Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 51 – Lembah Setan


__ADS_3

Gravitasi di tengah jurang itu terlalu kuat, bahkan sangat-sangat kuat. Tak heran jika seorang pendekar pun bisa sampai terguling roboh dari tali tambang akibat gravitasi ini.


Sebelumnya Sung Han hampir saja jatuh kalau tidak cepat-cepat ia kerahkan seluruh tenaga dalam pada kaki, sehingga membuat dua kakinya seakan menempel pada tali. Ia pun juga sangat terkejut mengetahui ada tempat seaneh Jurang Sungai ini.


Sesuai janji, Sung Han membantu mereka untuk menyeberangi jurang. Namun caranya yang cukup berbeda dari "bantuan" biasa.


"Giliranmu!" seru Sung Han kepada gadis bercadar, merupakan orang terakhir yang belum juga menyeberang, "Mau kubantu tidak?" lanjutnya kemudian setelah melihat gadis itu tampak ragu.


Wanita bercadar itu memandang ke bawah jurang, tampak matanya menampakkan kengerian akan hal itu. Tapi entah kenapa ketika memandang Sung Han, dia lebih ngeri lagi. Dan ini membuat Sung Han merasa tersinggung.


"Jangan kau macam-macam!!" bentak wanita itu keras dan melotot tajam.


"Kau lihat sendiri, apakah aku bertindak macam-macam kepada kawan-kawanmu?" tanya Sung Han yang masih berdiri di tengah tali tambang, "Cepatlah, mereka sudah menunggu!" sentak Sung Han mengejutkan wanita itu.


Sesaat ragu-ragu, tapi karena sadar tidak ada pilihan lain maka ia mau tak mau harus melakukannya.


Wanita itu mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, ia memandang ke tengah tali dengan seksama. Kemudian menarik napas panjang guna menenangkan diri dan mulai berlari menuju tepian jurang.


"Hup!" ia melompat, jauh dan tinggi. Menuju ke tempat Sung Han berdiri.


Pemuda itu sudah bersiap, maka ia angkat kedua lengannya ke atas dan kerahkan tenaga dalam. Begitu tubuh si wanita tepat berada di atas kepalanya, ia tembakkan tenaga dalam itu dan meluncurlah si gadis cadar ke seberang.


Gadis itu jatuh bergulingan di seberang sana sebelum bangkit cepat-cepat dan memelototi Sung Han. Kawan-kawannya yang mencemaskan ia tak dihiraukan.


"Kau sengaja!!"


Sung Han melompat jauh dan tiba di seberang, ia menggaruk belakang kepala, "Kenapa? Kau sendiri yang berpikiran buruk tentangku, aku hanya membalasmu."


"Kau tidak melemparkan sekeras itu sebelumnya!" wanita-wanita pendamping si cadar tampak tak terima.


"Kau tak terima? Maju sini!!" Sung Han jengkel sendiri dengan kelakuan para wanita yang kelewat merepotkan, "Sudah kubantu tak tahu terima kasih, pulang nanti jangan minta bantuanku!"


Tanpa memedulikan mereka lagi, Sung Han melangkah menuju hutan di depan. Sebentar lagi mereka akan tiba di Lembah Setan, kurang sedikit lagi.


...****************...

__ADS_1


Sung Han kaget bukan main saat bersama rombongan mereka menyusuri ke dalam hutan. Tak henti-hentinya ia berseru ngeri melihat para penghuni hutan, sedangkan tiga rombongan yang melihat reaksi Sung Han hanya dapat mencela dalam hati.


"Rasakan! Kita impas!" mereka membatin.


Bagaimana tak terkejut begitu mengetahui para penghuni hutan ini bukanlah hewan pada umumnya. Dan kesemuanya ganas-ganas, tidak ada yang ramah.


Ada yang berwujud seperti kera bertelinga kucing dan berekor ayam, ada yang berwujud ayam hitam tapi berkepala bebek. Macan dengan tanduk rusa. Kuda dengan kaki sapi, babi hutan bertelinga gajah, dan masih banyak lagi.


Itu semua tidak ada yang bersahabat dan ketika bertemu dengan rombongan ini, sudah dapat dipastikan hewan-hewan itu langsung menyerbu. Karena itulah Sung Han bersama tiga rombongan berjuang mati-matian mempertahankan diri.


"Kau beruntung ini tidak seberapa sulit. Yang di hutan sebelum jurang jauh lebih mengerikan!" kata seorang baju kuning.


"Ada yang bentuknya elang tapi memiliki kaki kadal." sahut orang lainnya.


"Laba-laba besar berwarna-warni."


"Rusa dengan tanduk kerbau, dan kerbau dengan telinga kelinci, serta kelinci bermoncong rusa."


"Wahh!" Sung Han tanpa sadar berseru kaget mendengar berbagai macan bentuk-bentuk hewan abnormal itu. Dia hanya mampu menghela napas dan bersyukur dalam hati.


Mereka terus melanjutkan perjalanan sambil membunuhi hewan-hewan yang mengganggu. Dalam perjalanan kali ini, tidak ada satu pun korban jiwa.


Mereka beristirahat sejenak tepat pada siang hari, dan ketika hari mulai beranjak sore mereka lanjut berjalan.


Jalan mulai menurun dan sukar, tapi itu belum apa-apa dibanding satu jam kemudian, mereka melewati tebing-tebing curam yang amat mengerikan. Dan di semua tebing itu, fenomena alam aneh seperti di jurang tadi terjadi lagi, gaya gravitasi yang terlampau berat sungguhpun tak separah di jurang.


"Berapa lama lagi kita sampai?" Sung Han berteriak di antara mereka yang tengah merayap menuruni dinding tebing.


"Mana kutahu? Kita semua belum pernah datang ke sana, dan mungkin sekali tak akan pernah datang kalau tidak mendengar rumor akan pedang gerhana itu. Tapi melihat medan sekitar, agaknya sudah dekat." jawab si wanita bercadar.


Saat sampai di dasar tebing, hari sudah malam. Terpaksa mereka membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Mereka berencana melanjutkan perjalanan besok.


Sung Han bingung, menoleh ke sana-sini dengan heran.


"Kalian ini pergi bersama, kenapa hanya berkumpul dengan kelompok masing-masing?" tanyanya heran mengetahui tiga rombongan itu membuat api unggun kecil milik kelompok sendiri dan duduk saling berjauhan dengan kelompok lain.

__ADS_1


Wanita bercadar mencela, "Nanti juga kalau bertemu dengan pedang itu, kita sudah bukan kawan lagi!"


"Benar." sahut si baju biru langit, "Harta satu itu mana bisa dibagi tiga?"


Sung Han hanya menghela napas berat. Karena bingung harus ikut kelompok mana, maka dia membuat api unggun sendiri. Api unggun yang paling kecil dan sederhana.


...****************...


"Kita sampai!!"


"Kenapa kau bisa tahu? Seingatku kau bilang tak pernah datang ke Lembah Setan?"


"Memang, tapi melihat tempat ini sama persis dengan keterangan orang-orang, memang inilah tempatnya."


Sung Han memandang aneh tempat itu, keningnya berkerut dan seketika nama Lembah Setan terdengar berulang-ulang di dalam kepalanya.


"Tak ada yang cocok dengan namanya....Lembah Setan?" Sung Han bertanya dalam hati dengan kebingungan luar biasa.


Di depan sana, ada semacam pegunungan yang luas sekali. Nampak hijau subur karena pepohonan yang tumbuh sehat memenuhi seluruh gunung. Juga ada aliran sungai kecil yang mengalir dari segenap penjuru, air terjun tinggi, dan sepetak tempat yang hanya berisikan pohon berdaun ungu.


Terdapat banyak sekali jurang, tapi jujur saja jurang di tempat pertama jauh lebih menyeramkan dari jurang-jurang yang ada di sini.


"Benarkah ini Lembah Setan? Kita salah tempat?" Sung Han masih ragu-ragu.


"Kau berpikir Lembah Setan adalah tempat gersang yang penuh tengkorak kering? Rumput kering dan pohon layu hampir mati? Tempat di mana orang akan mati setiap kali masuk ke dalamnya?" sahut wanita bercadar.


Sung Han menoleh dan menjawab sekenanya, "Salahkah pemikiranku?"


Wanita itu tampak tersenyum, senyum yang aneh. Sung Han tak melihat senyuman itu, hanya dapat menduga bahwa dia tersenyum dari tarikan matanya.


"Yah...kau akan tahu nanti. Kami memang tak pernah datang ke mari, tapi sepertinya tempat ini tak seindah yang terlihat."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2