
Pagi ini, Sung Han telah sampai di desa Lonceng Perak. Dia sampai di sini melalui jasa antar perahu di sepanjang Sungai Buaya. Sekali-kali dia juga ingin beristirahat.
Sebelum pergi ke Perguruan Awan, lebih dulu ia menyempatkan diri untuk mendatangi kediaman Bu Cai. Gadis berwajah rusak itu entah kenapa menarik perhatiannya lebih dari Perguruan Awan.
Bergegas ia langkahkan kakinya menuju ke sudut desa, dekat dengan hutan kecil. Keadaan di desa ini biasa-biasa saja, tak banyak yang berubah. Hanya saja Sung Han tidak sengaja mencuri dengar kalau beberapa waktu lalu pasukan pemerintah datang ke tempat ini.
"Palingan juga penarikan pajak yang tingginya selangit." gumamnya dalam hati dan memilih tak mendengar lagi.
Sengaja ia melambatkan langkah kakinya, hanya untuk sekedar menikmati suasana dan hiruk pikuk manusia. Terlalu lama ia tertimbun dalam gundukan batu dan tersiksa oleh kesunyian. Sehingga sejak saat itu, setiap kali lewat desa atau kota, Sung Han sengaja memperlambat gerak kakinya. Sebuah kebiasaan baru setelah sekian lama tak membuka buku? Bukankah dulunya dia merupakan seorang kutu buku? Masalah tak penting.
Beberapa menit berselang, tampaklah olehnya satu rumah reyot yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pilarnya adalah bambu utuh besar, menopang genteng yang banyak berlubang di sana-sini itu.
Segera ia sapa seorang kakek sepuh yang sedang duduk di teras sembari menghisap cangklongnya itu.
"Kakek Bu...."
"Ah...." nelayan yang dipanggil kakek Bu itu, tersadar dan menegakkan badan. Agaknya dia baru saja tersungkur karena kantuk berat.
"Nak Sung Han?" wajahnya menunjukkan ketidak percayaan dan sumringah. "Ahahah, kau kembali!!" lanjutnya gembira dan memeluk Sung Han erat, kemudian segera ia bawa masuk pemuda itu ke dalam.
Tidak ada makanan atau minuman yang bisa disuguhkan, sehingga Sung Han hanya duduk berhadapan dengan meja kecil kosong saja. Tapi dia tak keberatan.
"Hahaha, tak kusangka kau kembali secepat ini. Seorang pengembara bebas, datang kembali ke rumahku dalam waktu dekat, pastilah selama ini pergimu belum terlalu jauh dari sini." kata kakek itu sambil tertawa.
"Ya, hanya sampai kota raja dan sedikit ke utara. Mengurusi urusan tak penting." ujar Sung Han.
Kakek Bu kembali bertanya, "Ada apakah ini? Mengunjungi cucuku?"
Sung Han tertawa hambar hanya untuk menghargai candaan tak lucu itu. Ia lantas menjawab, "Aku ingin mengunjungi Perguruan Awan. Tapi sebelum itu kusempatkan untuk mampir ke sini."
Tiba-tiba, kakek itu menjatuhkan cangklongnya dengan mata terbelalak. Mukanya pucat dan ia lupa menghembuskan asap cangklong yang baru saja dihisapnya. Sehingga wajahnya itu antara pucat bercampur merah.
"Uhuk...uhuk...." kakek itu terbatuk serak.
__ADS_1
Lalu ia melanjutkan, "Kau hendak kembali ke sana lagi? Mau apa!?" intonasinya meninggi. Membuat Sung Han mengerutkan kening heran.
Tatapan Sung Han tajam menyelidik, siapapun yang melihat pasti akan bergetar tubuhnya. Tak terkecuali kakek Bu yang menjadi merinding dan mengalihkan perhatiannya dengan mengambil cangklong.
"Memangnya ada apa lagi di sana? Ki Yuan sudah mampus!"
Kakek itu mengangguk-angguk. Ia berkata setelah tiga kali hisapan cangklong, "Kemarin pasukan pemerintah datang." asap mengepul di sela-sela ucapannya. Ia melanjutkan setelah menghisap satu isapan lagi, "Mereka menyerang Perguruan Awan."
"Apa!!?" Sung Han memekik dan bangkit berdiri. Tanpa sadar ia telah menggebrak meja dan mengejutkan kakek itu yang kembali menjatuhkan cangklongnya.
"Kenapa bisa begitu? Apa salah Perguruan Awan!?"
"Aku tidak tahu!!" sentak kakek Bu setengah kesal karena harus membungkuk dan menahan nyeri untuk mengambil cangklong. "Aku tak berani menyelidik sejauh itu."
Kakek itu menghisap cangklong lagi, kali ini dia menggigitnya karena merasa yakin Sung Han akan terkejut lagi dan dia akan dikagetkan oleh seruan Sung Han.
"Tapi berbeda dengan cucuku. Gadis nakal itu..."
"Ke mana Bu Cai!" kembali Sung Han membentak dan menggebrak meja. Cangklong di gigitan kakek Bu bergetar dan orang tua itu memejamkan mata. Menyabarkan diri.
Sung Han termangu beberapa saat. Berani benar, pikir Sung Han.
Jika memang di Perguruan Awan telah diisi oleh pasukan pemerintah, berarti di sana banyak terdapat prajurit dan perwira kuat. Sedangkan Bu Cai yang hanya memiliki ilmu silat seadanya, sedikit tinggi dari para guru silat kampung, dengan nekat berani mati datang ke sana.
"Dengan siapa dia pergi?"
Kakek Bu memandang Sung Han bodoh. Dia terperangah, dan karena inilah cangklongnya jatuh untuk ketiga kali. Mulutnya menyemburkan asap ketika mencibir.
"Kau ini goblok, dengan siapa lagi kalau bukan bayangannya sendiri?"
"Apa!?"
"Iya, kenapa terkejut!? Siapa pula yang berani mati datang ke sana kalau bukan para pendekar aneh macam dirimu? Yang dihadapi itu pemerintah! Bahkan mungkin Hati Iblis, karena dengar-dengar mereka juga ikut dalam pertempuran."
__ADS_1
Lagi-lagi Hati Iblis, batin Sung Han geram. Agaknya si Jin Yu itu tak pernah bisa diam sebelum dibikin mampus. Tiga orang pembantu utamanya telah ia habiskan, masih saja cari ulah. Apa dia tak berpikir kalau si pembunuh ketiga pembantunya itu akan kembali?
"Kau hendak menyusulnya? Ah...aku seharusnya tidak bertanya karena memang seperti itulah tujuanmu. Benar?" dia sudah mengambil cangklongnya. Kali ini diletakkan di atas meja.
Sung Han terdiam, pikirannya sedang kalut. Berbagai macam pertanyaan berkumpul dalam otaknya. Bagaimana dengan Su Tek? Apakah dia sudah pulang? Kalau begitu apakah dia masih selamat? Atau kalau selamat apakah dia dikurung dalam penjara?
Ia menggelengkan kepala kuat-kuat mencoba mengusir segala pemikiran itu. Sung Han menjura ke arah kakek Bu ketika berkata.
"Aku akan ke sana, menyelidik sekaligus menyuruh pulang Bu Cai."
"Bagus, aku mengandalkanmu." kata kakek Bu.
"Kalau begitu aku mohon pamit."
Sebelum pergi, kakek Bu berteriak sedikt kencang dari dalam sana. "Gunakan perahuku. Aku punya dua perahu yang bentuknya sama persis, kupikir kau masih ingat? Gunakan perahu itu dan cari perahu yang sama di sana, pastilah cucuku ada di sana kalau perahunya juga ada."
"Terima kasih!"
...****************...
Setelah mencari beberapa saat lamanya di pelabuhan, ia menemukan satu perahu yang paling mencolok di antara yang lain.
Di sana banyak sekali terdapat perahu mewah dan berkualitas, dengan cat kayu kualitas mahal sehingga membuat badan kapal mengkilap indah. Yang paling mencolok adalah satu perahu kecil di antara banyak perahu mewah itu.
Sebuah perahu sederhana, dengan dibuat dari kayu tua, tanpa cat dan seakan hampir tenggelam. Sung Han tersenyum karena mengenali perahu ini.
Lekas ia melompat dan mengambil dayung, kemudian diarahkannya perahu itu menuju ke tengah. Ia mendayung dengan cepat, tenaga dalamnya ikut berperan kali ini untuk mempersingkat waktu.
Beberapa buaya nyasar tak sengaja menyundul badan perahu dan mereka tentu langsung berbalik arah karena perahu itu pun telah terlapisi tenaga dalam Sung Han.
Tak berselang lama, dia tiba di seberang dan menuju satu hutan kecil paling terpencil yang kiranya susah dilihat dari luar. Sampai di sana, dia mengumpat akan tetapi juga bersyukur.
"Bodoh sekali...dia terlalu sembrono!!" katanya begitu melihat perahu yang sama terikat di satu batang pohon besar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG