Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 21 – Diskusi


__ADS_3

"Jadi, jelaskan kepada kami, apa-apa yang sekiranya belum kami tahu."


Sung Han mencoba menhindari tatapan sepasang mata yang tajam dari Yu Ceng, entah kenapa dia merasa tidak enak sendiri.


"Aku saja tidak tahu mana yang kalian tahu dan mana yang tidak?"


"Kalau begitu beritahu kami soal dirimu, kenapa guru besar sampai menyuruh aku merawatmu. Setidaknya sebagai tuan rumah dan pemberi makanmu selama beberapa hari ke depan, tak masalah kan kalau aku tahu?"


Sung Han menghela nafas berat sebelum bercerita. "Aku ini dulunya kacung Rajawali Putih yang ikut dalam tragedi di hutan itu, pembantaian keluarga ku."


"Orang tuamu dari Rajawali Puith?" tanya Yu Ceng cepat.


"Bukan. Tapi aku sudah menganggap mereka semua sebagai keluarga." kemudian dia melanjutkan, "Dua orang yang di bawah tadi juga ikut dalam pembantaian waktu itu, bahkan tuan mudamu dan si brewok juga ikut."


"Maksudmu paman Bao Leng?" Yu Ping memotong, "Si brewok kan?"


"Ah...namanya Bao Leng? Ya, mungkin itulah."


Sung Han menceritakan mulai dari awal sampai akhir. Lima tahun lalu, kemudian disusul pertemuan antara dirinya dengan rombongan Tongkat Emas di desa Batu Alam. Lalu bentrokan di hutan melawan Tiga Iblis Muka Satu yang kemudian menewaskan banyak korban jiwa di kedua pihak.


"Brakk!!"


Belum selesai cerita Sung Han, terdengar meja digebrak dan tahu-tahu Yu Ceng sudah bangkit dengan mata melotot. Giginya bergemelutuk disertai wajahnya yang merah padam.


"Kau yang membunuh mereka? Kau yang membantai mereka?" desisnya.


Sung Han memandang penuh perhatian sebelum menjawab, "Benar....anggap saja itu balasan untuk lima tahun lalu–eh nona Yu?"


Yu Ceng bergerak cepat, kedua tangannya menarik kerah Sung Han dengan kasar. Saat itu pemuda ini dapat merasakan aliran nafas Yu Ceng yang memburu, menerpa wajahnya dengan ganas.


"Kau....kau....!!"


Ingin Sung Han melepas paksa, namun sedetik kemudian dia terbelalak saat tiba-tiba Yu Ceng roboh ke samping. Yu Ping menjadi histeris serta menubruk kakaknya itu.


"Kakak...apa yang kau lakukan? Tubuhmu lemah!!"


Dengan tertatih-tatih, Yu Ceng bangkit berdiri dibantu adiknya. Yu Ping memapahnya menuju kamar, sebelum menghilang di balik gorden yang menghubungkan dengan ruang tengah, dapat dilihat sekilas oleh Sung Han betapa mata yang cantik itu menatapnya tajam.


Sedangkan Yu Ping hanya memandang Sung Han dengan ekspresi kecut, seolah meminta maaf atas kelakuan kakaknya.


Seperginya dua orang itu, Sung Han menghela nafas berat. "Apakah yang kulakukan ini salah? Kenapa banyak sekali yang tidak menyukaiku?"


"Kamarmu di atas!!!"


Sung Han terperanjat saat terdengar suara lengkingan yang disusul dengan batuk-batuk dan teguran keras dari Yu Ping. Pemuda ini hanya mampu menggeleng.


...****************...

__ADS_1


Esok paginya, di tempat yang lumayan sepi dan cukup terpisah dari pemukiman anggota baru, nampak Sung Han dan Giok Shi yang duduk saling berhadapan untuk bercakap-cakap.


"Kita lanjutkan obrolan kemarin." Giok Shi memulai percakapan.


"Kemarin sampai mana? Aku lupa."


Giok Shi mengerutkan kening dan terlihat berpikir keras. Namun agaknya lelaki tua itu juga lupa dengan percakapan kemarin. Hingga akhirnya malah Sung Han yang teringat lebih dulu dan bertanya.


"Kenapa kau mengurung aku di sini?" hilang sudah adab bicaranya.


"Ah...benar, kemarin sampai sana. Ehm...bukan mengurung, melainkan untuk menjagamu." balas Giok Shi tenang. "Aku tidak meremehkanmu." lanjutnya lagi ketika melihat Sung Han hendak membantah.


Mendengus singkat sebelum menjawab, "Kau mengamankan aku di sini? Itu bukankah sama saja dengan meremehkan, apa kau kira aku akan mati cepat dengan berpergian di luaran sana?"


Giok Shi menghela nafas. Banyak sabar memang untuk menghadapi pemuda yang demikian keras kepala. Dia mengacuhkan itu dan berkata akan hal lain.


"Sung Han, agaknya memang benar kalau Hati Iblis lah pihak ketiga yang telah mengadu domba kita semua."


Sung Han miringkan kepala, menuntut jawaban.


"Mereka mulai melakukan siasat. Kemarin aku belum sempat bilang ini kepadamu, tapi sudah beberapa desa di sekitaran sini yang dikacaukan oleh mereka. Kau tahu kenapa?"


"Mungkinkah itu untuk memancing engkau agar keluar dan memperlihatkan ilmu warisan itu?"


"Nah benar! Aku juga berpikir demikian! Sudah kuutus Gu Ren, Bao Leng dan Pat Kue untuk menyelidik dan menghentikan tindak tanduk mereka. Tapi, hah....jika dibiarkan maka warga tak bersalah akan jadi korban."


Giok Shi mengangguk-angguk, "Memang memprihatinkan, tapi bagaimana lagi, perjalanan dari sini ke satu desa bukanlah singkat. Hah.....setidaknya kita bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan."


Sung Han berpikir beberapa saat lalu melanjutkan, "Kau akan turun tangan?"


Giok Shi menghela nafas, "Entah, jika sudah gawat benar, barulah aku turun tangan membantu Gu Ren. Atau kalau mereka berani mati datang ke mari secara terang-terangan."


Kemudian Sung Han terpikirkan akan satu hal yang kemarin malam, sebelum tidur tiba-tiba terpikirkan olehnya. Lekas saja ia tanyakan hal itu kepada lelaki botak ini.


"Eh, aku ada satu hal yang membuat penasaran. Sekarang, dimana murid yang lima tahun lalu mengabarkan kalau tetua kalian sudah ditemukan?"


Giok Shi terkejut sekejap, namun kembali tenang setelah beberapa saat. Jawabnya halus namun penuh nada duka, "Dia...selepas mendengar berita akan perbuatanmu di hutan, dia lenyap."


Sung Han bangkit berdiri dan memandang marah, "Kenapa tak kau tahan!! Apa bisa kau pastikan kalau itu memang benar anggotamu!?"


Giok Shi nampak makin berduka, "Jangan marah seperti itu Sung Han, aku sudah terpikirkan akan hal ini. Memang setelah beberapa waktu setelah aku menemukan kitab dan pusaka warisan Topeng Putih, beberapa minggu kemudian berita itu tersebar. Aku menduga, mungkin dia lah orangnya yang menyebarkan hal itu."


"Lalu saking khawatirnya dengan murid utamaku, yaitu ayah Gu Ren yang waktu itu lenyap entah kemana selama beberapa hari, saat anak itu memberi laporan aku menjadi girang dan mengutus beberapa orang pergi menyelidik."


Kakek itu tiba-tiba terperanjat ketika Sung Han kembali berseru. "Lalu kenapa menghadang perjalanan kami? Apa dari awal kalian sudah tahu kalau tetua itu telah mati?"


"Menurut penuturan Gu Ren, setelah beberapa waktu pergi menyelidik, mereka menemukan kabar kalau ayah Gu Ren telah tewas. Dan itu benar karena mereka menemukan tubuhnya, namun tanpa kepala. Setelah menguburkan mayat itu, dia mendengar kabar dari bandit di sekitaran sana yang katanya menjual kepala ayah Gu Ren itu dengan dimasukkan ke dalam peti."

__ADS_1


Menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, "Bandit itu habis tak bersisa. Tapi peti-peti penyimpanan di sana semua berbentuk sama, sehingga Gu Ren dan lainnya berpikir bahwa peti yang digunakan untuk wadah kepala itu juga sama bentuknya. Jadi setelah beberapa hari menyelidik, akhirnya mereka menemukan peti yang sama di Rajawali Putih."


"Breeesss!!"


Batu tempat Sung Han duduk tadi hancur jadi tepung tepat ketika pemuda itu menginjaknya. "Sekongkol! Pastilah yang membunuh muridmu, bandit dan murid pelapor itu berada di pihak yang sama!"


"Aku juga menduga akan hal itu. Dan dugaan ini makin kuat saat mendengar berita kau diundang ke mari, lalu murid pelapor ini lenyap. Tentulah dia ketakutan setengah mati jika sampai kau tahu akan dirinya."


"Keparat!!" Sung Han marah sekali, wajahnya merah padam. "Ternyata begitu! Begitu kah kejadiannya!?"


"Aku tidak berani membohong."


Sung Han seperti orang kesetanan, dia menghancurkan pohon-pohon atau batu-batu di sekelilingnya tanpa pandang bulu. Hingga setelah puas, dia kembali di hadapan Giok Shi yang melambaikan tangan seperti memanggil seseorang.


"Nah, apa yang hendak kalian curigai. Apakah aku berbohong? Apakah Sung Han penjahat? Dia melakukan pembunuhan di hutan itu adalah akibat kesalahan kita sendiri lima tahun lalu. Dosa kita!"


Sung Han menjadi heran. Namun segera rasa heran itu lenyap saat tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan berdiri dua orang di sana.


"Lie Cong, Pek Siam?" terkejut Sung Han mengetahui kedatangan dua orang itu.


Lie Cong dna Pek Siam tak ambil peduli akan Sung Han dan berkata hormat kepada Giok Shi, "Tapi tetap saja hati kami..."


"Lie Cong, mau sampai kapan kau biarkan tubuhmu dibakar api dendam? Kau belum terjerumus terlalu jauh, lupakan dendam itu!"


Lie Cong nampak tak puas, namun hanya mengangguk. Kemudian Pek Siam menghadapi Sung Han dan berkata, "Sung Han, kami sudah mendengar semuanya. Sungguh pun hati kami merasa tak puas karena kau memang tak bersalah, tapi biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Agaknya dengan pembicaran guru dan dirimu, semua menjadi terang."


Lalu dia menoleh ke arah Giok Shi, "Guru, kita harus mengabarkan berita ini ke semua anggota. Mereka harus tahu akan permasalahan tak jelas selama lima tahun ini. Begitu pula dengan rombongan tuan muda, kita harus kirim surat."


"Lakukan seperti apa yang kau katakan!" perintah Giok Shi. Dua orang ini membungkuk hormat dan berpamit sebelum pergi dari sana.


Giok Shi memandang Sung Han, "Sung Han, sekarang hatiku lega. Sudah lama aku ragu untuk menuduh Hati Iblis sebagai pihak ketiga, tapi setelah mendengar penuturanmu dan melihat gerakan Hati Iblis yang membikin kacau sana-sini, lenyapnya muridku tepat sebelum kedatanganmu, aku bisa percaya kalau Rajawali Putih memang tak bersalah dan memang muridku yang hilang itulah telah bersekongkol dengan mereka."


Sung Han mengerutkan kening, "Daritadi aku lebih sering mendengar omonganmu dan sama sekali tidak memberitahu apa-apa, semuanya kau sudah menduga. Kenapa sekarang setelah bertemu denganku, kau baru percaya Rajawali Putih tak bersalah?"


Kakek itu tersenyum lembut, "Kau pikir sudah berapa tahun usiaku? Aku sudah berpengalaman untuk mengetahui bohong dan jujurnya seseorang."


"Aku tidak berkata bohong atau jujur."


"Memang, tapi sikapmu memang jujur. Jika kau berusaha menutupi sesuatu, aku akan tahu. Perilaku anak muda macam engkau ini mudah sekali ditebak."


Sung Han mengerutkan kening. Tapi Giok Shi kembali berkata, "Sung Han, sekarang yang mereka incar tak hanya aku, melainkan juga pedangmu. Pedang pusaka itu tak banyak orang yang tahu, bahkan alasan sebenarnya kau kuamankan di sini pun hanya beberapa orang kepercayaanku saja yang tahu. Kau harus berhati-hati, Naga Hitam sedang dalam bahaya."


Sung Han mengangguk, tatapanmu sedikit berubah, tangannya terkepal erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2