Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 194 – Asap Hitam


__ADS_3

Diam-diam pasukan Jeiji itu mengutuk keputusan yang diambil oleh Tok Ciauw. Jenderal ini terlalu banyak mimpi, pikir mereka.


Dengan adanya pewaris Pedang Gerhana Bulan, dan berbagai macam pendekar sakti itu, mana mungkin mereka dapat menangkan pertempuran? Kalaupun menang, pasti akan makan banyak sekali korban. Dan agaknya itu tidak mungkin.


Diam-diam barisan yang jauh dari jenderal itu memandang tajam penuh kemarahan. Namun tak ada alasan bagi mereka untuk menolak perintah seorang jenderal. Sehingva dengan terpaksa mereka pun mencabut katana untuk memyiapkan kuda-kuda. Bendera dikibarkan tinggi-tinggi, merupakan tanda siap tempur.


"Kami sudah siap!" seru jenderal Suga digagah-gagahkan untuk menutupi rasa jerinya. Dia pun mencabut pedang katananya.


"Heh....lakukan seperti biasa..." gumam topeng emas itu perlahan saja. Namun dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga semua orang mampu mendengar.


"Bress....bress....bress...."


Terdengar ledakan-ledakan di berbagai macam penjuru, kemudian membumbung asap hitam yang makin lama makin tebal.


"Bergerak mundur perlahan, di belakang belum tertutup asap!" perintah jenderal Suga yang mencoba untuk lepas dari kurungan asap.


Akan tetapi ketika pasukan perlahan bergerak mundur, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu terdengar ledakan-ledakan. Kiranya ada seorang pendekar yang bergerak cepat sekali menyebar bom asap di belakang barisan Jeiji itu. Saat ini, posisi mereka benar-benar terdesak.


"Sial...formasi melingkar!"


Pasukan Jeiji mulai membentuk formasi pertahanan. Sama seperti sebelumnya, barisan melingkar berlapis dengan pasukan pemanah berada di lingkaran terdalam. Sedangkan para ronin menyesuaikan, mereka berdiri siaga di sekeliling barisan lingkar itu.


Ini merupakan cara tempur paling efektif milik Serigala Tengah Malam dan selama ini jarang ada orang yang mampu mematahkannya. Strategi ini merupakan perang gerilya.


Biasanya strategi ini dilakukan di malam hari, dengan mengandalkan gelapnya malam, mereka bisa bersembunyi di balik pohon-pohon. Akan tetapi karema hari masih siang, maka mereka harus menggunakan bom asap itu untuk membutakan lawan.


Strategi ini sedikit pengecut, karena mengharuskan pasukan Serigala Tengah Malam bergerak cepat di balik bayangan lalu mencari titik buta lawan untuk kemudian dibunuhnya. Sebuah strategi yang cerdik dan ampuh sekali.

__ADS_1


Agaknya pasukan Jeiji belum mengenal strategi ini, maka baru saja mereka membentuk baris lingkar, dari balik asap-asap itu meluncur hujan panah yang banyak sekali. Mengarah pasukan panah Jeiji.


"Akkhh....aahhh!!!"


Terdengar teriakan-teriakan nyaring menyanyat begitu barisan paling dalam itu mulai jatuh satu per satu. Para samurai dan ronin menjadi panik karena pasukan yang diandalkan, berupa pasukan panah, malah sudah punah duluan.


"Siasat yang bagus! Tapi pengecut sekali!!" Tenko memanas-manasi agar musuh sudi menampakkan diri. Akan tetapi tentu saja sebagai orang-orang golongan hitam, seruan ini tak dihiraukannya.


"Maju!" ucap sebuah suara yang tak asing bagi mereka. Pimpinan pendekar Chang.


Seketika, dari lima penjuru di sekeliling pasukan Jeiji itu, menyerbu lima orang yang paling ditakuti dari awal. Mereka ini adalah Sung Han, Kay Su Tek, topeng emas, Bo Tsunji dan Yu Fei.


Namun yang membikin mereka makin jeri dan gemetaran adalah, adanya dua pusaka pedang gerhana yang dipegang oleh topeng emas dan Kay Su Tek. Juga dua orang lainnya membawa senjata yang mereka duga tentu pusaka ampuh pula.


Hanya Sung Han seorang yang nampak empuk karena bertangan kosong. Bagi mereka yang belum mengenal, cepat menggerakkan pedang menyambar tubuh Sung Han.


"Mari berkenalan dengan pendekar Chang!" seruan Sung Han begitu menggelegar. Walau dia benci mengakui sekutunya itu adalah para pendekar, namun dihadapan musuh negara, tak apalah.


Dengan tangan kosong, Sung han menerobos ke tengah barisan dan mengamuk.


"Walah!!....eiitt....waahh!!"


Teriakan-teriakan panik dari jenderal Suga yang sibuk berkelit ke kanan dan kiri itu mengecilkan semangat pasukan Jeiji. Karena mereka melihat betapa jenderal itu sama sekali tidak bisa membendung serangan-serangan dari topeng emas yang memegang Pedang Gerhana Matahari.


"Pemimpin lawan pemimpin...hehehe...." terdengar kekehan si topeng emas.


Di sisi lain, Yu Fei si Pedang Darah dan Bo Tsunji dengan Tongkat Besi Hitam menggempur barisan ronin yang dipimpin oleh Tenko. Sedangkan Kay Su Tek menyerang secara acak. Kadang ke sayap kanan, kadang ke sayap kiri, kadang juga tak nampak.

__ADS_1


Terdengar suitan satu kali dan lima orang sebagai penyerang pembuka ini mundur bersembunyi di balik kabut asap. Disusul terjangan puluhan orang pendekar yang sudah menanti sejak tadi.


Inilah siasat paling diandalkan oleh Serigala Tengah Malam. Dan ini pula yang membuat kekuatan tempur Serigala Tengah Malam cukup baik. Yang membuat barisan pasukan pendekar itu seolah sudah terstruktur sebagaimana pasukan tentara yang memang sudah terbiasa dalam perang terbuka.


...****************...


Cukup jauh dari keberadaan Goa Emas, ada sepasukan kekaisaran yang bergerak cukup cepat. Mereka naik kuda dengan bendera diangkat tinggi-tinggi. Jumlah mereka ada tujuh ratus orang. Dipimpin langsung oleh jenderal Tang Lin yang berdiri di garis depan.


Atas perintah tuan putri Chang Song Zhu, dimana menurut laporan salah seorang penyelidiknya, terdapat armada kapal perang di laut dataran Chang sebelah utara.


Begitu dilihat melalui teropong, kiranya mereka adalah armada kekaisaran Jeiji. Melihat armada kekaisaran lawan berada di pantai utara, sudah jelas ke mana arah sasarannya. Pastilah Goa Emas keramat yang bahkan pihak kekaisaran Chang sendiri tak berani main lancang.


Setelah dilaporkan kepada tuan putri, maka perempuan itu melaporkannya kepada kaisar. Setelah mendapat ijin, dia mengutus jenderal Tang Lin untuk memimpin pasukan mendatangi Goa Emas. Langsung membawa banyak pasukan sekaligus untuk antisipasi jika saja terjadi pertempuran.


Jenderal Tang mengangkat tangan ke atas. Pasukan pun berhenti. Dia menggapai salah seorang bawahannya, "Bawa dua puluh pasukan dan selidiki keadaan di sana." katanya yang diangguki oleh orang itu, kemudian dia berseru lagi, "Turunkan bendera! Jangan sampai menarik perhatian lawan!"


Saat pasukan dua puluh orang itu pergi ke arah Goa Emas yang sudah nampak dari sini, nampak asap-asap hitam mengepul di sekitar goa itu. Melihat ini firasat jenderal Tang mengatakan bahwa terjadi hal yang tidak baik, maka dia berteriak sambil mengerahkan tenaga dalam.


"Mundur!! Kembali kalian!!!"


Dua puluh orang itu kembali lagi dengan wajah bingung. Sebelum pimpinan rombongam bertanya, lebih dulu jenderal Tang menyela.


"Sudah terjadi pertempuran. Agaknya begitulah. Lebih baik kita menyusul ke sana dengan kekuatan penuh."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2