
Tiga orang yang sudah bangkit berdiri dengan perasaan amat terkejut itu serentak mengerahkan tenaga untuk menajamkan pendengaran. Suara itu tadi jelas terdengar nyata dan bukan hanya halusinasi. Karena nona Han yang berdiri agak jauh pun dapat mendengar jelas.
Sebuah suara yang halus dan jernih, akan amat menyenangkan jika mendengarnya dalam keadaan biasa, dengan nada lembut penuh keramahan. Bukan dengan dingin penuh penekanan.
Setelah suara teguran itu, dari sebelah kanan terdengar suara berkelebatnya seseorang. Kebetulan saat itu adalah letak si penyamar Ratu Elang yang paling dekat, maka dia sudah melompat mengirim serangan jarak jauh berupa kibasan ujung jubah.
"Wuuusss..."
Langsung saja daun-daun beberapa pohon rontok semua. Segala macam rumput dan semak belukar terbang entah ke mana. Namun setelahnya, dia tak nampak satu pun orang di sana.
"Ah, di sana!!" seru penyamar Sung Han yang berada di sebelah kiri, dan sudah mengibaskan lengan menyerang ke kiri.
Kembali angin kencang menyambar, namun ketika serangan itu lewat, tetap tak nampak satu orang pun! Hal ini jelas membuat penasaran mereka bertiga yang segera berkumpul membuat formasi.
"Keluar dan tunjukan dirimu!" bentak si penyamar Rajawali Merah itu.
Tak ada jawaban dari pertanyaan ini. Tiba-tiba saja keadaan di sekeliling mereka menjadi sunyi. Hanya angin semilir yang berhembus pelan-pelan membuat suara berkeresaknya daun-daun pohon dan semak belukar.
Han Fu Ji yang menyadari ketegangan ini, segera mundur jauh untuk bersembunyi di balik sebatang pohon.
Saat itu, matanya tanpa sengaja melihat siluet seseorang di kejauhan. Dia masih belum yakin benar akan penglihatannya, mengira jika itu tentulah seekor burung raksasa. Namun ketika dia memicingkan mata untuk memandang lebih jelas, hampir saja dia terkejut karena itu memang benar-benar manusia.
Pakaiannya serba merah, dari atas sampai sepatunya. Hanya jubah dalam dan celananya saja yang berwarna hitam. Jubah merahnya itu demikian lebar sehingga Han Fu Ji mengira tentu orang ini adalah orang kegendutan. Namun melihat kaki itu, demikian rampingnya! Wajahnya tertutup daun-daun lebat dan bayangan pohon, sehingga dia masih belum mampu memastikan laki atau perempuankah orang itu.
Tiba-tiba, dia menahan jeritanya ketika orang berjubah merah yang sedang bertengger di atas dahan pohon itu menggerakkan kaki dan tubuhnya menghilang. Dia mencari-cari ke sana-sini namun tak kunjung menemukan sosok itu. Hingga satu suara berhasil memecahkan kesunyian menegangkan itu.
"Siapa yang mengaku Rajawali Merah?" tanya suara misterius itu sekali lagi.
Han Fu Ji cepat memandang dan dia terbelalak kagum. Suara itu asalnya dari atas dan kebetulan beberapa tombak di depannya merupakan sebatang pohon tinggi besar. Ketika dia menoleh ke arah puncak pohon yang menjadi sumber dari suara itu, mulutnya terperangah.
Nampak di sana seorang gadis yang cantik sekali. Wajahnya ramping dengan kedua pipi putih halus kemerahan. Matanya tajam laksana mata burung elang. Hidungnya mancung dan mulutnya yang merah tanpa alat rias itu mengandung tarikan yang sedikit angkuh. Namun dari semua itu, dia lah sosok tercantik yang pernah dilihat oleh Han Fu Ji selama ini selain ibunya. Bahkan mungkin gadis itu lebih cantik.
__ADS_1
Rambut yang dikuncir di bagian tengkuk itu berkibar-kibar tertiup angin, demikian pula dengan jubahnya. Tangannya yang bersedekap itu menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak takut dengan tiga oramg di bawah yang kini sudah memandangnya.
"Siapa engkau!?" bentak penyamar Sung Han.
Gadis ini memandang remeh, dia mendengus singkat sebelum melemparkan sesuatu.
"Syuutt!"
Nampak sinar putih berkelebat dan segera ditangkap oleh penyamar Sung Han. Segera dibukalah benda itu yang bukan lain adalah gulungan kertas. Tak lama setelahnya, ketiganya berseru kaget begitu melihat gambar di kertas.
"Akulah orang yang ada di gambar itu. Kukira kalian tetap akan mengenalku walaupun gaya rambutku kini sedikit berbeda dengan di gambar itu." kata si gadis yang ada di puncak pohon.
"Rajawali Merah...." gumam ketiganya memandang kertas buronan itu. Seketika bangkitlah kemarahan mereka. Ternyata teror Rajawali Merah di desa-desa sekitaran sini sudah menyebar sampai ke telinga Rajawali Merah asli!
Si Rajawali Merah palsu membentak, "Akulah yang mengaku Rajawali Merah!"
"Bagus! Berarti kau cari mampus!!" bentak orang itu yang bukan lain adalah Sung Hwa. Sekali kaki bergerak, tubuhnya sudah melayang turun dibarengi serangan kedua kaki yang amat berbahaya.
"Blaaarrr!!"
Bumi tempat di mana rajawali palsu berpijak tadi retak-retak seperti dihantam palu ribuan kati. Membuatnya pecah berantakan. Untung tiga orang itu telah mengelakkan diri ke segala arah.
"Sudah tahu yang asli, tak mengaku nama kalian? Betapa pengecutkah kalian?" bentak Sung Hwa lagi di tengah kepungan tiga orang itu.
"Kami dijuluki Naga Sakti Ujung Timur. Aku Naga Hitam!" kata Rajawali Merah palsu yang memang wajahnya lebih hitam dari dua orang lain.
"Aku Naga Putih!" kata si penyamar Ratu Elang.
"Kau pasti Naga Merah kan!?" tanya Sung Hwa memotong omongan yang menyamar sebagai Sung Han.
"Jangan sok tahu! Aku Naga Angin!"
__ADS_1
"Waduh, tidak ada kaitannya dengan dua naga lain!"
"Hahaha, itu anggapanmu saat ini. Tapi apakah kau akan tetap berpegang pada anggapanmu itu setelah ini!?"
"Akan kulihat!" Sung Hwa menantang. Sikapnya masih memandang sebelah mata dengan kedua tangan bersedekap dada.
"Formasi himpitan dua gunung!" kata Naga Angin memberi komando.
Naga Hitam dan Naga Putih bergerak bersamaan ke kanan dan kiri Sung Hwa. Gadis ini memandang penuh perhatian dengan lirik mata, dia tak berani menggerakkan kepalanya karena takut akan titik buta.
Begitu dua orang ini berdiri di kanan dan kiri, dalam sekali komando, keduanya melesat maju dengan serangan tenaga yang berlainan. Naga Hitam dengan hawa panas dan Naga Putih dengan hawa dingin.
Sung Hwa terpekik, melotot dan kaget juga. Saking kagetnya kuda-kudanya sedikti goyah. Namun cepat ia perbaiki kuda-kudanya dan membuatnya lebih kokoh. Lalu dengan tangan terbentak ke kanan dan kiri, dia menyambut dua pukulan dahsyat itu.
"Blaaarrr!!"
Hawa raksasa beradu di udara, dan betapa tersiksanya Rajawali Merah itu yang dikurung dari kanan dan kiri. Memang Naga Sakti Ujung Timur bukanlah pendekar sejati, namun boleh dianggap penguasaan tenaga dalam mereka sudah amat tinggi hingga hampir menyerupai hawa sakti.
"Hyaaaatt!!"
Naga Angin memekik dan menerjang ke depan. Dengan kedua tangan terbuka, dia menyerang mengarah dada dan ubun-ubun Sung Hwa. Serangan maut ini jelas tak mungkin dia hindarkan karena kedua tangan sedang terkunci oleh dua naga lain.
Diam-diam Sung Hwa mengeluh, namun tak ada pilihan lain untuk saat ini. Ia kerahkan hawa sakti di sekeliling tubuhnya untuk membuat pusaran angin. Begitu Naga Angin mendekat, pusaran angin di sekeliling Sung Hwa makin hebat dan sudah seperti angin badai betulan.
"Haaaaaahhh!!" sekali pekikan nyaring ini, angin berpusing itu makin melebar dan mengeluarkan suara menderu. Saat itu, tiga naga ini terdengar memekik dan terpelanting ke sana-sini dengan darah segar mengalir di ujung bibir.
"Ini baru dimulai!!" teriak Sung Hwa sekaligus memberi tantangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1