Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 219 – Rencana Penyambutan Lawan


__ADS_3

"Memang benar ada pasukan besar yang tengah bersiap di perbatasan," ucap Han Ji dengan napas ngos-ngosan. "Mereka membawa bendera merah dengan gambar bunga semanggi di tengahnya."


Jenderal Guo Cu sejak tadi mendengarkan penuh perhatian. Siang hari ini tiba-tiba Han Ji, Khuang Peng dan Nie Chi minta bertemu dengannya. Kiranya mereka baru pulang dari penyelidikan semalaman.


Jenderal ini melirik Khuang Peng dan Nie Chi, seolah meminta kepastian. Dua pemuda ini mengangguk setelah berusaha keras menetralkan aliran pernapasan mereka.


"Dia tidak bohong. Kami memang melihatnya." Khuang Peng berkata meyakinkan.


Disusul oleh Nie Chi untuk memperkuat keyakinan jenderal Guo Cu. "Mereka sudah bersiap, tinggal menunggu perintah untuk bergerak saja."


Jenderal itu nampak beberapa tahun lebih tua dengan kening berkerut dalam. Tangannya mengelus-elus jenggotnya. "Bendera merah dengan gambar semanggi? Tak salah lagi, itulah pasukan Fujimino Shiro."


Ketiga orang itu memandang dengan bingung, menyiratkan satu pertanyaan. Siapa itu?


Jenderal Guo Cu segera melanjutkan. "Dia merupakan jenderal terkenal dari kekaisaran Jeiji. Ilmu pedangnya teramat lihai. Dia amat ditakuti lawan."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


Jenderal itu berpikir sejenak. "Bagaimanapun aku belum percaya sepenuhnya kepada kalian. Tapi jika lawan kita memang jenderal Fujimino, itu akan berat sekali. Biarkan aku berunding dengan para jenderal."


Han Ji menggebrak meja. "Musuh sudah di depan mata dan kita dalam keadaan terhimpit. Tak perlu berunding, katakan pada para jenderal apa adanya!"


Jenderal itu menggeleng. "Mana bisa begitu–"


"Siapa yang bisa memastikan apa maksud sesungguhnya di balik sikap armada Jeiji yang menunggu? Apakah kalian sungguh yakin mereka sedang memulihkan diri?" potong Han Ji tak kenal takut. "Bagaimana kalau mereka menunggu pasukan dari desa Alang-Alang sampai sini dan melakukan serangan kejutan?"


Nampak raut perubahan di wajah jenderal itu. Namun belum sepenuhnya percaya dengan omongan Han Ji.


Saat itu, satu prajurit masuk ke dalam ruangan dan segera memberi hormat. Jenderal Guo Cu mempersilahkan dia bicara.


"Jenderal dari pasukan pertama minta izin untuk bertemu."


Jenderal Guo Cu merapih-rapihkan bajunya dan menyuruh tiga pendekar itu duduk. Lalu dia mengangguk kepada prajurit tadi. Mengisyaratkan bahwa dia telah mengizinkan.


Prajurit itu pergi ke luar, dan tak lama kemudian masuklah jenderal sepuh yang memimpin pasukan pertama.


"Selamat datang jenderal Fu, silahkan–"

__ADS_1


"Tak ada waktu lagi." Suaranya terdengar tegang. Mereka semua menjadi bingung. Namun si kakek itu sudah melanjutkan. "Kita dikepung dari dua sisi. Pasukan Jeiji mulai bergerak dari barat menuju ke mari. Kita harus mengirim laporan ke kota raja dan minta bantuan."


Wajah jenderal Guo Cu memucat, namun sebisa mungkin dia nampak tenang. "Jika anda yang bicara demikian, tidak ada alasan bagi saya untuk meragukan. Kami akan mengurus evakuasi warga."


...****************...


Para pendekar yang ikut menjadi pasukan tiga, membantu pula mengevakuasi warga. Siang itu kota benteng Mustika Naga geger karena tiba-tiba lonceng tanda bahaya dipukul brrtalu-talu. Ketika semua orang berkumpul di alun-alun, keempat jenderal sudah berdiri di atas panggung dan jenderal pasukan pertama, yang paling tua dan paling dihormati, memberi pidato.


"Benteng ini sudah tak bisa dipertahankan lagi. Terpaksa kami harus bertindak. Pasukan tiga akan membantu kalian keluar dari sini!"


Demikian satu di antara banyak kalimat dari pidato itu. Maka setelah itu, jenderal Guo Cu sibuk mengevakuasi warga bersama pasukannya. Pasukan satu dan dua menjaga di barat kota, dan pasukan empat berjaga di benteng. Seorang utusan yang dikirim ke kota raja sudah berangkat sejak tadi. Dua orang dari kaum pendekar.


"Sungguh, kita telah buta." Khuang Peng buka suara seraya membantu anak kecil yang tersandung karena berlari-lari dengan panik. "Hati-hati nak."


Anak itu tak sempat menjawab dan sudah berlari lagi. Lalu Khuang Peng melanjutkan kalimatnya yang terputus akibat insiden anak jatuh tadi. "Kukira kita semua dapat menang dengan terus mendekam di benteng Mustika Naga."


"Sejak awal aku memang sudah curiga," sahut Han Ji. "Apakah Jeiji tidak mengenal soal kekuatan benteng Mustika Naga. Apalagi kekuatan pada teluk ini merupakan kekuatan utama dari benteng Mustika Naga. Mengapa mereka sengaja hendak menggempur di sini?"


Nie Chi hanya diam sejak tadi.


"Itu lah hasil dari otak-otak cerdik para jenderal Jeiji." Nie Chi berkata. "Sejatinya, kita lah yang terlalu sombong dan meremehkan mereka."


Ucapan ini seperti tamparan bagi ketiganya. Sekarang terbukalah mata mereka, seakan mereka telah lupa akan sejarah. Betapa dahulu kala, kekaisaran Jeiji pernah hampir menguasai seluruh daratan Chang, dan tanpa alasan yang jelas, kekaisaran Chang dapat keluar sebagai pemenang.


Dalam setiap cerita rakyat, bintang penolong pada masa itu adalah Sepasang Naga Putih. Namun tak ada yang bisa memastikan cerita itu benar atau tidak.


"Kita tak bisa bertaruh pada keberuntungan semata. Sebagaimana dalam Perang Sejarah pertama," gumam Han Ji.


Mereka memutuskan untuk pergi ke pos lain dan membantu pengevakuasian warga di jalur lain. Keadaaan tak jauh berbeda, semua orang terlalu panik sehingga tugas para prajurit hampir semuanya hanya menenangkan warga.


Banyak anak-anak kecil dan wanita hamil jatuh untuk kemudian terinjak-injak. Han Ji sebisa mungkin menolong mereka. Hingga beberapa waktu berselang, dengan ajaibnya tak ada korban jiwa dalam kekacauan itu dan keadaan mulai tenang.


Malam hari itu, para jenderal mengadakan rapat kilat. Entah bagaimana, Han Ji, Khuang Peng dan Nie Chi diundang pula sebagai perwakilan para pendekar.


"Sebenarnya nona Han Ji lah yang memberitahukan kepada kami." Khuang Peng berkata halus ketika dia menerima pujian dari ketiga jenderal lain. "Aku tidak melakukan apa-apa."


Empat jenderal itu langsung memerhatikan Han Ji penuh perhatian. Guo Cu berkata. "Kupikir kau hanya jadi beban mereka."

__ADS_1


Han Ji hanya mampu mendelik.


"Nona, jika boleh tahu, apakah sebelumnya anda telah melakukan penyelidikan lebih dulu ke perbatasan?" tanya jenderal pasukan pertama dengan halus, lembut dan sopan. Dia yang paling tua dari ketiganya, tapi dia juga yang paling sopan dengan kaum muda seperti Han Ji.


Han Ji menggeleng. "Dari salah seorang sahabat baikku."


"Siapa itu?" jenderal pasukan dua bertanya.


Han Ji meragu, dia tak akan pernah mengkhianati pemuda itu dengan menyebutkan namanya. Ingin dia memperkenalkan Sung Han dengan nama julukan, tetapi dia juga tidak tahu apa nama julukan Sung Han.


Akhirnya, ketika Han Ji sudah hendak menjawab, dia mengurungkan niat dan menggeleng. "Aku tak bisa mengkhianati sahabatku."


Jenderal pasukan pertama mengerutkan kening. "Maksudmu?"


"Dia tak mau menonjolkan diri."


Jenderal itu mengangguk-angguk. Dia mencegah jenderal pasukan dua dan empat yang hendak bertanya lagi. Memang si sepuh ini pengertian.


"Itu bukan masalah. Intinya kita percaya dengan nona dan dua tuan muda ini. Sekarang aku hendak mengutarakan pemikiranku, soal rencana ini."


Mereka mendengarkan penuh perhatian ketika jenderal pasukan pertama itu mengetuk dan menandai banyak tempat di peta. Dia bicara dengan lambat dan diulang-ulang untuk memastikan para pendengar dapat paham betul.


Sampai sini, Han Ji menduga bahwa jenderal sepuh itu adalah tokoh kosen yang telah banyak membuat jasa. Han Ji sama sekali tak melihat kekuatan besar di balik tubuh tua itu, namun dia mengetahui satu fakta bahwa otaknya demikian cerdas dan sikapnya bijaksana. Agaknya inilah yang membuat semua jenderal menghormat padahal pangkat mereka sejajar.


Rencana itu adalah melakukan serangan kejutan untuk menyambut pasukan dari barat. Setelah evakuasi warga selesai, mereka akan mengabaikan benteng Mustika Naga yang dengan yakin akan butuh beberapa waktu untuk dijebolkan.


Pasukan satu dan dua akan bergerak ke utara dan sisanya bergerak ke selatan. Ketika pasukan dari barat datang, mereka akan melakukan pengepungan dari dua sisi sekalian menunggu pasukan bantuan dari kota raja tiba.


"Bagaimanapun juga, pilihan kabur tak akan masuk hitungan. Ini demi bangsa, biarlah kita mati selama rakyat aman." Jenderal itu mengakhiri penjelasannya.


Tak ada raut tidak setuju dari tiga jenderal. Mereka semua nampak sama sekali tidak jeri mendengar risiko itu. Dan Han Ji merasa kagum.


"Baiklah, kami setuju!" Guo Cu berkata mewakili dua jenderal lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2