Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 184 – Goa Emas


__ADS_3

Demi kebaktiannya terhadap mendiang guru, kakek tua yang sudah acuh akan dunia ramai itu harus rela melakukan kesepakatan kerja sama dengan Serigala Tengah Malam. Bukan berarti dia ini merupakan seorang pengecut yang dengan mudahnya bekerja sama dengan musuh guna mencari keuntungan pribadi. Sama sekali tidak!


Hal itu hanya untuk mentaati perintah gurunya berupa titah untuk menjaga tempat yang bernama Goa Emas ini. Menjaga ruang dalam Goa Emas dari sapapun yang mencoba masuk ke dalam. Dan agar menutupkan selamanya jika dia tidak memiliki seorang pewaris.


Kakek itu bernama Tok Ciauw, berjuluk Iblis Peti Goa Emas. Sudah lama dia mengundurkan diri dari dunia persilatan dan meneruskan tugas gurunya untuk menjaga Goa Emas yang menjadi incaran banyak tokoh persilatan. Sebuah goa gudang emas yang terbentuk sendirinya karena alam.


Tok Ciauw sama sekali tidak takut untuk menghadapi serbuan pasukan Serigala Tengah Malam yang amat banyak itu. Namun dia bukan seorang bodoh dan tolol, jika dengan nekat dia melawan mereka, pasti ujung-ujungnya dia kalah juga dan ruang dalam Goa Emas akan berpindah tangan.


Maka pada suatu hari, dia membuat perjanjian dengan topeng emas berupa kesepakatan yang saling menguntungkan. Serigala Tengah Malam akan melindungi Goa Emas dengan imbalan emas yang berada di goa luar. Sedangkan Tok Ciauw harus menjadi sekutu Serigala Tengah Malam.


Tok Ciauw terpaksa menerima tawaran yang tamak itu demi keselamatan tempat keramat ini. Dia tak bersikap pengecut dengan membunuh diri dan menutup ruang dalam untuk selamanya. Jika ada cara lain, apapun itu akan dia lakukan.


Pagi hari itu, di atas tebing tinggi, nampak sebuah peti mati hitam yang berdiri tegak. Lebih tepatnya menancap di atas tanah. Peti ini menghadap ke laut lepas yang berada di utara.


Entah sudah sejak kapan peti ini berdiri di sana.


Pastilah sudah dapat ditebak siapa sosok di balik peti itu. Dia bukan lain adalah Tok Ciauw tang berjuluk Iblis Peti Goa Emas.


Dia sudah mendengar akan invasi kekaisaran Jeiji yang mulai mengirim armada ke utara. Dan mendengar itu dia buru-buru kembali ke goanya dan menjaga tempat ini. Waktu itu, dia sedang menunggu kedatangan mereka, juga kedatangan Serigala Tengah Malam yang menurut perjanjian akan melindungi goa ini. Jika benar mereka termasuk orang-orang gagah, maka mendengar akan diserbunya Goa Emas seharusnya mereka datang.


Peti itu berwarna hitam, dibagian kepalanya nampak kotak kecil yang menampilkan wajah penghuninya. Dari dalam kaca inilah Tok Ciauw mengintai keluar dengan matanya yang luar biasa angker. Seperti mata setan itu sendiri. Melirik ke sana-sini dengan ganjil.


Tiba-tiba mata yang cekung dan melotot itu makin melotot kesatu arah. Jika diperhatikan, dari sini belum nampak apa-apa yang bisa dikatakan sebagai keganjilan. Namun tak berselang lama kemudian, di kejauhan nampak layar-layar kapal yang lebar terpentang kuat-kuat karena dorongan angin kencang. Layar-layar kapal yang bertuliskan huruf-huruf aneh. Walau aneh seperti itu, namun Tok Ciauw yang berpengalaman luas itu dapat mengenal tulisan itu. Orang menyebutnya sebagai aksara kanji.

__ADS_1


Matanya memerah ketika makin lama makin banyaklah kapal yang terlihat. Pertama dua kapal, lalu empat, lalu sembilan dan akhirnya nampak dua belas kapal perang besar yang megah-megah.


