
Tiga hari kemudian, pada pagi hari, Xian Fa dan Han Ji keluar dari penginapan mereka dan pergi ke tempat pendaftaran pengawal tuan kota.
Begitu tiba di sana, mereka segera digiring menuju ke lapangan besar di mana sudah banyak orang yang berkumpul. Mereka tersebar di sudut-sudut lapangan dan sikap mereka acuh. Sikap khas pendekar.
Jumlah mereka kurang lebih lima puluh orang, dan melihat dari pakaian serta wajah yang bengis menyeramkan, hampir semuanya mungkin berasal dari golongan hitam.
Tentu saja, siapa yang tidak mendengar desas-desus bahwa pangeran penguasa Kota Daun, pangeran Chang Song Ci adalah pemberontak? Maka dari itulah, banyak yang tak sudi bergabung dengan dia dan lebih memilih mengabdi kepada putri Chang Song Zhu.
Xian Fa mengajak Han Ji untuk duduk di bawah pohon besar. Begitu duduk, tatapan-tatapan merendahkan dan melecehkan terasa jelas oleh keduanya. Apalagi tatapan penuh nafsu kepada Han Ji. Walau dia telah memakai penutup wajah yang melindungi sebagian wajahnya, namun mata dan dahi serta rambut masih tampak nyata. Membuat siapapun ingin menyentuhnya.
Namun dengan adanya Xian Fa yang duduk di sebelahnya, orang-orang kasar ini harus berpikir dua kali jika ingin mendekat. Mereka merasakan ancaman besar dari Xian Fa hanya melalui gaya duduknya yang asal-asalan.
"Nanti jangan pamer kekuatan, ingat!" Han Ji memperingatkan.
Xian Fa yang dalam keadaan setengah berbaring itu, menurunkan capingnya hingga menutupi seluruh wajah. "Hm ...."
Seorang perwira keluar dari dalam bangunan besar di depan sana. Pakaiannya memakai pakaian perang lengkap dengan pedang di pinggang tanda pangkat. Dia masih muda, tak lebih dari tiga puluh tahun tentunya. Namun bekas luka di wajah serta sinar mata itu sudah menunjukkan bahwa perwira muda ini telah melewati tak hanya satu pertempuran.
"Harap perhatian!" serunya lantang. Suaranya bergema, tanda ada tenaga dalam terkandung dalam suara itu.
Setelah semua orang diam, dia melanjutkan. "Tuan kota ingin seleksi pengawal agar segera dilakukan, maka saya di sini akan menjelaskan peraturannya," katanya lalu berhenti sejenak. "Peraturannya mudah, kalian hanya perlu mengalahkan keempat orang ini dan jika berhasil, maka akan langsung diangkat sebagai pengawal pribadi."
Tiba-tiba, belum juga gema suaranya hilang, nampak empat bayangan yang tahu-tahu telah berdiri di depan perwira itu. Mereka jelas orang-orang persilatan yang telah menghambakan diri lebih dulu kepada tuan kota.
"Tapi, keempat orang ini tentu saja tidak akan mampu menghadapi kalian semua sekaligus, pasti akan kelelahan."
"Kalau begitu maju satu-satu!" seru seseorang.
Perwira itu menggeleng. "Tak mungkin, keempat saudara ini juga punya rasa lelah."
Ketika semua orang masih bertanya-tanya dalam hati, perwira itu sudah menyambung. "Maka dari itulah, keempat suadara ini hanya akan melayani siapa yang pantas. Maka dari itu, tuan kota meminta kalian semua untuk melakukan seleksi sendiri." Seringaian tercipta di mulutnya. "Saling serang dan siapa yang masih mampu bertahan di akhir, dia yang pantas menjadi calon pengawal."
Untuk sejenak, saking terkejutnya, semua orang tertegun dan tidak ada yang bicara. Namun tak sampai lima detik berselang, keadaan menjadi ribut ketika masing-masing mencabut senjata dan mulai serang satu sama lain.
__ADS_1
Segera terjadilah perang kecil yang amat kacau. Tak ada kawan, yang ada hanya lawan. Bunyi teriakan-teriakan kesakitan dan kepuasan terdengar memekakkan telinga. Sedang perwira itu dan empat pendekar penguji hanya menyeringai sambil menonton.
Seketika Xian Fa paham, ini pasti merupakan siasat topeng emas yang ingin mengurangi ancaman pendekar. Dia tahu tak semua dari lima puluh orang ini akan bersetia padanya, maka dari itulah dilakukan seleksi semacam ini.
Xian Fa masih setengah duduk dengan kepala diletakkan pada tonjolan batang pohon di belakangnya. Wajahnya tertutup caping berenda sehingga dari kejauhan dia tampak seperti orang tidur.
