Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 244 – Kenangan Manis


__ADS_3

Pagi itu, Sung Han sudah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan rumah. Memasak sarapan, mengambil air, membersihkan pondok dan lain sebagainya. Bahkan dia harus menjahit selimut mereka yang sebelumnya tak pernah ia lakukan. Dan baru kinilah tersadar bahwa selimut mereka terdapat sobekan.


Walaupun pagi-pagi sudah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, akan tetapi melihat wajah serta sinar mata pemuda itu, agaknya Sung Han sama sekali tidak keberatan. Justru kelewat senang karena tak jarang ketika dia sedang berjalan, tubuhnya bergetar sambil meloncat-loncat.


"Berhenti bersikap seperti anak kecil."


Sung Han yang kala itu sedang memanggang dua ekor ayam hutan gemuk, menolehkan kepala begitu terdengar suara barusan. Ia memandang beberapa saat kepada sesosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Detik berikutnya senyum lebar tercipta.


"Ah, selamat pagi," sapanya.


Sung Hwa membenahi posisi berdirinya dengan bersandarkan tembok. Bahkan dia harus menggunakan pedangnya sebagai penopang tubuh. "Pagi," balas Sung Hwa singkat dengan bibir mengerucut. Beberapa saat kemudian terdengar dia menggerutu. "Aku sungguh benci membayangkan malam ini. Semoga siang hari jadi lebih lama."


Buru-buru Sung Han menghampiri sosok Sung Hwa yang kini telah sah menjadi istrinya. Menyadari bahkan untuk berdiri saja dia kepayahan, Sung Han merasa kasihan juga. Namun ketika Sung Han hendak menuntun Sung Hwa, mantan nona yang sudah menjadi nyonya itu menepis tangannya.


"Jangan cari kesempatan! Kaupikir aku tak bisa jalan sendiri?!" dia membentak dengan wajah merah padam.


Sung Han menunjukkan sedikit ekspresi bersalah. "Oh, ayolah, kita suami istri. Hal biasa, kan?"


Namun ucapan ini hanya disambut dengan tatapan tajam seperti seekor naga kelaparan. Sung Hwa membuang muka dan berjalan tertatih-tatih menuju api obor dengan dua ayam panggang di atasnya.


Dia sedikit meringis ketika mendudukkan diri di atas rumput itu. Sung Han yang melihat ini menggelengkan kepalanya dan masuk ke pondok untuk mengambil sesuatu. Setibanya di luar, ia lemparkan tubuh Sung Hwa ke atas dan meletakkan selimut tebal di bawah. Lalu tepat ketika Sung Hwa turun, dia telah duduk manis di atas selimut itu.


"Hehe, kerja bagus tadi malam. Nanti ketika matahari hendak sembunyi, tolong bersiap, ya?"


"Ck! Sung Han, jika tak ingat kau suamiku, jangan kira sekarang ini aku masih ada di sini!" hardiknya.


Mata Sung Han terbelalak. "Hei, aku suamimu, tak bisakah panggil aku dengan sebutan berbeda?"


Sekali ini, mau tak mau Sung Hwa melotot. "Biar aku memanggilmu dengan namamu langsung atau nama julukanmu yang mengerikan itu. Tak perlu dengan panggilan sayang atau apa pun. Lebih baik aku bersikap kasar tapi menghormatimu sebagai suami dari pada sok manis penuh penjilatan!"


"Oh, apa aku tak salah dengar. Inikah pengakuan cinta dari Rajawali Merah?" Sung Han tersenyum menggoda.


Sung Hwa agaknya sadar dengan ucapannya. Dan untuk saat berikutnya dia harus mempertahankan sikap galaknya guna menutupi rasa malu.


Mereka kemudian makan sambil bercakap-cakap. Sung Han mencoba mencarikan topik pembicaraan yang mengingatkan mereka tentang masa lalu. Namun selang beberapa saat setelah percakapan mengalir, keduanya sadar tak ada masa lalu indah bagi mereka.


Ditinggal orang tua sejak kecil, ditinggal mati saudara-saudara satu partai, difitnah, dibenci dan diburu oleh seluruh negeri. Dendam kesumat. Cinta gagal dan lain sebagainya.

__ADS_1


Hal ini membuat sepasang suami istri baru itu murung dan merasa berduka sekali. Baru terlihat oleh mereka, betapa kini mereka menjalani kehidupan yang amat berat. Penuh penderitaan, rasa sakit dan sengsara. Sama sekali tak ada satu hal pun yang bisa dijadikan sebagai kenangan kecuali mimpi buruk.


Namun ditengah lamunannya, Sung Han merasa ada tangan halus menyentuh bahkan menggenggam jari-jemarinya. Dia menoleh, dan mendapatkan Sung Hwa, yang beberapa saat lalu adu mulut dengannya, sedang tersenyum lembut dengan tatapan sendu.


"Wajahmu murung sekali, kupikir ini bisa membantu," bisik Sung Hwa mengeratkan genggamannya. "Masa lalu kita memang pahit. Tapi apa kau lupa? Kita hidup di masa sekarang, bukan di masa lalu. Dan apakah kini terasa pahit?" Sung Hwa terkekeh, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Kupikir malam tadi cukup manis. Itu kenangan indah, kau tahu?"


Sung Han merasa terharu. Ia mencengkeram jari-jemari Sung Hwa yang menunjukkan getaran penuh perasaan mendalam. Dapat Sung Han rasakan, ia merasakannya dengan jelas. Terlepas dari semua kata kasar dan angkuh yang wanita itu lontarkan padanya, namun sejatinya di balik itu semua terdapat cinta kasih luar biasa dari seorang wanita.


