Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 229 – Tiga Sahabat


__ADS_3

"Oh, jadi, apa yang harus kita lakukan kedepannya?"


Pada keesokan harinya, setelah terjadi insiden tersebut di mana Xian Fa dan Han Ji melawan Hok Liu, malam ini mereka kembali berkumpul di dalam sebuah pondok kecil itu.


Waktu itu Xian Fa sedang sibuk menikmati sup panas yang baru saja dihidangkan oleh para pelayan atas permintaan Han Ji. Dia melirik Hok Liu sejenak lantas menyeruput air panas sup itu.


"Kalau kami, membunuh pangeran itu tentunya. Entah apa tujuanmu?" ucap Xian Fa. "Sebelumnya, sebenarnya aku tak ingin melawan pangeran itu lebih dulu karena hanya akan menyebabkan terpecahnya kekaisaran di tengah tekanan Jeiji. Tapi, yah ..., kau tahu sendiri. Dia dulu yang mulai.


Hok Liu mengangguk dan memgamati Han Ji. Seolah dia sedang bertanya apakah yang akan dilakukan Han Ji setelah ini.


"Aku ikut dengannya," katanya sembari menunjuk Xian Fa dengan dagu.


Xian Fa terkikik, karena tindakannya ini ia sampai tersedak kuah sup itu. Ketika Han Ji dan Hok Liu memandangnya bingung, pemuda ini segera berkata.


"Oh, kau ikut aku? Itu artinya kau sudah setuju jika setelah semua perang ini selesai, maka kau akan–"


"Tutup mulutmu," tegas Han Ji. "Aku masih belum memutuskan. Bahkan tak ada jaminan kita akan keluar dari perang ini hidup-hidup. Aku masih heran mengapa engkau menjatuhkan pilihannya padaku setelah kegagalanmu dengan Yang Ruan. Kita masih harus membicarakannya."


"Setidaknya ada kesempatan."


"Apa yang kalian bicarakan?" Hok Liu bertanya tak paham.


Xian Fa melirik dari ujung mata. "Urusan masa depan," katanya ringan. "Soal kawin."


Hok Liu hanya menggumam, "Oh ...." saja. Sedangkan Han Ji merasa panas di wajahnya. Dia sedikit bingung dengan Xian Fa yang bicara blak-blakan soal itu. Apakah pemuda itu sudah tidak normal? Membicarakan masalah seperti itu kepada orang luar dengan entengnya.


"Kau sudah mendengar alasan kami ada di sini. Jadi, apa alasanmu? Tak mungkin hanya sekadar berpelesir, kan?" tanya Xian Fa.


"Sung Han, entah kenapa akhir-akhir ini kau jadi lebih pendiam tapi mulutmu jadi lebih tajam," sela Han Ji yang segera dibekap mulutnya oleh Xian Fa.


"Kau keceplosan. Jangan panggil namaku."


Hok Liu memandang ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tak ada penguping yang mendekam di tempat tersembunyi. Walau kalau ada sekali pun, seharusnya pendekar-pendekar setingkat mereka sudah sadar sejak tadi. Tapi dia hanya ingin memastikan.


Hok Liu memajukan tubuh, dan berbisik. "Aku ingin merebut kembali pusakaku. Sepasang kipas."


Baik Xian Fa dan Han Ji nampak tertarik. "Naga Hitam merupakan kumpulan orang gagah," kata Han Ji.


"Kami akan membantu," sambung Xian Fa. Dia kembali menyendokkan sesuap sup ke dalam mulutnya yang sudah sedikit ia lupakan sejak tadi. "Katakan, siapa malingnya?"

__ADS_1


Wajah Hok Liu, tanpa dapat dicegah lagi, nampak sumringah mendengar itu. Bantuan dari pendekar-pendekar sakti seperti dua orang itu adalah keberuntungan yang luar biasa hebat. Kepandaian mereka bertiga bahkan boleh dibilang paling kuat di seluruh komplek gedung ini. Dan kini ketiganya akan bekerja sama.


Namun Hok Liu teringat, saat ini dia tidak boleh terlalu memercayai dua orang muda di hadapannya itu. Bagaimanapun juga mereka pernah menjadi buronan pemerintah paling dicari. Walau sekarang masih dicari namun sedikit terabaikan karena invasi kekaisaran Jeiji. Maka Hok Liu memasang muka tenang kembali.


"Bukannya tinggi hati dan besar kepala, tapi hanya untuk merebut kipas itu saja kupikir hanya kita bertiga sudah cukup," katanya yakin.


"Aku juga berpikir begitu," timpal Han Ji sependapat. Dia menyikut Xian Fa. "Siapa yang mampu mengalahkannya selain Kay Su Tek? Atau gurunya? Hm ..., untuk sekarang ini, mungkin Setan Tanpa Wajah hanya dapat dikalahkan dengan keroyokan ribuan prajurit, atau tiga pertapa di gunung itu."


Xian Fa tertawa. Tawa yang pahit dan rapuh, sedikit bergetar. "Oh, aku suka pujianmu. Tapi kau terlalu memuji. Ingat? Di Desa Alang-Alang bahkan aku sudah keok dengan keroyokan tiga orang. Jenderal Fujimino luar biasa ganas."


Han Ji teringat, dia baru saja mengingatkan Xian Fa akan luka lama. Kegagalannya di Desa Alang-Alang. Dia menundukkan kepala, entah kenapa setelah dia menjadi pewaris Pedang Gerhana Bulan dan menjadi "calon" Xian Fa, dia enggan membuat pemuda itu susah. Sedikit lucu mengingat betapa dahulu dia memiliki dendam setinggi langit sedalam lautan terhadap pemuda ini.


"Maaf, Xian Fa, aku tak bermaksud–"


"Sudahlah," ucap Xian Fa ringan. Nadanya sudah kembali biasa. "Lalu, bagaimana?" tanyanya kepada Hok Liu.


"Penculiknya Naga Bertanduk."


"Kau yakin?"


"Yakin seyakin-yakinnya." Hok Liu sampai mengangguk beberapa kali untuk meyakinkan mereka. "Dan jika aku selalu pergi dulu setiap pertemuan kita, itu karena aku mencari saat baik."


"Tak kalian makan?"


"Tidak ada selera, kenyang," jawab Hok Liu.


Sedangkan Han Ji, dia tersenyum. "Ambilah jika masih kurang. Aku tak lapar."


"Kau memang wanita baik," kata Xian Fa girang dan menggasak sup milik Han Ji pula.


Mereka tak berbicara setelahnya sampai cukup lama. Hanya terdengar suara makan Xian Fa yang amat lahap. Entah apa yang telah terjadi pada pemuda itu sampai menjadi seperti orang kelaparan. Dan melihat Xian Fa demikian lahapnya, membuat selera Hok Liu bangkit dan akhirnya ia ikut makan pula.


Hanya tinggal Han Ji yang masih serius dengan pemikirannya. Sejak tadi dahinya berkerut-kerut dengan tangan mengusap dagu. Beberapa saat kemudian, wajahnya berbinar.


"Ah, seingatku beberapa hari setelah ini tuan kota akan keluar gedung dan pergi ke daerah persawahan di barat kota kan?"


Wajah Hok Liu nampak cerah pula. "Benar juga."


Xian Fa mengerutkan kening. "Kenapa tak ada yang memberitahuku?"

__ADS_1


Keduanya mengacuhkan itu.


"Kau bisa memanfaatkan momen ini. Di saat pangeran itu keluar, pasti seluruh pengawal juga ikut mendampingi. Kita bisa menghajar Naga Bertanduk di sana," ujar Han Ji menyampaikan rencananya. "Tuan kota akan beristirahat di sana selama tiga hari kan?"


"Cara yang bagus, tapi bicara itu lebih mudah daripada melakukan," Hok Liu menggelengkan kepala. "Bagaimana cara kita merusuh Naga Bertanduk itu. Kaupikir dia di sana sendirian? Dia juga bersama para pengawal tingkat tinggi."


"Itu tugas kami," kata Xian Fa yang telah menghabiskan sup jatah Han Ji. "Kami akan mengesampingkan masalah pangeran lebih dulu, kau harus bisa segera merebut kipasmu."


"Tapi, bagaimana kalian akan mengurus orang-orang lain?"


Xian Fa menampilkan ekspresi dengan senyum aneh. Sedikit angkuh dan seperti merasa menjadi pihak pemenang. "Haha, tentu saja itu mudah-mudah susah. Mengingat lawan kita Naga Bertanduk dan pendekar-pendekar kuat."


"Langsung ke intinya, apa rencanamu?" desak Han Ji.


Xian Fa memajukan tubuhnya, berbisik-bisik dan didengarkan oleh dua orang lainnya. Mereka mengangguk-angguk dan beberapa kali Hok Liu mengirimkan protes, namun Xian Fa selalu berhasil mengirim jawaban yang menyatakan bahwa protes itu dapat ditangani.


Selang beberapa waktu, mereka menghentikan bisik-bisik itu. Walau masih berbicara dengan perlahan karena takut didengar orang luar.


"Boleh juga usulmu," puji Hok Liu. "Tapi itu terlalu berisiko, bagaimana jika seluruh pengawal menyerbu? Bukankah target kita hanya para pendekar?"


"Para pengawal akan terbagi dua, mengatasi kekacauan dan mengawal tuan kota. Dan kita bertaruh di sini," Xian Fa menghentikan kata-katanya sejenak. "Semoga saat kekacauan terjadi, Naga Bertanduk tidak berdiri di sisi pangeran."


"Sebelum itu terjadi, kau harus sudah memancingnya pergi," kata Han Ji mengingatkan Hok Liu. Dan pria itu mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke sana besok pagi," Xian Fa bangkit berdiri dan memakai capingnya. "Kau di sini bersama Han Ji, lakukan tugas seperti biasa."


Keduanya mengangguk, itu sudah disepakati sebagai salah satu bagian dari rencana.


Xian Fa juga mengajak Han Ji untuk pergi beristirahat. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Xian Fa menyempatkan diri untuk memberikan tatapan tajam kepada Gu Ren.


"Besok, kau jangan macam-macam!"


"Aku tak akan menyentuh calon istrimu, kau tenanglah dan lakukan tugasmu," jawab Hok Liu sedikit jengkel juga dengan tuduhan tak berdasar itu.


"Oh, bagus. Aku percaya padamu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2