
Mereka sudah berjalan cukup jauh dari Lembah Setan, setelah sebelumnya Yang Ruan sedikit memaksa Kay Su Tek untuk pergi dari sana.
Tiba di bawah pohon tinggi besar, mereka menghentikan langkah.
"Aku ke arah sana." kata Yang Ruan menunjuk ke satu arah, "Sepertinya kita saling berlawanan arah?"
"Ya." balas Kay Su Tek melihat di mana tangan ramping gadis itu menunjuk. Ia lantas menolehkan kepalanya melihat ke arah mana jalan ia pulang, "Aku menuju ke sana."
Yang Ruan nampak sedikit lesu mengetahui arah pulang mereka berlainan, sehingga mau tak mau harus berpisah di sini. Tapi ia menghibur diri bahwa perpisahan ini tidaklah lama, karena sebentar lagi mereka akan menjadi suami istri yang sah.
Kay Su Tek mendongak ke langit untuk melihat letak matahari, saat ini sang surya sudah condong ke arah barat. Ia lalu memandang arah jalan pulang dan sedikit bimbang. Mencoba mencari jalan untuk keluar hutan ini atau bermalam lebih dulu selama semalam.
Tapi lamunannya buyar oleh suara halus Yang Ruan di sebelahnya.
"Jadi kita akan berpisah ya...." ucapnya lirih seraya menundukkan muka, "Andai saja kita bisa bersama lebih lama."
Kay Su Tek tersenyum, mengetahui gelagat gadis itu ia tak bisa untuk merasa tidak senang. Kay Su Tek mengangkat tangan kanan dan mengelus ujung kepalanya, "Sudahlah, ini hanya sebentar. Tak lama lagi rombongan Perguruan Awan akan datang menjemputmu."
Yang Ruan mendongak menatap sepasang mata pemuda itu, "Aku percaya padamu."
Kecupan singkat di pipi Kay Su Tek itu menjadi salam perpisahan dari Yang Ruan sebelum tubuhnya berkelebat pergi dari sana, menyisakan Kay Su Tek seorang.
Pemuda ini tak langsung beranjak, ia lebih dulu menyempatkan diri untuk menengok punggung kekasihnya yang makin lama kian menjauh dan menghilang. Setelah dapat dipastikan sudah pergi jauh, dengan wajah bersemu kemerahan dan senyum sumringah, ia berjalan ke arah lainnya.
...****************...
"Ah....sial, malang sekali nasibku ini." gerutunya menekan lututnya yang terasa nyeri, ada sedikit darah mengucur dari sana, "Entah berapa hari dikurung di dalam tumpukan batu, kali apa lagi!?"
Kay Su Tek terus mengomel panjang pendek sambil perlahan-lahan bangkit. Ia memandang ke jurang curam di atasnya dengan tatapan sengit. Kemudian ia melihat langit malam ini yang tiada bulan karena tertutup awan.
"Kalau saja kau tak bersembunyi, kiranya aku tidak akan buta dan jatuh ke mari!!" umpatnya menunjuk sang bulan yang hanya tampak samar.
__ADS_1
Nasib Kay Su Tek sungguh sial. Selepas berpisah dari Yang Ruan, ia langsung mengerahkan ilmu lari cepatnya menuju arah pulang. Saat itu pemuda ini sudah menetapkan jika malam ini juga bagaimana pun caranya ia harus dapat keluar hutan dan tiba di desa terdekat.
Sampai malam tiba, Kay Su Tek nekat terus melanjutkan perjalanan. Ia cukup percaya dengan diri sendiri untuk melakukan perjalan dengan hanya menggunakan obor sebagai penerangan. Ia tidak takut akan bandit, lagipula mana ada bandit di tempat seperti ini.
Juga kawasan berbahaya yang penuh dengan hewan aneh serta tanaman-tanaman racun di Lembah Setan, sudah terlewat jauh sehingga kawasan hutan ini merupakan hutan yang aman.
Tapi walaupun dengan menggunakan obor sebagai penerangan, bagaimanapun juga karena terburu-buru Kay Su Tek tidak menyadari bahwa dirinya itu berjalan di pinggiran jurang kecil namun cukup dalam.
Ketika ada lumut tebal yang sampai satu dua senti tingginya, tak dapat dicegah lagi Kay Su Tek terpeleset dan merosot ke bawah jurang curam.
Untung baginya di dasar jurang itu penuh rumput dan semak tebal, sehingga tubuhnya baik-baik saja.
Sebenarnya ia bisa saja menyeimbangkan tubuhnya tepat setelah terpeleset lumut itu, namun posisinya sudah terlalu di pinggir dan untuk menyeimbangkan diri, tubuhnya sudah terlanjur terbang.
Maka tanpa mampu dicegah lagi, jatuhlah ia.
Tak ada pilihan lain, Kay Su Tek mencari-cari jalan memutar untuk naik ke atas sana. Tubuhnya masih lelah jika harus memanjat dinding jurang yang halus itu.
Tapi makin jauh ia berjalan, dinding jurang itu nampak makin tinggi saja, membuat ia hampir putus asa jika saja tidak menemukan satu hal menarik dan aneh.
Pohon itu letaknya di kanan dan kiri, saling berhadapan. Di tengahnya, nampak satu goa yang terlihat cukup aneh.
"Goa? Atau.....mulut seekor makhluk?" heran Kay su Tek sambil mengedarkan obornya ke sekeliling mulut goa, "Mana ada goa yang bentuknya macam ini?"
Goa itu memang aneh, terlampau aneh untuk berada di tempat antah berantah seperti ini. Jika saja tempat ini terdapat di dekat ibukota, hal itu bisa dimaklumi karena mungkin pemerintah sengaja membuatnya untuk tempat wisata atau berpelesir.
Bentuk goa itu bulat, bulat sempurna. Terletak di dinding jurang itu dengan pohon kembar di kanan kiri membentuk seperti gerbang pintu masuk. Yang lebih tak masuk akal lagi, bentuk goa itu serta dinding di sekeliling goa terlalu halus dan rapi. Membuat Kay Su Tek mengerutkan kening.
Ingin rasanya pemuda ini berbalik dan pergi saja untuk istirahat. Tapi rasa penasarannya makin memuncak tatkala ia paksa kakinya berbalik dan pergi dari sana.
Akhirnya, sambil terus menggerutu, Kay Su Tek menghampiri goa itu kembali dan tanpa ragu memasukinya.
__ADS_1
Di dalam goa itu, ia mengeluarkan seruan nyaring saking kaget dan herannya. Bentuk di dalam sini tak beda jauh dengan mulut gua yang bulat sempurna. Hanya saja di dalam membentuk suatu lorong panjang setengah lingkaran yang juga seperti dipoles halus.
"Apakah aku masih berada di dunia? Mana ada tempat semacam ini?"
Kay Su Tek memandang keluar sekali lagi, sebentar ia ragu. Tapi selang beberapa saat, ia langkahkan kakinya menuju ke dalam dan terus ke dalam. Entah apa yang menunggunya tapi rasa penasaran telah membuatnya nekat.
Satu jam....
Dua jam....
Empat jam....
Setengah hari....?
Entah berapa lama waktu berlalu tapi semenjak memasuki goa ini seolah Kay Su Tek tak merasakan lelah dan terus tertarik untuk melangkah. Ada semacam kekuatan gaib yang menarik hatinya untuk terus masuk lebih jauh.
Lorong ini berdasar datar dan entah berapa jauh panjangnya, tapi selama itu Kay Su Tek terus berjalan lurus dan mendatar.
Hingga tak berselang lama, tanpa Kay Su Tek sadari, ia telah berjalan di lorong yang di mana pada dinding kanan dan kiri telah terdapat obor sebagai cahaya penerangan. Kemudian tak lama kemudian dinding itu lambat laun menjadi warna putih bersih. Agaknya batu yang di sini berbeda dengan batu goa di belakang.
Sekitar lima puluh langkah, Kay Su Tek melihat ada ukiran tulisan indah di dinding kiri berbunyi.
"Jagalah sopan santun."
Selang dua puluh langkah, di dinding kanan tertulis.
"Kau ada di tempat orang."
Sepuluh langkah kemudian, ia mendapati tulisan lain lagi. Namun yang satu ini sangat membuatnya bimbang dan ragu, karena itulah dia menghentikan langkah.
"Tinggalkan senjatamu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG