
Beberapa waktu lalu....
Sekitar tujuh puluh orang anggota Hati Iblis telah siap di sekeliling pemukiman murid baru. Tempat pemukiman ini berada di arah barat markas utama Naga Hitam, dan letaknya juga cukup berjauhan.
Pemimpin rombongan ini adalah seorang nenek tua berambut putih yang dimana rambutnya itu disanggul tinggi. Bibirnya bergincu merah seakan baru memakan ayam mentah, senyumnya dibuat semanis mungkin. Tapi karena keriputan dibanyak tempat, bukannya tampil manis, justru rupanya tampak lucu dan aneh. Membuat orang seram.
Siapa lagi kalau bukan Phiang Bi Sun, satu dari empat datuk tertinggi Hati Iblis.
Dia ditugaskan oleh Jin Yu untuk menghancurkan pemukiman baru ini saat si pemilik pedang gerhana pergi.
Alasannya sederhana, Jin Yu ingin menyatakan perang terhadap Naga Hitam. Apalagi jika berhasil dia akan mendapat Pedang Gerhana Matahari, ia tak takut lagi untuk melawan Giok Shi dan Sie Kang jika kakek itu ikut campur.
Tindakan penghancuran pemukiman murid baru ini juga bertujuan untuk memancing keluar Giok Shi. Yang jika seandaianya orang tua itu bisa muncul, maka diharapkan Phiang Bi Sun mampu meringkusnya.
Ada seorang pria yang lari tergesa-gesa menuju tempat Phiang Bi Sun duduk santai sembari mainkan bibirnya. Seolah sedang memikat kaum pria seperti di masa mudanya dahulu kala.
"Nyonya muda, semua sudah berjalan sesuai rencana. Kali ini kita bisa melancarkan serangan."
Panggilan yang cukup aneh dan perlu diketahui kalau si pengucap panggilan itu pun merasa jijik. Namun sebutan nyonya muda ini merupakan permintaan dari Phiang Bi Sun sendiri.
"Hihihik..." kekehnya genit.
Ia bangkit dari duduknya, menggerak-gerakkan kepala untuk melepas kaitan sanggulnya. Rambut putih panjang itu menjuntai sampai punggung.
"Tunggu apa lagi? Anak-anak, ayo serbu!!"
...****************...
Yu Ceng sedang beristirahat di kamarnya saat tiba-tiba lonceng tanda bahaya dibunyikan. Tubuhnya masih lemas, agaknya sakitnya kambuh lagi.
Dengan tertatih-tatih, ia merayap ke tembok untuk melihat ke luar jendela. Dari jauh, ia melihat banyak sekali api obor mengurung pemukiman murid baru ini.
"Celaka....penyerangan?" gumamnya bertanya-tanya.
Masih dengan susah payah dan menahan rasa nyeri di seluruh tubuh, Yu Ceng berjalan menghampiri pintu. Ketika ia buka, ia dikejutkan dengan kehadiran Lie Cong yang hendak mengetuk pintu.
"Ah...nona!" ujarnya kaget.
"Ada apa ini?" kata Yu Ceng bercampur rintihan menahan sakit.
"Gawat nona, kita diserang! Hati Iblis menyerang. Anda harus segera dibawa ke markas utama, mari saya antar."
Lelaki tiga puluh tahunan itu menyunggingkan senyum saat Yu Ceng hendak menyambut tangannya. Lie Cong yang diam-diam menaruh hati kepada Yu Ceng itu saking girangnya sampai tak sadar ada anak panah mengarah padanya.
Justru Yu Ceng yang sama sekali tidak mengenali ilmu silat, malah mampu mendengar suara itu dan beri peringatan.
"Kakak Lie, awas!!" tangannya terulur hendak menarik Lie Cong, namun terlambat, anak panah itu tepat menusuk rusuknya dan tembus melubangi jantung.
__ADS_1
"Caapp!"
Suara keras tercipta saat anak panah itu bersarang di tulang rusuknya. Lie Cong nampak terkejut, pandangannya kosong dan kian memucat.
"Kakak Lie!" pekik Yu Ceng dengan ngeri saat ada satu anak panah lagi menembus kepala lelaki itu. Membuatnya terpelanting dan jatuh dari ketinggian beberapa meter.
Yu Ceng jatuh terduduk, tubuhnya gemetaran, lidahnya terasa kelu dan suaranya seperti terkunci di tenggorokan. Niat awal yang ingin melarikan diri, ia lupakan dan segera masuk kembali ke dalam rumah. Tak berani memandang keluar.
Saat itu, pemukiman ini sudah dimasuki oleh tujuh puluhan orang Hati Iblis yang dipimpin langsung oleh Phiang Bi Sun.
Nenek itu sungguh luar biasa dan hebat sekali ilmu silatnya, dengan rambutnya yang riap-riapan, ia mengunakan itu sebagai cambuk yang lihai. Rambutnya berubah menjadi empat bagian yang menyambar-nyambar.
"Hyaaattt!"
Empat orang Naga Hitam mengurung dari segala sisi. Tapi dengan dengusan pendek dan sedikit hentakan kepala, empat orang ini sudah roboh tewas dengan dada berlubang ditembusi rambut si nenek yang menjadi kaku.
Rumah-rumah dibakar, bahkan tak terkecuali untuk rumah-rumah pohon. Semuanya dilibas entah itu yang dewasa atau yang masih muda.
Tiga puluhan anggota baru Naga Hitam memang lihai, namun dibanding tujuh puluhan orang Hati Iblis yang juga lihai, mereka bisa apa.
Maka tak sampai satu jam, seluruh manusia di pemukiman baru itu sudah habis tak bersisa, hanya meninggalkan mayat.