Jelas kapal itu menuju ke arahnya. Makin dekat nampaklah cahaya berkilauan disepanjang dek kapal. Kiranya itu adalah pantulan sinar matahari yang menimpa baju zirah samurai yang dipakai mereka. Benar-benar nampak gagah.


Terdengar gerengan dari dalam peti itu. Beberapa waktu berlalu, ternyata dua belas kapal itu berhenti beberapa kilo meter dari tebing utara tempat Goa Emas berada. Mereka menurunkan jangkar di sana.


Memang ini merupakan suatu kuntungan bagi Tok Ciauw karena tempat Goa Emas berada ini cukup jauh dari bibir pantai. Berada di tempat sukar sekali berupa tebing-tebing curam dengan batu hitam.


Untuk mencapai tempat ini, dengan membawa pasukan sebesar itu, mau tak mau harus mencari jalan memutar.


Tok Ciauw keluar dari petinya. Dia mendengus dan nampak uap mengepul dari mulutnya, "Hhh...mereka benar-benar serius ya...."


Kemudian dia menoleh ke arah pantai yang dari arah sini belum terlihat. Setelah memandang ke arah itu beberapa saat lamanya, dia memasuki petinya kembali dan peti itu terbang cepat menuju ke pantai itu.


...****************...


Beberapa hari perjalanan kemudian, dari hutan ini sudah nampak sebuah tembok hitam yang cukup tinggi. Namun sejatinya itu bukanlah tembok melainkan lebih tepat untuk disebut sebuah tebing curam. Tebing yang terbentuk dari batu-batu cadas berwarna hitam.


Rombongan besar ini mulai dari hutan itu sudah merasa kesulitan. Walau letak tebing cadas itu masih cukup jauh, namun mulai dari sini jalannya sudah menanjak dan makin lama makin tinggi serta sukar.


Rombongan ini bukan lain adalah rombongan pendekar hitam gabungan dari Serigala Tengah Malam dan para pendekar pimpinan Kay Su Tek. Saat ini, mereka sudah tiba dekat dengan Goa Enas yang berupa tembok hitam itu.


Orang-orang banyak yang kesulitan untuk menempuh perjalanan yang menanjak dan penuh batu licin itu. Namun sebagian orang yang berilmu tinggi, sebagai contoh Sung Han, Kay Su Tek, topeng emas, Yu Fei dan Bo Tsunji, mereka ini tidaklah terlalu sukar untuk mendaki tempat ini.

__ADS_1


Karena perjalanan terlalu sukar, akhirnya topeng emas memutuskan untuk beristirahat di sana lebih dulu.


"Berhenti, kita istirahat di sini!" seru topeng emas. Mengetahui ini Kay Su Tek juga memerintahkan yang sama.


Segera mereka melepas lelah dengan langsung mendeprok seenaknya di sana. Sedangkan untuk tokoh-tokoh kelas atas mereka belum merasa lelah benar sehingga masih sempat mencari tempat istirahat yang baik untuk melepas penat.


Untuk para anggota biasa atau rendahan, mereka sudah duduk-duduk di sepanjang jalan menurun itu. Mereka sudah duduk sambil mengeluarkan bekal makanan dan bercakap-cakap.


Akan tetapi untuk tokoh-tokoh kelas atas, karena tempat yang nyaman berada sedikit lebih tinggi, maka mereka duduk berkumpul dalam jarak yang lumayan dekat.


Akan tetapi walau duduk bersama seperti itu, mereka sama sekali tidak bicara. Hanya duduk di tempat masing-masing sembari melakukan kesibukannya sendiri.


Sung Han bermain-main dengan rumput dan semut yang kesulitan menyeberang celah batu. Kay Su Tek menguliti batang pohon kering. Sedang kakek tua Burung Walet Hitam sudah mendengkur sambil bersila. Memang kelakuan orang-orang sakti itu aneh-aneh.


Tiba-tiba, semua kegiatan mereka berhenti dan duduk sigap ketika merasakan kedatangan orang lain. Dan benar saja, terasa angin menyambar disusul jatuhnya peti hitam dari atas.


"Dukk!!"


Semua orang memandang peti itu, tak terkecuali Sung Han yang melotot seolah matanya hendak keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2