembali mengejar, entah kenapa badannya terasa kaku-kaku. Memaksa ia duduk bersila untuk memulihkan diri.
"Benarkah aku telah melemah?" batinnya masih tak mau percaya. Jika memang iya, berarti kekuatan pemuda itu sudah berkurang amat banyaknya.
Nyatanya Kay Su Tek tak mau melepaskan Jin Yu begitu saja. Tanpa memedulikan sekitar ia sudah menerjang lagi untuk mengejar ke arah mana Jin Yu tadi pergi.
Sedangkan Sung Han, setelah selesai bermeditasi ia hendak mengejar kembali. Namun ia mengumpat ketika ada tinju melayang dari kanannya.
"Bughh!!"
Dengan mudah saja dapat ditahannya menggunakan satu tangan. Ia memicingkan mata.
"Oh...apa lagi ini?" katanya dingin akibat suasana hati yang tak cukup baik mengetahui kekuatannya menurun.
"Kau kah yang membantai orang-orang ini!? Jawab!!!" bentak Sung Hwa dengan mata melotot.
"Benar, memang kau siapa? Anggota Hati Iblis juga?"
"Bangsat!!"
Sung Hwa menarik tangannya dan kembali melayangkan satu pukulan lain yang lebih kuat. Kali ini Sung Han tidak bersikap lembut dan mendorong perut lawan keras.
"Deeess!!"
"Aahh!!"
Bagai daun terbang tertiup angin, tubuh Sung Hwa terlontar sejauh lima tombak.
"Siapa kau baru datang sudah marah-marah? Apakah–Ah...!" Sung Han kaget karena baru sadar siapa yang dihadapinya.
"Kau....nona pemberi roti!!" lanjutnya lagi dengan girang. Ia tersenyum lebar seraya tangannya menunjuk-nunjuk Sung Hwa
Gadis itu memandang Sung Han penuh perhatian dan dia sedikit tersentak pula. "Kau....orang yang hanyut di sungai."
"Mengapa kau ada di sini?" tanya keduanya bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG