
Pedang itu berhenti tepat beberapa senti dari batang leher Sung Han. Kurang sedikit lagi pastilah leher pemuda itu dapat tertembus dalam. Namun bukannya menembusnya, justru pedang itu malah tergetar di tangan sang pemilik. Tangan Sung Hwa yang mencengkeram pedang dengan kedua tangan itu menggigil, sedangkan matanya melotot.
Sung Han yang merupakan seorang pendekar, dia akan merasa malu jika harus menghadapi kematian dengan mata meram. Maka ketika Sung Hwa menyerangnya dengan ganas dan sudah mampu merobohkannya, bahkan dalam sekali gerak saja tak akan dapat dicegah kematiannya, dia tak mau menutupkan mata. Dia sudah bertekad akan melihat bagaimana kelak matinya nanti.
Namun apa yang didapat justru sebaliknya, bukannya kematian, melainkan adalah ujung bilah pedang yang bergetar-getar. Matanya masih memandang penuh perhatian, sama sekali tidak menunjukkan tasa takut.
"Kenapa?" tanya Sung Han setelah sekian lama Sung Hwa tak melanjutkan serangannya. Hanya menindihnya dengan mata melotot dan pedang mengarah leher, "Bukankah aku sudah kalah? Kau pikir aku takut mati?"
Sung Hwa tetap meragu, pedangnya bergetar kian menghebat. Napasnya memburu dengan dada naik turun, mata yang indah itu tak pernah berkedip.
"Kenapa?" kali ini Sung Hwa yang bertanya. Seperti ditujukan kepada diri sendiri, "Kenapa aku tak sanggup membunuhmu?"
"Mana kutahu?" tukas Sung Han tak peduli, "Mau bunuh lekas bunuh! Siapa takut dengan yang namanya mati?!"
Sung Hwa tak menghiraukan ucapan itu, dia lebih bingung dengan keadaan dirinya sendiri. Bukankah selama ini tujuan hidupnya adalah mencari orang ini dan membunuhnya? Kenapa sekarang begitu bertemu, bahkan sudah dapat menangkan dia dalam pertarungan yang adil, justru dia tak mampu untuk membunuhnya?
Apakah dia memang tak mampu membunuhnya? Atau tidak mau? Pertanyaan ini terus mengganggu pikirannya sampai tanpa sadar getaran pedang pada tangannya terus melemah dan akhirnya terdiam. Lalu tak berselang lama pedang itu terlepas dari pegangannya.
"Sung Han, jika kau selamat dari sini, apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana kau membantai orang-orang Hati Iblis?" Sung Hwa bertanya. Kata-katanya tidak mengandung permusuhan atau kemarahan seperti sebelumnya.
"Kau hendak membuat aku selamat dari sini sekarang? Kalau begitu aku akan berhutang budi lagi padamu." jawab Sung Han. Sedikit merasa lega karena agaknya saat ini dia sudah terbebas dari maut. "Kenapa aku harus membunuhmu jika aku selamat? Justru aku harus membalas budimu itu. Kita tak saling bermusuhan."
"Tak saling bermusuhan?" alis Sung Hwa berkedut mendengar itu.
Setelahnya dia mengangkat kepalannya tinggi-tinggi. Sambil mendelik lebar kepada pemuda itu, bentakannya demikian nyaring menggetarkan jantung, "Setelah apa yang kau lakukan terhadap mereka, kau bilang kita tidak bermusuhan!!!!??"
__ADS_1
"Bughh...buaaghh....buggh!!"
Sung Hwa memukuli wajah Sung Han dengan ganas, tak memberi kesempatan pada pemuda itu untuk bernapas. Namun walaupun begitu, dia hanya menggunakan tenaga kasar saja alias tanpa pengerahan tenaga dalam. Sung Han melihat ini, dan dia sama sekali tidak mau mengelak atau menghindar. Bahkan melindungi wajah dengan tenaga dalamnya pun dia enggan. Takut kalau tenaganya itu dapat melukai tangan Sung Hwa.
"Rasakan...rasakan....rasakan.....kau sudah menghabisi mereka!! Sudah menghancurkan mereka! Kau memang pantas mati!!"
Sung Han terus bergeming ketika wajahnya terus-terusan dipukul seperti itu. Namun sama seperti sebelumnya, dia sama sekali tidak sudi untuk meramkan mata bahkan hanya satu detik. Matanya terus terbuka lebar bahkan berdarah.
Dia mampu melihat, juga merasakan, betapa dalam setiap pukulan Sung Hwa itu, walaupun sangat keras dan brutal, namun Sung Han tahu di dalamnya sama sekali tidak terkandung niat membunuh. Sejak saat inilah dia sudah menganggap pastilah Sung Hwa ini sedikit berbeda dengan anggota Hati Iblis lain. Entah mengapa dia merasa demikian, namun dia merasa tidak harus bermusuhan dengan gadis ini.
"Jika aku pantas mati, cepat gunakan pedangmu itu!!" dengan penyaluran tenaga dalam, Sung Han berkata hanya dengan sedikit gerakan mulut. Namun suaranya dapat terdengar jauh lebih jelas ketimbang dengan mulut terbuka sebagaimana mestinya.
Hujan pukulan itu berhenti tepat sebelum pukulan ke puluhan kalinya menghantam mata Sung Han. Pemuda ini memandang terbelalak ketika melihat ada suatu kejanggalan di kedua mata indah gadis itu.
Wajahnya sudah tak karuan bentuknya, namun mata kuning indah itu seperti tak terpengaruh dan mengeluarkan sinar-sinar menyorot tajam. Pemuda ini terkejut ketika ada beberapa butiran air mata jatuh membasahi pipi gadis itu.
"Kau tahu apa?!!!" gadis itu membentak, "Setelah aku melarikan diri dari Hati Iblis, semua yang kulihat dan kualami hanya kesengsaraan belaka!! Bahkan sejak kecil pun, kalau diingat aku tak punya pengalaman senang!"
Napas gadis itu memburu, dia melanjutkan dengan suara makin serak menahan isak, "Setelah aku pergi, aku ingin mencarimu untuk membantuku, namun kiranya engkaulah yang menghancurkan hidupku!!! Setelah itu aku kehilangan dua orang sahabat tersayangku, lalu menjadi buronan, dan terakhir....kehilangan....dia...."
Tiba-tiba dia teringat akan Kay Su Tek, seorang pria yang hampir saja bahkan mungkin telah merenggut cinta kasihnya. Betapa perjalanan bersama yang amat singkat itu membuat hati gadis ini tergerak. Namun kenyataan berkata lain.
"Dan semua itu salahku?"
"Semua itu salahmu!!"
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau tak membunuhku? Hidupku bukan berarti lebih baik darimu. Sejak Hati Iblis mengadu domba antara Rajawali Putih dan Naga Hitam, semua menjadi kacau. Dendam tak berujung yang membuat dua perkumpulan menjadi saling waspada, setelah semua selesai kiranya Hati Iblis masih mengganas di Perguruan Awan. Betapa aku disebut sebagai orang baik..."
"Kau bisa berbangga akan hal itu di depanku!!" Sung Hwa merasa mendongkol sekali atas perkataan Sung Han.
Pemuda itu hanya diam, menarik napas panjang beberapa kali. Dia sama sekali tak nampak senang, justru sebaliknya, dia nampak berduka. "Kau pikir aku senang disebut sebagai orang baik? Justru aku lega kau menyebutku orang jahat, karena aku merasa demikian."
Dia teringat akan saudara-saudaranya di Rajawali Putih dahulu. Tang Qian, paman Tang dan lain-lain lagi yang tewas terbunuh tepat di depan matanya ketika dia masih berumur belia. Teringat pula Yu Ceng dan Yu Ping, lalu teringat akan Bu Cai, akan tuduhan yang menganggapnya pemberontak, dan yang terakhir adalah nona Han.
Bahkan Kay Su Tek, sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda untuk memusuhinya.
"Kau benar...semua ini gara-gara aku. Aku bukanlah orang baik...aku sejahat-jahatnya orang. Setiap orang yang bertemu denganku, tak pernah berakhir baik..."
Gadis itu tercengang mendengar setiap perkataan dari Sung Han. Pukulan berikutnya yang sudah diangkat tinggi-tinggi siap untuk mendarat di wajah itu kembali tertahan. Ia memandang penuh perhatian.
"Apakah kau tahu leluhur dari keluarga Sung?"
"Aku tahu." kata Sung Han, "Entah siapa orang tuanya dan kakek neneknya, namun dahulu kala ada seorang petani yang sangat terampil juga hebat dalam ilmu bercocok tanam. Setiap tanaman yang ditanam dengan tangannya pasti tumbuh subur dan berhasil baik. Namanya Sung Lan."
"Kau benar, tapi akan kuberitahu kau satu hal lagi." Sung Hwa berkata dan Sung Han mengerutkan kening dengan bingung.
"Sung Lan punya seorang adik perempuan yang lari dari rumah sejak kecil. Kemudian beberapa tahun setelahnya, menjadi momok bagi orang-orang dunia persilatan. Karena dia ini tak lain adalah murid kesayangan ketua Hati Iblis pada masa itu. Namanya Sung Hwa."
Sung Han terbelalak, baru kali ini tahu jika dia termasuk keturunan orang jahat. Walau tak keturunan langsung. Akan tetapi ucapan Sung Hwa berikutnya benar-benar membuat dia hampir pingsan.
"Dan kebetulan orang yang sedang bicara denganmu ini, memiliki nama yang sama dengan leluhurnya. Namaku Sung Hwa. Bisa dibilang kita merupakan saudara sepupu yang sangat-sangat jauh...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG