Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 61 – Perempatan


__ADS_3

Entah berapa lama waktu berlalu ia tidak ingat lagi, yang dia tahu hanyalah kerumunan ular bertaring emas dan mengeroyoknya tanpa ampun. Sampai membuat ia pingsan hampir mati.


Kay Su Tek terduduk dengan susah payah, bajunya sudah robek semua sehingga saat ini dia bertelanjang dada. Untung ular-ular itu tidak menyerang celana sekalian walaupun celananya itu juga robek di sana-sini.


Teringat akan sesuatu, ia mengabaikan rasa herannya dan memandang ke belakang. Jalan di mana dia masuk tadi masih berada di sana. Kemudian cepat ia tolehkan kepala ke arah kanan. Dan Kay Su Tek memekik ngeri ketika dari lubang itu nampak mata ular-ular yang mencorong tajam. Beruntung tadinya dia tidak masuk ke sana dalam usaha menyelamatkan diri.


Mungkin sekali asap itu adalah ilusi yang seolah-olah membuat tenaga dalamnya hilang, lalu muncul lagi. Membuat jalan keluar dan masuk hilang. Membuat gigitan-gigitan ular itu seakan semakin sembuh seiring berjalannya waktu. Demikian pikirnya.


Badannya sudah menghitam semua, kecuali dari leher ke atas. Warna hitam yang cukup aneh karena sedikit bercampur hijau dan ungu.


"Ini....racun yang sama dengan milik ayah...." gumamnya dengan tatapan layu. Tubuh dan pikirannya sudah terlampau lelah.


Tanpa peduli lagi, Kay Su Tek berdiri dan berjalan menyusuri goa lebih dalam. Hidupnya sudah tak mungkin lebih lama lagi, racun ini kuat sekali, ia dapat mersakannya. Karena itulah dia berpikir daripada kembali dan mati di tengah jalan, lebih baik terus lanjut untuk menjawab rasa penasarannya.


Ia berjalan lambat, bagaimana pun juga racun itu membuat seluruh tubuhnya kaku-kaku. Agaknya yang masih dapat bergerak lincah hanya bola matanya saja.


Kay Su Tek berjalan tertatih dengan kedua tangannya memegangi dinding goa. Takut jika dilepas maka dia akan jatuh dan kesulitan berdiri lagi.


Tak berselang lama, Kay Su Tek berhenti untuk membaca sekalimat tulisan.


"Kau celaka, kau untung. Kau untung, kau selamat. Kau selamat, kau pantas. Selamat."


"Sebuah ucapan selamat?" katanya dan tersenyum hambar, "Terserahlah, entah apa itu untung, celaka, selamat dan pantas, aku tak peduli lagi. Toh sebentar lagi akan mampus." ujarnya kemudian dan lanjut berjalan menyusuri lorong panjang itu.


Ia menyempatkan untuk duduk sejenak setelah sepuluh langkah berjalan. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri bukan main dan napasnya sesak.


Kemudian ia coba mengalirkan tenaga dalamnya untuk memperbaiki keadaan tubuh walaupun ia tahu itu akan sia-sia.


"Uakkhhh"


Darah kental berwarna hitam menyembur keluar tepat saat tenaga dalamnya menyebar. Rasa sakit kian terasa dan memaksa Kay Su Tek menghentikan penyaluran tenaga dalamnya.


"Kiranya ini puluhan kali lebih parah dari milik ayah...."


Setelah itu dia sudah benar-benar pasrah. Tak pedulikan keadaan diri lagi, kay Su Tek bangkit dan lanjut berjalan. Sebentar kemudian ia membaca tulisan lain namun pemuda ini tak menghentikan langkah.


"Racun itu akan membunuhmu."


"Aku sudah tahu sialan!" mendongkol juga ia.

__ADS_1


Selang setengah jam kemudian, kembali dia dihadapkan dengan sebuah jalan bercabang. Kali ini sebuah perempatan.


Ia tolehkan kepala memandang lempengan kayu paling kanan.


"Ke arah sana, gudang harta dan kitab."


Kemudian dia membaca lempengan kayu di kiri.


"Ke sana, tumpukan obat dan tumbuhan herbal."


Hatinya cukup tertarik. Namun dia masih menyempatkan diri untuk membaca yang di tengah.


"Jalan lurus, kau pasti akan celaka. Cukup sampai sini dan ambil imbalanmu. Untung bukan?" satu kalimat yang paling panjang di antara lainnya.


Kay Su Tek menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian. Kemudian dia terkekeh aneh, "Jika saja aku tidak terluka seperti ini, tentu aku tak akan pedulikan jalan ke kiri." gumamnya perlahan dan mengarahkan tubuhnya ke jalan yang menuju tumpukan obat, "Aku pilih kiri. Setelah ada harapan selamat, mengapa tidak?"


Tanpa memedulikan jalan tengah dan kanan, pemuda ini berjalan ke arah kiri sana. Tubuhnya semakin kaku dan sakit, ia membutuhkan obat penawar racun.


Selang satu menit berjalan, dia mendapati sebuah tulisan di lantai.


"Yakin?"


"Ini pilihanmu. Sekali lagi, kau yakin?"


Masih dihiraukannya tulisan itu. Sampai dia berdecak kesal ketika menemukan tulisan lain yang lebih besar, dengan ukiran lebih dalam, dan bertempat di lantai.


"Peringatan terakhir. Sedikit petunjuk, ingatlah masa lampau. Beberapa waktu lalu, mungkin?"


"Kau mengejek keparat!!" umpatnya kesal dan maju terus setelah mengijak-injak tulisan itu.


Rasa sakit di tubuhnya seolah membuat waktu kian melambat. Ia memaksa kakinya untuk melangkah lebih cepat. Dan matanya berbinar ketika di ujung sana terdapat pintu kayu indah yang tertutup rapat.


Tapi matanya terbelalak saat melihat tulisan besar tepat di atas pintu tersebut.


"Kau mati."


Dadanya tiba-tiba sakit, matanya berkunang dan tanpa tahunya warna putih di matanya berubah hijau kehitaman. Jantungnya setiap kali berdetak seperti bukan mengalirkan darah, melainkan mengalirkan rasa sakit. Ia merintih.


"Oughhh....."

__ADS_1


Kay Su Tek jatuh terlungkup. Beberapa saat kemudian, badannya sedikit kejang, tapi kesadaran masih menguasai dirinya.


"Sial....sialan....padahal sebentar lagi...." ujarnya dan mencoba merangkak berusaha mendekati pintu itu. Ketika tangannya mulai lemas, ia menggunakan bantuan dagu untuk terus lanjut merangkak.


Mulutnya berseru dan wajahnya pucat pasi ketika matanya tanpa sengaja membaca sebuah tulisan kecil tepat di bawahnya.


"Kau telah mencari untung, tidak pantas."


Teringat akan sesuatu, buru-buru Kay Su Tek mengalirkan tenaga dalam untuk menyelimuti jantungnya. Segera ia muntah darah, tapi tak dihiraukannya.


Ia bangkit dan berjalan berbalik ke arah dia datang. Matanya melotot lebar dengan raut muka panik karena terburu-buru.


Beberapa kali dia jatuh, dan setiap bangun kembali langkahnya pasti melambat.


Pada suatu ketika, matanya mulai menggelap dan tubuhnya lemas seperti melayang. Dengan tekad kuat ia benturkan kepalanya ke dinding untuk menarik kembali kendali tubuh. Walaupun kepalanya menjadi nyeri dan berdarah.


Kay Su Tek terus melangkah dan mengumpati kebodohan sendiri. Bagaimana bisa dia tidak menghiaraukan soal celaka, selamat, untung dan pantas?


Bahkan setelah diperingatkan berkali-kali, dia tetap tak peduli dan lebih memilih untung dengan jalan mencari obat-obatan di ruang sebelah kiri. Padahal sudah dijelaskan sebelumnya, yang untung akan celaka!!


Hatinya cukup lega ketika mendapati dirinya sudah berada di perempatan jalan itu. Cepat-cepat ia berbelok ke kiri untuk mengambil jalan tengah.


Menyusuri lorong ini, dia kembali mengumpat. Mengapa pula orang yang hendak mati dan berusaha hidup disusah-susahkan?


Pasti si pemilik tempat ini tahu kalau siapa pun yang sampai di jalan perempatan itu, tentunya dalam keadaan sekarat terkena serbuan ular beracun. Entah jalan ini digunakan untuk menolong atau mencelakakan, tapi Kay Su Tek tidak setuju sekali dengan adanya lorong panjang ini.


"Ahh...sial!" keadaannya sudah payah, di mulutnya menggenang darah hitam yang terus bertambah banyak. Dia tahu racun ini akan semakin parah jika si penderita mengalirkan tenaga dalam. Tapi jika ia tidak melindungi jantungnya dengan tenaga dalam, akan lebih banyak racun yang masuk dan dia bakal cepat mati.


Ia bangkit, lanjut berjalan. Jatuh lagi, bangkit lagi. Hingga ketika dia menemukan sebuah lubang dalam, mulutnya berseru.


"Pasti itu, tidak salah lagi!!"


Di atas lubang itu, ia mendapati ada sebuah tulisan, "Celakalah jika sebelumnya untung. Dan untunglah jika sebelumnya celaka. Pantaslah bagi yang untung di sini, dan matilah bagi yang untung sebelumnya."


"Aahhhhh!!" Kay Su Tek berteriak mencoba menyemangati diri sendiri, tanpa ragu lagi ia melompat ke lubang itu.


Begitu tubuhnya meluncur deras, Kay Su Tek menyerah dan pandangannya menggelap. Kesadarannya lenyap....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2