
"Pedangku dicuri, tapi tak mengapa, itu masalah mudah."
Sung Han bicara terlalu santai dan ini benar-benar membingungkan hati Yang Ruan. Jika saja pedang itu bukan pedang gerhana, maka dia tak akan merasa begitu terkejut.
"Kenapa kau tenang-tenang saja saat pedangmu dicuri. Itu pedang gerhana."
Sung Han tak membalas dan hanya tersenyum.
Saat ini, keduanya sedang dalam perjalanan menuju markas Naga Hitam. Menuruti keinginan Sung Han, maka Yang Ruan akan mengembalikan sepasang kipas pusaka itu. Dia pun setuju dengan hal ini karena sudah tidak membutuhkan barang itu lagi.
Niat awal dia mencuri benda ini adalah untuk menjadi kuat agar bisa menyamai kepandaian Kay Su Tek. Tapi kenyataan telah membuktikan kalau lelaki itu sudah tidak dapat diharapkan lagi, sungguhpun dia masih berharap.
Ditemani dengan Sung Han, rasa sakit hati gadis ini menjadi sedikit terobati. Sung Han pun juga cukup cerdik. Dia tak bisa melihat gadis itu selalu murung setiap saat. Tapi dia pun tahu perasaan gadis ini amatlah lembut.
Maka dengan usil, dia mencoba melukai bagian dalam tubuhnya sendiri sampai membuatnya muntah darah. Dia berkata jika itu adalah akibat serangan Kay Su Tek yang telah melukai organ dalamnya dan belum sembuh. Hal ini dilakukan agar menarik perhatian Yang Ruan supaya dia terlena dengan kedukaannya. Dan ini memang berhasil.
Yang Ruan dengan penuh kekhawatiran dan telaten, mengobati Sung Han tanpa rasa keberatan sedikit pun. Sung Han menjadi kagum akan hal ini dan maklum bahwa Su Tek bisa jatuh cinta pada gadis ini.
Tapi pada suatu ketika, dia benar-benar hampir mati akibat ulahnya sendiri. Ketika dia hendak meremas jantungnya sendiri dengan tenaga dalam, dia meremas terlalu keras. Dan jika dia tak cepat-cepat membuyarkan konsentrasinya, bisa jadi jantungnya itu pecah dan dia mati betulan. Saat itu Yang Ruan berlaku keras kepada Sung Han. Dia tidak membolehkan Sung Han pergi walau satu langkah pun untuk keluar dari goa tempat di mana mereka istriahat waktu itu.
"Nah, kita sudah sampai. Ingin kau kembalikan ke tempat semula?" tanya Sung Han ketika tembok markas Naga Hitam sudah terlihat.
"Ya, ayo ikut aku!"
Yang Ruan mulai melompat-lompat dari pohon ke pohon. Ternyata tempat itu tidak berada di dalam markas, lebih tepatnya ke satu tebing yang terletak beberapa ratus meter dari markas Naga Hitam.
Setibanya di tebing itu, Yang Ruan berjalan menuju ke salah satu goa. Ketika keduanya masuk, mereka terkejut saat ada seseorang di dalam sana sedang duduk bersila melakukan meditasi.
Merasa ada orang yang datang, orang ini lekas bangkit dan memasang sikap waspada. Namun sebentar kemudian dia makin waspada dan sikapnya siap menyerang.
"Sung Han, apa yang kau lakukan di sini. Dan siapa nona ini?"
Sung Han memandang orang itu penuh perhatian, matanya memicing dan ucapannya sengit sekali, "Memang aku kambing hitam, tapi kuperjelas kepadamu selaku ketua Naga Hitam. Aku bukan penculik tuan putri, maka dari itu janganlah memasang sikap kurang menyenangkan begitu!!"
Orang itu memang Gu Ren. Dia baru saja pulang dari mengantar tuan putri Chang Song Zhu ke ibukota. Baru pulang selama beberapa jam dan dia bermeditasi di tempat tersembunyi tempat menyimpan pusaka sepasang kipas itu.
__ADS_1
"Ini bukan soal Sung Han, aku tak tahu urusan apa di antara kalian, namun aku hendak mengembalikan barang." kata Yang Ruan yang mencoba menghentikan dua orang yang sudah hendak saling terjang itu.
Tanpa menunggu jawaban dari Gu Ren, dia melemparkan kipas bersama kitab ilmu Gelombang Ombak Samudera.
Gu Ren melongo melihat pusaka dan kitab itu yang cepat ditangkapnya. Dia memandang Yang Ruan dengan tatapan tak percaya.
"Jadi kau yang mengambilnya?"
Yang Ruan mengangguk, "Ya, aku nona muda Perguruan Putri Elang. Yang Ruan." dia sudah menjura hormat.
Mau tak mau Gu Ren menghormat pula, "Aku Gu Ren, ketua Naga Hitam." setelah itu, Gu Ren memandang Sung Han dan berkata lagi, "Nona, urusan ini sudah kumaklumi dan kuanggap tak ada karena anda sudah mengembalikan dengan semestinya. Utuh tanpa kekurangan. Namun harap anda jauh-jauh dari dia, karena dia dicurigai sebagai pemberontak!"
Saat Sung Han dituding dengan ujung telunjuk itu dia merasa jengkel sekali. Hendak dia membantah dan mencari pembelaan diri. Namun ketika dia melihat Yang Ruan yang hanya diam, dia kehilangan semua materi bantahannya.
"Nona Yang....?" Sung Han bertanya heran.
Gadis itu menoleh dan tersenyum. Sung Han harus bersyukur untuk melihat senyum itu.
"Itu urusan antara anda dan Sung Han. Yang jelas, bagiku Sung Han adalah sosok terbaik di dunia ini. Sebaik-baiknya orang yang pernah kutemui selain ibuku." setelah mengirim senyum singkat ke arah Gu Ren, dia berbalik pergi.
Gu Ren melongo mendengar ungkapan itu. Tapi dia menjadi panas hati saat Sung Han meliriknya dengan senyum mengejek dan percaya diri. Ia pergi dengan dada membusung untuk mendongkolkan hati Gu Ren.
Gadis itu tak menjawab, masih terus berjalan. Raut mukanya datar tanpa ekspresi. Mendengar pertanyaan Sung Han, dia bahkan berjalan lebih cepat.
"Non Yang?" bingung Sung Han akan sikap gadis itu.
Gadis itu berjalan makin cepat, bahkan setengah berlari. "Nona Yang!" sentak Sung Han yang sudah mengahalangi jalannya.
Yang Ruan cemberut dan menatap ke arah lain, "Apa itu nona-nonaan? Panggil aku dengan nama, seperti kau tak mengenalku saja. Atau apakah kau ingin agar aku kembali menghadap ketua Naga Hitam dan mengatakan jika tadi aku salah bicara?"
"Wuah!" kaget Sung Han mendengar alasan aneh itu. Sampai sini makin bingunglah dia dengan sikap gadis-gadis muda.
"Yang Ruan, mengapa kau tadi membelaku?"
Hampir pingsan Yang Ruan mendengar itu. Dia mengharap kalau Sung Han akan berkata malu-malu untuk memanggil namanya. Tapi ternyata, pemuda itu bicara wajar tanpa dibuat-buat.
__ADS_1
Dia batuk beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya. Kemudian menjawab, "Mengapa, kau tak suka mendapat pembelaan dariku?"
Sung Han miringkan kepala sambil menatap heran, "Kau lebih percaya terhadap aku, seorang miskin sebatang kara yang tidak jelas asal-usulnya, dibandingkan Gu Ren seorang ketua partai besar?"
"Siapa yang kupercaya atau tidak, itu tergantung kemauanku!" balas Yang Ruan tegas.
Dia masih melihat raut keheranan di wajah
Sung Han. Cepat-cepat dia datang mendekat dan memandang sepasang mata ber iris kuning itu dengan tajam.
"Sung Han, apakah kau merasa tidak puas akan pembelaanku tadi?"
"Wah, justru aku puas dan bangga sekali mendapat perhatian dari seorang nona partai besar." balas Sung Han sejujurnya.
Yang Ruan tersenyum, ia memegang kedua tangan Sung Han, "Sung Han, percayalah, baru dua kali aku bisa percaya terhadap seorang lelaki, apalagi sosok pemuda. Pertama adalah Kay Su Tek, dan kedua adalah dirimu. Sekarang, hanya engkaulah satu-satunya orang lelaki yang dapat kupercaya di dunia ini. Aku jujur soal ucapanku, kau memang sebaik-baiknya orang yang pernah kutemui."
Sung Han makin heran, dia memandang tangan Yang Ruan yang menggenggamnya erat. "Kay Su Tek itu tunanganmu, dan sekarang hanya aku yang kau percayai? Apakah kau sudah tidak percaya kepada Kay Su Tek lagi? Semudah itukah kau melupakan cintamu itu?"
Yang Ruan memandang terbelalak, wajahnya memucat. Tapi buru-buru ia lebarkan senyum dan mengeratkan pegangannya ke tangan Sung Han. "Sung Han, seharusnya aku yang bersyukur untuk bertemu dengan sosok sebaik dirimu. Aku–"
"Kau tak bersyukur bertemu Kay Su Tek?"
"Dengar dulu!!" dia mencengkeram tangan Sung Han. Lalu melanjutkan lagi, "Aku terlalu....terlalu....terlalu kotor untuk bisa berhadapan denganmu. Untuk pertanyaanmu, mengapa aku mudah melupakan cintaku....itu...belum waktunya kau tahu, lain kali pasti akan kuceritakan jika masih berumur panjang. Yang jelas, sekarang aku bersumpah, apa pun yang terjadi, kau akan selalu kuingat."
"Mengapa kau bisa seyakin itu padaku?"
"Karena kau orang baik..." Yang Ruan kembali tersenyum.
Justru Sung Han mengerutkan keningnya, teringat akan perkataan Bu Cai yang sama persis dengan ucapan Yang Ruan. Dia tak menjadi senang, justru malah merasa terbebani dengan itu.
Akhirnya dia menjawab, "Kau pandai main drama."
"Sialan kau!"
"Ahh...sifat aslimu kelihatan."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG