
Setelah sampai di satu desa, betapa terkejut hatinya yang baru keluar dari pertapaan tertutup ketika mendengar berita bahwa Perguruan Awan telah lenyap. Lebih-lebih lagi, dalang dibalik lenyapnya perguruan itu adalah Hati Iblis yang bersekongkol dengan pemerintahan.
Kay Su Tek, lelaki muda yang telah kehilangan satu tangan itu hampir pingsan mendengar berita tersebut. Awalnya ia menganggap hanya rumor belaka, tapi ketika dirinya semakin dekat dengan Perguruan Awan, berita itu makin panas dan menjadi topik permbicaraan di sana sini. Makin yakinlah hatinya jika Perguruan Awan telah diserang.
"Keparat, baru kembali sudah mendapat kabar seperti ini!?" sambil berlari cepat sekali, Kay Su Tek mengumpat sepanjang jalan. Tak jarang tangannya menyambar satu pohon untuk kemudian roboh terkena hawa pukulannya. Hanya untuk sekedar melampiaskan kemarahan.
Sampailah ia disekitar Sungai Buaya yang masih mengalir jauh sampai ke utara. Ia mengikuti ke mana aliran sungai itu berasal karena memang di sana tempat bedirinya Perguruan Awan.
Kurang lebih setengah hari kemudian, Kay Su Tek sudah dapat melihat bukit di mana Perguruan Awan berdiri. Tapi hari telah malam dan terlalu berbahaya untuk melanjutkan perjalanan di malam hari. Maka saat itu dengan memendam rasa marahnya, Kay Su Tek tidur di pinggir sungai, tidur menyirih menghadap bukit Perguruan Awan.
Pagi harinya, tanpa membuang waktu lagi Kay Su Tek langsung melanjutkan perjalanan. Ia mengerahkan ilmu lari cepatnya sehingga dalam beberapa jam saja sudah tiba di Perguruan Awan.
"Mari lihat dan pastikan sendiri, benarkah kata orang-orang itu?" gumamnya dan tanpa menunggu lagi tubuhnya sudah melayang seperti burung garuda. Beberapa totolan di tembok tinggi itu untuk membantunya naik ke puncak tembok. Saat tiba di atas, tangannya masih sempat menotok roboh dua penjaga yang menjadi pingsan seketika.
"Seragam pemerintah dan Hati Iblis....ternyata benar...." desisnya penuh kebencian. "Apakah Chang Song Ci memang benar si pemberontak seperti yang selama ini diduga-duga?"
Karena maklum di sana memang telah dikuasai pemerintah dan Hati Iblis dengan melihat dari seragam keduanya itu, Kay Su Tek segera mengakhiri hidup mereka dan langsung menuju ke tengah area perguruan.
Dadanya memanas karena tidak menemukan satu pun sosok pendekar Perguruan Awan kecuali para pelayan dan koki. Seketika teringat akan ayah ibunya, Kay Su Tek berbalik dan menuju bangunan paling besar.
Tapi di tengah aksinya melompati atap-atap bangunan, dari sebelah kanan dan kiri menyambar dua angin pukulan tajam yang amat mengancam. Waktu dilirik, ada dua orang berjubah hitam mengenakan topeng perak sedang menerjang ke arahnya.
"Mampuslah!" seru keduanya bersamaan.
Kay Su Tek mendengus dan menghentikan lompatannya di salah satu genteng. Saat itu juga tubuhnya sudah melambung lagi sembari mengirimkan tendangan ke kanan dan kiri.
"Bughh–bughh!"
Beruntung dua orang bertopeng itu lihai, sehingga mereka melihat serangan mendadak itu dan menangkis dengan kedua tangan bersilangan.
Agaknya pria bertopeng di sebelah kanan lebih kuat. Hal ini dibuktikan sesaat setelah Kay Su Tek menendang, orang ini memegang kaki kanan Kay Su Tek dan melemparkannya ke bawah.
Kay Su Tek yang sadar akan terbanting ke genteng bangunan itu bergerak cepat menggetarkan kaki kanannya. Hal ini dilakukan untuk melepaskan diri dari cekalan lawan. Dilanjut gerakan tangan kanan yang memapak genteng dan membuat tubuhnya melembung lagi menuruni genteng untuk tiba di pelataran luas.
__ADS_1
Kiranya saat dia beraksi seperti itu, dua orang lawannya sudah memberi tanda ke setiap penjuru sehingga saat Kay Su Tek memijak tanah, dia sudah terkepung puluhan orang banyaknya.
"Majulah kalian!!" bentak Kay Su Tek disambut teriakan gegap gembita orang-orang itu.
...****************...
"Kita akan turun tangan?" kata salah satu topeng perak. Di dahi topeng itu, ada satu bintik hitam bulat.
Satu orang topeng perak lainnya, yang di dahi nampak bintik merah mendengus singkat sebelum menjawab, "Bagaimana baiknya?" ia malah balik bertanya.
Si bintik hitam memandang Kay Su Tek lamat-lamat, "Dia kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Jauh lebih kuat...."
"Kau takut?" dari nada si bintik merah, terdengar dia sedang mengejek, "Aku tahu dia kuat tapi tak kusangka hanya dengan itu saja berhasil untuk menakutimu."
