
Seperti biasa, lagaknya orang-orang yang mudah sekali untuk ditebak, apalagi orang-orang persilatan. Jika ada berita menggemparkan di kalangan mereka, tentu berita itu akan dengan cepat menyebar kemana-mana.
Sama halnya dengan runtuhnya Hati Iblis yang takluk setelah serbuan gabungan pasukan Rajawali Putih dan Naga Hitam. Sebentar saja nama dua partai besar ini ramai diperbincangkan orang.
Beruntungnya bagi Sung Han, yang kala itu hanya membantu dari belakang tanpa mau terjun langsung ke medan tempur. Sehingga keberadaannya tidak seterkenal dua partai itu. Orang hanya tahu kalau ada pembunuh yang membunuh pasukan Phiang Bi Sun dan Siauw Goan, selebihnya tak ada yang tahu tentang Sung Han.
"Orang-orang di desa sebelumnya berkata dia menuju ke mari." bantah Sung Han, "Hei kawan, bukankah desa itu dan desa ini amatlah dekat? Tak sampai setengah hari perjalanan. Mana mungkin aku tertinggal jauh?"
Penjual kaki lima di pinggiran jalan desa itu memutar bola mata malas dan jengah sendiri menghadapi kelakuan pemuda ini. "Hei sahabat rimba persilatan, sebutkan ciri-cirinya lagi?"
Sung Han dengan cepat mengocehkan ini dan itu sembari tangannya bergerak ke sana-sini, menunjukkan ciri-ciri orang yang dimaksudkan dengan sedetail mungkin. Mulai rambutnya, postur tubuhnya, besar lengan dan kaki, bahkan dia sampai berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan tinggi orang itu.
"Cukup jelas penjelasanmu." kata penjual kaki lima itu sambil melihat secarik kertas yang dipegangnya. Entah dapat dari mana itu.
"Apa yang kau lakukan?" bingung Sung Han memandang heran.
"Nih, ambil." ucapnya seraya menyodorkan kertas itu, "Aku takut kalau aku tak membantu, kau akan mengganggu sanak saudaraku. Orang persilatan kadang suka aneh-aneh."
Sung Han terbelalak memandang isi dari kertas itu, dia menunjuk-nunjuk kertas pemberian si penjual sementara mulutnya memaki, "Nah...nah, ini orangnya! Si keparat ini berhasil kabur! Hei kau, kau kenal orang ini!?"
"Nah kan!" penjual itu nampak tak senang, "Orang pandai silat memang ganjilnya tak tertolong. Kau ini tidak sopan sekali, aku berusaha membantumu!" sergahnya.
Terlihat di kertas itu sebuah gambar lelaki tua yang sudah tak berambut namun rambut di dagunya masihlah lebat dan panjang. Sung Han memandang sekali lagi dan melempar beberapa koin perunggu ke arah penjual.
"Terima kasih kalau begitu." katanya.
"Hei, pergilah ke ujung desa, ada seseorang yang sama anehnya dengan dirimu. Temui saja dia dan tunjukan gambaranku padanya, siapa tahu dia lihat ke mana orang itu pergi." teriak si penjual saat Sung Han mulai jauh. Pemuda itu hanya melambaikan tangan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Sung Han supaya menemukan rumah yang dimaksud. Penjual tadi bilang orang aneh, tentu tempatnya pun tak kalah aneh, pikir Sung Han.
__ADS_1
Dan benar saja, ketika ia sampai di ujung desa, tubuhnya lemas mengetahui rumah itu yang kelewat aneh dan tidak lumrah manusia.
Rumah itu lumayan besar dengan tembok kayu kokoh kuat. Gentengnya pun agaknya genteng mahal yang kualitasnya terjamin. Namun bukan itu yang membuat tubuh Sung Han lemas, namun cara penempatan rumah ini yang kelewat sinting.
Genteng di bawah dan pondasi di atas. Rumah itu dalam keadaan berbalik!
"Memang benar aneh...." gumamnya.
Ingin ia segera mendekat dan mengetuk pintu. Namun dia sadar hal itu cukup merepotkan karena pintu itu berada di atas, maka dia hanya mengetuk jendela yang letaknya ada di bawah seraya berseru.
"Tuan, aku Sung Han pergi ke mari atas petunjuk seseorang. Ingin minta tolong!"
Tak ada jawaban dari dalam rumah itu. Sung Han yang merasa si pemilik rumah tidak dengar, dia kembali berseru. Lalu untuk ketiga kalinya, dia berseru lagi bahkan dengan pengerahan tenaga dalam.
"Brak!"
Pintu terbuka dengan kasar, menampakkan seorang pria tua yang rambut serta jenggotnya putih semua. Wajahnya itu penuh dengan rambut jenggot yang memenuhi dagu sampai pipinya. Tapi yang menarik lagi, tinggi orang itu kira-kira hanya sepinggang Sung Han.
Sung Han menjura hormat. Bagaimana pun juga ajaran sopan santun gurunya tak pernah ia lupakan walau pun telah pudar setiap kali bicara dengan Giok Shi.
"Apa mau mu?" tanya kakek pemilik rumah dingin.
Sung Han menunjukkan gambaran penjual kaki lima tadi yang sangat mirip dengan aslinya. "Aku ingin mencari orang ini, tadi ada seorang penjual yang menyarankan aku untuk mendatangimu. Apakah tuan tahu kemana perginya?"
Kakek itu memicingkan mata, lalu tangannya bergerak menggapai dan tiba-tiba kertas di tangan Sung Han tertarik ke atas lalu melayang. Kakek itu menangkapnya dan memandang lamat-lamat. Lalu ia kembali lemparkan kertas itu ke wajah Sung Han.
"Barat." katanya singkat sebelum menutup pintu dan tak muncul lagi.
"Terima kasih atas bantuan anda tuan." kata Sung Han meskipun tak mendapat sambutan.
__ADS_1
Entah siapa kakek super aneh itu Sung Han tak peduli. Namun satu yang pasti, menurut keterangan gurunya, orang-orang rimba persilatan itu selalu memegang perkataannya. Ini merupakan semacam peraturan tak tertulis.
Bahkan orang-orang golongan sesat sekali pun, perkataan mereka tentu tak pernah ada unsur dusta. Hanya saja cukup banyak beberapa dari mereka yang tak mematuhi aturan ini. Namun orang-orang macam itu tak peduli walau pun dirinya sendiri dianggap pengecut.
Pergilah Sung Han dari desa itu menuju ke barat. Entah apa yang menunggunya di sana dia tidak tahu karena memang tak hafal dengan jalan sekitar.
Sung Han hanya berjalan lurus ke barat, saat malam ia berhenti dan beristirahat. Lalu ketika paginya, ketika matahari terbit dari timur, ia mulai berjalan lagi ke arah sebaliknya.
Sampai kurang lebih tiga atau empat hari kemudian, sampailah ia di sebuah sungai besar yang sangat jernih airnya.
Merasakan dahaga dan penat di tubuh, Sung Han menjadi amat girang mengetahui sumber air itu. Ia langsung melesat dan menanggalkan seluruh pakaiannya, kemudian meloncat ke dalam sungai untuk mandi.
Memang kegiatan macam ini menjadi sedikit hiburan bagi Sung Han selama dalam masa petualangannya. Selain diganggu beberapa bandit dan orang nekat, dia juga dilelahkan dengan medan perjalanan yang kadang cukup sulit. Maka dengan mandi di sungai atau danau seperti ini, hal itu bisa membuat kepenatannya lenyap.
Namun ketenangan ini terganggu dengan jeritan menyanyat dari seorang wanita di kejauhan. Disusul maki-makian dari wanita dan kekehan seorang pria.
Sung Han mengerutkan kening, apalgi mendengar kekehan si pria itu. Maka cepat ia melompat ke pinggir sungai dan memakai kembali pakaiannya. Setelah menyampirkan pedang di pinggang, ia berlari menuju sumber suara.
Cukup kesulitan bagi pemuda ini untuk mencari dari mana suara itu berasal karena jeritan wanita tadi telah berhenti. Ia tahu itu berasal dari barat, namun pendengarannya tak cukup hebat untuk tahu di mana letak pastinya. Maka pemuda ini hanya berputar-putar di tempat yang sama.
Sampai di satu ketika, ia tersandung sesuatu yang cukup aneh. Orang persilatan macam dirinya sulit sekali untuk dijatuhkan hanya karena kakinya tersandung sesuatu. Dia cepat menoleh dan berseru tertahan.
"Kaki? Kaki siapa itu?" gumamnya ngeri mengetahui bahwa sesuatu yang menyandungnya tadi adalah sebuah kaki kanan yang pucat. Melihat dari tulang dan jari-jarinya yang ramping, Sung Han menyimpulkan itu adalah kaki wanita.
Kaki itu menyembul keluar dari dalam semak, agaknya si pemilik kaki tertutup oleh semak belukar itu. Cepat Sung Han menyibak semak-semak dan ternyata ia mendapat kenyataan kalau semak itu tidaklah alami. Terbuat dari beberapa tanaman liar yang ditumpuk-tumpuk di atas tubuh wanita.
Kedua kaki Sung Han gemetaran, tubuhnya lemas dan dia jatuh berlutut. Mulutnya terbuka dengan lidah kelu, matanya membelalak memandang pemandangan itu.
"Aku....terlambat...." gumamnya penuh rasa sesal yang teramat sangat.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG