Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 63 – Seratus Hari [Bagian : 2]


__ADS_3

Kay Su Tek terbengong sampai lama tepat ketika dua kelopak matanya terbuka lebar-lebar. Menuruti tulisan yang ada di kursi batu itu, tak pernah ia sangka ternyata benar adanya.


Tadinya ia mengira bahwa meditasi di tempat tidak rata itu hanya sekedar untuk sopan santun belaka. Setelah dirasa tenaga dalamnya meningkat, Kay Su Tek berniat pergi. Memang di bawah tanah ini saking heningnya Kay Su Tek dapat berkonsentrasi penuh untuk bermeditasi.


Tapi dirinya terkejut begitu merasa ruangan sekitar yang tadinya terasa dingin lambat laun mulai hangat. Kemudian semakin lama semakin panas.


Menuruti tulisan di kursi batu, Kay Su Tek membuka matanya dan menemukan dirinya sudah berpindah ruangan. Ke sebuah ruangan kecil yang hanya ada satu meja kecil di sudut ruangan dan satu kotak peti lumayan besar. Ada pula sebatang pedang berdiri di pojokan, sudah diselimuti oleh sarang laba-laba.


Kay Su Tek mendongak untuk melihat ke atas ketika dirasakan ada seberkas cahaya menerpa kakinya. Ternyata ada sebuah lubang yang mungkin sekali di mana tadi dia masuk.


Tanpa tahunya Kay Su Tek, karena bermeditasi di batu tidak rata itu dengan jangka waktu panjang, suhu tubuhnya yang hangat lambat laun melelehkan minyak kering di sekeliling batu. Membuatnya menjadi licin dan amblas ke dalam.


Kay Su Tek lekas bangkit untuk melihat-lihat isi ruangan. Ada empat obor di sana yang agaknya membuat suhu ruangan ini panas.


Kay Su Tek mendekati peti besar dan membukanya. Di sana ada tiga buah kitab silat dan di sebelahnya tertata rapi berbagai macam jamur. Ada seratus jamur, tidak kurang tidak lebih.


Di atasnya terdapat kertas usang yang bertuliskan, "Pelajari tiga kitab itu sampai jamur ini habis. Sehari kau makan satu, tak boleh kurang tak boleh lebih. Waktumu seratus hari di ruang ini."


Kay Su Tek menjadi girang sekali. Memikirkan tempat aneh ini saja sudah membuatnya menduga kalau tempat ini memang milik orang sakti. Dan sekarang kiranya dia telah berjodoh dengan ilmu-ilmu sakti itu.


Ia letakkan kembali kertas dan mencoba mengambil tiga kitab itu. Saking girangnya, tangannya sampai gemetar dan tubuhnya bergerak lambat. Satu per satu ia pindahkan tiga kitab ke atas meja kecil yang kosong.


Kitab pertama berjudul, "Auman Harimau."


Kitab kedua yang berwarna putih, pada bagian sampul tertulis, "Menapak Angin."


Sedang kitab ketiga yang berwarna biru gelap hampir ke hitam, dan kitab yang paling bagus, sama sekali tidak ada judulnya. Ia mengerutkan kening dan membuka buku itu untuk menemukan tulisan-tulisan indah.


"Jangan pegang pedang itu untuk saat ini, belum waktunya."


Spontan Kay Su Tek menoleh untuk melihat sebatang pedang di pojokan ruangan. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu di dalam pedang itu. Tapi ia tetap menekan rasa penasarannya untuk tidak memegang pedang itu sedikit pun.


Ia buka halaman berikutnya dan barulah terbaca olehnya sebuah judul dari kitab ini. Sekali membaca judulnya itu ia langsung tahu bahwa kitab terakhir ini adalah sebuah ilmu pedang.


Kitab itu bernama, "Ayunan Pemecah Surya."

__ADS_1


"Ini semua kitab-kitab hebat, aku bisa merasakannya!" gumamnya penuh rasa kagum dan girang yang tak terbendung lagi.


Hampir saja ia melompat kegirangan kalau saja tidak menemukan satu ukiran tulisan kecil di atas meja.


"Hati-hati, jangan sampai kau untung! Jangan sampai menyesal seperti aku!!"


Kay Su Tek tak perlu bingung lagi untuk menafsirkan sebaris kalimat peringatan itu. Agaknya kalimat inilah yang merupakan kalimat peringatan paling keras, entah bagaimana Kay Su Tek dapat merasakannya.


Ia bersujud dalam, "Mohon ijin kepada guru untuk murid ini meminjam tempat dan belajar ilmu."


Setelah itu, ia langsung memakan satu jamur yang segera membuat ia kenyang. Setelah itu langsung ia pelajari kitab yang pertama, yaitu Auman Harimau.


Ternyata kitab ini menjelaskan tentang tiga dasar ilmu silat. Yaitu ilmu menghimpun tenaga dalam, ilmu silat dan ilmu teriakan dahsyat. Sebuah teriakan dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.


Hal pertama yang ia pajari adalah menghimpun tenaga dalam. Sampai berhari-hari lamanya Kay Su Tek terus menekuni di bagian itu.


"Jamur ini luar biasa, sekali makan aku kenyang satu hari!" serunya pada hari ketiga setelah ia bangun tidur dan hendak lanjut latihan.


Hari ke dua puluh dia mempelajari ilmu silat Auman Harimau, dan pada hari ke tiga puluh ia sudah menuntaskan latihan kitab Auman Harimau.


Hari ke empat puluh enam, ia mulai mempelajari kitab Ayunan Pemecah Surya. Sebuah kitab yang nyatanya paling hebat dan sulit dikuasai, berkali-kali Kay Su Tek hendak menyerah karenanya.


Karena tidak ada pedang dan hanya ada satu pedang yang tidak boleh dipegang, maka dia menggunakan tangan tunggalnya. Hal ini semakin sulit untuk latihan, karena itulah sampai hari ke sembilan puluh sembilan, barulah semua latihannya tuntas.


Halaman terakhir kitab Ayuan Pemecah Surya, tertulis. "Cabutlah pedang itu, senjata itu sudah jadi milikmu."


Dengan perasaan senang yang tak terbendung lagi, Kay Su Tek melesat cepat ke ujung ruangan dan segera mencabut pedang. Ia terperangah mengetahui bilah pedangnya yang berkilauan indah itu.


Sebuah pedang berbilah hitam pekat, dengan ukiran-ukiran indah berwarna biru gelap dan bercahaya redup.


"Woah...." tanpa sadar ia berseru dan tangannya gemetar dibuatnya. Sampai lama ia terperangah mengagumi pedang pusaka yang seindah dan secantik itu.


"Hm....?" beberapa saat kemudian, ia tersadar ada sebuah buku selebar telapak tangan yang tadi tersembunyi di balik batang pedang dan rumah laba-laba. Kay Su Tek meletakkan pedangnya dan mengambil buku itu untuk kemudian di buka dan dibacanya.


"Namaku Xiao Shi Yan." halaman pertama buku itu.

__ADS_1


"Ah...apakah guruku bernama Xiao Shi Yan?" Kay Su Tek mulai tertarik dan membalikkan halaman. Lalu ke halaman tiga, empat, lima dan seterusnya.


Ternyata itu adalah kisah hidup seseorang yang bernama Xiao Shi Yan itu. Berkali-kali Kay Su Tek berdecak kagum dengan sepak terjang orang ini bersama adiknya.


Namun pada akhir-akhir halaman, ia mengerutkan kening ketika membaca satu baris kalimat.


"Setelah itu, aku dan adikku selalu terlibat permusuhan tak berujung dan tak berdasar. Entah apa sebabnya..." kalimat berikutnya tertulis, "Kami yang awalnya tak percaya kutukan pedang itu, lambat laun mulai percaya dan mau tak mau terikat di dalamnya. Kami bertarung sengit untuk saling bunuh."


Kalimat pertama halaman berikutnya, "Satu hal yang merupakan penyesalan di hidupku." disambung dengan sebaris kata di bawahnya, "Aku tidak menyadarinya waktu itu."


"Penyesalan apa?" tanda sadar Kay Su Tek bergumam sendiri.


"Ternyata, akulah yang memulai permusuhan ini."


"Apa!??" Kay Su Tek memekik dan cepat-cepat membaca kalimat berikutnya.


"Ternyata, aku yang merasa lebih kuat daripadanya, telah menjatuhkan diri sendiri ke lubang celaka. Semua ini didasari oleh kitab-kitab itu!! Hingga akhir hayat, aku selalu berharap tidak pernah bertemu dengan tiga kitab itu!!" entah kenapa saat membaca tulisan ini, Xiao Shi Yan nampak marah.


"Pertempuran terakhir dengan adikku terjadi pada tanggal tujuh bulan lima. Kepalaku hampir hancur kalau saja aku tidak menjatuhkan diri ke dalam jurang. Aku terluka parah, dan menemukan goa ini untuk kujadikan tempat tinggal menunggu mati sekaligus sebagai penyimpanan ilmu-ilmuku."


Satu halaman sebelum lembaran paling akhir, "Kau yang membaca buku ini, tentulah telah menjadi pewaris serta muridku. Kau jagalah pedang dan kitab itu, tapi ingat!! Jangan pernah sembrono!! Selalu waspada! Pemilik pedang yang sama, tidak patut untuk jadi musuhmu!"


Kay Su Tek kembali mengerutkan kening, "Pedang yang sama? Pedang ini ada dua? Oh iya...daritadi penulis buku ini tidak menyebutkan nama pedang." katanya sembari membalikan halaman itu dan membaca halaman paling akhir.


Matanya terbelalak dan keringat dingin mengucur deras. Wajahnya langsung pucat pias begitu membaca beberapa kata di halaman itu.


"Pedang ini, Pedang Gerhana Bulan. Sebuah pedang setan, kau harus hati-hati!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sepasang Pedang Gerhana...


...Bagian 2 : Tuan Muda Perguruan awan...


...Selesai...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2