Tapi bahkan Han Ji pun tak sadar, bahwa pemuda ini mengedarkan hawa sakti ke seluruh tubuhnya dan selalu dalam keadaan siap. Siap melindungi diri sendiri maupun Han Ji.
"Swing–syutt!"
Sebuah ruyung dan sabetan rantai mengarah keduanya ketika peperangan sudah terjadi sekitar seperempat jam. Xian Fa dan Han Ji tak menjadi gugup, melainkan melakukan serangan balasan yang jauh lebih cepat.
Han Ji dengan cengkeraman ampuhnya yang mirip kuku garuda, sedangkan Xian Fa dengan sabetan kaki yang mengarah rusuk. Suara hancurnya tulang terdengar begitu memuaskan saat dengan telak mengenai target dan keduanya terhuyung.
"Bangsat–" si ruyung memaki. Namun sebelum selesai kalimatnya, satu pedang sudah menembus dari punggung ke dadanya.
Si pemegang pedang itu hendak melanjutkan serangan untuk membinasakan Xian Fa sekalian, akan tetapi dia segera ambruk begitu terkena senjata rahasia berupa jarum dari Han Ji.
"Aku tak butuh perlindunganmu," ucap Xian Fa. "Tak enak rasanya jika calon istri harus melindungi calon suaminya."
"Oh ..., sudah takdir nona. Dan baru sekali ini aku merasa senang betapa kutukan itu memang nyata."
Setelahnya, mereka malah ribut sendiri. Saling pukul dan tendang.
Hingga satu jam berselang, akhirnya peperangan lambat laun mulai mencapai babak akhir dan hanya terlihat tiga orang yang masih sanggup berdiri. Sedangkan yang lain, kalau tidak mati tentu kaki tangannya lumpuh dan hanya mampu terkapar.
"Oh, inilah calon-calon pengawal pribadi yang berbakat," ujar perwira itu sambil bertepuk tangan. "Tak perlu dilanjutkan, bahkan kalian terlalu sedikit. Seharusnya kami hendak mengambil lima orang pengawal," lanjutnya ketika melihat satu pria hendak memukul Han Ji dari belakang dan segera dihadang Xian Fa.
"Sekarang, kami hanya perlu melawan mereka?" Han Ji bertanya.
Perwira itu mengangguk-angguk. "Benar. Dan karena anda perempuan, maka hanya akan dua dari mereka yang maju–"
"Maju semua!" kata Xian Fa tiba-tiba. "Kekasihku ini tak akan kalah!"
__ADS_1
Satu sikutan keras menghantam lambungnya beberapa saat kemudian.
"Dia benar," ujar Han Ji. "Aku baru saja akan berkata demikian. Majulah semuanya sekaligus."
Sedikit raut keterkejutan terlihat di wajah si perwira. Namun empat orang itu sudah terkekeh-kekeh dan meneteskan air liur. Tak perlu dijelaskan lagi apa yang mereka pikirkan karena sudah terlihat jelas.
Perwira itu berpikir sejenak, lalu berbisik pada keempatnya. "Jangan lukai dia."
"Oh, kami tahu," jawab salah satunya. "Kami pun berpikir begitu. Gantian?"
"Tentu saja bergiliran."
Jawaban perwira itu membuat kelimanya tertawa terbahak-bahak. Han Ji dan Xian Fa pura-pura tidak mendengar.
"Baiklah jika itu memang keinginan nona. Mereka berempat akan maju sekaligus," akhirnya perwira itu berkata. "Majulah!"
Terdengar suara berdesing ketika empat tubuh melayang dan menembakkan hawa pukulan dari jauh. Lalu tiba-tiba terdengar seperti ada sebuah guntur ketika hawa pukulan Han Ji memapaki keempatnya sekaligus.
"Jangan ragu!" bentak Han Ji penuh kepercayaan diri. Tubuhnya memelesat cepat sekali, menjadi bayangan merah yang menghampiri salah satu peneekar itu.
"Syuutt!"
Satu tendangan kilat menuju leher mustahil untuk dielakkan. Namun satu orang telah berhasil menahannya dan satu orang lagi segera menotok punggung Han Ji.
"Tuk–tuk!"
"Haha, selesai. Takluklah, manis."
"Buaghh!!"
Mereka semua kaget dan heran. Totokan pelumpuh itu sama sekali tidak bekerja, melainkan dibalas dengan sebuah tendangan berturut-turut yang mementalkan ketiganya sekaligus.
Han Ji tertawa. "Hahaha, kubilang apa? Jangan ragu atau kalian akan mati hanya dengan melawanku!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG