
"Benarkah ini? Hm...siapa sih Kay Ji Kun itu?"
"Hei bocah!" seru pria yang tadinya berada di belakang Sung Han. Seraya membentak ia menampar pundak Sung Han, "Terlihat jelas di sana dan kau pun bisa baca. Dia itu ketua Perguruan Awan."
Sung Han tersenyum, "Aku tahu." balasnya, "Yang kubingungkan, siapakah ia? Nama julukan atau sebagainya. Sepertinya dia cukup terkenal ya." sambungnya sembari memandangi gambar di kertas yang ditempel di tembok lebar.
Pria yang tadi membentak Sung Han nampak bangga dan menjelaskan, "Dia itu tokoh pendekar kenamaan yang cukup kosen. Julukannya yaitu Si Tangan Kapas. Tak hanya beliau, tapi putranya dikabarkan lihainya bukan main. Bahkan menurut beberapa tokoh yang pernah bertarung melawan keduanya, orang-orang ini menganggap putranya lebih kuat."
Sung Han terkekeh geli sebagai tanggapan. Ia tersenyum aneh saat memandang lelaki pemikul arak itu. "Hei bung, dari mana kau dengar itu?"
Pria itu nampak tercekat, sampai-sampai beberapa guci arak di pikulannya hampir jatuh kalau tidak cepat ia tahan pakai tangan satunya. "Kata orang lah!" jawabnya sewot.
"Hahaha...." tawa Sung Han pecah, "Siapa orang itu? Tokoh kenamaan juga kah?"
Pria itu nampak malu dan juga jengah. Dia sadar kalau yang ia ajak bicara itu adalah seorang pendekar, jadi dia menganggap bahwa Sung Han lebih banyak tahu daripada ia. Dan ia memaki diri sendiri atas sikapnya yang sok tahu.
"Sudahlah, aku mau pergi. Juragan bisa marah." ujarnya singkat dan benar-benar pergi.
Sung Han hanya mampu geleng-geleng kepala sambil melanjutkan kekehnya yang belum usai. Selepasnya, ia melanjutkan perjalanan menuju ke utara. Tapi sebelum itu, tentu saja berbelok ke rumah makan untuk memenuhi perut yang sudah mengoceh.
Beberapa menit berselang setelah selesai makannya, saat ia hendak keluar, di meja ujung dekat dengan pintu terdengar percakapan yang seru sekali. Bahkan perhatian Sung Han pun sampai teralihkan.
Isi percakapan itulah yang membuat pemuda ini tertarik sekali. Hal itu tentu saja mengungkit-ungkit sosok yang dicarinya ini.
"Ki Yuan namanya." kata seseorang paling tua dan nampak senior. "Aku tak tahu wajahnya, tapi aku sangat berterima kasih. Katanya, setelah dia datang, kesehatan beliau berangsur-angsur mulai membaik. Yah, walau pun belum sembuh."
"Aku melihatnya, aku datang di sayembara itu." sahut seseorang di sebelah si pria tadi, nampak pakaiannya ringkas seperti pendekar.
"Wajahnya seram...." bisiknya kemudian dengan sedikit gemetar.
"Ah...kau memang pandai mendongeng sejak keluar dari rahim ibumu. Kau tahu kan lagak dan penampilan orang-orang persilatan itu memang aneh?" sahut satu orang lainnya. Seperti seorang pelayan. Agaknya dia adalah pelayan di rumah makan ini yang sedang dalam masa istirahat.
Pemuda pendekar tadi nampak tak senang dan sedikit melotot, "Kau pikir aku aneh?"
__ADS_1
Si paling tua tertawan cekikikan, "Kalau kau tak aneh, bukan pendekar namanya! Hek-hek-hek." tawa yang aneh, macam orang tersedak biji alpukat.
Tapi si pemuda masih tak terima, "Hei, hanya Ki Yuan itu yang terlalu aneh dan seram. Lihat!" katanya menunjuk Sung Han yang menjadi kaget sekali, "Sahabat pendekar di sana tidak aneh."
Serempak dua kawannya menoleh ke arah Sung Han yang berdiri di ambang pintu. Lalu si pria tua kembali menyahut. "Dia pun aneh, sudah sejak tadi anak itu berdiri di pintu menghalangi orang lewat."
"Ah sudahlah!" pemuda itu terlihat gusar. "Aku pergi, ambil ini." ucapnya kemudian sembari memberikan tiga keping perunggu ke seorang yang berpakaian pelayan. Setelah membayar makanan, dia langsung pergi dengan diiringi gelak tawa dua kawannya.
Sung Han memandang orang itu lekat-lekat.
...****************...
"Hei." Sung Han menggapai pundak pemuda itu.
"Ah, engkau?" pemuda itu mengenal Sung Han sebagai seorang yang tadi berdiri di depan pintu restoran, "Ada apa?"
"Orang ini kan yang bernama Ki Yuan?" tanyanya menunjukkan kertas bergambar pria tua botak itu. "Bisakah kau membantuku, jelaskan lebih rinci apa pun yang kau lihat di sana. Namaku Sung Han."
Pemuda bernama Nie Chi ini mengajak Sung Han ke pinggir jalan lalu duduk di bawah pohon rindang. Rambutnya yang panjang sebahu tanpa ikat kepala itu berkibar terkena hembusan angin lembut kota Talas.
"Minggu lalu, anak dari ketua Perguruan Awan mengadakan sayembara. Ia mencari dokter atau siapa pun yang bisa mencarikan dokter guna menyembuhkan ayahnya." ujarnya, "Dan orang ini salah satu dari puluhan dokter itu."
Wajah Sung Han menggelap dan menjadi tak enak dipandang. Nie Chi yang melihat ini merasa ada yang aneh dan bertanya, "Ada apakah? Wajahmu seperti habis menelan lemon mentah."
Sung Han tak menanggapi kelakar itu. Agaknya Nie Chi ini tidak tahu siapa sosok Ki Yuan, sehingga dia bisa santai-santai saja.
Melihat Sung Han yang hanya diam, bertambah keheranan Nie Chi dan kembali bertanya, "Ada apakah kawan?"
"Dia ini tokoh Hati Iblis." kata singkat pemuda itu untuk menjawab.
Sontak Nie Chi melebarkan matanya, membisu seketika. Dia mencoba mencerna ucapan Sung Han barusan dan sedapat mungkin untuk menolak percaya. Usahanya ini ia ekspresikan dengan tertawa paksa.
"Hahaha, kau melantur."
__ADS_1
"Aku tidak melantur!" sergah Sung Han, "Belum lama ini aku bentrok dengannya, maka dari itulah aku mencari sampai ke sini." sambungnya sambil mengepalkan tangan. Sedetik kemudian, ia sudah bangkit berdiri dan berkatalah kemudian.
"Terima kasih atas penjelasanmu. Kali ini aku yakin dia ada di sana." katanya.
"Tunggu!" Nie Chi mencekal tangan Sung Han yang sudah hendak pergi, "Jadi itu artinya, Perguruan Awan sedang dalam bahaya?"
"Kau menanyakan hal yang sudah kau tahu." balas Sung Han datar.
Pemuda ini melepas cekalan tangan Nie Chi dan melangkah pergi dari sana.
"Kau hendak ke mana?" seru Nie Chi.
"Ke mana lagi, ke markas Perguruan Awan!"
Nie Chi nampak mengerutkan kening, ia menggaruk kepalanya sendiri. Kemudian kembali berseru ke arah Sung Han yang sudah cukup jauh, "Perguruan itu ada di utara, kau berjalan ke arah timur!"
Sung Han berhenti, kemudian lanjut berjalan. "Aku ingin membeli beberapa perbekalan di toko itu lebih dulu." ujarnya mencari pembelaan.
Memang di depan sana berdiri sebuah toko yang lumayan besar, menjual berbagai macam keperluan seperti tas, baju, sepatu atau topi caping dari yang kecil sampai besar.
Sung Han berbelok memasuki toko itu. Padahal itu hanyalah alibi untuk menutupi rasa malunya karena dia yakin di belakang sana Nie Chi masih melihat.
Ketika sudah masuk, ia berjalan ke salah satu ruangan yang tak banyak orangnya, menyelinap ke balik gantungan baju dan tas sebelum melesat keluar melalui jendela.
Secepat kilat tubuhnya melesat melompati atap-atap rumah penduduk menuju utara sana. Dari atas sini, terlihat aliran sungai Buaya yang jernih dan berkilau seperti sekumpulan mutiara. Sung Han kagum dibuatnya.
Sekali lagi ia pandangi gambar Ki Yuan kemudian meremasnya. Mulutnya mendesis sebal.
"Sekian lama kau lari macam tikus dikejar kucing, akhirnya aku mendapatkanmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1