
Napas Sung Han terengah-engah, dadanya naik turun. Matanya sayu seperti orang mabok sedang pakaiannya sudah compang-camping tak karuan. Darah menetes di setiap luka tubuhnya, membuat matanya berkunang dan tubuhnya lemas bukan main. Kalau saja bukan karena tekadnya yang tak mau terima kalah, pasti dia sudah memilih rebah untuk terima nasib.
Ia menyeka darah di sudut bibirnya, matanya yang kuning seperti rembulan di malam hari itu kini nampak sedikit pucat.
"Kukira....inilah yang dinamakan pendekar sejati." hatinya berujar sembari terus mengawasi peti mati hitam yang sejak setengah jam lalu masih belum bergerak.
Dia memandang kepada tangannya sendiri, "Ternyata, kekuatanku yang menjadi murid tunggal pewaris pedang gerhana masih belum apa-apa jika dibandingkan pendekar sejati satu ini." gumamnya seraya tersenyum pahit.
Dia menegakkan tubuhnya susah payah, cepat-cepat kakinya dipentangkan lebar untuk lebih menyeimbangkan bobot tubuhnya. Walaupun begitu, berdirinya ini masih bergoyang-goyang.
Setelah sekian lama, akhirnya terdengar suara lagi dari dalam peti mati, "Aku sungguh kagum padamu pemuda gagah, kalau saja kau bertemu denganku sepuluh tahun kemudian, pasti akulah yang berada dalam posisimu itu."
Ucapan ini betul-betul penuh rasa kagum, Sung Han dapat merasakan itu. Suara yang berat menyeramkan itu tak lagi bernada mengejek, justru diucapkan dengan penuh penghormatan. Nyatanya, orang yang mengaku sudah lupa dengan kegagahan, dia masih tak lupa untuk mengakui kegagahan orang lain.
"Tapi sayang sekali, jika aku tak menurutinya dan mengakhirimu di sini, maka kebaktianku kepada guru yang harus menjadi korban. Dan itu bukan keinginanku." katanya lagi. Kali ini, perlahan-lahan peti mati itu terbuka.
Suaranya sangat tidak enak didengar, entah sudah berapa lama peti itu selalu dalam keadaan tertutup sampai membuat suaranya seperti gesekan besi tajam ke kayu keras. Sangat kasar dan menyakitkan telinga.
Begitu terbuka, nampak sedikit uap mengepul dari dalam peti itu. Disusul munculnya sosok menyeramkan yang mungkin dapat dikatakan seseram setan itu sendiri.
Orang ini adalah kakek bertubuh jangkung, tanpa rambut sedikit pun di kepalanya. Matanya amat cekung saking kurus tubuhnya. Leher, tangan, jari-jari tangan dan kaki, semua hanya nampak tulang terbungkus kulit.
Pakaiannya hanya berupa kain hitam tebal yang dilibat-libatkan ke seluruh tubuhnya. Begitu keluar, entah mengapa tengkuk Sung Han merinding dan tubuhnya sedikit gemetar. Belum pernah ia merasa setakut ini.
"Pendekar muda, perkenalkan namaku Tok Ciauw. Siapakah nama pemuda gagah yang sedang berdiri di depan mataku ini?"
Mendengar perkataan orang yang demikian hormat, membuat Sung Han merasa sungkan. Ia menegakkan tubuhnya susah payah sebelum kemudian membungkuk dalam.
"Ibu dan bapak menamaiku dengan Sung Han."
__ADS_1
Lelaki tua bernama Tok Ciauw itu mengangguk-angguk. Hanya gerakan ini saja tulang-tulang di lehernya sudah saling berkerotokan.
"Memang bajingan betul, kalau saja situasinya tidak begini, tidak ada janji dan kebaktian terhadap guru, pastinya aku sudah mengambilmu untuk kujadikan murid." orang itu berkata jengkel, membuat Sung Han kaget juga.
Tok Ciauw maju perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, "Jangan khawatir anak muda, matimu akan cepat. Aku tak begitu kejam untuk menyiksamu. Kau sudah kuat untuk seukuranmu, memang pantas menjadi pewaris salah satu dari pedang gerhana."
Setelah tiga langkah maju, orang ini berhenti. Lalu dengan gerakan yang aneh, tiba-tiba kaki kanannya terangkat sampai lutunya menyentuh dada. Bersamaan dengan itu, terdengar gerengan mengerikan yang keluar dari kerongkongan disusul meluncurnya tubuh itu.
"Haiittt!!"
Angin kencang berhembus dari tangan tua kurus kering itu, belum juga serangan datang tapi anginnya sudah dapat dirasakan.
Sung Han menjadi gelagapan, akibat lelah dan serangan tiba-tiba ini, reaksinya jelas menurun. Dengan gerakan seadanya yang hanya bermodal ingin melanjutkan hidup, ia melakukan gerakan membacok.
"Syuutt!"
Tok Ciauw berkelit dengan aneh, seperti ular melompat. Tubuhnya berputar ke kanan berbareng dengan lompatannya yang sambil mengirimkan tendangan kaki kanan.
Tapi inilah kesalahannya. Jika saja lawannya orang lain, pasti orang itu sudah mati tertembus pedang dari bawah ke ubun-ubun. Namun lawannya ini adalah Tok Ciauw, tokoh iblis masa lampau yang sekarang ini sudah tak terdengar lagi namanya.
Melihat serangan ini, kaki kanan yang tadi menendang tak menemui sasaran itu terus bergerak untuk menyampok bagian pinggir pedang dengan tumit. Saat pedang menyeleweng, ia gunakan kaki satunya untuk menginjak ubun-ubun Sung Han.
"Blaaarr!!"
Bahkan kaki itu belum menyentuh tanah, tapi hawa sakti yang demikian kuat dan berat berhasil membuat tanah itu retak seperti hampir terbelah. Beruntung Sung Han cepat mengelak ke belakang. Itu pun dia masih terhempas angin serangan Tok Ciauw.
Tok Ciauw tak memberi Sung Han napas. Saat tubuh pemuda itu masih terhuyung-huyung, tubuhnya sudah melesat lagi. Kali ini mengirim sebuah kepalan yang kalau kena dengan tepat, akan remuklah tubuh Sung Han.
Tiba-tiba mata kakek ini terbelalak ketika mendengar sesuatu, lalu tahu-tahu jari telunjuk yang sebelumnya menekuk itu menjadi lurus. Sedangkan arah pukulan yang sebelumnya mengarah dada, berubah haluan menjadi ke dada kiri atas.
__ADS_1
"Cuusss!!"
Merasakan sebuah totokan itu, Sung Han muntah darah banyak sekali. Pedangnya terlepas dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya roboh terguling. Napasnya yang tersendat-sendat itu makin lama makin lemah. Keadaannya tidak hidup, tapi juga belum mati.
Tok Ciauw memandang Sung Han dengan kening berkerut, lalu menoleh ke satu sisi serta berkata, "Apa maksudmu? Kiranya sekarang engkau sudah hendak mengingkari omongan sendiri?"
Dari kejauhan, berturut-turut muncul tiga orang. Dua bertopeng sedang satunya tanpa topeng. Wajah yang tak bertopeng ini tersenyum lebar setibanya di sana.
"Maaf saja, tapi aku membutuhkan bocah ini." kata orang tak bertopeng itu. Namanya Bo Tsunji.
"Kau menginginkan pedang gerhana kan? Bukankah itu yang diinginkan Serigala Tengah Malam? Menguasai seluruh warisan keramat?"
"Memang tidak salah." kata Bo Tsunji.
"Lalu mengapa tak boleh kubikin mampus saja anak ini?"
"Pedang gerhana akan semakin ampuh bila dimainkan dengan ilmu silat yang cocok."
"Ah...kau berkata bahwa kau sudah mengetahui ilmu apa yang cocok dengan pedang ini?"
"Belum, karena itulah aku hendak membawa bocah ini." balas Bo Tsunji sebelum berkata kepada anak buahnya, "Bawa dia, ikat dengan rantai batu khusus."
Keduanya segera melaksanakan perintah. Mengikat Sung Han dengan rantai batu khusus berupa batu yang dapat menyegel kekuatan tenaga dalam. Setelahnya Sung Han diseret menuju satu tempat yang dituju oleh Bo Tsunji.
Sedangkan Tok Ciauw, dengan sikap acuh sudah kembali ke dalam peti matinya untuk kemudian secara aneh menghilang dari sana. Sungguh mengerikan kekuatan kakek ini, bahkan dengan peti kayu berkualitas tinggi itu, dia bisa membawanya secepat hembusan angin.
Ini merupakan awal dari sosok Sung Han yang akan mengenali dirinya sendiri. Dan kelak di masa depan, dia akan sangat bersyukur karena telah ditawan hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG