
Mendapat panggilan dari tuan putri, mereka berlima segera bergegas menuju ke kediaman wanita tersebut. Tak ada yang tidak heran mendengar hal ini, mengapa tiba-tiba tuan putri meminta mereka datang menghadap. Ini hanya mengartikan bahwa ada sesuatu mengenai Kekaisaran Jeiji.
Secara kebetulan, mereka berlima sampai di komplek kediaman tuan putri secara bersamaan. Kelimanya saling sapa dengan singkat sebelum Gu Ren mewakili yang lainnya mengetuk pintu kediaman tuan putri.
"Masuk," suara tuan putri terdengar.
Gu Ren mendorong pintu dan nampaklah sosok wanita yang sejatinya sudah berumur tapi masih cantik jelita itu. Putri Song Zhu sedang duduk di kursinya, di balik meja bundar kecil yang lengkap dengan teko teh dan lima gelas bambu.
Kelimanya menjura secara bersamaan, putri Song Zhu segera membalas penghormatan mereka dan mempersilahkan duduk.
"Ada apakah paduka?" Gu Ren segera membuka suara tanpa basa-basi.
Putri Song Zhu tak segera menjawab, dia mengayunkan tangannya ke gelas masing-masing, menyuruh mereka untuk meminum teh hangat tersebut. "Minumlah dulu."
Lima orang itu lekas menyeruput teh hijau panas yang jelas baru saja disajikan. Seketika tubuh mereka yang lelah akibat latihan, berangsur membaik tepat setelah meminum beberapa teguk teh itu.
"Hm, teh apa ini? Teh obat?" Nie Chi bertanya sembari mengamati air teh tersebut. "Hebat sekali."
"Itu teh hijau yang dicampur beberapa tanaman herbal yang amat berguna bagi para pendekar," jawab tuan putri sambil tersenyum. "Namanya Ginseng Gunung. Kudengar itu amat langka dan luar biasa khasiatnya bagi para pendekar."
"Huh?"
Serentak kepala lima orang itu memandang tuan putri yang menjadi kebingungan. Lima pasang mata terbelalak lebar dengan tatapan tak percaya.
Ginseng Gunung, merupakan satu di antara tanaman-tanaman obat langka yang menjadi incaran para pendekar. Biasanya ginseng ini dicampur dalam minuman atau makanan. Sama sekali tidak merubah rasa, namun khasiatnya bisa menetralkan racun dan menambah stamina.
Tanaman ini adalah buruan para pendekar!
"Paduka, jika boleh tahu berapa banyak Ginseng Gunung yang anda miliki?" Khuang Peng bertanya dengan nada terkejut. Dia kembali memandang air tehnya. "Sungguh saya merasa tidak enak kepada paduka karena telah meminum pemberian luar biasa ini."
"Benar, kenapa paduka tak bilang?" Nie Chi meletakkan gelas tehnya. "Kami tak mau terlalu membebani paduka."
Mau tak mau, putri Song Zhu tersenyum. "Ginseng itu kami punya banyak. Di gudang penyimpanan terdapat berkotak-kotak. Kalian minumlah sepuasnya," jawabnya walaupun dia tidak tahu pasti apa manfaat dari Ginseng Gunung. Namun melihat reaksi mereka, pastilah tanaman ini luar biasa.
"Terima kasih, paduka!" seru Gu Ren dan segera menenggak habis teh dalam gelasnya diturut empat saudaranya.
__ADS_1
Tanpa sungkan-sungkan lagi, dia lalu menuangkan lagi dari teko dan meminumnya habis. Demikian pula dengan empat orang lainnya. Hingga beberapa menit berselang, teh itu benar-benar habis, hanya menyisakan teko dan gelas kosong.
"Tolong bawa ke dalam," kata tuan putri kepada salah satu pelayan. Setelah pelayan itu membereskan meja dan pergi, dia mulai bicara serius. "Nah, cukuplah dengan sedikit jamuan tadi. Mari kita mulai ke persoalan utama."
Wanita ini menyodorkan secarik surat yang sebelumnya diletakkan dalam saku balik jubahnya. Ia mengisyaratkan Gu Ren untuk membacakan surat tersebut kepada semua orang.
Lelaki ini segera menurut dan membacakan surat itu. Seperti dugaan putri Song Zhu, segera terjadi perubahan mimik wajah dari kelimanya. Mata terbelalak, sebentar kemudian menyipit dengan alis berkerut.
"Akhirnya kita punya ruang untuk bergerak," gumam Sung Han. "Lalu, bagaimana berikutnya?"
"Aku telah menyuruh jenderal Tang untuk menyiapkan pasukannya untuk bersiap melakukan pembersihan."
"Kami, para pendekar?" tanya Sung Hwa.
"Nah, itulah permasalahannya," putri Song Zhu memijit-mijit kepalanya dan menggeleng. "Kalian semua tahu, betapa kedatangan Sung Han dan Sung Hwa tidak disambut terlalu baik di sini. Banyak yang meragukan kemampuan kalian hanya karena kalian masih muda. Bahkan banyak di antaranya yang tak setuju jika aku meminta bantuan para pendekar. Sepertinya aku tak bisa memasukkan kalian dalam pasukan tentara."
Kelimanya saling pandang dengan mata menyiratkan kecemasan. Jika begitu, jangan bilang bahwa para pendekar tak ikut bertempur. Lalu apa gunanya mereka di sini?
"Lalu, jika boleh tahu apa rencana paduka berikutnya?" Gu Ren bertanya.
"Hehe, Khong Tiat?" celetuk Nie Chi yang membuat wajah putri Song Zhu memerah.
"Em ... tadi malam dia menemaniku membaca sajak," jawab putri itu malu-malu.
"Aku tak tanya itu! Aku bilang apakah paduka dapat menyelami pikirannya? Bukankah dia juga termasuk golongan pendekar yang aneh?"
Putri Song Zhu menjadi kikuk dan menundukkan muka. Entah kenapa setiap memikirkan pria itu selalu membuat pikirannya kosong.
"Nie Chi!" tegur Gu Ren.
Ketika dia menoleh, ternyata keempat orang lainnya telah menatapnya dengan pandangan menegur. Seolah sedang berkata, "Bukan waktunya bercanda!"
"Maaf, paduka." Nie Chi menjura.
"Paduka, jika boleh tahu berapa jumlah para pendekar yang membantu anda?" Gu Ren mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal tersebut. "Mungkin itu bisa membantu."
__ADS_1
Tuan putri berdeham beberapa kali untuk menetralkan degup jantungnya. Lalu mencoba berpikir. Beberapa saat kemudian dia teringat. "Kalau tidak salah lebih dari tiga ratus tapi kurang dari empat ratus."
"Cukup banyak," Gu Ren mengangguk-angguk. Pandangannya lalu jatuh kepada pemuda yang sejak tadi hanya mendengarkan. "Sung Han, pendapatmu?"
"Kau yakin ingin mendengar?" tanya Sung Han.
"Katakan saja apa yang kaupikirkan," kata sang putri.
Sung Han menarik napas beberapa kali. "Aku sudah memikirkannya sejak paduka memberi penjelasan di awal tadi. Jika begitu situasinya, di mana para pendekar tidak disambut baik oleh para jenderal dan perwira, maka ...."
...****************...
"Brak!!"
Jenderal Tang segera mencabut pedang, diikuti oleh beberapa perwiranya. Pandangannya jelas mengandung sikap bermusuhan.
"Kau tidak dalam posisi bisa menggebrak meja di hadapan paduka putri!!" bentaknya sambil mengacungkan pedang tersebut.
Orang itu adalah orang yang dengan terang-terangan meremehkan Sung Han ketika pemuda itu pertama kali datang ke benteng ini. Jenderal itu mendengus dan menjura. "Maaf tuan putri, hanya saja saya amat terkejut dengan itu."
Putri Song Zhu tak ada waktu untuk marah, dia mengangkat tangan, mengisyaratkan kepada jenderal Tang untuk menurunkan pedang. "Lalu, bisa kau jelaskan?"
Jenderal ini duduk kembali. "Saya rasa para pendekar hanya akan menimbulkan masalah, maka dari itulah bukankah sebaiknya mereka menjaga benteng saja?"
Pendekar di ujung ruangan, yang menghadiri pula pertemuan ini berteriak. "Katakan sekali lagi dan lehermu itu putus!"
"Nah," jenderal itu menampilkan ekspresi puas. "Mereka tak bisa menahan emosi, paduka."
Putri Song Zhu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku memang ingin memasukkan mereka dalam medan tempur, namun aku tak ingat pernah bilang akan mencampurkan mereka di dalam barisan para tentara."
Saat itu seluruh penghuni ruangan mengeluarkan suara kaget. Jika ikut dalam pertempuran tanpa ikut pasukan tentara, lalu ikut siapa? Apakah mereka akan bergerak sendiri-sendiri?
Putri itu melanjutkan. "Menurut usul Sung Han, sebaiknya membuat satu pasukan lagi yang terdiri dari para pendekar." Ia melirik Sung Han dan empat orang pewaris pusaka lainnya. "Beri waktu satu bulan bagi pasukan baru ini untuk melatih kekompakan. Raja Dunia Silat generasi dua akan melatih mereka."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG