
Menurut cerita dari Han Fu Ji kemarin, Sung Han dan Ratu Elang yang bernama Yang Ruan itu dibawa oleh gerombolan Serigala Tengah Malam menuju timur. Maka kali ini, Sung Hwa tak ada pilihan lain selain melakukan perjalanan ke sana.
Dia melakukan perjalanan cepat, namun tak berani melalui desa-desa atau kota besar. Bahkan jika mampir di desa atau kota, hanya sejenak saja kalau ada keperluan membeli perbekalan. Selebihnya, jika tak ada urusan penting, maka dia memilih untuk melalui jalan hutan yang liar dan sukar.
Tentu saja Sung Hwa tak mau diketahui sebagai pemberontak dengan cara melalui desa-desa atau kota. Ketika ada keramaian, cepat ia naikkan tudung jubahnya untuk menutupi sebagian kepala. Hal itu amat membantu.
Pencarian Sung Han ini ia lakukan selain untuk memenuhi pesan terakhir Han Fu Ji, juga untuk kepentingan pribadinya, yaitu membunuh pemuda itu. Kabar baik baginya untuk bertemu Han Fu Ji, karena kebetulan sekali dia dapat mengetahui jejak Sung Han.
Akan tetapi setelah lama melakukan perjalanan, tentu saja Sung Hwa tersesat. Dia tidak tahu jika Sung Han dan Yang Ruan dibawa ke markas Serigala Tengah Malam yang amat rahasia, sedangkan dia sendiri belum pernah pergi ke sana.
Mulailah gadis ini melenceng dari jalur utama, yang awalnya seharusnya menuju timur, dia malah berputaran tak tentu arah.
Akhirnya, sampailah dia di suatu hutan kecil yang cukup banyak ditumbuhi pepohonan. Berhari-hari dia mencari, tak kunjung juga ketemu di mana adanya Sung Han.
Gadis itu merengut sebal lantas membuang dirinya untuk duduk mendeprok di sembarang tempat. Tak peduli jika celananya kotor, yang penting di sana masih terlindung naungan pohon sehingga sejuk sekali.
"Menyebalkan sekali." gumamnya, matanya melirik ke sana-sini penuh kekesalan, "Padahal sudah mendapat jejaknya, kenapa sukar sekali?"
Akhirnya, Sung Hwa memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas tanah. Menerawang ke langit biru yang terbentang seolah tiada habisnya itu.
"Apakah menunggu takdir saja? Bukankah suatu saat mungkin juga ketemu?" berpikir termenung seperti ini, membuat pikirannya yang lelah dan tubuhnya yang letih makin terasa dan tanpa sadar pulaslah gadis ini.
...****************...
Seperti telah diceritakan, Gu Ren bersama seluruh Naga Hitam memilih untuk membantu pemerintahan. Juga Khuang Peng, tuan muda Rajawali Putih dan seorang pendekar bebas berjuluk Tongkat Besi, yang bukan lain adalah Nie Chi. Mereka ini merupakan pendekar-pendekar kaum pejuang pembasmi pemberontak yang amat kuat.
Kemarin lalu, ada seorang mata-mata yang disebar oleh Naga Hitam dan Rajawali Putih, mereka menemukan adanya jejak-jejak Serigala Tengah Malam di daerah sebelah timur.
__ADS_1
Setelah minta ijin kepada kaisar dan lelaki tua itu menyanggupi, maka berangkatlah mereka menuju ke timur sana. Yang mungkin sekali adalah markas Serigala Tengah Malam karena anggota-anggota mereka sering kali muncul di sekitaran sana.
Mereka bergerak secara cerdik sekali, kali ini Sie Kang tak ikut namun mereka menggunakan siasat kakek itu seperti waktu penyerbuan Hati Iblis. Dengan menyamar dan bergerak secara menyebar.
Selain untuk mencari informasi di desa-desa sekitar, mereka juga tidak ingin menarik perhatian Serigala Tengah Malam itu.
Marilah kita ikuti sejenak perjalanan dari Nie Chi, pendekar berjuluk Tongkat Besi itu ketika mencari keterangan seorang diri.
Pagi-pagi sekali, dia sudah tiba di sebuah desa kecil lereng pegunungan. Tanpa ragu lagi masuklah pemuda yang membawa tongkat hitam di punggungnya itu ke dalam desa. Desa ini kelihatan makmur, sampai sini Nie Chi berpikir jika markas Serigala Tengah Malam mungkin masih jauh dari sini.
Masuklah ia ke sebuah rumah makan yang baru saja buka. Segera dia duduk di salah satu kursi dan memanggil pemilik warung.
"Paman, siapkan daging panggang dua porsi dan sayur segar sepiring besar. Serta arak wangi yang tidak terlalu keras."
Orang itu menunduk dalam dan tersenyum ramah, "Baiklah tuan, mohon tunggu sebentar."
Orang itu mengangguk beberapa kali dan segera pergi ke ruang belakang. Tak lama setelahnya dia datang lagi dengan hidangan pesanan Nie Chi itu. Ketika pemuda itu makan dengan lahapnya, pria paruh baya ini berdiri di belakangnya untuk menunggu.
"Mari kita bicara." ucap Nie Chi setelah menyelesaikan makannya. Pria paruh baya itu duduk di hadapan Nie Chi.
"Aku ingin bertanya, apakah di sini sering kali terdengar desas-desus mengenai Serigala Tengah Malam?"
Pemilik warung nampak terkejut, namun hanya sebentar saja sebelum kembali dapat menguasai diri dan menjawab, "Ah...itu hanya rumor yang beredar di sekitaran sini. Memang sering kami mendengar suara pertempuran orang di bukit itu, akan tetapi kami tak terlalu memerhatikan karena mereka tak pernah mengganggu."
Nie Chi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Benarkah itu, aku dengar di kota-kota sebelum desa ini, katanya mereka sering melihat anggota-anggota Serigala Tengah Malam menampakkan diri di timur sini."
"Seperti yang kukatakan tadi tuan, memang sering kali terlihat anggota-anggota nereka, tapi palingan hanya terdengar suara pertempuran di bukit itu." jawab pemilik warung itu tanpa menghilangkan senyumannya.
__ADS_1
Nie Chi mencerna informasi itu, rasanya agak janggal jika Serigala Tengah Malam hanya lewat saja tanpa membuat kekacauan. Tapi jika itu yang dikatakan pemilik warung selaku penghuni desa ini, dia tak bisa membantah karena memang tak tahu apa-apa.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu maka cepat ditanyakanlah sesuatu itu, "Sebelum sampai di desa ini, aku mendengar bahwa ada beberapa orang yang lewat dan diduga merupakan para anggota Serigala Tengah Malam. Mereka mengatakan jika beberapa orang itu menuju desa ini, apakah paman mengetahuinya?"
Pemilik rumah makan itu mulai berpikir, matanya melirik ke kanan atas dan tangannya meraba-raba dagu, pose normal seorang yang sedang berpikir keras. Sedangkan Nie Chi, masih menunggu tanpa berucap sepatah katapun.
"Ah...maksudmu mereka itu?" kata si pemilik warung tiba-tiba. Agaknya dia sudah teringat.
"Apakah paman tahu sesuatu?"
"Ah....ya, aku tahu. Kemarin ini ada beberapa orang lewat sini dan pakaiannya hitam-hitam. Agaknya memang anggota Serigala Tengah Malam."
Nie Chi makin tertarik, wajahnya menjadi bersinar dan girang, "Nah, ke mana mereka pergi paman?"
"Ke sana." kata orang itu menunjuk sebuah bukit yang sejak tadi ditunjuk-tunjuk sebagai tempat terdengarnya suara pertempuran. Nie Chi ikut memandang dan heran sekali.
"Mengapa selalu bukit itu?" batinnya bertanya-tanya.
"Mereka pergi ke sana tuan, tak salah lagi, aku melihatnya sendiri."
Setelah mengamati bukit itu beberapa saat lamanya, Nie Chi sudah mengambil keputusan bulat untuk menyelidik ke sana. Maka dia berkata sambil bangkit berdiri dan meletakkan beberapa keping uang perak.
"Ini sebagai tambahan, terima kasih atas informasinya." katanya dan segera beranjak lalu pergi dari sana menuju bukit itu. Diiringi oleh pandang mata tidak biasa si pemilik warung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1