Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 169 – Elang dan Rajawali


__ADS_3

Yang Ruan memekik sekencangnya ketika secara tiba-tiba sekali Sung Hwa mencabut pedang dan menerjang Sung Han yang masih berdiri diam termenung. Dia hendak melompat menolong namun sudah sangat terlambat, gerakan Sung Hwa demikian cepat sehingga dalam sekedip saja dia sudah tiba di depan Sung Han.


"Craaapp!!"


Yang Ruan berdiri dengan muka pucat ketika melihat ada tetes-tetes air kental berwarna merah di bawah kaki Sung Han. Tubuhnya lemas seketika dan dia menggigil.


Jika Yang Ruan yang menjadi pucat karena khawatir akan keselamatan Sung Han, adalah Sung Hwa, gadis putri Hati Iblis itu berubah pucat akibat melihat apa yang terjadi di hadapannya. Darah itu menetes deras namun sosok yang ditusuknya masih berdiri tegak.


Sung Han tadi termenung dengan perasaan campur aduk. Mendengar semua cerita Sung Hwa yang sangat luar biasa itu, membuat dia berduka bukan main. Namun walaupun demikian bukan berarti dia hilang kewaspadaan, sebagai seorang pendekar instingnya selalu bangun.


Sama halnya ketika Sung Hwa menerjang secepat kilat tadi, dia sama sekali tidak melihat dengan mata namun melihat dengan instingnya. Ketika nampak kelebatan sinar putih menuju dada, secara refleks tangan kanannya bergerak mencengkeram pedang itu.


Karena bergerak secara refleks dan spontan, maka pengerahan tenaga yang ada pada tangannya berkurang jauh. Ditambah seorang pendekar sejati seperti Sung Hwa, pastilah serangan pedangnya bukan main-main. Akhirnya, telapak tangan Sung Han lah yang terobek lebar. Akan tetapi pemuda ini tetap berdiri tegak dengan pandangan kosong.


"Nona Han....kasihan sekali engkau...." gumam Sung Han masih melihat ke kejauhan. Sama sekali tak pedulikan Sung Hwa yang memandang terbelalak padanya, "Kau maafkanlah aku...."


"Keparat busuk!!" Sung Hwa membentak dan dia melepas pedangnya, membiarkan Sung Han terus mencengkeram pedang itu. Sedangkan dia sendiri sudah menggunakan ilmunya yang sangat hebat, berupa ilmu tendangan yang luar biasa ganasnya.


Ilmu ini dinamakan Cakar Rajawali Sakti. Ilmu ciptaannya sendiri setelah dia mendapat julukan sebagai Rajawali Merah.


Dahulu ketika dia masih berada di kerajaan manusia gunung dia dilatih ilmu silat oleh Chunglai, pria itu mengajari ilmu-ilmu silat aneh berupa gerakan yang diambil dari gerakan hewan. Sehingga gerakan silat manusia gunung memang hampir mirip seperti gerakan hewan.


Salah satunya adalah ilmu tendangan yang didasari dari burung elang, rajawali dan garuda. Sung Hwa sudah menguasai ilmu itu dan mengambil intinya, membuang gerakan yang tak perlu dan terciptalah ilmu Cakar Rajawali Sakti.


Tubuhnya melayang di udara setinggi kepala manusia, lalu secara tiba-tiba kaki kirinya mengirim sapuan setengah lingkaran dari kiri ke kanan.


"Wuuutt!!"


Mudah saja bagi Sung Han untuk mengelak dengan cara mundurkan badan.

__ADS_1


Tak berhenti sampai di sana, selagi tubuhnya masih melambung, badannya melakukan puataran dan kali ini tendangan tungkak kaki kanan yang manuju ke arah leher.


"Dukk!!"


Sung Han menangkis dengan tangan kiri. Pada saat itu, kaki kanan Sung Hwa kembali lagi dan gadis itu melakukan serangan susulan. Berupa totokan ujung sepatu kaki kiri ke arah dada. Luar biasa gerakan ini karena posisi Sung Hwa sedang membelakangi Sung Han.


Kali ini Sung Han tak mau ambil resiko dan dia melompat ke belakang sambil melepaskan pedang.


"Nona...apa maksud perkataanmu?" tanya Sung Han tenang. Dia masih berduka atas meninggalnya nona dan nyonya Han.


Sung Hwa menatap tajam, "Aku putri Hati Iblis!! Kau ingat bukan?!"


Sung Han mengerutkan keningnya, kemudian dia teringat kejadian beberapa tahun lalu itu, betapa dia diserang secara tiba-tiba oleh seorang gadis yang dia sebut sebagai gadis pemberi roti ketika dia dan Kay Su Tek mengamuk di markas Perguruan Awan. Kiranya ini adalah putri Hati Iblis, maklumlah jika waktu itu dia marah besar.


"Apa kau juga memusuhi Kay Su Tek?" tanya Sung Han kemudian.


"Aku hanya memusuhimu, Kay Su Tek sahabatku!!" Sung Hwa menjawab keras, sambil menuding wajah Sung Han dia berkata lagi, "Kau yang waktu itu membantai anggota Hati Iblis!!"


"Tidak!!" katanya tegas, "Dia sama sekali tidak menyentuh anggota Hati Iblis, dia hanya melawan pasukan pemerintah!"


Sebenarnya, Sung Hwa sendiri ragu akan perkataannya ini. Selama ini, dia amat mendendam kepada Sung Han karena berharap bahwa sosok yang masih satu keluarga itu dapat membantunya membebaskan orang-orang Hati Iblis dari jalan sesat, namun ternyata justru pemuda ini yang menghabisi mereka semua.


Namun, berkali-kali dia menyangkal pemikiran ini. Pemikiran yang selalu membuatnya terpaksa bangun dari tidur. Kay Su Tek juga terlibat, mengapa dia tidak mendendam padanya? Pertanyaan yang tak pernah mampu ia jawab dan tak pernah mau ia pikirkan. Dia selalu menyangkalnya.


Mendengar pertanyaan Sung Han tadi, bagai ada petir menyambar Sung Hwa berdiri sedikit goyah. Hatinya berguncang. Benarkah dia ingin bertemu Sung Han karena dendam? Benarkah itu?


Namun melihat kenangan masa lalu di mana para anggota Hati Iblis rebah malang melintang di bawah kaki pemuda ini, kemarahan Sung Hwa bangkit.


"Jangan banyak bicara! Ayo selesaikan ini!!"

__ADS_1


Sung Hwa menerjang lagi, menyambar pedangnya yang tadi dilempar Sung Han dan menyerang kalang kabut.


"Syutt....wuuss!!"


Ketika baru beberapa jurus bergebrak dengan Sung Han, ada angin menyambar dari samping disusul sebuah telapak kaki yang hendak menghantam pelipis Sung Hwa. Gadis ini memundurkan kepala dan melompat beberapa tombak.


"Jangan ikut campur!"


"Wanita lawan wanita. Lawanmu adalah aku!" bentak Yang Ruan seperti singa marah. Matanya berang bersinar-sinar.


"Yang Ruan, mundur!" Sung Han memperingatkan, "Dia kuat sekali!"


"Sekali pendekar mengajak bertanding, sampai mati pun dia tak akan menarik kata-katanya!" Yang Ruan berkeras.


Karena sudah tak sabar hendak melawan Sung Han, Sung Hwa tak memedulikan apa-apa lagi dan dia cepat menerjang ganas ke arah Yang Ruan. Namun dia masih memiliki kegagahan, melihat Yang Ruan yang bertangan kosong, dia masukkan pedangnya dan menyerang dengan tangan kosong pula.


Terjadilah perkelahian yang amar hebat dan seru, dua orang gadis cantik seperti dewi kahyangan yang sering diibaratkan dalam lukisan-lukisan seorang seniman terkenal. Sedang bertempur mati-matian dengan aneh namun tegang sekali.


Keduanya sama sekali tidak menggunakan tangan, dan hanya berfokus pada ilmu silat kaki. Saling terjang dan melambung untuk kemudian dua buah kaki bertumbukan menimbulkan suara keras dan angin kencang.


Dua orang ini kebetulan memang sama-sama ahli dalam ilmu meringankan tubuh dan ilmu silat serangan kaki. Tangan mereka hanya digunakan kadang-kadang saja untuk menangkis. Sehingga pertarungan ini benar-benar seperti nama julukan mereka. Ratu Elang dan Rajawali Merah, Sung Han melihat jika saat ini memang seekor Elang dan Rajawali sedang bertempur hebat.


Akan tetapi, Sung Hwa merupakan seorang pendekar sejati yang kesaktiannya melebihi pendekar biasa. Maka dalam dua puluh jurus lebih saja Yang Ruan sudah terdesak hebat.


Mencapai jurus keempat puluh, agaknya Yang Ruan sudah mencapai batas. Tendangan kaki kiri Sung Hwa tak mampu dielakkan lagi dan tepat bersarang di dadanya.


"Aakkkhhhh!!!"


Darah segar menyembur di udara dibarengi melayangnya tubuh Ratu Elang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2