
Apakah mungkin seorang pangeran Chang Song Ci yang cerdik dan licik itu hanya menggunakan pasukan panah yang sudah bersiap itu untuk menjebak lawan? Hanya untuk menjebak lawan?
Agaknya bukan sepenuhnya benar. Seperti yang dikatakan Bo Tsunji sebelumnya, tiga orang anggota baru itu belum bisa terjamin
kesetiaannya. Apalagi Sung Han yang sejak
awal memang selalu terlibat bentrok dengan
mereka. Sekarang ini dia sudi membantu tentu ada apa-apa. Tapi betapapun juga, diam-diam pangeran itu memuji keberanian bocah ini yang datang ke tempat lawan seorang diri saja.
Untuk Kay Su Tek, dia pun menaruh curiga
terhadap ketua golongan sesat itu. Dia telah
menghancurkan perguruannya. Walau sudah
berhasil membujuknya, namun tak menutup
kemungkinan jika pemuda itu suatu saat akan berbalik melawan karena dia memiliki pasukan pendekar yang cukup banyak.
Jujur saja sejatinya topeng emas hanya percaya penuh kepada Burung Walet Hitam jika dibandingkan dengan dua orang lainnya. Selain kakek itu yang telah menunjukkan kesetiaan dengan berbagai jasanya, juga entah kenapa firasatnya mengatakan hanya kakek inilah yang boleh dipercaya di antara tiga anggota baru tersebut.
Dan semua kecurigaan serta siasatnya harus berakhir sia-sia dengan adanya majikan Goa
Emas, Tok Ciauw.
Sebelumnya dia menyiapkan pasukan ini untuk siap sedia jika antara ketiganya ada yang berperilaku memberontak, dia sendiri dapat turun tangan melakukan pemberesan. Namun tanpa setahunya sendiri, kiranya Iblis Peti Goa Emas itu sudah menanti di sana sejak awal. Itu hanya mengartikan jika kakek itu sudah dapat mengetahui siasatnya!
“Sekarang kita hanya mampu melihat.”
Akhirnya Chang Song Ci berkata dengan nada lirih. Bagaimanapun juga, untuk menghadapi
tengkorak peti itu, akan memakan banyak
korban jika nekat.
Bo Tsunji mentap peti hitam yang sejak tadi
belum bertindak, “Agaknya dia tidak berniat
mencampuri pertempuran itu.”
“Itu hanya mengartikan jika dari bawah sana dia mengawasi kita dan akan langsung turun tangan jika kita hendak mencelakakan ketiganya sesuai rencana awal,” terdengar topeng emas menghela napas, “walau menurut dugaanku, peti itu berada
di sana adalah karena Sung Han.”
“Kurasa juga begitu,” Naga Bertanduk
menimpali. “Entah bagaiman dua orang itu
sudah saling kenal dan Tok Ciauw amat
menaruh muka kepada pemuda itu. Bahkan kepada kita sendiri pun, dia tak pernah sehormat itu,” Naga Bertanduk mencibir sedikit kesal.
Pangeran itu menghela napas beberapa kali.
__ADS_1
“Sekarang sudah jelas, tak ada lagi yang bisa
kita lakukan selain menunggu di sini dan
bertindak jika ada yang berhasil lolos.”
...****************...
Sementara itu di dalam petinya, sesuai perkiraan pangeran Chang Song Ci tadi, sejatinya Tok Ciauw tidak terlalu memerhatikan jalannya pertandingan. Karena selain sulit untuk melihat dari dalam peti, juga keadaan petinya ini hanya membolehkan ia memandang ke atas. Penutup kaca yang berada di depan wajahnya hanya bisa
digunakan untuk memandang ke atas.
Dan sesungguhnyalah kakek ini sudah merasa curiga dengan topeng emas. Dia merasa pasti akan memanfaatkan penyerbuan para ronin itu untuk mengambil tindakan terhadap Sung Han dan Kay Su Tek. Jika saja keduanya menampakkan sikap memberontak, maka pasukan panah dan para pendekar itu pasti akan langsung bergerak.
Sementara itu pertempuran terus berlangsung amat serunya. Baik Sung Han dan dua orang lainnya sudah tahu akan kedatangan topeng emas. Namun antara dirinya dan Walet Hitam terus melakukan pertukaran jurus hingga dari
atas sana terdengar suara seseorang.
“Hei kalian orang-orang bodoh! Mengapa saling gempur antar kawan sendiri? Musuh disekeliling tak lekas bersihkan, apa kalian mengharap kami datang dan membereskannya?”
Dua orang ini menoleh ke atas dan nampak Yu Fei yang berjongkok sambil membawa pedang darah curian. Keduanya menggereng jengkel.
“Turun ke mari dan buktikanlah omonganmu! Kau kira aku takut jika kau berpihak pada
mereka dan mengeroyokku?” Sung Han
membentak.
Yu Fei mengerutkan kening, “Hei, aku tak
bicara demikian. Mengapa kau berpikir—”
“Jangan terperdaya oleh musuh. Kalian telah di adu domba.”
Terdengar suara serak-serak basah yang cukup mengerikan. Namun ucapan itu dikeluarkan dengan halus dan tenang. Serentak keduanya menoleh ke arah peti yang sudah bersandar di dinding.
Enam orang yang sebelumnya mengeroyok Sung Han dan Burung Walet Hitam menoleh pula dan wajah mereka pucat.
“Siapa yang mengangkat peti itu?” tanya salah satu dari mereka dengan tubuh yang mulai menggigil.
“Entah,” jawaban ini merupakan pemicu rasa
jeri di hati kawan-kawannya, “Setan kah? Siapa lagi?” dia berkata lagi, wajahnya makin pucat.
Namun pada saat itu, Sung Han dan Walet
Hitam yang sudah mengetahui siasat musuh
sudah menerjang dengan dahsyatnya. Sung Han segera mengerahkan tenaga dari ilmu Tapak Panas Inti Matahari yang mengeluarkan hawa panas luar biasa. Sedangkan Walet Hitam dengan bantuan kecepatan tubuhnya yang bagai orang pandai terbang itu, telah mengerahkan tenaga yang dingin sekali.
“Mampuslah!!!” seru keduanya bersamaan
dan…
“Daaarrrrr…”
__ADS_1
Enam orang itu terpelanting ke sana-sini. Dua orang yang menerima telak serangan itu tewas seketika dengan tubuh gosong dan membeku. Sedang empat orang lainnya terluka luar dalam dengan luka yang tidak ringan.
Keduanya tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Keduanya menerjang hendak mengirim serangan maut kepada sisa empat orang itu ketika ada bayangan berkelebat dan mereka terdorong kemudian terhuyung-huyung.
“Jangan bunuh mereka,” berkatalah Tok Ciauw yang sudah keluar dari petinya. “Mereka bisa dimintai keterangan."
Pertarungan Sung Han bersama Burung Walet Hitam telah mencapai puncaknya dengan kemenangan berhasil diraih mereka berdua.
Namun di sisi lain, terlihat Kay Su Tek yang
sedang melawan seorang ronin kenamaan
bernama Kushinage Tenko masih berlangsung amat serunya. Akan tetapi agaknya saat ini Kay Su Tek sudah menjadi pihak yang mendesak.
Tenko bukan seorang yang bodoh dan kurang pengalaman. Justru sebaliknya, sudah banyak para pendekar pedang di Jeiji sana yang sudah mampu ia tundukkan di bawah bilah pedangnya. Maka kali ini dia sudah dapat menduga, pastilah Kay Su Tek itu hendak menangkapnya hidup-hidup.
Sejak awal dia sudah merasa curiga, mengapa pedang pusaka ampuh seperti Sepasang Pedang Gerhana tidak mampu mengalahkan katananya.
Walau katana miliknya juga termasuk ke dalam pedang pusaka, namun jika dibandingkan dengan pedang gehana tentu beda sekali selisihnya.
Dan dia berpikir pasti pendekar muda ini sedang menahan diri. Maka dari itulah menginjak jurus keseratus tiga puluh, dia hanya main mundur dan bertahan.
“Sial!” umpatnya begitu melihat dari atas sana sudah nampak banyak orang yang bergerak turun. “Aku harus segera menyelesaikan ini,” gumamnya dengan mata jelalatan mencari celah untuk melarikan diri.
“Trangg…..”
Pedang Kay Su Tek yang sebelumnya menebas pundak kanan berhasil ditangkisnya. Sekali ini getaran akibat benturan pedang itu membuat tangannya panas kesemutan. Tahulah jika lawannya ini sudah tidak sabar untuk cepat merobohkan dirinya.
Dia melirik kawan-kawannya dan lawan-lawannya. Terlihat seorang pemuda bermata kuning itu menatapnya penuh perhatian. Namun dia sama sekali tidak turun tangan walau dari wajah nampak jelas keinginan itu. Diam-diam dia memuji kegagahan pemuda ini.
Dia harus lolos, pikirnya.
Jika semua tertangkap, maka siapa yang akan melaporkan semua kejadian ini kepada jenderal Suga? Maka dia mengambil keputusan nekat.
Dia memekik keras dan menubruk ke depan. Katananya diangkat tinggi-tinggi sungguhpun pada saat itu Kay Su Tek melakukan gerakan menusuk.
Terdengar seruan kaget dari mulut Kay Su Tek melihat kelakuan lawannya. Jelas ini merupakan bunuh diri untuk membunuh dirinya pula. Sedangkan dia tak bisa membunuh ronin ini karena diperlukan untuk penyelidikan. Maka secepat kilat dia menarik serangannya dan meloncat ke samping.
“Hyaaahhh…”
Teriaka mengguntur dari Tenko ini dibarengi
dengan asap tebal yang menutupi tubuh
keduanya. Kemudian Kay Su Tek terpaksa harus bergulingan karena dari sana-sini menyambar senjata-senjata rahasia.
“Pergilah… tuan Kushinage!!! Pergi!!!” terdengar seruan dari salah satu ronin yang tertangkap itu.
Kay Su Tek terbelalak. Cepat ia kerahkan hawa sakti dan menyapu bersih kepulan debu itu.
Namun ketika kepulan debu itu telah lenyap sama sekali, sudah tidak ada lagi Kushinage Tenko itu. Bahkan bayangannya telah lenyap dan entah ke mana larinya.
“Jangan dikejar!” seru Chang Song Ci dari kejauhan, “Biarkan, biarkan ini menjadi tanda kepada mereka bahwa kita sama sekali tidak takut!”
Chang Song Ci menghampiri empat orang yang sudah dibelenggu itu. “Lebih baik kita urus mereka.”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG