
"Wah ..., wah, jika begini jadinya kami pun tidak akan dites dan langsung masuk. Aku khawatir orang-orang akan menertawakan kami karena dianggap curang," kata pria dua puluh lima tahunan yang lolos seleksi awal.
Han Ji sudah menghajar mereka sampai ke tingkat hampir mati. Wajah keempatnya babak belur tak karuan, ungu biru dan mata mereka tak bisa melihat karena bengkak.
Semua ini Han Ji lakukan tanpa menggenggam senjata. Benar-benar hanya dengan tangan kosong, mengandalkan kaki tangannya.
Xian Fa yang duduk agak jauh dari Han Ji, membuka matanya dan melirik orang itu. Seseorang yang berkulit sedikit coklat karena terpapar sinar matahari. Sekilas pandang dia seperti nelayan. Namun mata Xian Fa yang tajam, mampu melihat bahwa kulit kecoklatan itu tidaklah asli. Bahkan wajah muda itu entah asli atau palsu. Yang jelas, baik Xian Fa, Han Ji dan orang itu, sama-sama sedang menyamar.
Muka perwira muda yang memimpin seleksi ini sudah memucat seperti patung kapur. Keringat dingin sebesar jagung membasahi dahinya, kakinya gemetaran hebat dengan lutut yang terlihat sama sekali tidak kokoh. Jauh bedanya dengan sikap angkuh di awal tadi. Sekali ini dia nampak seperti tikus kecil yang ketakutan di hadapan tiga kucing buas.
"Perwira, apa selanjutnya?" tuntut orang berkulit coklat itu lagi.
Perwira itu seperti baru tersadar dari mimpi, dengan gugup dia menjawab. "N-nona ini lulus. K-kalian harus dites lebih dulu."
Wajah si kulit coklat itu berseri, namun ada sinar tidak senang di matanya. "Oh, begitukah? Bagaimana kalau kami berdua melawan nona ini?"
"Ide bagus!" jawab perwira cepat. "Memang seharusnya begitu. Empat saudara ini sudah tak akan mampu untuk pengetesan lagi."
Nampak seringaian di mulut sinkulit coklat sebelum tubuhnya mulai menerjang dengan pukulan kuat.
Di sisi lain, Han Ji sudah siap siaga dengan mengaliri hawa sakti ke seluruh tubuhnya. Kakinya sudah hampir bergerak mengirim serangan balasan ketika tahu-tahu ada yang memegang pundaknya dan melemparnya jauh.
"Desss!!"
Xian Fa telah menahan pukulan itu dengan telapak tangan kirinya. Tubuhnya sama sekali tak bergerak, kecuali hanya mantel dan kain renda di ujung capingnya yang berkibar. Selebihnya, tubuh itu bagaikan tembok kokoh tak tertembus.
"Rasanya aneh melawan seseorang yang sudah lelah," ucap Xian Fa. Dia melirik Han Ji. "Kau diamlah di sana. Biar aku mengurus satu ini."
Terlihat Han Ji mengangguk kecil dan bersila. Dia sama sekali tidak merasa khawatir karena yakin pemuda itu pasti akan menang. Bahkan, dia duduk seperti sedang menonton sebuah opera, mengeluarkan daging keringnya dan memakannya setelah memposisikan duduk.
"Haha, boleh juga kau," desis pria itu.
__ADS_1
Xian Fa memandang tajam. "Kau pun sama. Mari bertanding satu dua jurus."
"Siapa takut! Awas serangan!"
Kaki kiri pria itu terangkat melakukan sapuan mengarah rusuk. Xian Fa bergerak cepat menyambut dengan telapak tangan kanannya.
"Dukkk!"
Keduanua terpental sejauh tiga langkah. Keduanya sama-sama terkejut dengan mata terbelalak. Pertemuan dua tenaga itu membuat tubuh mereka tergetar dan lengan serta kaki yang saling berbentur tadi terasa bergetar. Baru sekaranglah keduanya yakin jika pertemuan tenaga di awal tadi hanyalah main-main.
Baik Xian Fa dan lawannya, merasakan gejolak semangat yang membara. Mereka sama-sama pendekar sakti yang jarang menemui banding, sekali bertemu lawan lebih sering menang dari pada berimbang bahkan kalah. Maka kini, menemukan lawan yang mampu mengimbangi, kegirangan mereka tak tertahankan.
"Aku Hok Liu," seru si kulit coklat itu.
"Aku Xian Fa," balas Xian Fa dan menerjang.
Hok Liu pun maju menerjang dengan pukulan kedua tangan yang ampuh. Segera keduanya terlibat dalam pertarungan sengit yang dahsyat dan mendebarkan. Bayangan kelenatan jubah mereka saling gulung hingga sebentar kemudian, sukar dibedakan mana bayangan Hok Liu dan Xian Fa.
Daging kering di mulut Han Ji sudah lama jatuh kembali ketika gadis itu terbengong saking kagumnya melihat pertempuran mereka. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya bisa terus mengimbangi Xian Fa yang sudah mencapai pendekar sejati.
Mencapai jurus keseratus, Xian Fa mundur dan kuda-kudanya berubah. Dia yang merupakan pendekar sejati merasa sedikit penasaran mengapa dari tadi tak juga mampu menundukkan lawan, maka sekarang pemuda itu memutuskan untuk tidak menahan diri lagi.
Hawa sakti mengalir ke setiap pembuluh darahnya, matanya berkilat menunjukkan sinar-sinar mengerikan yang bahkan mampu menundukkan lawan lemah.
Sedangkan Hok Liu, kuda-kudanya pun berubah. Kini dengan kaki rapat, dia membentangkan kedua lengannya yang terlapisi jubah lebar.
Ini pertempuran pendekar tingkat tinggi, Han Ji tahu itu dan dia tak dapat menahan diri untuk meneguk ludah susah payah.
Sedetik kemudian, keduanya bergerak dalam waktu hampir bersamaan. Tubuh Hok Liu seperti diterbangkan angin dan menjadi layang-layang, kemudian dari atas dia mengipas-ngipaskan kedua lengan yang menciptakan angin
Menghadapi serangan itu, Xian Fa tak berani untuk melompat, dia sadar akan serangan bahaya. Maka dari itulah dia lebih sering bergelindingan bahkan merayap seperti kadal di tanah. Namun gerakan itu tidak canggung atau main-main, melainkan memang ilmu silat pilihan yang jarang bandingannya.
__ADS_1
Lalu saat tubuh Hok Liu turun, seperti seekor ular yang mengibaskan ekornya, Xian Fa berhenti merayap lalu dengan tumit kaki dia menendang tepat pada lambung Hok Liu.
Suara nyaring terdengar dan tanah bergetar begitu Hok Liu memutar tubuhnya dengan cepat sekali dan tiba-tiba. Dan dari tubuh itu menyambar angin berpusing yang berhasil menghalau tendangan Xian Fa.
Selesai berputaran, kiranya Xian Fa telah berada di atasnya dengan posisi bagai singa menerkam mangsa. Kedua tangan mencengkeram ke pundak dan itu merupakan serangan maut.
"Haaahhh!"
Keduanya membentak, Hok Liu memapaki kedua tangan Xian Fa dengan kedua tangannya. Setelah bersitegang beberapa saat, keduanya terpental dua tombak dan terhuyung.
"Matamu mirip seseorang." Tanpa memedulikan pertarungan barusan, Hok Liu berkomentar. "Mirip sekali."
"Gerakanmu juga mirip kenalanku," jawab Xian Fa. "Persis."
Kemudian terdengar suara tepuk tangan yang datangnya dari pintu bangunan. Serentak ketiganya menoleh dan baru sadar bahwa di sana telah berdiri banyak tentara. Kemudian mata tiga orang itu secara berbareng menyipit saat menyadari siapa yang sedang bertepuk tangan itu.
Seorang pria pesolek yang mungkin berusia empat puluh lebih tapi masih tampan. Kumis dan jenggotnya tipis terawat. Pakaiannya indah khas bangsawan. Siapa lagi kalau bukan tuan Kota Daun, Chang Song Ci.
"Hebat ..., hebat ...," pujinya penuh kagum. Dia merentangkan kedua tangannya. "Selamat datang. Kalian akan menjadi pengawal-pengawal pribadiku."
Ketiganya segera menjura penuh hormat. Sekadar penghormatan formalitas karena di dalam hati masing-masing, terkandung niat jahat kepada pangeran itu. Bahkan Hok Liu pun tak terkecuali.
"Semoga pangeran panjang umur," Hok Liu berkata.
"Terima kasih atas kebaikan paduka," kata pula Xian Fa merendah.
"Betapa bahagia hati kami telah terpilih menjadi pengawal-pengawal pribadi paduka yang mulia dan terhormat. Terima kasih kami ucapkan," Sung Hwa berkata.
Tiga orang yang sudah terbiasa hidup mengembara, tak terlalu memikirkan sopan santun berlebihan, ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu, jelas sekali bernada menjilat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG