Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 130 – Tuduh Menuduh


__ADS_3

"Wuaaahh!!"


Serentak Nie Chi dan Khuang Peng yang sedang bercakap-cakap di depan kereta kuda itu lekas bangkit dan membuka tirai kereta. Wajah mereka penuh kepanikan ketika melihat putri Chang Song Zhu yang sudah bangkit duduk sambil menggosok-gosok tubuhnya.


"Ahhhh!!!" kembali putri itu memekik dan mengejutkan semua orang.


"Ada apa paduka putri!?" bertanyalah Khuang Peng dengan khawatir dan juga bingung.


"Waahhh!!" lagi-lagi seruan melengking nyaring yang bahkan lebih keras dari dua teriakan sebelumnya, terdengar dari mulut putri kaisar yang rambutnya masih awut-awutan itu.


Lalu dengan aneh, dia meraba-raba seluruh tubuhnya sendiri. Bahkan tanpa sungkan membuka sebagian bajunya di bagian perut lalu tangannya menggeranyangi badannya sendiri.


Tentu saja Khuang Peng dan Nie Chi terkejut dengan muka merah. Keduanya melompat mundur dan cepat menutup mata mereka sambil berteriak-teriak.


"Aku tak lihat...aku tak lihat...."


"Ahhh...mataku tiba-tiba jadi buta!! Aduuhhh!!"


Sie Kang yang melihat ini mengerutkan kening, begitu pula dengan orang-orang lainnya. Dia menyuruh Wan Jin yang masih setengah tidur untuk mengecek ke dalam kereta. Lelaki paruh baya itu dengan malas berjalan gontai lalu membuka tirai.


Matanya yang masih sipit akibat menahan sisa kantuk yang belum hilang itu tiba-tiba terbuka lebar sekali. Mulutnya sedikit tersenyum namun secara tiba-tiba terbuka lebar dan dia berteriak.


"Waduuhhh, silau!!"


Sama seperti dua pemuda itu, dia sudah menggulingkan tubuh ke belakang dan bergulingan.


Tentu saja ini makin menambah kebingungan Sie Kang. Bahkan dua orang bertopeng itu menjadi terkejut sekali dan terpaksa mengakhiri pembicaraan mereka tentang rencana berikutnya.


Sie Kang dan Gu Ren saling pandang, kemudian keduanya lekas menghampiri kereta untuk melihat apa yang terjadi. Ketika keduanya membuka tirai lebar-lebar, buru-buru Sie Kang memukul ulu hati Gu Ren sambil tangan kirinya menutupkan tirai kembali.


"Memang menyilaukan." kata Sie Kang seolah tak terjadi apa-apa. Setelah berbalik dan menghela napas beberapa kali, dia bersuara lagi, "Paduka, mohon kenakan kembali pakaian anda."


"Waaahhh!!"


Kali ini seruan itu terdengar dari mulut semua orang. Bahkan mereka yang sebelumnya masih terlelap sudah bangkit dengan lagak kereng. Matanya melirik ke sana-sini dengan sikap waspada. Namun ini hanya alibi saja karena lebih sering mata itu melirik ke arah kereta.


Dia pura-pura menguap ketika mendapat tatapan tajam dari Sie Kang yang melihat gelagat orang itu.

__ADS_1


Sedang di dalam kereta sana, terdengar suara berisik disertai jeritan tertahan dari sang putri. Mendengar ini Sie Kang tak bisa berkata apa-apa selain menggelengkan kepala.


...****************...


"Jadi, apa yang anda lakukan?"


Wajah putri itu menjadi merah sekali, dia pun kesulitan hendak mencari alasan bagaimana. Dua topeng bintik merah dan hitam itu mendengarkan dari jauh sambil duduk bersandar pohon. Sedang sisanya mengerubungi putri itu.


"Ingatanku sudah kembali." demikian jawaban pertama dari putri itu setelah sekian lama menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan perasaan tak enak. Satu kalimat yang berhasil mengejutkan dan membikin penasaran mereka semua.


"Ingatan terakhirku, aku diberi semacam pil berwarna putih. Lalu aku ditotok orang dan dilarikannya. Setelah itu aku pingsan dan sampai sini. Aku takut kalau di perjalanan aku diperkosa orang atau bagaimana, jadi....yah karena hal itulah tadi sikapku agak aneh." ucap putri itu menjelaskan.


Sie Kang mengangguk-angguk, dia memandang kepada Khuang Peng, Nie Chi dan Wan Jin yang saling bergerombol di tempat lain dengan senyum-senyum aneh.


"Bocah-bocah sial!" gumamnya sedikit jengkel. Namun dia kembali ke topik pembicaraan.


"Kemungkinan orang yang menotok anda itu adalah sosok penolong."


"Ah, benar juga. Di mana dia? Aku harus berterima kasih." putri itu sudah berdiri dan mencari-cari. Tapi dia harus merasa kecewa karena sama sekali tidak mengenal wajah penolongnya.


Saat itu, dari barisan belakang terdengar suara si topeng bintik merah berkata, "Sayang sekali tapi kami tidak menemukan penolong anda. Yang kami temukan adalah penculik anda yang tak berhasil kami tangkap."


"Apa!?"


Jelas hal ini mengejutkan mereka semua. Sie Kang yang mengetahui siapa yang dimaksud penculik itu merasa sedih sekali karena mengenal sosok itu. Dia tak lain adalah Sung Han, seorang anak kecil yang dulunya menjadi kacung Rajawali Putih.


"Kira-kira seperti ini gambarnya." ujar topeng bintik hitam memberikan kertas gambar. Di sana, nampak gambar Sung Han yang cukup mirip dengan aslinya.


"Mari lekas kembali ke kota raja, kita harus menyebarkan gambar ini agar orang-orang tahu bahwa dia adalah pemberontak!"


Setelah itu, berangkatlah mereka menuju ke kota raja. Wajah Chang Song Zhu merah padam menahan amarahnya. Amarah kepada kakaknya dan kepada sosok di gambar itu.


Sedang orang-orang pengiringnya itu merasa girang sekali karena saat ini, pangeran telah dipastikan bersalah sebagai ketua Serigala Tebgah Malam. Bahkan dugaan mereka makin kuat jika pangeran itu adalah pemberontak.


Namun diam-diam mereka merasa sedih jika pencuri itu adalah Sung Han. Semua orang di dalam rombongan itu sudah mengenal siapa itu Sung Han, dan mereka memiliki hubungan masing-masing dengan pemuda itu.


Yang paling sedih adalah Sie Kang, lelaki tua ini wajahnya tak pernah tenang seiring berjalannya rombongan mereka ke kota raja.

__ADS_1


...****************...


Chang Song Jue memandang tidak senang dengan kepulangan Chang Song Ci yang nampak terburu-buru. Pangeran satu itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaan putera mahkota dan terus berlari ke ruang singgasana di mana kaisar berada.


Pangeran Chang Song Jue mengerutkan kening, ia merasa penasaran dengan sosok itu. Maka dia mengkuti masuk ke ruang singgasana di mana kakaknya itu sudah berlutut menghadap kaisar.


"Ayahanda kaisar, ada berita penting."


Kaisar yang rambutnya sudah botak itu memandang penuh perhatian. Jawabnya singkat, "Katakan."


"Pengawal perempuan adik Song Zhu telah mengacau di desa dekat kota raja. Bersama satu orang pendekar muda berjuluk Pendekar Tangan Tunggal, mereka membantai prajurit kita di sana."


Chang Song Jue yang baru masuk, serta kaisar sendiri merasa terkejut sekali. Bahkan keudanya mengeluarkan seruan tertahan.


"Bagaimana kau bisa yakin dengan itu!?"


"Aku yakin karena orang-orang di sana telah melapor kepada saya beberapa hari lalu. Maka dari itulah saya buru-buru pulang untuk mengatakan hal ini."


"Lalu di mana Song Zhu!?" tanya kaisar dengan raut wajah gusar.


"Dia diculik lalu dilarikan entah ke mana. Kemudian yang saya dengar dari pelapor, hanya terlihat pengawalnya itulah yang sudah mengacau di desa tersebut. Untuk adik Song Zhu masih belum diketahui keberadaannya."


"Cari dia!!"


"Baik."


Setelahnya, pangeran itu dengan langkah cepat pergi keluar ruang singgasana dan segera menjalankan siasatnya. Song Jue yang melihat ada sesuatu yang tidak beres, berkata kepada ayahnya.


"Apakah dia berkata jujur?"


"Persetan dengan itu, yang penting Song Zhu pulang dulu baru kita pikir rencana berikutnya."


Chang Song Jue kembal memandang ke arah perginya Chang Song Ci. Dia merasa, ada sesuatu yang janggal di setiap kalimat yang terucap dari mulut pangeran itu.


"Pasti akan terjadi sesuatu yang besar, sebentar lagi." gumamnya tak tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2