
Walaupun begitu, bukan berarti para penguntit yang berupa prajurit kekaisaran itu mudah-mudah saja untuk membayangi rombongan belasan pendekar itu. Justru sebaliknya, amat sukar dan melelahkan.
Mereka memang termasuk ke dalam jajaran pasukan elit yang memiliki kekuatan individu lebih luat dan tangkas beberapa kali lipat daripada prajurit biasa, namun untuk dibandingkan dengan belasan orang itu yang merupakan seorang pendekar, jelas mereka masih kalah.
Para pendekar itu bisa menggunakan ilmu lari cepatnya untuk pergi melakukan perjalanan. Walaupun pasukan elit ini juga bisa melakukan hal serupa, akan tetapi tidaklah sehebat dan sematang para pendekar itu. Maka dalam penguntitan ini, sering kali pasukan-pasukan itu kehilangan sosok yang harus mereka ikuti.
Beruntungnya, para pendekar itu tidak terlali terburu-buru. Mereka melakukan perjalanan ke timur dengan sabar dan hati-hati. Setiap kota atau desa yang terlihat pasti selalu didatangi untuk ditanyai informasi mengenai Serigala Tengah Malam itu. Karena hal inilah, sedikit banyak membantu para pasukan elit untuk dapat menyusul belasan orang itu.
Putri Chang Song Zhu bersama jenderal Tang Lin mengikuti seorang anggota dari Rajawali Putih yang agaknya juga bergerak secara teliti sekali. Orang ini ditemani seorang lainnya yang agaknya seumuran.
Awalnya, putri ini hendak mengikuti Gu Ren, namun sebentar saja dia sudah tertinggal jauh. Maka dari itulah dia mengikuti pemuda Rajawali Putih ini.
Selang beberapa hari menjadi penguntit, secara aneh para prajurit yang menyebar ke mana-mana itu saling bertemu. Ternyata adalah bahwa para pendekar itu sudah melakukan sebuah perjanjian untuk bertemu di suatu tempat, di kaki bukit yang cukup luas.
Ketika sang putri sampai di sana, keadaan para pendekar itu menjadi geger. Mereka telah kehilangan Gu Ren, Nie Chi, dan Khuang Peng. Tiga orang terpenting dalam rombongan ini karena di tangan mereka, terdapat pusaka warisan keramat.
"Seharusnya mereka bertiga yang sampai lebih dulu. Bukankah mereka yang berjalan paling depan?"
"Seharusnya begitu, namun tak mengherankan kan jika pendekar-pendekar berkepandaian setingkat mereka melakukan sesuatu yang aneh? Itu sudah jadi kebiasaan umum para pendekar tingkat tinggi."
"Tapi mereka sendiri yang bersepakat akan berkumpul di sini."
Selagi keadaan sedang ribut dan kisruh, putri Song Zhu berdiskusi dengan jenderal Tang Lin agak jauh dari kaki bukit itu. Tersembunyi di antara semak belukar dan pohon. Di sekeliling mereka, para prajurit bergerombol untuk ikut mendengarkan sekaligus menjadi penjaga.
"Apa yang harus kita lakukan jenderal? Agaknya tiga orang itu dalam masalah."
"Mengapa paduka berpikir demikian?"
Putri itu diam sejenak dan berpikir, dia menjawab, "Entahlah, tapi karena tidak ada yang bisa menyamai kecepatan mereka bertiga, sehingga prajurit kita tidak ada yang mengikuti mereka. Siapa yang tahu apa yang terjadi?"
Jenderal itu mengangguk-angguk. Dia berpikir bagaimana cara paling efektif untuk mengatasi masalah ini. Seraya berpikir, secara refleks ia mengedarkan pandangannya, menyapu para para prajuritnya denga sorot mata tajam. Tiba-tiba, dia tertegun.
"Ada apa jenderal?" tanya putri itu yang melihat sikap jenderalnya.
__ADS_1
"Paduka...." jenderal itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekali lagi. Lalu dia memanggil salah seorang prajurit, perkataannya kepada sang putri tidak dilanjutkan. Kepada prajurit itu, dia bertanya, "Ke mana perginya perwiramu?"
"Heh?" prajurit itu nampak bingung, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Kemana perwira Gin?" dia bertanya kepada teman-temannya.
"Waduh."
"Hilang."
"Beliau tidak ada!"
Ucapan ini jelas mengejutkan mereka semua, bahkan jenderal itu dan putri Chang Song Zhu sampai bangkit berdiri seraya serentak.
Memang tadi ketika jenderal Tang sedang berpikir sembari mengedarkan pandangannya, seperti naluri saja dia menghitung-hitung jumlah perwira yang memimpin setiap regu. Seharusnya dia membawa empat perwira, namun saat ini hanya ada tiga.
Ketika itu, dari arah rombongan pendekar yang masih bingung akan hilangnya tiga tokoh pentingnya itu terdengar teriakan.
"Saudara-saudara!"
Serentak keributan menghilang, digantikan dengan keheningan. Seruan ini seolah menjadi komando pula untuk pasukan kerajaan yang sedang diamuk bingung akan hilangnya perwira Gin. Mereka secara berbareng menjadi diam dan memandang ke kaki bukit itu penuh perhatian.
"Lebih baik kita menunggu sampai tiga hari di sini. Jika mereka belum kembali, kita yang akan menyusul ke timur." usulnya, "Bagaimana, apakah kalian setuju?"
Belasan orang itu saling pandang dan mengangguk-angguk. Satu orang maju dan mewakili yang lainnya, "Setuju!"
Ucapan ini seolah menjadi komando pula untuk para prajurit kerajaan. Mereka saling pandang dan mengangguk secara serentak. Seolah sudah bermufakat, maka atas keputusan sang putri langsung, mereka hendak menunggu di sini sampai tiga hari kemudian.
...****************...
Pada pagi hari di hari keempat, seorang prajurit peronda yang berkeliling di sekitaran tempat mereka beristirahat itu terkejut ketika dari jauh melihat seseorang berjalan terhuyung-huyung. Melihat dari warna rambut, pastilah orang itu tidak muda lagi. Dan melihat postur tubuhnya yang tinggi tegap, tentu dia bukan sekedar petani seperti yang ditunjukan pakaiannya. Pasti orang ini adalah golongan pendekar.
Namun ketika prajurit itu memerhatikan lebih teliti lagi, dia mendapat kenyataan bahwa orang itu seperti tidak asing di matanya. Ia coba beranikan diri mendekat dengan pedang di tangan, siapa tahu orang yang tidak mencolok semacam ini adalah seorang pendekar berilmu tinggi yang sering menyembunyikan diri?
Ketika kurang beberapa tombak lagi sampai di tempat orang itu, prajurit ini terkejut sekali namun wajahnya menjadi girang. Cepat ia masukkan kembali pedangnya ke sarung pedang dan dia lari menghampiri.
__ADS_1
"Perwira Gin!!" serunya dari jauh, ketika sampai dekat dia menjura penuh hormat.
Memang perwira ini adalah perwira Gin yang hilang selama tiga hari ini. Pagi hari itu dengan bingung dia berjalan tak tentu arah mencari-cari anggota pasukan lain yang tersebar ke mana-mana. Dan keberuntungan berpihak padanya, salah satu anggota pasukannya menemukannya.
"Ah...kau, di mana yang lain?!" tanya perwira Gin penuh semangat.
"Mari saya antar tuan, kami sudah menunggu tuan selama tiga hari. Hari ini siang nanti kita akan melanjutkan perjalanan. Mari...mari, kita harus segera menemui paduka putri."
Perwira Gin mengangguk dan berjalan mengikuti bawahannya yang menjadi penunjuk jalan. Dibawalah dia ke tempat sang putri berada, ke tempat yang sedikit lebih tinggi dengan tertutup semak belukar dan pohon tinggi.
Setibanya di sana, para prajurit menyambut dengan senyum lebar dan wajah berseri. Begitu pula dengan putri Song Zhu dan jenderal Tang Lin. Lekas mereka bangkit berdiri dan menyambut kedatangan perwira ini.
"Hormat paduka putri." kata perwira Gin tegas sambil berlutut.
"Bangunlah!" ucap putri itu halus seraya menarik kedua pundak perwiranya untuk bangkit berdiri, "Ceritakanlah apa yang terjadi sampai kau hilang selama beberapa hari ini."
"Baik paduka."
Setelah diajak duduk di atas sebuah batu datar, perwira Gin bercerita segala sesuatu yang telah terjadi selama tiga hari ini. Didengarkan oleh seluruh prajurit yang duduk mengelilingi batu dan mendengarkan penuh perhatian.
Menurut cerita perwira Gin, saat dia sedang melakukan pengawasan kepada salah seorang pendekar, dia kehilangan jejak pendekar itu. Namun dia tetap keras kepala mengejar ke timur sampai tanpa sadar dia telah terpisah jalur dari orang yang dimata-matainya tadi.
Kemudian pada hari kedua, tanpa sengaja ia tersesat di sebuah hutan lebat. Dengan rasa penasaran ia terus melangkah maju.
"Di sana saya menemukan markas Serigala Tengah Malam. Saya yakin tak salah lihat, karena saya hafal dengan bentuk seragam mereka." kata perwira Gin.
Terkejutlah mereka itu, kiranya seorang yang hilang selama tiga hari ini secara kebetulan telah berhasil menemukan tempat yang sedang mereka cari-cari itu.
Cerita berikutnya dari periwra Gin tidak terlalu didengarkan dan setelah selesai bercerita, putri Song Zhu mengambil keputusan.
"Aku akan pergi menghadap para pendekar itu, hal ini harus diketahui oleh mereka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG