Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 235 – Kita Semua Sahabat


__ADS_3

Pangeran Chang Song Ci semakin marah ketika mendengar pula akan kematian Yu Fei dan Bo Tsunji. Lebih berang lagi saat mengetahui bahwa pembunuh itu adalah Hok Liu, salah satu pengawal pribadinya yang baru.


Sebelumnya, dia sudah menaruh harapan besar terhadap Hok Liu, Xian Fa dan Han Ji. Tiga orang muda yang menurut pengawas memiliki kepandaian tinggi sekali. Bahkan empat orang penguji dibikin roboh hanya oleh satu orang.


Dia merasa semakin berbesar hati selama memiliki tiga orang itu. Karena dengan demikian, tingkat keberhasilan untuk ambisinya semakin besar. Yaitu menggulingkan tahta.


Sebenarnya semuanya sudah siap, pasukan tentara dan pasukan pendekar dari Serigala Tengah Malam tinggal menunggu perintah darinya untuk menyerbu kota raja. Namun pangeran Song Ci mencari waktu yang pas. Kali ini pasti kota raja sedang ketat-ketatnya karena juga sadar akan ancamannya. Dia berencana untuk menyusupkan satu dari tiga pengawal pribadinya itu untuk menghasut orang istana.


Tapi tanpa diduga-duga, salah satunya justru malah menjadi pengkhianat.


Pangeran Song Ci memutuskan untuk kembali ke istananya. Dia memberi perintah dengan membentak-bentak tanpa memberitahu apa alasan sesungguhnya tiba-tiba dia minta pulang. Tapi tentu saja semua orang sudah tahu apa alasannya. Sehingga kunjungan yang seharusnya tiga hari, kini menjadi dua hari.


Selama di perjalanan, Xian Fa dan Han Ji tak banyak bicara. Mereka memasang wajah marah seolah mendendam teman mereka yang berkhianat itu. Padahal ini hanya sekadar sandiwara yang cukup membuat pegal wajah keduanya.


Setibanya di istana, pangeran segera mengurung diri di kamarnya. Tenggelam dalam pelukan selir-selir yang cantik dan melupakan segala urusan yang baru menimpanya itu. Dan sampai beberapa hari kemudian, Xian Fa dan Han Ji cukup senang karena saking marahnya, pangeran itu tak pernah keluar kamar. Ini juga meresahkan para tentara yang khawatir bahwa Hok Liu itu adalah utusan sang putri.


Akan tetapi pangeran itu tak ambil peduli. Dia sudah terlalu sombong dan terlena. Menganggap bahwa dua pengawal pribadinya, Xian Fa dan Han Ji dapat mengatasi orang-orang pandai suruhan sang putri. Kecuali memerintahkan untuk memperketat penjagaan Kota Daun, selebihnya ia hanya menyusun ulang rencana di dalam pelukan para selir.


Dan itu merupakan petaka besar baginya.


Pada suatu malam, ketika Xian Fa dan Han Ji yang tak ingin diganggu sehingga harus bersandiwara untuk "tidur bersama", dikejutkan oleh suara ketukan jendela.


"Siapa?" tanya Xian Fa.


"Gu Ren," jawab suara dari luar.


"Gu Ren mampu membukanya tanpa perlu kubuka dari dalam," jawab Xian Fa sekaligus ingin memastikan benar tidaknya sosok di luar itu adalah Gu Ren.


Hening beberapa saat lamanya, sebelum tiba-tiba genteng terbuka dan seperti burung raksasa, Gu Ren hinggap di lantai tanpa menimbulkan suara.


Xian Fa sudah hendak memprotes, namun Gu Ren lebih dulu menyela. "Maaf, aku tak mau membuat keributan dengan menjebol jendela itu," katanya. Dia lalu memandang Han Ji yang tiduran di ranjang. "Oh, maaf, apakah aku sedang mengganggu kesenangan suami istri?"


"Kami belum jadi suami istri, kami hanya tak ingin diganggu dengan para pengawal lain!" balas Han Ji hampir tanpa jeda. Seolah jika tidak segera dijawab, Gu Ren akan mengartikan lain.


"Ah, akhirnya kau setuju? Kau mengatakan belum, berarti suatu saat nanti pasti, kan?" ujar Xian Fa dengan mata berbinar.


Han Ji memelototinya. Dia lebih tertarik terhadap kedatangan Gu Ren itu. "Ketua Naga Hitam sampai repot-repot datang ke mari, ada apakah?"


Gu Ren teringat akan urusannya dan dia cepat mendekat, duduk di tepi ranjang untuk bicara dengan berbisik. "Pasukan paduka putri sudah mengepung Kota Daun. Aku ingin bantuan kalian untuk membuka gerbang dari dalam agar tidak menimbulkan keributan."


Han Ji duduk dan merapihkan bajunya. "Jangan bercanda, penjaga gerbang tidak sedikit."

__ADS_1


"Aku akan membantu," jawab Gu Ren.


"Itu terlalu berisiko kalau hanya kita bertiga. Walau mungkin kita bisa menumpas semuanya, kau tak memikirkan penjaga yang dekat lonceng? Bagaimana jika dia sudah memukul lonceng lebih dulu sebelum tugas kita selesai?"


"Lalu bagaimana dengan barisan pemanah di benteng?" sahut Han Ji.


"Apakah kalian punya pemanah jitu?" sambung Xian Fa.


Gu Ren mengangkat tangannya, memberi isyarat agar keduanya diam lebih dulu. "Tenang ... tenang ..., biarkan aku bicara." Gu Ren lalu membuka buntalan yang dibawanya dan menunjukkan isi dari buntalan tersebut. Sebuah seragam penjaga. "Aku akan menyamar sebagai penjaga. Aku akan menyerang lonceng di gerbang barat dan aku akan pura-pura mati sebagai salah seorang penjaga yang dibunuhmu. Sehingga kalian bisa fokus untuk menghabisi barisan anak panah. Jika ada orang yang mendekati lonceng, mereka tak akan mengira ada orang hidup di sana."


Xian Fa dan Han Ji mengangguk-angguk bersamaan. Han Ji mengamati pakaian itu lebih teliti lalu baru menyadari akan sesuatu. "Bercak darah? Dari mana kau dapat itu?"


"Aku baru menerbangkan nyawa seorang penjaga barusan," jawab Gu Ren santai. "Nanti jika pakaianku bersih, itu terlalu mencurigakan."


Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Xian Fa. "Bagaimana, kau setuju?"


Xian Fa mengerutkan keningnya. Perasaannya sungguh tidak enak dan dia ingin sekali untuk menentang ini. Perang ini sama artinya dengan perang saudara, sehingga sama saja melemahkan kekuatan kekaisaran. Ibarat seseorang yang menyanyat-nyanyat tubuhnya sendiri.


"Sejujurnya, aku ingin agar pangeran itu dibunuh saja dan para tentara ini digunakan untuk memerangi kekaisaran lawan."


Han Ji menatapnya tak percaya. "Selama ini kau tak terlihat berpikir begitu!"


"Tapi kau harus ingat Sung Han," potong Gu Ren. "Ada kalanya seseorang dengan terpaksa sekali harus memotong bagian tubuh berpenyakit supaya penyakit itu tak menyebar ke seluruh badan."


Han Ji mengangguk-angguk, dan Xian Fa dapat melihat kebenaran itu. Maka tak ada pilihan lain, dia terpaksa untuk menyetujui.


"Sudah ada kepastian berapa jumlah total pasukan penjaga gerbang?" tanya Xian Fa.


"Sekitar lima puluh orang. Tiga puluh orang merupakan pasukan anak panah di atas benteng. Sepuluh orang penjaga di gerbang bawah, dan sepuluh lagi berpatroli di sekitaran benteng.


"Kita habisi pasukan panah lebih dulu. Karena jika kita menghabisi orang-orang yang di atas, dua puluh orang yang di bawah tak akan menyadari," usul Xian Fa. "Bagaimana?"


"Sepakat!" jawab Gu Ren.


"Kalau begitu, ayo!"


Gu Ren segera berganti pakaian dan mereka bertiga segera menuju ke gerbang barat. Di tengah-tengah perjalanan, Gu Ren mengatakan sesuatu yang membuat Xian Fa dan Han Ji terkejut.


"Bagaimana kalau kita membangkitkan Raja Dunia Silat?" celetuk pria tersebut.


Sontak dua muda dan mudi itu memandang aneh padanya. "Apa maksudmu?" Xian Fa bersuara.

__ADS_1


"Hahaha, tidak, hanya berangan-angan saja," kata Gu Ren. "Tapi setidaknya malam ini kita berlima, para pewaris pusaka keramat, dapat bekerja sama. Hahaha, darahku mendidih!"


Xian Fa mengerutkan kening, juga Han Ji memandang curiga. Namun sebelum mereka dapat memahami situasi, dari kanan dan kiri nampak bayangan yang cepat sekali, tahu-tahu telah mengikuti mereka dari belakang.


"Dua mantan pemberontak, apa kabar?" Nie Chi menyapa riang.


"Nona Han Ji? Ah ..., atau sebaiknya kupanggil nona Sung Hwa?" Khuang Peng ikut bersuara.


Sontak Xian Fa dan Han Ji menghentikan langkah. Pedang gerhana sudah tercabut dan sikap mereka kereng.


"Apa-apaan ini?" bentak Xian Fa. "Jangan kau menjebak kami!" tukasnya kepada Gu Ren.


Lelaki itu tersenyum sabar, makin mirip dengan gurunya. "Aku sudah menjelaskan semuanya dan tuan putri percaya. Jika tuan putri percaya, apa alasan kami untuk tak memercayai pula?"


"Itu hanya cerita soal Sung Hwa yang memang tak pernah dianggap sebagai pemberontak oleh tuan putri. Aku lain ceritanya!"


"Tentu saja aku juga menceritakanmu," jawab Gu Ren. "Kita semua sahabat."


Xian Fa memandangi mereka satu per satu. Dia belum percaya sepenuhnya sebab bagaimanapun juga, orang-orang ini dulu merupakan orang pertama yang menganggap dia sebagai pemberotnak. Sehingga tentu saja dia belum terlalu percaya.


Apalagi dengan keberadaan Han Ji atau Sung Hwa, sungguh dia tak mau membahayakan nyawa gadis itu.


"Tak seharusnya kita saling bertengkar," kata Nie Chi.


"Aku yang seharusnya bicara begitu!" balas Xian Fa sengit. "Bukankah kalian ini yang menjadi penyebab aku dianggap sebagai pemberontak?!"


Nie Chi tak mampu menjawab. Akan tetapi Gu Ren memberikan jawaban yang masuk akal.


"Jenderal bertopeng itu ternyata bukanlah jenderal. Sejak kematian mereka di tanganmu waktu itu, aku yakin bahwa mereka berdua memanglah kaki tangan pangeran itu. Sehingga ketika dahulu kala, mereka pasti tahu sesuatu mengapa sang putri lupa ingatan dan membuat beliau menuduhmu sebagai pemberontak. Nah, kau sudah tak merasa penasaran lagi sekarang?"


Xian Fa menatap Han Ji, seolah minta persetujuan. Dan Han Ji tersenyum lalu menjawab. "Kalau mereka mengkhianatimu, aku bersumpah akan berada di pihakmu. Walaupun harus kehilangan nyawa sekali pun. Percayalah ...."


Xian Fa tak bisa menahan senyumnya. Hatinya meleleh melihat senyum dan mendengar suara halus merdu itu. Tiba-tiba sikapnya berubah, yang sebelumnya garang bagai naga mengamuk, kini cengar-cengir menunjukkan deretan giginya.


"Kau memang calon istriku yang baik."


Sekali ini Han Ji sama sekali tak mendebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2