
Beberapa hari kemudian, pasukan Jeiji yang ditunggu-tunggu itu tidak segera datang. Namun hal ini juga menimpakan sedikit keuntungan di pihak Chang karena mereka bisa segera mengevakuasi rakyat ke tempat aman.
Perasaan waswas ketika mengingat betapa di pantai masih berjajar armada Kekaisaran Jeiji, semakin membesar seiring bertambahnya hari dan berkurangnya penduduk di sini yang membuat setiap jalan lenggang seperti tak berpenghuni.
Setiap detik, menit dan jam, para pasukan tentara sibuk bersiap siaga untuk mengantisipasi serangan kejutan dari lawan.
Sung Han melihat ini semua dari bukit tempat dia beristirahat. Ingin dia turun tangan segera untuk membantu, namun benar perkataan Sung Hwa. Lukanya ini cukup parah dan dia mampu merasakan itu. Tapi jika dibandingkan dengan saudara-saudara segolongan lain ketika Desa Alang-Alang diserbu, mungkin dia inilah yang terluka paling ringan.
Berkali-kali Sung Han menghela napas. Apakah dia akan jadi pengecut di sini? Namun jika dia turun tangan, itu lebih pengecut lagi karena dia akan terjun ke peperangan yang pasti membuatnya mati. Itu sama dengan bunuh diri dan bunuh diri adalah tindakan paling pengecut bagi seorang pendekar.
Tidak. Dia harus memercayakan ini kepada Sung Hwa. Dia yakin Sung Hwa pasti punya rencana.
Terlalu keras berpikir, sudah membuat kepalanya berat dan pening. Sung Han buru-buru bersila dan kembali bermeditasi.
Di bawah sana, Han Ji yang memang cerewet itu sedang adu mulut dengan Khuang Pemg dan Nie Chi.
"Seharusnya kita menyambut mereka. Jika terus menunggu seperti ini, bisa-bisa kita dikepung dari dua arah."
Khuang Peng menghela napas. "Jika kita maju, apakah sudah dapat dipastikan akan menang?"
Han Ji sedikit ragu untuk sedetik. Namun tetap membandel. "Semoga saja!"
"Jawaban macam apa itu?" Nie Chi menyahut, sedikit jengkel. "Jika kita menunggu mereka di sini, makin lama, makin terbuka kesempatan untuk mendapat bantuan dari kota raja."
"Bagaimana jika bantuan tak datang?"
"Mampus kita. Mau bagaimana lagi?" Nie Chi menjawab pasrah. Entah pasrah dengan keadaan atau sudah malas meladeni Han Ji yang cerewetnya kelewatan.
Han Ji menoleh memandang Khuang Peng. "Kau setuju, kan? Keadaan seperti ini amat menyiksa. Saling tunggu sampai pihak lawan kehabisan ransum. Ini pertempuran mental!"
Kembali Khuang Peng menghela napas. Dia mendekat dan mengelus-elus pundak Han Ji. Kemudian memijit-mijitnya. "Tenang, tenang. Tenanglah nona ...."
Mata Han Ji melotot, ia menepis kedua tangan Khuang Peng. "Bagaimana aku bisa tenang kalau dia—" dia berhenti seketika.
"Kalau dia?"
Nie Chi juga memandang penasaran.
__ADS_1
Han Ji menggeleng. "Bukan apa-apa." Setelahnya ia menghambur pergi keluar ruangan.
Memang Han Ji yang menjadi jauh lebih cerewet ini bukan tanpa alasan. Dia sudah cerewet, tapi makin bertambah hari, dia makin berisik. Dan ini membuat kesabaran dua kawannya hampir habis.
Ini disebabkan bukan lain adalah karena kekhawatirannya kepada Sung Han. Dia tahu pemuda itu sakti, amat sakti malah. Tapi dia pun tahu bahwa luka yang diderita oleh Sung Han mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sama sekali. Dan jika mereka makin lama menunggu, Han Ji khawatir kalau Sung Han nekat hanya karena luka luarnya telah sembuh.
Tanpa sadar Han Ji telah memandang ke atas bungkit tempat Sung Han beristirahat.
"Jangan berani-beraninya kau bergerak dari sana ...," bisiknya. Seolah Sung Han bisa mendengar.
Saat itu, gong di atas menara dipukul bertalu-talu. Namun dengan irama seperti dalam pesta perayaan, bukan satu di antara tanda isyarat ketentaraan.
Ini merupakan siasat jenderal pasukan pertama yang amat cerdik. Jika memang pasukan armada menunggu datangnya pasukan dari barat, maka suara gong yang mengisyaratkan bahaya bisa saja terdengar oleh armada dan mereka akan segera menyerang.
Sebaliknya, jika dengan pukulan gong bagai perayaan pesta, musuh mengira jika gong itu hanya dipukul main-main. Sehingga pasukan armada tak akan bergerak sampai mata-mata yang menyelidik dan menunggu pasukan dari barat itu kembali ke kapal dan melapor.
Dan ini memang berhasil, pasukan yang berdiri di tembok Mustika Naga bilang bahwa armada sama sekali tidak membuat pergerakan.
"Bersiap!" jenderal pasukan satu memberi perinrah. Dan sesuai rencana, setiap jenderal membawa pasukannya bergerak ke arah utara dan selatan.
Karena para pendekar adalah pasukan tiga, maka mereka bergerak ke selatan.
Sebentar kemudian, pasukan ini sudah masuk di antara dua pasukan Chang yang menunggu. Maka dengan isyarat terompet, dua pasukan yang mengapit pasukan besar ini menghujani dengan anak panah.
"Sampai mereka balas menyerang dengan anak panah, jangan ada satu pendekar pun yang turun ke medan tempur!" Guo Cu memberi perintah.
Pasukan Jeiji menjadi terkejut dan kocar-kacir. Namun belum ada serangan balasan dari mereka. Hingga beberapa waktu berselang, terlihat bayangan-bayangan hitam yang berloncatan dan menyebar ke dua pasukan pengapit.
Wajah mereka tertutup kain hitam.
"Itu pasukan ninja dan para ronin. Pendekar, turun tangan!!"
Dari arah pasukan tiga yang di selatan, serbuan orang-orang berbaju hitam itu segera menemui tembok besar ketika para pendekar maju menghadang. Tiga orang muda yang paling depan, Han Ji, Khuang Peng dan Nie Chi benar-benar bikin repot.
Namun berbeda dengan pasukan di utara. Mereka tak ada cukup orang yang mampu menandingi kecepatan gerak para ninja itu. Maka sedikitnya serbuan dadakan ini membuat mereka kacau kelabakan.
Agaknya armada Jeiji sudah mengetahui soal penyerbuan dari barat sehingga mereka mulai bergerak. Ribuan anak panah menghujani benteng Mustika Naga yang menjadi pihak bertahan.
__ADS_1
Fujimino Shiro agaknya mengenal situasi gawat ini, maka dia telah keluar dari tandu mewah itu dan ikut mengamuk. Benar-benar luar biasa kepandaian samurai satu ini. Dan tak bisa dibayangkan betapa tangguhnya Sung Han ketika bergebrak dengan orang itu ketika jenderal Fujimino dibantu dua orang lain.
"Hyaaaattt!!"
Pekik nyaring dari Han Ji menggema menggetarkan siapa saja yang mendengar. Tubuhnya melambung tinggi dan menukik untuk mengirim totokan maut di ubun-ubun jenderal Fujimino.
Jenderal ini tanpa menoleh, telah menggerakkan pedangnya ke atas. Han Ji bersalto untuk menarik serangan. Namun sebelum tubuhnya memijak tanah, pedang katana itu sudah berkelebat mengancam lehernya.
"Trang!!"
Pedang Darah yang bersinar merah telah berhasil menahannya. Disusulnya suara berdesing nyaring dari Tongkat Besi ketika benda itu digerakkan dengan kecepatan kilat.
"Haiii!"
Dengan penguasaan yang luar biasa, ketika pedang katana masih tertahan di bilah Pedang Darah, entah bagaimana keadaan itu bisa dimanfaatkan oleh jenderal Fujimino. Gesekan antara dua bilah pedang ketika katana itu digerakkan terdengar memekakkan telinga. Lalu tahu-tahu katana itu telah berhasil menangkis tongkat Nie Chi.
"Hyaaatt!!"
Satu lagi bentakan nyaring ketika jenderal itu membacokkan katananya. Nie Chi mengelak mundur, demikian dengan Han Ji dan Khuang Peng.
Baru saja kaki mereka mendapat pijakan yang baik, jenderal itu sudah memasang kuda-kuda yang nampak terlalu kokoh.
"Dia hebat, pantas Sung Han terluka separah itu." Han Ji bergumam tak jelas. Hanya dia seorang yang mampu mendengarnya.
Bagai dikomando, tiga orang muda ini mengirim bentakan nyaring ketika secara bersamaan mengirim serangan maut. Han Ji dengan kedua tangan membentuk cakar mengarah dada, Khuang Peng menyabet leher dan Nie Chi menusuk perut. Tiga serangkaian serangan yang agaknya tak mungkin dapat terelakkan.
"Trang! Trang! Brett!!"
Pedang katana itu berkelebatan dan hampir saja tangan Han Ji putus jika dia tidak lekas menariknya.
Tiga muda itu belum kapok, mereka menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Akan tetapi kali ini pun jenderal Fujimino tetap kokoh kuat.
Setelah hampir lima puluh jurus tiga pendekar sejati itu sedikit kerepotan menghadapi Fujimino sungguhpun mereka tak terdesak, terdengar suara terompet dan tambur dipukul dari kejauhan. Lalu pasukan yang baru tiba ini menyebar, satu ke pertarungan darat, satu menuju benteng untuk menyambut armada.
Kembali terdengar terompet dari arah pasukan satu, dan semua orang berseru girang.
Pasukan dari kota raja telah tiba!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG