Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 176 – Mengejutkan


__ADS_3

Sung Han telah meratakan kurang lebih dua puluh pendekar seorang diri, tanpa senjata. Di depan gerbang perkumpulan Pedang Hitam itu, nampak banyak sekali tubuh manusia malang-melintang saling tumpang tindih. Dan Sung Han dengan seenaknya berjalan di antara mereka seolah tak melihat semua itu.


Lama-lama dia merasa penasaran juga. Penasaran dan juga jengkel. Masa sudah sejak tadi dia ribut dengan orang-orang ini, tak ada satu pun yang melapor kepada Kay Su Tek? Buktinya gerbang itu sejak tadi masih tertutup dan tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan terbuka.


Setibanya di depan pintu gerbang, Sung Han menarik napas dalam sampai dadanya menggembung. Kemudian dia membuka mulutnya lebar. Hebat sekali, dari dekat suaranya sama sekali tak terdengar, namun di dalam markas itu, suaranya bahkan terlalu nyaring.


"Kay Su Tek, jangan pura-pura buta dan tuli!! Apakah kau tak tahu akan kedatanganku ini?!"


Sampai lama gema suara itu terdengar hingga kejauhan. Orang-orang yang tadi kena hajar Sung Han merasa makin nyeri tubuhnya begitu mendengar suara ini. Mereka hanya mampu merintih-rintih.


"Ini sih siluman namanya...." gumam salah seorang yang rebah di atas batu sambil melirik Sung Han. Dia pura-pura pingsan lagi ketika Sung Han melirik ke arahnya.


Tiba-tiba, terdengar suara nyaring yang menjadi jawaban dari dalam. "Kami mendengarnya dari tadi, hanya saja sungguh di luar dugaan kami ada tokoh muda yang berhasil menghajar anggota kami sebanyak itu."


Pintu itu tiba-tiba mengeluarkan suara berderit dan terbuka dari dalam. Terdengar suara itu lagi, "Terima kasih kepada tuan muda yang masih melimpahkan belas kasihan."


Sung Han paham akan hal ini. Dan memang demikianlah, tak ada satu pun orang yang dihajarnya tadi mati. Mungkin hanya cacat permanen.


"Kedatanganku sebagai seorang sahabat yang ingin mengunjungi sahabatnya. Harap kau panggil Kay Su Tek keluar!" seru Sung Han namun dia tidak mau melangkah masuk.


Sampai beberapa menit kemudian, suara itu tak menyahut. Selang satu menit, datanglah tiga orang tua yang kesemuanya bersikap kereng sekaligus angker.


"Selamat datang kepada tuan muda. Siapakah nama tuan muda kalau kami boleh tahu?" ujar seorang tua paling depan. Yang rambutnya sudah putih semua, mungkin usianya telah mencapai kepala lima.


Sung Han memandang penuh selidik, jawabnya santai namun penuh penekanan.


"Harap perkenalkan nama kalian bertiga sebelum tanya-tanya nama orang."


Kakek itu merah mukanya. Malu dan jengah karena telah ditegur seorang anak-anak. Juga dua kakek lain merasa sedikit terhina, namun mereka hanya diam saja.


"Tak perlulah tuan tahu nama kami yang sama sekali tak berarti. Hanya saja orang mengenal kami sebagai Naga Sakti." kakek itu sengaja memperkenalkan nama julukan mereka, untuk menekan Sung Han.


Dan benar saja, Sung Han menampilkan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia sudah mendengar akan tiga orang tokoh tua yang memakai julukan Naga Sakti. Katanya kepandaiannya demikian tinggi sampai tak ada satu pun orang bisa menundukkannya. Katanya mereka seperti naga sungguhan.


Diam-diam Sung Han menjadi waspada. Jangan-jangan mereka adalah pendekar sejati. Jika benar demikian, mengapa tiba-tiba banyak bermunculan banyak pendekar sejati? Merepotkan saja.


Dia tak sadar jika dirinya sendiri termasuk ke dalam pendekar sejati yang sedang banyak bermunculan itu.

__ADS_1


Akhirnya dia menjawab, "Kalau begitu, tak perlulah kalian mengetahui namaku yang lebih tak berarti lagi. Aku tak punya nama julukan."


Tiga orang kakek itu saling pandang, dalam hati masing-masing telah bersepakat. Pemuda ini sangat berhati-hati.


Padahal mereka bertiga sudah tahu siapa Sung Han. Seorang pemberontak yang menculik sang putri.


"Aku ingin bertemu ketua kalian, Kay Su Tek. Mana dia?" Sung Han berkata lagi dengan nada menuntut.


"Ketua sedang tak ada di sini. Beliau sedang pergi karena urusan." sekarang kakek yang sebelah kanan menjawab. Seorang kakek yang seumuran dengan kakek pertama, namun matanya lebih tajam dan dalam.


"Ke mana?"


"Itu bukan urusan luar!"


