Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 88 – Guru dan Murid


__ADS_3

Mengapakah Nie Chi, pemuda yang waktu itu pernah ditemui Sung Han bisa berada di desa tersebut bersamaan dengan Yang Ruan serta Sung Han? Apakah yang terjadi? Lebih baik kita mengikuti kisahnya sejenak.


Dahulu ketika Sung Han bertemu dengan Nie Chi dan membicarakan soal Ki Yuan, sebenarnya pemuda ini sedang dalam perjalanan pulang menuju kediaman gurunya. Yaitu seorang kakek pemilik rumah terbalik.


Dia pergi dari sana bukan tanpa tujuan, melainkan mencari satu di antara tiga kitab pusaka Raja Dunia Silat. Dan kala itu dia sudah mendengar desas-desus soal ditemukannya pusaka warisam si Topeng Kuning, satu dari lima pendekar Raja Dunia Silat.


Maka segera dia pulang ke tempat gurunya berada, yaitu di satu desa kecil. Bertempat di sudut desa, dengan rumah yang amat mencolok. Yaitu rumah terbalik.


Nie Chi melaporkan apa yang ditemukannya selama dalam pengembaraannya itu, dan gurunya hanya mengangguk sebagai tanggapan. Akhirnya, si tua itu memutuskan untuk turun tangan sendiri menemani muridnya mencari pusaka tersebut.


Pusaka warisan Topeng Kuning itu adalah sebatang tongkat besi hitam yang amat kokoh kuat. Dengan pasangan kitabnya berjudul Tongkat Penghancur.


Nie Chi saat itu memang belum pandai bermain tongkat, dia lebih lihai dalam ilmu pedangnya. Tapi atas desakan kakek itu yang sudah yakin akan mendapatkan tongkat dari kitab Tongkat Penghancur, maka dia mengajarkan ilmu tongkat kepada Nie Chi.


Selama beberapa hari perjalanan, kabar yang simpang siur itu berhasil membingungkan mereka. Ada yang bilang bertempat di barat, tapi ketika didatangi ke sana orang barat malah berkata senjata itu ada di timur. Ketika kembali ke timur, ada orang bilang kalau benda itu berada di utara. Bahkan ada yang bilang berada di daratan selatan.


Maka demikianlah, selama berbulan-bulan sepasang guru murid ini mencari tiada hasil. Walaupun begitu, ilmu tongkat Nie Chi meningkat drastis dan dia menjadi ahli tongkat yang lihai.


...****************...


Siang hari itu, di satu rumah makan pinggir jalan. Sebuah rumah makan yang memang disediakan untuk para pengembara atau pendekar yang sedang lewat. Berani benar pemilik restoran ini mengingat keadaan sekitar hanyalah hutan, dan sebuah anak sungai tak jauh dari sana.


Nie Chi dan gurunya yang sedang sibuk makan itu dikejutkan dengan kedatangan seorang pria tua yang terengah-engah. Dari wajah sampai ke leher mengucurkan keringat besar-besar. Dia masuk ke dalam restoran sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan ujung jubah yang lebar. Ketika selesai memesan makanan, dia duduk di dekat jendela untuk menyejukkan diri dengan udara dari luar.


"Hah....hanya sisa aku seorang, betapa merepotkannya..." keluh orang itu. Selang beberapa saat melanjutkan, "Orang-orang keparat!"

__ADS_1


Nie Chi yang mendengar keluhan itu menjadi agak tertarik, entah mengapa. Melihat dari gerak-geriknya, orang itu pastinya hanya sedikit mengerti ilmu silat, palingan tak lebih kuat dari guru silat kampung. Tapi melihat dari bajunya, bisa jadi orang ini termasuk satu di antara banyaknya jasa pengiriman barang.


Nie Chi makin yakin akan hal ini ketika dia menengok keluar untuk menemukan sebuah gerobak yang ditarik dua ekor kuda.


"Apa yang kau lihat?" gurunya menegur seraya mengusap mulutnya yang agak berminyak.


"Ah, tidak ada apa-apa guru. Hanya penasaran."


"Tentang apa?"


Nie Chi menunjuk orang di dekat jendela itu dengan matanya. Saat itu ada satu orang gadis pelayan yang dengan ramah memberikan hidangan pesanan orang tersebut. Dan hal ini menimbulkan salah paham.


Gurunya mengira Nie Chi tertarik pada gadis pelayan itu, maka dia memperingatkan, "Hai, nona di sana!! Cepat kembali masuk kalau tak ingin dilahap muridku!"


Seketika semua orang menengok ke arah kakek itu dan wajah Nie Chi menjadi merah sekali. Walaupun keadaan tak begitu ramai, tapi cukup malu juga untuk menjadi perhatian banyak orang.


"Iihh...." gadis itu kaget dengan ekspresi sedikit jijik. Dia lantas pergi masuk ke ruang dalam lagi.


"Guru, apa yang kau lakukan?"


"Hmph!" dia mendengus, "Orang muda macam engkau mana bisa tahan nafsu? Begini-begini aku masih punya hati nurani. Kalau sampai kau menyentuh anak orang itu walau hanya seujung rambut, akan kubunuh engkau!!" cercanya galak.


"Bukan itu meksudku..." bisik Nie Chi yang merasa kerepotan menghadapi kakek tua ini, "Itu, orang itu yang kumaksud." katanya lagi menunjuk pria tua penuh keringat yang mulai makan dengan lahap. Lebih tepatnya terburu-buru.


Gurunya menengok dan mengangguk-angguk, "Oh...." mulutnya bergumam. "Apa yang menarik darinya?"

__ADS_1


Nie Chi memandang orang itu diam-diam, lantas berbisik, "Entah kenapa, sikapnya cukup aneh. Dan apa maksud dari orang-orang keparat itu?"


Kakek pendek itu menengok ke luar, melihat ke arah gerobak yang penuh dengan peti-peti barang. Kemudian melihat dua ekor kuda yang sedang makan rumput di depan restoran. Sepasang kuda baik, pikirnya.


"Ah...aku tahu!" kakek cebol itu berkata, "Mungkin maksud orang keparat itu adalah, para penagih hutang. Lihat, banyak sekali barang bawaannya dan kita tak tahu apakah itu barangnya?"


Nie Chi memandang datar, lalu lanjut makan tanpa menghiraukan gurunya yang mulai menebak-nebak ini dan itu.


Selang beberapa waktu, pria tua itu sudah selesai makan. Seusai membayar, buru-buru ia berlari keluar dan menaiki keretanya. Kemudian segera membedal kuda dan pergi jauh dari sana, menyisakan asap tinggi dan tatapan heran orang-orang.


Nie Chi dan gurunya ketika selesai membayar dan keluar rumah makan, ia dikejutkan dengan kedatangan orang-orang berpakaian hitam. Jumlah mereka ada tujuh orang. Dengan tergesa-gesa, tujuh orang yang dari gerakannya terlihat pandai silat itu mendatangi rumah makan.


"Kau lihat dia tidak?" tanya satu orang kepada Nie Chi dan gurunya yang berada di depan rumah makan.


"Mana mungkin dia paham bodoh? Ayo cari sendiri!!" bentak temannya dan mengajaknya masuk ke dalam. Keadaan di dalam ribut ketika melihat tujuh orang itu masuk dan berteriak-teriak. Bahkan mereka juga memasuki ruang dalam untuk memanggil-manggil.


Selang beberapa saat, tubuh tujuh orang itu keluar dan melesat cepat ke arah di mana tadi si tua pengantar barang pergi. Sayup-sayup terdengar suara salah satu dari mereka.


"Sial, dia lolos lagi!!"


Nie Chi dan gurunya saling pandang. Kemudian gurunya mendeprok di atas tanah dengan lagak seperti orang merajuk. Sambil bersedekap dada ia berkata.


"Kau hendak mengejar bukan? Nah gendong aku!! Aku malas gerak hanya untuk mengejar orang-orang tak penting itu."


Girang bukan main hati Nie Chi. Memang sejak awal dia sudah tertarik sekali kepada si pengantar barang itu. Maka tanpa banyak cakap lagi dia menggendong tubuh kecil gurunya ke punggung dan segera membayangi tujuh orang itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2