Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 147 – Naga Sakti Ujung Timur


__ADS_3

Mendengar nama itu, sontak saja si pemimpin rombongan mengerutkan keningnya. Dia memandang ke arah bawahannya itu dengan penuh tanda tanya.


"Memang mereka tadi yang katanya hendak bertemu, tuan." kata anak buahnya yang seakan mengerti akan tatapan perwira pimpinan.


Pimpinan itu makin dibuat bingung, ia menoleh ke atas lagi dan bertanya kepada dua orang lain. "Siapakah sahabat-sahabat di sana?"


"Orang mengenal aku dengan Rajawali Merah."


"Aku dijuluki Ratu Elang."


Wajah pimpinan itu menggelap, makin tak enak dipandang. Bagaimanapun dia merupakan prajurit kekaisaran yang tentu saja sudah mendengar akan kabar pemberontakan oleh tiga orang muda yang lihai-lihai.


Mereka ini adalah Pendekar Tangan Satu dan Rajawali Merah yang telah membunuh dua perwira di salah satu desa. Lalu satunya lagi adalah Sung Han yang telah menculik sang putri. Namun karena hari sudah gelap, ia tak bisa nampak jelas wajah mereka. Orang ini pun meragu.


"Harap kalian jangan main-main dengan nama itu!" tegur sang pimpinan tegas.


Terdengar suara kekehan dari topi bercaping yang mengaku bernama Sung Han. Perkataan berikutnya berhasil membuat belasan orang itu mencabut pedang, "Untuk apa main-main? Itu memang nama dan julukan kami."


"Kepung! Tangkap!!" pimpinan itu berseru keras. Dirinya sendiri sudah melompat tinggi bersama seorang anak buahnya.


Serangan ini adalah Rajawali Merah yang menghadapi. Setelah terkekeh singkat, dia melompat turun dan menggerakkan dua tangan. Terdengar suara nyaring ketika pedang dua orang itu bertemu sepasang lengannya. Kemudian dua orang ini berteriak penuh kaget saat mendarat di tanah. Pedang mereka sudah sedikit rusak di bagian ujung.


Ketika itu, dua orang lain sudah menyusul si Rajawali Merah untuk menyerbu pula. Segera disambut dengan pedang-pedang belasan orang itu yang sudah terhunus ke atas. Namun tanpa kesulitan berarti, mereka dapat dengan mudah mematahkan serangan-serangan para prajurit.


Terjadilah perang tanding yang cukup seru dan mendebarkan. Setelah sekian menit beradu ilmu kepandaian, terbukalah mata belasan orang itu bahwa tiga orang ini memang benar-benar lihai. Bahkan dengan senjata masih tersimpan di tempatnya, mereka bergerak ke sana-sini menebar serangan maut yang luar biasa mengerikan.


Kusir kereta itu hanya mampu memandang terbelalak dengan muka pucat. Ia tak pandai main silat, hanya pandai main pecut untuk menampar punggung kuda agar mempercepat larinya. Tentu saja menyaksikan pertarungan mati-matian itu, dia mengkirik.


"Aaakhhhh!!" terdengar lengking menyanyat ketika tangan Ratu Elang menyambar ganas. Kiranya tangan itu telah berhasil memecahkan kepala salah seorang prajurit yang menjadi tewas seketika. Dia ini merupakan korban pertama.


Setelahnya, terdengar dua suara lain yang hampir mirip dengan suara pertama. Berturut-turut robohlah dua orang lainnya dalam waktu hampir bersamaan.

__ADS_1


"Sialan!!! Pemberontak-pemberontak hina!!" bentak pimpinan rombongan itu dengan garang saat dia menyabetkan pedangnya lebih gencar lagi. Bersama tiga kawan lainnya, dia melawan Rajawali Merah.


Saking asyiknya pertempuran itu, mereka sampai tidak menyadari ada dua pasang mata yang memandang terbelalak penuh ketakutan di balik pintu kereta. Mereka ini tak lain adalah Han Fu Ji dan Han Lan.


Sebenarnya ibunya itu sudah melarang keras anaknya untuk melihat ke luar. Dia amat khawatir kalau-kalau musuh melihat. Namun Han Fu Ji yang tadinya mendengar nama Sung Han, menjadi terkejut dan dia mengira pemuda itu hendak membalas dendam. Ketika ditengok, kiranya benar demikian.


"Itu memang dia."


"Dia siapa?" kata ibunya yang telah ikut memandang penuh perhatian pula.


"Kak Sung Han."


"Siapa Sung Han?"


"Orang yang kemarin bertempur dikeroyok orang banyak. Yang kuserahkan kepada Rajawali Merah sebagai ganti nyawa ibu."


"Ah!" ibunya memekik tertahan, dia lalu memerhatikan pemuda bercaping itu, "Tapi kenapa sekarang dia malah bersekutu dengan Rajawali Merah?"


"Aku tak tahu!"


"Ibu....mereka telah kalah...." desisnya dengan wajah pucat. Dia tak berani lagi membuka pintu kereta.


Sedangkan ibunya, hanya mampu duduk sambil memeluk erat anaknya. Tubuhnya gemetaran dan dia hampir menangis kalau tidak ditahan-tahannya.


"Geledah!" entah siapa yang bereseru namun tak lama setelah itu terdengar langkah kaki tiga orang itu mendatangi kereta. Han Fu Ji dan ibunya duduk makin mepet ke dinding.


Terdengar suara kekehan mengerikan di luar pintu kereta. Lalu terdengar omongannya, "Hayo keluar kalian, ataukah harus kami paksa?"


"Pergi!!" bentak nyonya Han dengan nekat.


Akan tetapi bentakan ini seolah merupakan perintah bagi pemuda bercaping yang tadi mengirim peringatan. Dia membuka pintu kereta itu lebar-lebar sambil menyeringai.

__ADS_1


Han Fu Ji dapat melihat seringaian ini, namun dia tak dapat melihat wajahnya secara keseluruhan. Namun melihat ini saja, dia sudah yakin dan berteriak penuh kemarahan, "Kau bukan Sung Han!!"


Hanya tawa penuh ejekan dari tiga orang itu saja yang menyambut bentakan Han Fu Ji. Setelah itu, tangan Sung Han terulur dan sekali renggut, baju mereka sudah tertarik dan tubuh mereka terlempar keluar. Mereka jatuh berdebuk di tanah kasar itu.


"Siapa bilang dia Sung Han?" kata si baju merah yang tadinya mengaku Rajawali Merah.


"Dia pun bukan Rajawali Merah." kata si Ratu Elang.


"Mereka pun bukan yang asli." kata Sung Han pula.


Han Fu Ji memandang ketiganya bergantian. Wajahnya pucat pasi. Apalagi ketika dia dapat melihat wajah Sung Han, dia terkejut sekali dan mengeluarkan pekik tertahan. Wajah itu masih muda, namun jauh lebih tua dari Sung Han. Mungkin sudah dua puluhan akhir atau awal tiga puluh tahun.


"S-siapa kalian?" tanya Han Fu Ji gemetar. Sedang ibunya hanya mampu memandang ketakutan dengan napas terengah-engah.


"Hehe, kami? Orang menjuluki kami sebagai Naga Sakti Ujung Timur." jawab Sung Han yang sudah mengulur tangannya.


Sekali tangan itu berkelebat, terdengar suara keras tanda robeknya kain. Lalu tahu-tahu pakaian Han Fu Ji sudah compang-camping. Hal ini dilakukan pula oleh Rajawali Merah kepada ibunya.


"Tunggu, kalian berdua seorang wanita, apa maksudnya ini!?"


"Hahahaha!!!"


Tawa keduanya meledak dan lepaslah topeng mereka. Saat itu, baik Han Fu Ji dan ibunya merasa hidup telah berakhir. Ternyata dua orang yang disangka wanita, melihat dari bentuk tubuhnya, kiranya adalah laki-laki tulen. Ternyata buah dada itu adalah palsu dan entah bagaimana bisa membuat tubuh mereka kelihatan seperti seorang wanita.


"Nah, sekarang kalian tak perlu mati penasaran. Tapi sebelum itu...." Sung Han menggantungkan kalimatnya seranya melirik dua kawannya. Lalu secara hampir bersamaan, ketiganya tertawa.


"Hahahahaha!!!! Yang satu barap sabar!" kata orang yang tadi menyamar menjadi Ratu Elang.


Setelahnya, terdengar lengkingan-lengkingan menyeramkan di tengah hutan itu. Di antara mayat-mayat belasan orang, tiga orang itu melakukan kebiadaban mereka tanpa kenal tempat.


"Aaaakkkhhhhh!!!" pekikan yang amat kencang dan memilukan hati terdengar berkali-kali.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2