Sung Han mampu merasakannya dan dia tahu itu. Genggaman tangan itu tak perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata. Getaran perasaan itu, tak akan bisa dilakukan jika hanya sandiwara.


"Sung Hwa ... aku bersyukur kau mendendam padaku. Dengan begitu kita bisa bertemu," ucap Sung Han yang tak mampu menahan senyumannya.


"Itu pujian?" Sung Hwa terkekeh.


"Sung Hwa ...."


"Hm ...?" Sung Hwa membalas lembut. Sungguh sikap galak dan angkuh dari Rajawali Merah tak lagi terlihat. Kini penampilan Sung Hwa tak lebih dari sekadar seorang istri yang amat mencinta suaminya.


"Boleh tambah?"


"Plakkk!!"


...****************...


Mereka memutuskan untuk tinggal di pondok itu semalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju utara. Ketika di perjalanan, Sung Han berinisiatif tak mau pergi jika Sung Hwa tidak dia gendong.


Dia tahu istrinya itu kelelahan sekali karena harus melayaninya. Ini terbukti ketika setelah beberapa menit berjalan, Sung Hwa tidur pulas di gendongan Sung Han.


Beberapa hari telah berlalu dan mereka sampai pada sebuah air terjun yang tinggi sekali. Sung Han memutuskan untuk istirahat di sini sebelum melanjutkan perjalanan.


Sung Han mencari ikan di sungai itu. Sung Hwa ingin membantu tetapi Sung Han menolak keras.


"Suamiku, kaudengar?" ujar Sung Hwa setengah berbisik. "Dua ... tidak, tiga orang."


Sung Han bukannya memerhatikan ucapan terakhir itu, dia justru lebih tertarik dengan ucapan pembukaannya. "Eh, 'suamiku'? Sejak kapan kau memanggilku dengan amat mesra begitu? Heheh ... ayo lagi, aku mau mendengarnya lebih jelas."


Refleks Sung Hwa memukul lengan Sung Han. Matanya mendelik dengan bibir mengerucut. "Kupikir selama menikah denganku kau tak pernah serius. Dengar baik-baik!"

__ADS_1


Namun tak perlu diingatkan. Ini adalah Sung Han, si Setan Tanpa Wajah. Tentu saja sejak tadi pun bahkan sebelum Sung Hwa sadar dia sudah sadar.


Beberapa saat kemudian, ada bayangan tiga orang berkelebat yang tahu-tahu telah berdiri di sana. Sung Han mengambil sikap acuh dengan melanjutkan kegiatannya menumpuk kayu bakar untuk membuat api unggun guna membakar ikan.


Namun ketika matanya melirik, mau tak mau ia harus menaruh perhatian.


"Ah, kalian ruapanya." Sung Han meletakkan kayu terakhir pada tumpukan. Dia tersenyum. "Apa kabar?"


Gu Ren, Khuang Peng, dan Nie Chi menunjukkan wajah berseri. Segera mereka menjura. "Kabar baik!" jawab mereka serempak.


"Duduklah, mari kita sarapan bersama," Sung Han mempersilahkan sambil menepuk-nepuk rumput di sampingnya. Lalu dia tertawa. "Tentu saja ikannya cari sendiri. Yang tiga ini untukku dan dia."


Ketiganya saling lirik selama beberapa saat dengan tatapan ragu. Sung Han sadar akan hal ini dan berkata lagi. "Makanlah dulu, urusan lain-lain bisa kita bicarakan nanti. Masakannya enak," Sung Han menunjuk Sung Hwa yang hanya bisa tersenyum.


"Kawan lawa baru bertemu, jangan kita membicarakan urusan tegang," kata nyonya muda itu.


Kembali ketiganya saling lirik. Kemudian Gu Ren menyahut. "Baiklah."


Mereka bertiga lalu mencari ikan di sungai dan sebentar saja masing-masing telah menangkap satu. Mereka membakar ikan-ikan itu diselingi canda tawa riang. Orang tak akan pernah mimpi bahwa sekumpulan orang-orang ini adalah para pendekar tingkat atas di seluruh kekaisaran. Bahkan mungkin orang yang mampu mengalahkan mereka hanya mampu dihitung jari.


Di sela-sela acara makan bersama itu, Gu Ren berceletuk. "Wajahmu kulihat makin bersih dan terang. Ada hal baik apa selama kau pergi?"


Sung Han dan Sung Hwa sontak saling lirik. Wajah mereka sedikit memerah. Sung Han tak bisa mencegah ketika Sung Hwa menundukkan kepala dan pura-pura batuk.


"Yah ... banyak hal telah terjadi," ujar Sung Han singkat.


"Aku turut senang. Wajahmu selalu murung soalnya, hahaha!"


Sung Han dan Sung Hwa hanya menanggapi itu dengan tawa canggung.


Selang beberapa lama kemudian, acara makan sudah selesai dan kini kelima orang itu saling pandang dengan serius. Sung Han dan Sung Hwa menunggu apa yang hendak dibicarakan oleh tiga orang itu. Sedangkan tiga orang itu saling tunggu siapa yang harus bicara duluan.


Akhirnya, Gu Ren memilih untuk mulai pembicaraan. "Sung Han, Sung Hwa, kami dan seluruh negeri ini sedang membutuhkan bantuan kalian."


Mata Sung Han menajam. "Katakan lebih jelas."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2