"Eh...?" Phiang Bi Sun mengerutkan kening saat melihat rumah pohon yang paling tinggi dan masih sehat, belum terbakar.
Ia terkekeh seram sebelum menjejak tanah untuk naik ke atas sana. Tanpa ragu-ragu lagi, ia buka pintu dengan kasar.
"Braakkk!"
Segera terdengar jerit perempuan yang ketakutan, dia meringkuk di ujung ruangan tepat di depan kamar sebelah tangga.
Phiang Bi Sun menyeringai. "Heh....anak manis...."
Setelah itu tubuhnya berkelebat, dan tahu-tahu Yu Ceng sudah kena totok lumpuh.
Kembali Phiang Bi Sun terkekeh, "Aku tak akan menyakitimu." namun ucapan ini sama sekali tidak menentramkan hati Yu Ceng yang ketakutan hebat, "Tapi entah mereka?" lanjut nenek itu.
Phiang Bi Sun keluar dari rumah dan berseru nyaring. Dengan pengerahan tenaga dalam, ditambah teriakannya, maka suara itu benar-benar memekakkan telinga.
Tapi mendengar kalimatnya, empat puluhan orang Hati Iblis yang masih hidup tampak sumringah.
"Hei.....ada harta karun di sini!!"
...****************...
"Sialan....sialan....bangsat!!!"
Gu Ren menampar bokong kuda, memaksa hewan itu untuk lari lebih cepat. Di sampingnya, nampak Pat Kue dan Bao Leng dengan wajah merah padam, jelas terlihat kemarahan mereka sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
Di belakang mereka, lima puluhan orang hanya menunggang kuda dalam diam. Agaknya hati mereka juga campur aduk antara marah dan duka.
Mereka menuju ke pemukiman murid baru yang nampak terang benderang. Salah satu murid baru tadi datang melaporkan segalanya, maka Gu Ren lekas mengumpulkan pasukan untuk datang menolong.
Tapi melihat betapa terang tempat itu dan asap yang sudah membumbung tinggi, hati mereka semua merasa putus asa. Kecil harapannya bahwa tempat itu masih selamat.
Begitu sampai, di sana sudah sepi, tak ada apa-apa kecuali rumah-rumah yang terbakar.
Namun saat Gu Ren memicingkan matanya, dia melihat sosok nenek yang duduk bersila di tanah, di tengah-tengah pemukiman itu. Seolah sedang menunggu rombongan ini.
Gu Ren marah, ia lompat turun dari kuda dan datang mendekat. Setelah beberapa langkah, barulah dia nampak jelas siapa adanya orang tersebut.
"Si Nenek Bibir Merah, tak perlu kutanya pastilah engkau yang membuat kekacauan ini. Apa kehendak Hati Iblis!!?"
Phiang Bi Sun terkekeh, diam-diam dia merasa girang akan nama julukannya yang dikenal orang. Ia bangkit perlahan dan berkata, "Memang aku dan anak-anak lain yang membuat kekacauan ini. Tapi...yah, mereka sudah kusuruh pulang. Aku ingin main-main sebentar dengan Giok Shi."
Darah Gu Ren memanas, "Jangan seenaknya kau memanggil nama guru!! Kalau hendak main-main, marilah kulayani sampai laksaan jurus!!"
Tanpa menunggu jawaban lagi, Gu Ren sudah melesat cepat dengan pedang yang terhunus. Serangan pembuka ini cukup berbahaya karena Gu Ren langsung mengarahkan ke dada nenek itu.
Tapi dasar nenek otak cabul yang sudah kasep, ia menganggap serangan Gu Ren ini sebagai bentuk kekurang ajaran. Maka dengan nada malu dibuat-buat, ia mengelak sembari mengirim godaan.
"Aihh....masihkah engkau tergoda dengan nenek ini?"
Gu Ren mau muntah dibuatnya, jika saja tidak sedang bertempur, mungkin makanan yang beberapa waktu lalu ia makan sudah keluar semua.
"Keparat!"
Umpatnya dan lanjut menyerang dengan sabetan keras mengarah sepasang mata.
Phiang Bi Sun tak menjadi gugup, ia miringkan kepala dan saat itu dua gumpalan rambut melesat ke depan, melilit bilah Gu Ren.
Gu Ren yang sudah mengenal senjata lawan ini adalah rambut, maka ia tak ambil pusing dengan pedangnya. Segera pedang itu ia lepas untuk kemudian mengirim tendangan mengarah betis. Jika dia menyerang tubuh atas, tentu rambut merepotkan itu akan mampu menahan.
Phiang Bi Sun terpaksa melepaskan pedang dan melompat ke belakang. Tapi dia tak asal melepas pedang. Ia gunakan ilmu silatnya yang lihai untuk melemparkan pedang itu kembali kepada pemiliknya, menggunkan rambut tebalnya itu, pedang Gu Ren meluncur cepat.
Tapi Gu Ren dengan mudah mampu menghindari itu. Ia ingin menerjang maju, namun Phiang Bi Sun sudah melompat pergi sambil berseru nyaring.
"Tidak asik kalau hanya melawan engkau seorang, bukan lawanku! Aku hanya ingin bilang, bersiaplah hancur Naga Hitam, karena Pedang Gerhana Matahari sudah jadi milik kami! Hahahahaha!!!"
Tubuh Gu Ren bergetar, begitu pula dengan para murid lainnya. Mereka bergetar karena seruan nyaring itu sungguh aneh dan mendatangkan perasaan mencekam.
Namun Gu Ren, Pat Kue dan Bao Leng bergetar karena masalah lain, mereka terkejut mendengar perkataan nenek itu akan kepemilikan Pedang Gerhana Matahari.
Refleks, tiga orang ini saling pandang dan membatin.
"Sung Han!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG