Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 180 – Jejaknya


__ADS_3

"Jadi, kau hendak mencari seseorang di mana? Adakah hubungannya dengan rombongan itu yang sedang menuju ke utara?" tanya si mata putih.


Sung Han menundukkan mukanya yang menegang dan sedikit pucat. Tak salah lagi, pastilah itu Kay Su Tek yang secara entah bagaimana telah mewarisi Pedang Gerhana Bulan. Dan yang entah kekuatan dari mana, agaknya telah membangkitkan kutukan itu. Yang memaksa mereka harus saling bunuh!


Benarkah kutukan itu nyata? Sampai sekarang Sung Han selalu merasa ragu akan kebenaran dari kutukan itu. Dia menganggap hanya tahayul belaka. Namun lambat laun, dan sampai hari ini, agaknya dia mulai percaya. Sejak hari di mana dia hampir bentrok dengan Kay Su Tek di tempat pemilihan ketua baru, dia telah percaya pada kutukan itu. Kelak dia dan Kay Su Tek akan saling bunuh! Namun sebisa mungkin dia hendak mencegah.


Melihat Sung Han yang diam saja, tiga orang ini menjadi heran dan bingung. Si brewok yang letaknya paling dekat dengan Sung Han menyentuh pundak pemuuda itu dan mengguncangnya.


"Sobat..."


Sung Han tersentak kaget dan tersadar. Barulah dia teringat bahwa saat ini dia sedang mencari sebuah informasi. Dan tadi dirinya malah melamun. Ia gelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir bayangan-bayangan tidak mengenakkan. Setelah itu barulah dia menjawab pertanyaan si mata putih tadi.


"Ya, aku memang sedang mencari seseorang. Dan aku yakin benar dia berada dalam rombongan itu."


Ketiganya mengerutkan kening, "Kau begitu yakin. Lalu siapakah orang itu sebenarnya?" si gundul bertanya.


Bukannya menjawab, Sung Han malah bangkit dari duduknya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Maaf saja aku tak bisa memberitahukan masalah ini kepada lain orang. Terima kasih atas waktunya dan maafkan kelancanganku jika mengganggu waktu bersantai kalian. Aku pergi dulu."


Setelah berpamit Sung Han langsung pergi melanjutkan perjalanan. Kali ini dia tahu ke arah mana yang harus dituju, yaitu utara. Ke Goa Emas yang keseraman dan keangkerannya bahkan sudah ia dengar semenjak masih kanak-kanak.


Mengingat cerita itu, sedikit banyak ngeri juga hatinya. Namun ia paksa untuk terus melangkah untuk menemui Kay Su Tek. Menahannya agar tidak bertindak lebih jauh lagi, dan menghentikan tindakan tololnya berupa memimpin kaum sesat.


Dia secara buru-buru berjalan keluar dari desa itu ditonton oleh beberapa warga yang memandang tegang. Maklum akan hal ini karena hari kemarin desa ini telah kedatangan serombongan pasukan pendekar sesat. Tentu saja mereka mengira Sung Han termasuk orang segolongan mereka.


Sung Han tak pedulikan itu dan terus melangkah dengan lebar keluar dari desa. Namun baru saja keluar, terdengar suara berisik dari arah desa itu disusul teriakan-teriakan mengerikan.


Sung Han mengerutkan keningnya, sontak dia menghentikan langkah dan memandang ke belakang dengan penuh perhatian. Setelah sekian lama diperhatikan, agaknya suara-suara itu berasal dari mana dia tadi bercakap-cakap dengan tiga orang paruh baya itu! Mata Sung Han terbelalak, lalu secepat kilat tubuhnya melesat meloncat melalui atap-atap rumah penduduk untuk mencapai tempat tadi.


Setibanya di sana dia berdiri dengan muka pucat, matanya terbelalak seolah dapat keluar kapan saja.

__ADS_1


"Kapan ini dilakukan? Siapa yang melakukannya?" gumamnya yang tak mendapat jawaban karena pertanyaan itu ditujukan kepada diri sendiri.


Dari atas genteng rumah yang menjadi tempat berpijaknya saat ini, dapat terlihat jelas olehnya kerumunan orang yang mengerubungi satu tiga buah mayat. Tiga buah mayat itu bukan lain adalah milik tiga orang yang tadi bercakap-cakap dengannya!


Para warga mengerubung dan menjadi panik, namun tak ada yang berani mendekat karena takut.


Memang kondisi mayat-mayat itu demikian mengerikan dan memprihatinkan. Kepala mereka terlepas dengan tubuh koyak-koyak. Entah siapa yang melakukan itu. Yang jelas, pastilah seorang lihai yang mampu membunuh tiga pendekar itu di tempat ramai.


"Pasti pemuda itu yang membunuh mereka!! Aku lihat tadi dia sedang bercakap-cakap dengan mereka bertiga!" seru seorang pria berumur lima puluh tahunan. Dengan wajah jeri dan suara bergetar dia berteriak demikian.


Sung Han menahan amarahnya, mengapa dia selalu menjadi kambing hitam? Namun dia merasa heran juga bingung dan sedikit lega ketika ada pemuda yang membelanya.


"Bukan dia!! Dari awal sampai dia pergi aku melihat dari dalam warungku. Dan pemuda itu sudah pergi! Yang membunuhnya adalah bayangan hitam!"


"Bayangan hitam?!"


"Siluman hutan?!"


Sung Han merasa prihatin, namun perhatiannya segera tertarik dengan pembunuh itu. Bayangan hitam katanya, dan dia yakin itu pasti bukan siluman, melainkan seorang pandai yang memiliki ilmu meringankan tubuh hebat sekali. Serta kepandaian yang tidak kacangan sehingga mampu membunuh tiga orang itu dalam sekejap.


Sung Han mengamati sekitar untuk mencari penbunuh itu, pasti belum pergi jauh, pikirnya. Namun setelah beberapa waktu dia menyapukan pandangannya, sama sekali tak nampak sosok "bayangan hitam" itu. Akhirnya dia meghela napas dan memilih untuk melanjutkan perjalanan. Namun kali ini jelas lebih hati-hati karena mungkin sekali bayangan hitam sudah mengintai dia sejak awal sampai akhir. Dan boleh jadi target selanjutnya adalah dia sendiri.


...****************...


Sebentar saja, Sung Han sudah dapat menenangkan hatinya mengenai peristiwa tersebut. Pikirannya kembali fokus untuk mencari Kay Su Tek.


Dia lari terus menuju ke arah utara, terus berlari lurus sungguhpun dia tidak tahu secara pasti di mana letaknya Goa Emas yang amat melegenda itu. Biarlah nanti di dekat sana dia akan tanya-tanya orang. Pikirnya.


Ketika tiba di sebuah hutan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi namun sedikit cabang, Sung Han memperlambat larinya. Selain untuk menghemat tenaga, juga untuk menikmati pemandangan sekitar yang cukup indah dengan batu-batu putih berkilau terpapar sinar matahari.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja dia berhenti dan tubuhnya langsung diam bagaikan patung. Sama sekali tak bergerka kecuali kibaran rambut dan ujung jubah. Matanya itu menajam menunduk ke bawah.


Sampai lama dia berdiri dengan sikap aneh iti, ada seperempat jam lamanya dan selama itu dia sama sekali tidak bergerak barang seujung jari.


Tiba-tiba, terdengar suara manusia.


"Memang mengagumkan sekali, seorang tokoh muda yang sangat waspada. Hanya kesalahan kecil kau mampu merasakan dan sudah siap sedia. Hebat...hebat...."


Suara itu serak basah dan menurut penaksiran Sung Han, pemilik suara itu adalah seorang kakek-kakek. Dia membelalakkan mata dan diam-diam tenaga dalam sudah mengalir ke seluruh tubuh. Siap sedia menghadapi segala kemungkinan.


Kembali hanya keheningan yang ada, dan Sung Han tetap menunduk. Kali ini lebih lama, sekitar setengah jam setelah suara itu terdengar, Sung Han masih belum bergerak.


Akan tetapi, tiba-tiba tangan Sung Han mengepal dan dia sudah pasang kuda-kuda. Gerakannya ini demikian cepat bahkan lebih cepat dari kedipan mata orang. Tangan kanannya yang sudah terkepal itu diletakkan di samping kanan wajah.


"Hmm..." dia mendengus dan bertepatan dengan itu.


"Dessss!!"


Ada sebuah telapak kaki yang menghantam dengan amat keras tepat pada lengan kanan Sung Han. Namun luar biasa sekali, tubuh pemuda ini tidak bergerak dan masih kokoh berdiri di atas tanah. Penyerang gelap itu membelalakkan mata.


Sung Han tak melakukan serangan balasan, dia hanya memandang dengan sorot tajam menusuk ke arah sepasang mata tua itu. Orang tua itu sedikit bergetar dan dia langsung melompat jauh dengan tangan Sung Han digunakan sebagai tumpuan.


Setelah bersalto dua kali di udara, dia mendarat empat tombak jauhnya dari Sung Han. Memandang penuh selidik dengan sinar mata tajam.


"Hemm...kau terlalu ceroboh pak tua. Ranting kecil yang tak sengaja kau injak tadi sudah cukup untuk menggelitik telingaku." ucap Sung Han masih dalam kuda-kudanya. Lalu dia berkata lagi setelah memasang kuda-kuda menyerang. "Siapa engkau?"


Kakek yang bukan lain adalah Burung Walet hitam itu tersenyum. Dalam hati dia harus mengakui keunggulan Sung Han dan dia kagum sekali.


"Orang-orang memanggilku, Burung Walet Hitam. Aku datang untuk bicara denganmu, anggap saja satu tendangan tadi sebagai tanda persahabatan."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2