"Oh, intinya dia tak sedang berada di sini?" Sung Han menggaruk-garuk belakang kepalanya. Dia menoleh ke sana-sini, "Lalu untuk apa aku bikin ribut di tempat ini?"


"Jika kau mencari ketua, beliau saat ini sedang ada di markas Serigala Tengah Malam. Melakukan perundingan!" bentak kakek di sebelah kiri, yang nampak lebih berangasan dari dua kakek lain.


Dua kakek lainnya itu memandang tajam penuh teguran. Namun kakek satu ini tetap berkeras dan membandel, dia menentang pandang dua orang kakek lain dengan tajam pula.


"Itu bukan urusanmu!!" bentak kakek berangasan itu.


Sung Han tersenyum cengengesan, "Oh, kalau begitu terima kasih. Aku pergi dulu." tubuhnya berbalik dan dia berjalan santai sambil bersiul-siul.


Tiga orang kakek ini menjadi panas hatinya. Ketika mereka hendak maju, kakek berangasan tadi mencegah. "Biar aku yang menghadang. Aku sudah menantikan ini, dia sudah tahu maka harus mampus!"


Lalu secepat kilat, tubuhnya sudah melambung dan tahu-tahu telah berdiri di depan Sung Han yang segera menghentikan siulannya.


"Tunggu dulu orang muda. Perkara seperti itu mana bisa tuntas dengan cara demikian sepele?" bentak kakek ini.


"Lalu, harus menyelesaikannya dengan cara tidak sepele? Bagaimana itu? Hanya memberikan informasi, kukira itu masalah sepele saja."


Jawaban Sung Han yang terlalu tak acuh itu membuat darah di tubuh Naga Sakti ini mendidih. Dia membentak marah, "Mampuslah dan jadikan tanah ini kuburanmu untuk menyelesaikan masalah itu!"


Tangannya menyerang. Dengan jari terbuka diarahkan ke arah wajah.


Sung Han merasa betapa ada angin panas menyambar, namun dia tak menjadi gugup apalagi terkejut. Dengan sedikit gerakan, dia mengelak ke kanan.

__ADS_1


"Kurang cepat, kuda-kudamu tidak kokoh!" berkata demikian, ujung sepatu Sung Han menendang lutut kiri kakek itu yang sedang ditekuk ke depan.


"Dukk..."


"Auhhh!!" Naga Sakti itu mengeluh dan terhuyung-huyung.


Jelas ini mengejutkan semua orang, baik Naga Sakti itu atau dua Naga Sakti lain. Mata tua mereka sampai melotot lebar saking kaget dan kagumnya.


Mereka mengenal ilmu apa yang digunakan oleh saudaranya tadi. Ilmu itu bernama Cakar Naga Menerkam Singa. Sebuah serangan tapak yang akan menembus suatu benda seberapa kerasnya pun! Dan jika menembus, hanya jari-jarinya saja yang melesak ke dalam.


Namun baru saja tadi Sung Han seolah sudah mengenal ilmu ini dan dia memilih untuk menghindar. Bahkan dia mengenal kelemahan paling fatal dari ilmu ini. Yaitu kaki kiri.


Ilmu ini memang hebat, namun hanya bisa untuk menyerang dan itupun harus sekali kena. Kalau tidak kena, celah lebar di kaki kiri itu akan diketahui musuh dan mampu dimanfaatkan untuk membalik keadaaan.


Naga Sakti itu menggereng seperti singa marah, lalu dia menubruk lagi. Kali ini dengan kedua tangan diselonjorkan ke depan dan kedua kaki diangkat ke atas. Benar-benar seperti naga terbang.


"Huh, kurang seram!" Sung Han mendengus dan membentak, lalu sekali tangan bergerak.


"Plakk!!"


Pipi kakek itu sudah kena tampar dan dia terpelanting mengaduh-aduh. Sung Han masih berdiri di tempat tanpa bergerak.


Kembali dua Naga Sakti lain terkejut sekali. Ilmu itu bernama Naga Terbang Bertemu Tanding. Sama seperti jurus sebelumnya, jika mengenai benda keras sekeras apapun, pasti akan tembus. Bahkan jurus satu ini lebih kuat karena dibarengi dnegan gerengan, dan lebih hebat karena tubrukan itu cepat sekali.


Akan tetapi dengan gerakan menghina sekali, dengan seenaknya Sung Han dapat memelantingkan kakek itu dalam sekali tampar. Diam-diam semua orang mulai berpikir, maklumlah orang sekuat ini berani main gila menculik sang putri.


Puluhan orang yang masih rebah itu menonton dengan hati tegang. Lebih condong ke sikap jeri. Namun dua orang kakek lain menjadi marah dan mereka menerjang maju.


"Bocah, kau terlalu menghina!!" bentak kakek bermata dalam.


Sung Han meliriknya, dan dia bergumam lirih. Sebuah gumaman seperti bisikan, namun mendatangkan rasa ngeri luar biasa.


"Akan kuajari kalian untuk menjadi naga sungguhan....."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2