Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 232 – Empat Lawan Tiga


__ADS_3

"Dia itu sebenarnya pergi ke mana? Kenapa tidak nampak satu orang pun di sini?" Xian Fa mengeluh panjang pendek setelah mereka bedua menyisir wilayah hutan itu. "Istriku, apa aku salah bicara waktu itu? Bukankah aku mengatakan untuk membawa Naga Bertanduk ke sini?"


"Kau bicara seolah sudah yakin aku akan menerimanya!!" bentak Han Ji.


Xian Fa diam, hanya menatap wajahnya. Sampai beberapa lamanya, jawaban yang dinanti-nantikan tak kunjung tiba. Ia memanggil lagi. "Han Ji?"


"Ah, kau tak salah bicara," jawabnya singkat. Dia sendiri pun sebenarnya juga merasa heran dengan Hok Liu. Tak mungkin pria itu akan berkhianat, mengingat posisinya sebagai ketua partai besar, sekali bicara tak akan pernah diingkari. Bahkan sebelumnya dia yang mengajak persekutuan ini.


"Ayo ke komplek perumahan Naga Bertanduk," ajak Xian Fa kemudian.


Han Ji menurut saja dan mereka kembali memasuki wilayah kediaman tuan kota. Mereka pergi ke tempat komplek yang dijadikan tempat tinggal Naga Bertanduk. Namun sesampainya di sana, mereka merasa bingung saat melihat tempat itu telah sepi. Itu artinya Naga Bertanduk dan lain-lain telah berhasil dipancing ke luar atau memang sejak awal mereka tak ada di sana.


"Ah, wanita simpanan!" celetuk Xian Fa ketika melihat ke jendela kamar pertama.


Han Ji mencibir. "Oh, masih berani melamarku?"


Xian Fa buru-buru memberi pembenaran. "Bukan begitu, itu artinya ada seseorang yang bisa kita tanyai," katanya. Dia memerhatikan wanita dalam kamar itu lebih teliti lagi. Han Ji mengira Xian Fa bakal mengatakan sesuatu terkait perempuan itu, namun hal yang diucapkan berikutnya benar-benar tak terpikirkan. "Tetap saja, bagaimanapun juga setelah perang ini selesai aku akan melamarmu."


"Itu kalau kau berhasil lolos sampai perang usai," timpal Han Ji yang sudah kebal dengan rayuan Xian Fa. Dia hanya menampilkan ekspresi datar. "Kalau kau mati di tengah jalan?"


"Kalau begitu, pastikan kau ada di dekatku."


"Kenapa?"


"Akan kulamar kau sebelum nyawa ini pergi."


Kembali Xian Fa mencibir. "Kalau kutolak? Ah, kasihan sekali."


Kini, Xian Fa yang sejak tadi memerhatikan wanita dalam kamar itu, memutar kepalanya dan memandang wajah Han Ji dengan serius. Awalnya Han Ji tak terlalu memikirkan itu, namun lama-kelamaan dia menjadi gugup juga.


"Kenapa?" tanyanya gusar.


"Oh, kau pintar Han Ji, aku sama sekali tak pernah berpikir sampai ke situ. Aku merasa cukup sombong untuk bisa selamat dari perang ini," ujarnya sambil menggelengkan kepala. Lalu dia mencengkeram dua pundak Han Ji, pandangannya tegas tanpa keraguan. "Mencegah hal itu, sekarang juga, izinkan aku menghamilimu untuk mengesahkan pernikahan kita!"


"Kau tolol!!!" Han Ji menampar kepala Xian Fa dengan keras sekali. Bentakan dan suara tamparan ini mengejutkan wanita yang sejak tadi dilihat oleh Xian Fa itu. Spontan tubuhnya membalik dan terkejut.

__ADS_1


"Ah!" pekiknya mengetahui orang asing dan wajahnya ketakutan.


Xian Fa segera menyudahi drama singkat itu lalu secepat kilat tubuhnya masuk melalui jendela. Menjebol jendela itu dan menotok wanita tersebut.


"Aku hanya ingin tanya," kata Xian Fa buru-buru. "Apakah tadi ada orang asing di sini?"


Wanita itu terbelalak. "Kalianlah orang asingnya!"


"Sebelum kami!"


"Ada dan dia tadi pergi ke sana!" Spontan dia menjawab lalu menunjuk ke satu arah.


Xian Fa mengangguk lalu terpaksa menotok pingsan wanita itu. Ia keluar dan berkata kepada Han Ji.


"Katanya orang asing sebelum kita pergi ke arah sana," Xian Fa menunjuk.


"Kalau begitu ayo bergegas, jebolan jendela tadi cukup berisik. Kau ceroboh!" Han Ji berkata setengah membentak. Setengah mengejek.


"Istri galak."


Xian Fa dan Han Ji pun tidak merasa terlalu curiga dengan arah yang dituju ini. Itu menjelaskan semuanya. Mereka tadi menyelidiki ke hutan seberang dari yang mereka tuju ini, hal itu menjelaskan mengapa Hok Liu tidak berada di sana.


Setelah beberapa menit berselang, sebelum mencapai bibir hutan, mereka sudah mendengar suara pertempuran. Xian Fa dan Han Ji saling pandang dan tanpa dikomando mereka mempercepat langkah.


"Itu dia!" kata Han Ji menunjuk di depan. Terlihat Hok Liu dikeroyok beberapa orang.


"Jenderal bertopeng itu ...., memang pemberontak, brengsek!" umpat Xian Fa ketika mengetahui dua orang berpakaian jenderal dan memakai topeng. Yang satu topeng berbintik hitam di dahi dan satu lagi topeng berbintik merah. "Incar dua jenderal topeng itu, aku penasaran. Mereka selalu mengacau. Ketika di Perguruan Awan waktu itu kau juga lihat kan?"


Han Ji mengangguk. "Ya, aku ingat. Siapa targetmu?"


"Topeng dengan bintik merah di dahi."


"Kalau begitu aku yang satunya."


Mereka melompat, mengerahkan tenaga pada kaki lalu menukik tajam.

__ADS_1


"Syuut!-syuut!!"


Kedua jenderal yangs edang sibuk membendung serangan Hok Liu itu tak menyadari sebelum jarak antar kaki dua orang itu dan wajah mereka hanya terpisah satu jengkal. Untuk mengelak tak mungkin dan untuk menangkis agaknya terlalu terlambat, maka ....


"Desss! Kraakk!!"


Dengan telak kaki Xian Fa dan Han Ji menghantam wajah keduanya. Mereka terpental dengan darah menyiprat dari wajah. Topeng mereka pecah dan mecahannya berhamburan di mana-mana.


"Bagus, kalian datang juga," seru Hok Liu girang. "Aku sudah hampir nekat mengadu nyawa tadi."


"Kau tak apa-apa?" Han Ji bertanya dan dibalas anggukan oleh Hok Liu.


Naga Bertanduk terkejut, juga Burung Walet Hitam. Kedatangan dua orang muda yang tiba-tiba sudah sampai di tengah kancah pertempuran itu amat tak terduga. Mereka pasti memiliki kepandaian tinggi sekali karena kalau tidak, tak mungkin ada orang berani melakukan tindakan nekat begitu kecuali dia tak takut tubuhnya pecah terkena himpitan tenaga dari orang-orang yangs edang bertempur.


Setelah diamati lebih teliti, Naga Bertanduk baru sadar bahwa yang datang ini adalah dua pengawal baru pangeran. Dia tertawa. "Hahaha, dua lalat yang hendak kuburu malah datang sendiri. Bagus!"


Han Ji dan Xian Fa tak memdulikan itu, mereka memandang sekeliling dan kagum menyaksikan sepak terjang Hok Liu. Ada sekitar dua belas orang yang mati dalam keadaan mengenaskan. Mereka semua berpakaian pengawal. Kalau bukan pengeroyok Hok Liu, siapa lagi?


"Oh, ternyata kalian." Xian Fa baru sadar akan dua jenderal itu ketika mereka bangkit dengan tertatih-tatih.


Xian Fa sudah hafal benar dengan mereka. Karena mereka sudah bentrok beberapa kali. "Kalian ini kalau tidak salah yang ada di dasar jurang itu kan? Serta yang mengeroyokku di desa itu kan?"


Salah satu dari mereka, yang Xian Fa kenal bernama Yu Fei mengerang sambil berkata. "Hhhh, jika itu kau, bersrti kau pemilik pedang gerhana? Gerhana Matahari?"


"Oh, kau masih ingat. Berarti harus mati." Xian Fa lalu berbisik ke telinga Han Ji. "Jangan keluarkan pedang gerhana jika tak yakin musuhmu dapat kau matikan."


Han Ji mengangguk. Xian Fa berkata lagi. "Empat lawan tiga, tapi kupikir ini dua lawan tiga?"


Yu Fei dan Bo Tsunji menggertakkan gigi. Mereka paham, ini merupakan pertarungan yang terlalu tinggi bagi mereka, sehingga mereka tak masuk hitungan. Namun selama ini mereka juga memggembleng diri hingga mengalami kemajuan pesat, sehingga tentu saja merasa marah dan penasaran diremehkan sedemikian rupa.


"Sung Han kau bangsat, terima ini!!" Yu Fei maju. Dengan pisau racun yang memotong lengan Kay Su Tek, dia melakukan serangan nekat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2