Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 252 – Laporan Sung Han


__ADS_3

Sung Han dan Sung Hwa melanjutkan perjalanannya menuju timur. Pagi-pagi sekali bahkan sebelum cahaya matahari tampak, keduanya sudah berkemas dan berangkat dengan berjalan kaki.


Memang suami istri muda ini tak mau terlalu terburu-buru. Mereka melakukan perjalan sekalian untuk menikmati pemandangan alam. Tapi walaupun begitu, mereka juga tidak lalai. Bukan berarti dengan menempuh perjalanan seenaknya, mereka akan berbelok untuk berpelesir. Bagaimanapun juga mereka tetap memegang teguh perjanjian. Bahkan di waktu sepi, antara senja hendak ke petang, mereka akan mengerahkan ilmu lari cepatnya. Dan ini sudah cukup jauh hingga beberapa kilometer.


Akhirnya, pada suatu malam, tibalah mereka di daerah perbukitan yang menjadi tempat Serigala Tengah Malam bersemayam. Mereka memutuskan untuk beristirahat sampai pagi. Setelahnya barulah mereka pergi mendaki bukit.


"Itu tempatnya," gumam Sung Han begitu keduanya sampai di puncak bukit tertinggi dan menatap ke bawah.


Sebuah bangunan raksasa, sebuah benteng yang nampak kokoh kuat. Ini tak bisa disebut sebagai suatu markas perkumpulan hitam, lebih masuk akal jika disebut sebuah benteng tentara kekaisaran.


Namun kini pemandangan di sana amatlah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu. Di mana terdapat banyak sekali orang-orang berpakaian hitam yang berlalu lalang di sana. Membuat siapa saja yang melihat dari jauh, merasa bergidik.


"Langsung ke sana?" Sung Hwa bertanya.


"Tunggu apa lagi?"


Wanita itu tersenyum, manis sekali. Dia melingkarkan tangannya ke lengan Sung Han dan menggandeng suaminya itu turun dari bukit tersebut. "Kalau begitu, ayo."


"Kenapa dengan sikapmu? Tak biasanya semanis ini." Bingung Sung Han dengan kening berkerut.


Sung Hwa hanya diam.


...****************...


"Siapa kalian?"


"Sung Han dan Sung Hwa. Tolong beritahukan kepada Gu Ren atau siapalah yang ada di dalam sana," Sung Han menjawab tanpa berpikir.


Penjaga pintu gerbang itu terkejut. Memang dia disuruh untuk melapor ke dalam, namun karena sudah mengenal siapa adanya dua orang itu yang selama ini sudah ditunggu-tunggu, maka tanpa sungkan-sungkan lagi mereka mempersilahkan.

__ADS_1


"Mari saya antar ke tempat paduka putri."


"Terima kasih."


Begitu gerbang dibuka, pemandangan yang tidak asing memasuki indra penglihat Sung Han dan Sung Hwa. Bangunan-bangunan yang mereka ingat dahulu sebagai tempat terkutuk, kini telah disulap oleh tuan putri sebagai tempat militer.


Gudang yang berisi barang-barang tak berguna telah dijadikan tempat penyimpanan senjata. Lalu tempat luas yang dulunya kosong dijadikan sebagai lumbung penyimpanan ransum. Penjara yang dahulu digunakan untuk menahan Sung Han maupun Sung Hwa, telah dialih fungsikan sebagai kamar-kamar prajurit.


Sungguh berbeda sekali perasaan mereka antara dahulu dan sekarang. Jika dulu melihatnya saja dari jauh sudah terasa mengerikan, kini memasuki tempat ini, melihat tentara-tentara gagah berlalu lalang, sedikit banyak berkurang kegugupan mereka untuk berangkat ke pertempuran ini.


Tiba di salah satu gedung, mereka disuruh untuk langsung masuk saja karena semua orang sudah mengenal nama Sung Han dan Sung Hwa. Sepasang pasutri ini mengucapkan terima kasih lalu tanpa sungkan-sungkan segera membuka pintu.


Saat pintu terbuka, Sung Han dan Sung Hwa segera mengerutkan kening ketika melihat kejadian yang ada di dalam sana. Keduanya saling lirik dengan mata menyiratkan perasaan tak suka.


"Ah, mereka sudah datang ...," bisik salah seorang yang Sung Han tak kenal.


Seketika keributan akibat perdebatan panas itu berhenti. Semua orang di meja bundar itu menoleh untuk menemukan sepasang muda dan mudi yang masih teramat muda.


Sung Han bersama istrinya menjura lalu segera duduk di kursi yang sudah disediakan. Gu Ren yang berada di samping Sung Han menunjukkan raut wajah sungkan. Itu mengisyaratkan mereka merasa tidak enak karena baru saja tamunya datang, langsung disuruh menyelesaikan suatu masalah tanpa disuguhi hidangan lebih dulu.


"Ini yang namanya Sung Han dan Sung Hwa? Dua mantan pemberontak itu? Kalian benar-benar menggantungkan–"


"Mereka bukan pemberontak!" bentak Khuang Peng. Sung Hwa sedikit terkejut mengetahui seorang pemuda yang ia kenal berwatak halus penyabar itu bisa membentak sekeras itu.


Pembesar yang bicara dengan nada meremehkan tadi mendengus seraya mengusap kumisnya. "Lalu, kalian ingin menggantungkan harapan seluruh kekaisaran kepada mereka? Jangan bercanda!"


Putri Song Zhu menggertakkan gigi. "Kau hanya seorang jenderal, bahkan cukup baru karena baru diangkat dua tahun lalu. Tahu apa kau tentang para pendekar di belakangku?"


Baik Sung Han dan Sung Hwa sama sekali tidak paham apa yang sedang diperdebatkan. Terlihat seorang jenderal yang bicara tadi selalu menjadi pemanas suasana. Ucapannya mengandung ketidak sukaan kepada para pendekar di belakang tuan putri. Dan ini membuat para jenderal dan perwira yang lain sedikit banyak ikut terhasut.

__ADS_1


Sedangkan Putri Song Zhu, berusaha keras untuk meyakinkan mereka bahwa tak ada pilihan selain menggunakan bantuan para pendekar. Ini merupakan Perang Sejarah kedua, tak ada pilihan lain mengingat para jenderal dari Kekaisaran Jeiji amat tangguhnya.


"Tunggu!" Sung Han menginterupsi seraya mengangkat tangan kanan. "Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Kami berdua tidak paham."


Semua mata tertuju kepadanya. Ada yang memandang sengit, ada pula yang memandang kagum penuh penghormatan. Mereka-mereka ini terdiri dari orang yang sudah bertemu Sung Han di penyerangan istana Kota Daun. Namun untuk para perwira yang memandang tak suka itu, adalah sekumpulan orang baru yang sama sekali tak mengenalnya. Hanya mengenalnya sebagai mantan pemberontak.


Sang putri menghela napas. "Sung Han, kau dengarlah. Ada masalah gawat yang baru-baru ini terdengar, bahwasannya masih banyak sisa-sisa pasukan Jeiji yang masih terkurung di utara ini, dan bersembunyi. Mereka hanya tinggal muncul kapan pun mereka mau."


"Juga masalah di selatan yang belum ada kepastian sama sekali. Membuat kita semua merasa waswas," sambung Gu Ren.


Namun, jenderal yang berkumis tadi mengeluarkan dengusan menghina. "Hmph, kau bocah kemarin sore sebaiknya mengikut saja dan mendengarkan. Tak usah berlagak menjadi orang penting di sini."


"Ck, kau!" Sung Hwa sudah tersulut emosi dan bangkit berdiri. Namun tangannya ditahan oleh Sung Han yang sama sekali tak terpengaruh oleh ucapan itu.


"Paduka, tolong dengarkan penjelasan saya. Kami baru saja mendapat informasi bahwa orang-orang Serigala Tengah Malam yang pergi ke selatan itu, adalah untuk minta bantuan kepada Kekaisaran Jeiji agar segera menyerbu ke mari. Bertepatan dengan itu, jika orang Jeiji selatan sudah menyerang ke sini, maka pasukan Jeiji yang terkurung di sini tinggal keluar lalu mengacau."


Wajah semua orang menegang. Bahkan jenderal arogan tadi sampai terhenyak. Akan tetapi tak berhenti di sana, penjelasan Sung Han belum selesai.


"Aku juga mendapat informasi bahwasannya pangeran itu telah bersekutu dengan Jeiji. Namun mereka belum sempat bersekutu dengan pihak Jeiji selatan sebelum kemudian hancur."


"Bagaimana mungkin!" Khuang Peng bangkit berdiri. Wajahnya tampak gusar dan kerutan di wajahnya semakin terlihat sungguhpun dia masih muda. "Jadi selama ini, kita ...."


"Ya, kita kalah selangkah. Beruntung paduka putri mengambil keputusan tegas untuk meratakan istana Kota Daun. Dan lebih beruntung lagi, maaf, pangeran itu dengan bodohnya membunuh kaisar. Jika saja kaisar masih hidup, maka tak mungkin paduka putri menggempur Kota Daun dan tak mungkin pula kita mengetahui kebenaran ini. Akibat runtuhnya istana Kota Daun, rencana mereka jadi kacau dan jadi beginilah."


Mendengar kematian ayahnya dijadikan sebagai "keuntungan", agak jengkel juga hati Song Zhu. Namun dia dapat melihat kenyataan dalam ucapan itu.


"Masalahnya tinggal satu, kita harus menahan gempuran serangan pasukan Jeiji dari selatan. Jika berhasil, maka semua akan jadi sedikit lebih mudah. Menurutku," lanjut Sung Han. Setelah itu dia hanya diam, mengikuti pertemuan ini dengan lebih sering mendengarkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2