Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 263 – Pertemuan di Bukit


__ADS_3

Setelah tepat dua minggu, akhirnya kondisi Sung Hwa benar-benar sudah pulih. Bahkan secara ajaibnya, bekas jahitan itu telah lenyah sama sekali. Seolah di sana tidak ada bekas jahitan sebelumnya.


Beberapa kali Sung Han menggosok-gosoknya dengan mata lebar berbinar-binar. Seperti seorang anak kecil yang kagum melihat mainan baru. Luka sedalam dan sehebat itu, ditimbulkan oleh sebatang pedang pusaka, dapat sembuh bahkan hilang bekas-bekasnya dalam waktu yang amat singkat! Entah si tabib yang hebat atau Sung Hwa yang terlalu sakti.


Berulang kali Sung Han memaksa Sung Hwa untuk membuka rahasianya bisa menyembuhkan luka secepat itu. Namun hal ini hanya membuat wanita itu marah dan memukul kepala Sung Han kasar. Menganggap sang suami tidak percaya pada ucapannya yang berkata dia tidak melakukan apa-apa.


Siang hari, tepat ketika matahari berada di atas kepala, Raja Dunia Silat berkumpul di pekarangan Sung Han.


"Tak usah berlama-lama lagi, ayo kita menghadap paduka putri dan minta izin untuk urusan ini."


"Kalau tidak diizinkan?"


"Kita lakukan sendiri," balas Sung Han. "Apa susahnya?"


Mereka pergi menuju ke gedung tuan putri berada. Selama di perjalanan, sama sekali tidak ada yang buka suara. Begitu sampai di gedung tersebut, tanpa kesulitan berarti mereka dapat masuk ke dalam. Siapa orangnya yang tidak mengenal mereka berlima.


Tak sulit untuk menemukan tuan putri. Gu Ren sebagai yang tertua, lantas mengajukan permohonan untuk memilih pemimpin dari Raja Dunia Silat itu. Tanpa mampu mencegah, secara spontan putri Song Zhu mengerutkan kening.


"Tidakkah cukup aku saja yang menjadi pimpinan?"


"Sebenarnya ... ada sedikit masalah paduka. Jika kami berlima bertempur bersama tanpa ada pimpinan tunggal, maka kekompakan yang menjadi tujuan akhir pasukan pendekar tak akan pernah terwujud," jawab Gu Ren.


"Akulah pimpinan kalian."


"Namun jika paduka putri memang sudah merasa yakin dengan hal itu. Mohon maaf, seharusnya paduka tak akan setuju membentuk pasukan pendekar ini," tutur pria paruh baya itu. "Lagi pula, ini sudah menjadi keaepakatan kami berlima."


Putri Song Zhu duduk di kursinya dengan salah satu tangan memijat kening. Bukannya dia tidak setuju, namun dia khawatir jika pemilihan pimpinan ini hanya alibi saja. Dia khawatir jika kelima Raja Dunia Silat telah terpecah dan mengajukan permintaan itu untuk bisa saling serang.


Di sisi lain, dia juga sadar betapa tidak mungkinnya untuk mencegah. Jika ditolak permintaan itu, tak menutup kemungkinan bahwa para pendekar aneh itu akan memaksa mengadakan pertemuan untuk pemilihan pimpinan.


Akhirnya, dia sadar tak ada sesuatu yang bisa ia ubah di sini.


"Jadi, kapan kalian akan melakukan pemilihan?" tanya tuan putri akhirnya.


Tentu saja kelimanya menjadi girang. Tuan putri tidak menyetujui, tetapi juga tidak menolak.


"Besok paduka. Di bukit dekat benteng ini," Gu Ren menjawab cepat.

__ADS_1


Cepat-cepat Sung Han menambahkan. "Para pendekar akan menjaga bukit supaya tidak ada yang mengganggu."


Putri Song Zhu mengangguk. "Baiklah jika itu mau kalian. Aku tak bisa mencegah. Hanya harapanku kalian membawa sesuatu yang baik dengan itu."


...****************...


Di kamar mereka, Sung Han duduk di kursi sambil memandang ke luar jendela. Menikmati langit malam yang bersih tanpa bintang satu pun juga. Udara malam dingin dibiarkannya masuk. Walau dingin, namun apa artinya bagi pendekar seperti Sung Han.


"Minumlah, suamiku," Sung Hwa meletakkan seteko teh hangat kemudian menuangkannya pada satu cangkir. Asap tebal mengepul dari sana.


Minum satu teguk, Sung Han merasa kehangatan yang bersumber dari perutnya. Sejenak, ia memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang menikmati perasaan nyaman itu.


"Ada apa denganmu?" tanyanya saat menyadari wajah Sung Hwa yang murung. Jelas sekali sedang terganggu akan sesuatu.


Sung Hwa menghela napas sebelum menjawab pertanyaan suaminya. "Aku hanya berduka, suaimu."


"Berduka karena apa?" Sung Han meminum satu teguk lagi. "Karena kita berlima akan saling gempur sendiri?"


Sung Hwa tidak menjawab, hanya kepalanya yang semakin tertunduk.


"Sudah kubilang kau tak perlu ikut jika keberatan."


Kini, Sung Hanlah yang tertunduk dan wajahnya muram. "Hah ... benar kan apa kataku? Setiap kali keputusan yang kuambil hanya akan mendatangkan kesengsaraan. Tak terkecuali dengan yang satu ini."


Sung Hwa menatapnya iba. Lagi-lagi semua ini dipersalahkan kepada suaminya. Memang dia tidak berniat untuk menguasai Raja Dunia Silat. Hanya saja mereka itu yang tak bisa menerima begitu saja. Menganggap Sung Han terlalu egois.


Sung Hwa menyentuh tangannya. "Sudahlah, ini bukan salahmu. Aku yakin keputusanmu ini tidaklah asal bicara. Ini semua demi kebaikan kita."


Sung Han kembali menghela napas. "Soal Khuang Peng–"


"Sudah. Tak usah bicarakan ini lagi. Habiskan dan lekas kita tidur."


...****************...


Keesokan paginya, seperti yang sudah dibicarakan dengan tuan putri, mereka berkumpul di bukit dekat benteng tersebut. Lebih tepatnya di bukit yang dulu dijadikan tempat untuk membagi pasukan pendekar.


Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, para pendekar sudah berkumpul di kaki bukit. Mereka telah siap dengan senjara masing-masing, seolah memang benar-benar hendak pergi berperang.

__ADS_1


Mereka segera bangkit dan menjura ketika dari jauh sudah nampak bayangan lima orang yang berjalan dengan sikap gagah. Di belakangnya, ada puluhan prajurit elit bahkan tuan putri sendiri.


Para pendekar itu terkejut saat menyadari para prajurit ikut serta. Namun mereka tidak mempermasalahkannya selama lima orang Raja Dunia Silat tak ambil peduli.


Sesampainya di kaki bukit, Gu Ren naik ke atas batu besar dan berseru dengan pengerahan tenaga dalam.


"Semuanya, menyebar ke seluruh bukit dan jaga tempat ini dengan taruhan nyawa. Jangan biarkan siapa pun naik!"


Mereka berseru bersamaan menyanggupi perintah itu. Lalu tampak kelebatan banyak bayangan ketika ratusan pendekar ini pergi ke tempat masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Raja Dunia Silat berbalik dan menjura kepada tuan putri.


"Paduka, kami pergi dulu," Gu Ren mewakili yang lain.


Tuan putri hanya menjawab dengan anggukan saja.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera melesat mendaki bukit tersebut. Karena kini akan diadakan pertandingan adu silat, tentu saja akan ada yang menang. Karena itulah mulai dari perjalanan mendaki saja, seakan mereka sudah berlomba. Saling susul menyusul dengan serunya. Yang paling mencolok tentu saja Sung Han dan Gu Ren.


Sampai di atas, dalam sekali lompatan mereka telah membentuk lingkaran besar. Saling berhadapan satu sama lain.


"Langsung saja, apa peraturannya?" seru Gu Ren.


"Tak boleh pakai racun!" Nie Chi menimpali.


"Tak boleh membunuh." Khuang Peng menyahut.


"Satu lagi, tak boleh saling bantu!" Gu Ren menambahkan sambil melirik Sung Han dan Sung Hwa. "Atau akan dianggap sebagai anjing pengecut."


Wajah sung Hwa memerah. "Kau!"


"Tak boleh keroyokan!" sahut Sung Han cepat membalas ejekan Gu Ren seraya melirik tiga orang lain. "Atau tak pantas menjadi bagian dari pertarungan ini."


Hening menyambut ucapan lantang Sung Han ini. Sudah terlalu lama mereka tak bertemu tanding dalam ilmu silat, sehingga pertemuan ini selain menegangkan juga sedikit menggirakan. Memang para pendekar amat suka sekali mengadu ilmu silat.


Mereka diam, mereka waspada. Mereka diam, tanpa cabut senjata. Mereka diam, tak ada yang menyerang lebih dulu. Karena bagi pendekar tingkat tinggi, sudah menjadi pengetahuan dasar siapa yang bergerak maka akan membuka celah.


Entah siapa yang akan membuka serangan lebih dulu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2