Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 79 – Gadis Pencuri


__ADS_3

Melihat dari ciri-cirinya, tentulah sudah dapat dikenal siapa adanya gadis tersebut. Ya, dia bukan lain adalah nona muda Putri Elang, Yang Ruan. Sepasang kipas pusaka itu sudah dapat diduga siapa pemilik sebenarnya, itu adalah sepasang kitab warisan dari Raja Dunia Silat si Topeng Putih.


Memang dia mencuri, Yang Ruan telah mencuri kitab ilmu dan pusaka itu dari markas Naga Hitam. Awalnya dia berpikir mungkin harus melayani beberapa penjaga baru dapat sampai ke goa penyimpanan kitab itu, tapi beruntungnya ia ketika semua berjalan mulus. Itu semua terjadi karena mereka mengantarkan pemakaman Giok Shi. Diam-diam Yang Ruan bersyukur bahwa kakek itu mati di saat yang amat tepat.


Bukan tanpa alasan dia mencuri dua benda itu, hal ini karena kekasihnya, Kay Su Tek.


Beberapa bulan lalu, dia bersama Kay Su Tek terjebak di dalam timbunan batu-batu jurang. Dan batu-batu itu pula yang menjadi saksi bisu atas pertunangan mereka. Saat keluar, Kay Su Tek berjanji akan segera menyusul ke Perguruan Putri Elang.


Namun betapa gelisah hati gadis ini ketika dua bulan lebih orang yang ditunggunya sama sekali tidak datang. Maka dari itulah sikapnya berubah, menjadi lebih diam dan sering melamun.


Sampai pada puncaknya, dia tak dapat menahan kerinduan dan kegelisahan hatinya. Maka dia curi kitab dan pusaka itu. Hanya dengan satu tujuan, agar dia bisa sekuat Kay Su Tek. Karena Yang Ruan pikir tidak datangnya Kay Su Tek karena pemuda itu malu akan memiliki istri yang tidak sebanding dengan dia.


Maka pergilah Yang Ruan ke puncak-puncak gunung yang sepi dan jarang didatangi orang. Menimba ilmu seorang diri tanpa tahu bagaimana keadaan dunia ramai. Hingga setelah sekian lama, gegerlah dunia persilatan akan kemunculan sosok pendekar wanita yang amat ditakuti.


...****************...


Setengah tahun berlalu.


Gadis bercadar putih itu berjalan tenang melintasi area persawahan yang amat luas ini. Beberapa petani pria harus kena cubit pantatnya oleh istri-istri merrka ketika tanpa sengaja terbengong memandang keanggunan gadis itu.


Dia berjubah putih, memakai ikat pinggang sutra hijau muda dengan hiasan sepasang kipas di kanan dan kiri pinggang. Bahkan wajahnya yang hanya tampak bagian mata itu, tampak cantik dengan sorot matanya setajam elang.


Dia bukan lain adalah Yang Ruan.


"Seharusnya di sini tempatnya...."


Gumamnya perlahan melihat ciri-ciri dari desa tersebut. Ia berdiri termenung di depan gerbang itu untuk memastikan desa itu memang benar seperti ciri-ciri yang di dengarnya. Setelah merasa yakin, ia masuk ke sana.


Segera dicarinya rumah penginapan untuk dirinya beristirahat selama dua malam. Bukan tanpa tujuan dia mendatangi desa ini, itu adalah dua malam kemudian barulah urusan itu akan datang.


Selesai memesan kamar, lebih dulu ia memesan makanan dan makan di lantai pertama yang berupa rumah makan dengan tenang. Diam-diam para pemuda yang ada di sana menunggu nona itu buka cadar.

__ADS_1


Tapi hebat sekali, di antara mereka tidak ada yang melihat nona itu membuka cadar, tapi mata mereka tidak buta untuk dapat dengan jelas mengetahui gadis tersebut selalu dalam keadaan menguyah. Beberapa menit berselang, makanan telah habis tanpa mereka ketahui bagaimana caranya. Sungguh kepandaian yang hebat!


Selesai makan, tanpa memedulikan keadaan sekitar yang mulai berisik membicarakan kelakuan anehnya, Yang Ruan naik ke lantai atas untuk mengurung diri. Bermeditasi.


Tanpa terasa, dua hari terlewat. Pagi hari itu, terdengar suara penduduk hiruk pikuk tak karuan ketika beberapa petani pulang dari sawah dengan kehebohan di luar nalar.


Terpaksa Yang Ruan bangun dari tidurnya. Setelah merapihkan jubahnya yang sudah terbuka sebagian, ia lekas turun dan keluar dari rumah penginapan. Keningnya berkerut ketika tiba di sana.


"Mereka datang!!" seru seorang petani separuh baya yang dia ingat kemarin itu merupakan satu orang yang paling lama memandang kepadanya.


"Ternyata tak hanya gertakan, mereka benar-benar datang!"


"Siapa yang datang!?"


"Siapa lagi? Perampok yang lagi ingin tenar itu, Serigala Tengah Malam!"


"Ini masih pagi sialan!!"


Orang-orang serentak melihat ke arah hutan sana, dan samar-samar memang nampak ada beberapa buah tenda berdiri. Tapi bagaimana pun juga, jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat jelas.


"Laporkan ke kepala desa! Mau bagaimana lagi, kita tak boleh lepas tangan terhadap rumah kita! Aku tak sudi menyerah pada gerombolan perambok rendah itu."


"Ya benar!!"


Maka berbondong-bondong pergilah orang-orang ini menuju rumah kepala desa.


Yang Ruan tak ikut bersama mereka, sebaliknya dia pergi ke arah hutan untuk menyelidik.


Memang beberapa meter di kedalaman hutan terlihat beberapa buah tenda berdiri. Orang-orang berjalan ke sana-sini melakukan kegiatan masing-masing. Tapi yang paling menarik hati Yang Ruan adalah, mereka semua mengenakan topeng.


"Aku belum pernah melihat mereka....tapi, entah kenapa rasanya seperti pernah lihat?" gumamnya seorang diri di atas pohon rindang.

__ADS_1


Yang paling menarik perhatiannya adalah sosok bertopeng emas dengan permata zamrud tepat di dahi. Ia segera menyimpulkan bahwa itulah pemimpinnya, jelas terlihat dari topengnya yang paling mewah.


Orang ini duduk di batu paling tinggi, memandangi anak buahnya yang sibuk membangun tenda.


Karena bingung hendak melakukan apa, dan tak mungkin dia terjun seorang diri menantang orang yang jumlahnya seratusan lebih itu, maka dia memutuskan untuk kembali.


Pada senja hari itu, warga desa sudah bersiap dengan senjata masing-masing. Golok, cangkul, sabit pemotong rumput, bahkan ada yang naik kerbau dengan pecut di tangan, sikapnya digagah-gagahkan. Agaknya dialah kepala desa.


"Semuanya tenang!!" seru pemuda seumuran dengan Yang Ruan di barisan paling depan. Di kanan dan kiri terdapat dua orang pemuda lain yang seumuran. "Kami ada di sini, percayalah." lanjut pemuda itu.


Tanpa sadar Yang Ruan mencibir, "Ck, apa hebatnya? Sok kuat di hadapan para gadis desa?" hatinya makin jengkel melihat para gadis dan para istri tersipu-sipu melihat sikap tiga pemuda itu. Perutnya makin mual.


Salah satu pemuda tanpa sadar melihat Yang Ruan yang sedang melihat dari atas genteng. Pemuda ini tersenyum dan lekas berteriak nyaring, "Bagaimana pun juga, mereka tetap manusia dan kami sudah sering menghadapi orang-orang macam ini. Akan kubuat mereka seperti ini!!"


Pemuda ini menghampiri batu besar, lalu digerakkan tangan kanannya dan seketika terdengar suara keras ketika batu itu pecah berhamburan. Pemuda ini tersenyum bangga sambil diam-diam mencuri pandang ke arah Yang Ruan.


Yang Ruan memandang jijik dan mengalihkan pandangan.


Para warga itu bersorak gembira karena merasa telah memiliki sosok yang dapat diandalkan. Mereka berteriak-teriak semangat dengan senjata diacungkan tinggi-tinggi.


Malam hari tiba, dan keadaan makin tegang. Tanpa terasa bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi tubuh warga desa itu. Bagaimana pun juga mereka tetap jeri.


Agaknya tiga pemuda tadi hanya jago menggertak. Buktinya, saat ini tiga orang inilah yang paling gemetaran. Salah satu pemuda memaksa diri untuk terus membusungkan dada karena merasa malu dengan Yang Ruan yang masih berada di tempat.


Dari jauh nampak bayangan beberapa orang mendekat, tapi Yang Ruan mencebik kesal melihat jumlah yang datang itu.


"Hanya tiga orang? Ah...mereka tentu mengejek." gumam gadis tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2