
Pagi hari itu, Sung Han dan Yang Ruan memasuki sebuah rumah makan yang masih sepi. Agaknya warung ini baru buka beberapa menit lalu, karena terlihat para pelayan yang masih sibuk menata segala perabotan di ruangan itu. Meja, kursi, dan lain sebagainya.
Kedatangan keduanya sebagai pelanggan pertama tentu saja disambut baik oleh mereka. Salah seorang pelayan pria paruh baya lari menghampiri dan menjura hormat.
"Tuan dan nona muda, hendak pesan apakah? Hari masih begini pagi dan dingin, makanan serta minuman kami tentunya masih panas."
"Dua mangkok bakmi kuah, dengan teh panas." kata Sung Han yang langsung berjalan menuju salah satu meja diikuti oleh Yang Ruan.
Tak berselang lama, makanan serta minuman mereka tiba. Terlihat asap masih mengepul dari dua buah pesanan mereka itu. Sung Han dan Yang Ruan segera makan, sambil bercakap-cakap mengenai masalah di desa ini.
"Menurutmu, seberapa tinggi kepandaiannya?" tanya Sung Han membuka obrolan.
Yang Ruan baru menjawab setelah memakan dua suap bakminya, "Entah. Tapi menurut perkiraanku, setidaknya untuk melawan kita, dia tak akan mampu."
"Bagaimana kalau kau seorang diri yang melawan?"
"Aku tak bisa pastikan itu. Namun jika satu lawan satu denganmu, aku yakin kau menang."
Sung Han mengangguk-angguk dan menyeruput tehnya. Lalu lanjut makan dalam diam. Setelah beberapa waktu mereka ditemani dengan keheningan, kembali Sung Han berkata.
"Menurutmu, benda apa yang dilempar oleh orang itu tadi malam?"
Yang Ruan nampak berpikir, ia mainkan sumpitnya berputaran di dalam mangkok. "Mungkin sesuatu yang berharga bagi desa ini?"
Belum juga Sung Han menjawab, dari arah luar kedai makan, terdengar suara derap kaki beberapa orang. Sung Han dan Yang Ruan serentak menoleh untuk melihat, karena mereka merasa penasaran dengan obrolan yang diucapkan keras-keras itu.
Begitu masuk, terlihat lima orang pemuda tampan dan gagah yang langsung duduk di salah satu meja. Mereka memesan makanan dan lanjut mengobrol tentang topik yang sama.
"Itu palsu, pasti!!"
"Mana mungkin!? Kalau pun palsu, coba jelaskan ke mena perginya beliau selama tiga hari ini!?"
Orang pertama tak mampu menjawab. Orang kedua itu berkata lagi, "Jelas itu asli, semua orang tahu itu. Ada perbedaan antara yang palsu dan yang asli. Itu merupakan mustika yang jika dipakai, permata itu akan berubah menjadi tembus pandang. Dan jika dilepas, permata itu hanya berwarna putih."
"Siapa tidak tau akan hal itu!? Bisa saja semua orang memalsukannya dengan meletakkan sebutir mutiara murni kan?" balas seorang lainnya.
__ADS_1
Orang yang tadi membantah lagi, "Anggap saja itu palsu. Tapi kita harus memerhatikan satu hal di mana Rajawali Merah itu tak pernah bohong. Kau tahu kan pak tua Cao sampai gila saking ngerinya melihat pembantaian di desa sebelah."
"Wah betul!" kali ini orang yang tadi hanya diam, yang wajahnya sedikit gelap berkata, "Bukankah sebulan lalu dia menetap di desa sebelah untuk menjual barang-barangnya? Ahh...benar, dia pulang dalam keadaan berotak miring."
Ketika itu, tiba-tiba ada seorang muda yang menghampiri meja mereka. Dia adalah Sung Han yang sudah merasa penasaran sekali. Langsung saja Sung Han menarik salah satu kursi dan duduk di sana, "Aku sudah mendengar akan pemberontak Rajawali Merah itu."
Tentu saja kelima orang itu menjadi heran dengan kedatangan orang ini. Mereka menganggap Sung Han sebagai pelancong biasa yang sederhana. Terlihat dari pakaiannya yang abu-abu gelap dengan lengan lebar itu, celana hitam dan sepatu yang sudah sedikit berdebu, menandakan dia telah menempuh perjalanan jauh.
Namun yang mengherankan adalah, sosok cantik yang sejak tadi duduk bersama pemuda ini. Dilihat sekilas saja, perempuan bercadar itu bahkan lebih denok dari putri bangsawan. Pakaian putih bersih tanpa noda, membuat mereka terperangah.
Sung Han lanjut berkata, "Mengapakah si rajawali itu mengacau desa-desa? Bukankah sebagai pemberontak, tindakannya itu kurang mengesankan?"
Salah seorang dari mereka, sadar dari lamunannya dan berkata, "Aku tidak tahu apa motifnya, namun jika aku jadi dia, semua tindakanku menghancurkan desa-desa itu adalah untuk mengangkat nama. Untuk mendapat bantuan dari tokoh-tokoh sesat. Karena menurut orang-orang macam ini, makin kejam dan jahat malah makin gagah."
"Apa dia merampok?"
"Tidak pernah merampok harta, hanya merampok nyawa orang."
"Merampok seperti itu kau bilang hanya!!??" pekik Sung Han dalam hatinya yang merasa ucapan itu kurang pas.
Bagaimana tidak? Kasus Rajawali Merah adalah membunuh perwira dan banyak prajurit di satu desa. Sedangkan dalam kasusnya, dia menculik sang putri!
Namun karena mencari tempat sembunyi untuk Yang Ruan, mereka melakukan perjalanan sampai ke pelosok-pelosok desa. Dan di desa-desa ini, namanya justru tidak terlalu terkenal. Karena nama Sung Han si pemberontak, sedang naik daun di kota-kota dekat kota raja. Di daerah sana, tak ada yang tak kenal dengan nama Sung Han.
"Lalu, soal pak tua Cao itu? Bisakah kalian memberi sedikit keterangan? Aku dan istriku ini penasaran." ucap Sung Han sambil menunjuk Yang Ruan yang diam-diam juga memasang telinga memerhatikan.
Lima orang itu serentak saling pandang, kemudian orang yang paling muda berkata, "Soal itu, kami tak bisa bicara banyak karena takut menyinggung pihak keluarga Cao. Kalian berdua, pergilah sendiri ke rumahnya. Tuh di sana, dari sini kelihatan." katanya menunjuk ke luar jendela, terlihat rumah besar di atas bukit kecil.
Sung Han mengangguk paham, lalu bertanya lagi, "Soal barang yang dilempar Rajawali Merah tadi malam. Sebenarnya itu apa?"
"Ahh...!" lima orang itu tersentak kaget dan wajah mereka menjadi pucat. Kelima-limanya kesulitan bicara. Bahkan para pelayan yang masih sibuk di sekitaran mereka, tampak tercekat dengan raut wajah sulit diartikan.
"Itu....tanyakan saja kepada nona Han." kata salah seorang pelayan yang cepat-cepat lanjut bekerja membersihkan meja. Pura-pura tidak tahu.
"Memangnya kenapa kalau kalian mengatakannya?"
__ADS_1
"Anda orang luar, kami tak berani lancang mulut mengatakan hal itu. Biarlah nona Han, orang yang bersangkutan yang menjelaskan semuanya." kata orang yang tadi kulitnya sedikit gelap.
Sung Han dan Yang Ruan saling pandang, makin bingung hati mereka.
...****************...
"Kenapa kau malah sibuk dengan urusan desa ini? Bagaimana dengan tempat persembunyianku?"
"Ahh...kiranya ratu ini cemburu dengan sebuah desa?"
"Mana ada yang seperti itu!!?"
Sung Han mengacuhkan dia. Wajahnya serius dan keningnya sedikit berkerut. Dia sungguh penasaran dengan si Rajawali Merah ini, mengingat kekaisaran Jeiji dan pangeran Chang Song Ci yang sudah membikin ribut dengan berani menculik putri, dia tak bisa tinggal diam.
Entah kenapa, semenjak konflik Perguruan Awan dan pangeran Chang Song Ci, lalu secara tak terduga dia membantu Kay Su Tek di sana. Kemudian mengingat-ingat pengalamannya selama ini, semua itu sebagian besar selalu berhubungan dengan Serigala Tengah Malam yang baru-baru ini ia tahu diketuai oleh Chang Song Ci.
Maka dari itulah, seperti sebuah kebiasaan, setiap ada kejahatan dia selalu mengait-ngaitkan hal itu dengan Serigala Tengah Malam. Sama dengan masalah ini, melihat Rajawali Merah adalah pemberontak, dia berpikir jika dia tentu bersekongkol dengan pangeran itu. Membuat dia menjadi penasaran.
Nasib sang putri belum ia ketahui semenjak wanita itu lupa ingatan, namun dia yakin bahwa dua jenderal bertopeng pasti tak mau tinggal diam. Apalagi jika putri itu ingatannya sudah kembali dan pangeran itu diketahui sebagai ketua Serigala Tengah Malam, pasti mereka akan bertindak.
Tapi mengingat tak ada bukti kuat jika pangeran itu adalah ketua Serigala Tengah Malam, maka walau putri itu melapor kaisar pun, pasti kaisar tak akan langsung percaya. Maka dari itulah, jika Sung Han menjadi pangeran Chang Song Ci, dia akan menimpakan segala kesalahan kepada putri Chang Song Zhu yang menjadi saingan. Dan saat ini, Sung Han menduga jika kasus Rajawali Merah itu merupakan upaya dalam proses mengkambing hitamkan sang putri.
"Yang Ruan, seriuslah!" kata Sung Han tegas ketika wanita itu hendak membantah lagi. Wibawa yang kuat membuat gadis itu menjadi bungkam.
Tak berselang lama, sampailah mereka ke tempat pak tua Cao yang tadi dikatakan oleh salah seorang lima orang di rumah makan. Segera Sung Han datang mendekat, namun baru saja hendak mengetuk pintu, tiba-tiba kepalanya hampir kena sodok tongkat bambu yang datangnya dari jendela.
"Bocah nakal, mau kau apakan pintu rumahku!!?"
Setelahnya, terdengar bentakan dari dalam, "Ayah, apa yang kau lakukan!!!"
"Pastilah dia pak tua Cao itu." batin Sung Han dan Yang Ruan secara berbareng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1