"Siapa bilang takut!!" si bintik hitam merasa tersinggung dan jengkel. Tanpa menunggu jawaban tubuhnya sudah melesat turun menerjang Kay Su Tek yang masih diserbu banyak orang. Kebetulan pemuda itu sedang membelakanginya.
Dari balik topeng dia tersenyum kemenangan, jelas ini kesempatan emas. Hanya sedikit orang yang bisa bereaksi cepat ketika titik butanya diserang mendadak. Cepat pria ini mengerahkan tenaga pada tangannya yang diarahkan ke tengkuk Kay Su Tek.
"Hayaaaa!!"
"Siapa?" batinnya kaget sambil melirik ke kanan, ke arah datangnya serangan.
Belum juga rasa penasarannya terjawab, tiba-tiba pandangan kabur dibarengi tubuhnya yang melayang tinggi.
Ternyata saat keterkejutannya tadi, Kay Su Tek sudah sadar akan serangan lawan dan cepat membalik untuk mengirim pukulan keras. Dengan telak kepalannya mendarat di pipi si topeng perak bintik hitam.
Sebentar kemudian ia melongo melihat seorang di hadapaanya, "Sung Han!" mulutnya memekik tanpa sadar.
"Aku cukup senang kau selamat." kata Sung Han tersenyum tipis sambil menyempatkan diri menyikut wajah orang di belakangnya. Lalu dia melanjutkan, "Entah apa yang membuat penampilanmu seaneh ini, seperti seorang pertapa. Tapi mari selesaikan dulu yang ada di sini."
Kay Su Tek berbinar, semangatnya melonjak tinggi mendapat bantuan dari sosok Sung Han yang diam-diam amat dikagumi itu. Ia berseru nyaring dan berlompatan ke sana-sini menebar maut kepada kumpulan orang itu.
Sedangkan Sung Han, ia hanya bergerak perlahan saja dan tidak terlalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Karena hanya mengandalkan hawa pukulannya saja, tanpa dibarengi ilmu meringankan tubuh, sudah banyak orang yang terpelanting dengan napas putus.
__ADS_1
"Bangsat, siapa dua orang ini!??" seru salah seorang berpakaian Hati Iblis. Bagaimana pun juga ia cukup jeri menghadapi terjangan dahsyat tangan tunggal Kay Su Tek.
Di lain pihak, semua orang berusaha lari menjauh dari Sung Han yang sudah seperti malaikat maut itu. Dengan raut wajah tenang tanpa ekspresi, dia mampu membunuh orang-orang sebelum matanya sempat berkedip.
Maka sebentar saja, kepungan puluhan orang itu makin lama makin melonggar. Mereka tak berani secara gegabah datang mendekat untuk mengirim nyawa. Maka mereka hanya mengelilingi dua orang itu saja yang kepandaiannya sungguh di luar angan-angan.
Tiba-tiba, datang dari gedung paling besar, sebuah bentakan nyaring bahkan mampu menulikan telinga beberapa detik lamanya.
Tiga detik berselang, muncul seorang tinggi besar dengan rambut panjang dan otot menonjol keluar. Salah satu matanya tertutup sebuah kain hitam. Di sebelah kanan orang ini, berdiri topeng perak bintik merah.
Sekilas pandang saja baik Sung Han dan Kay Su Tek sudah kenal dengan siapa yang datang.
"Jin Yu!!" serentak keduanya berseru.
Memang dia adalah Jin Yu, ketua Hati Iblis yang terkenal akan kejahatannya. Ia merasa marah sekali mendengar si bintik merah datang dan melapor ada pengacau datang. Dengan wajah memerah Jin Yu membentak.
"Kaliankah para pemgacau yang datang entah dari mana itu!? Bagus sekali sudah kenal dengan aku!! Marilah kita beradu sampai selaksa jurus!!"
"Banyak omong!!" Sung Han yang dasarnya sudah mendendam Hati Iblis itu langsung melesat dan mengirim satu pukulan maut.
Jin Yu segera menyambut serangan dengan pukulan ampuh pula.
"Desss!!!" dua tenaga raksasa bertemu. Baik Sung Han dan Jin Yu tersentak mundur sejauh tiga langkah. Sedangkan sebagai langkah antisipasi, si bintik merah sudah menghindar jauh sebelum keduanya bertumbukan.
Keduanya sama-sama terbelalak kaget, mereka saling pandang dengan berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala.
"Padahal selama ini aku sudah memperdalam kepandaianku, tapi dia masih bisa mengimbanginya. Jangan-jangan...." batin Jin Yu milai menerka-nerka.
Sedangkan dalam hati Sung Han sedang berseru, "Apa yang terjadi, kekuatannya meningkat? Paling jauh seharusnya aku hanya mundur satu langkah oleh pukulan semacam itu. Jangan-jangan...."
"Dia yang meratakan pasukan Phiang Bi Sun dan Siauw Goan...." gumam Jin Yu memandang tajam.
"Kekuatanku menurun?" sedangkan Sung Han memandang kedua tangannya sendiri dengan heran dan penasaran.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG