
"Huh?"
Orang itu sedikit bingung saat melihat sepatu orang tepat berada di depan mangkok batok kelapanya tempat ia mengumpulkan uang dari penonton. Ketika hendak ia ambil dan lihat, orang itu datang tanpa sepatah kata.
Sekeliling sudah sepi, wajar saja hari sudah senja dan beranjak malam. Hawa yang dingin ini membuat orang-orang sudah mendekam di dalam rumah sungguhpun hari masih sore.
Refleks ia melongok dan memandang, kiranya hanya seorang pemuda sekitar tujuh delapan belas tahunan. Melihat ia diam tanpa kata namun penuh perhatian.
"Ada anak muda?" sapanya ramah, sudah terbiasa menghadapi orang-orang aneh macam pemuda itu. Yang datang hanya melihat, sebelum dalam sekedip sudah berlalu tanpa meninggalkan sepeser uang pun. Ia sudah bersiap untuk itu.
Pemuda ini berjongkok, memandang mangkok batok kelapanya. Kemudian ia merogoh-rogoh saku di balik jubahnya dan mengeluarkan dua koin perunggu–yang sejatinya satu koin dan entah bagaimana bisa terbelah. Semua tindakan ini dilihat oleh pria pemilik batok kelapa.
Wajah pemuda ini nampak malu saat memasukkan dua harta terakhirnya itu.
"Ah...aku tak punya uang...." gumamnya.
Pria ini memandang bingung, ia sedikit membenarkan letak topi sastrawannya saat bertanya heran, "Anak muda, ada apakah?"
"Aku butuh bantuanmu." katanya singkat sambil memandang perabotan dan alat musik di sekeliling pria sastrawan itu, "Tapi aku tak punya uang untuk membuatmu bicara."
"Ah, katakan saja apa bantuanmu. Jika aku mampu akan kutolong. Aku tak akan memberi harga untuk orang kesulitan seperti dirimu." ucap sastrawan itu seraya tersenyum ramah. Kemudian ia ambil batok kelapanya dan memasukkannya dalam kotak kecil berisi pundi-pundi uang.
Ia berkata lagi, "Jadi, bantuan apa?"
"Namaku Sung Han." pemuda itu menjawab, "Aku tak sengaja mendengar syair-syairmu tadi siang, sungguh penasaran hatiku. Soal isi syair itu, pedang gerhana maksudmu? Dan kitab Raja Dunia Silat?"
"Oh..." sastrawan itu membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk, "Kiranya hanya itu?"
"Ya, tidak lebih. Melihat penampilanku, kau pasti sudah paham." ucap Sung Han dan mendudukkan diri bersila di hadapan si sastrawan. Tak peduli jika ia duduk di tengah jalan dan mungkin sekali mengganggu orang lewat.
Sastrawan itu meneliti pakaian Sung Han dan matanya melebar begitu bertemu dengan pedang Sung Han. Ia geleng-geleng, "Pendekar......"
"Jadi, bisa kau bantu aku beri penjelasan?" pinta Sung Han.
Sastrawan itu tersenyum tipis dan mulai berpikir. Sung Han menanti. Lima menit, masih berpikir. Sung Han masih setia di sana. Tiga puluh menit berselang, agaknya si sastrawan belum juga mendapat jawaban, hati Sung Han mulai panas.
Bulan pun terbit.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Sung Han menuntut. Walaupun masih terdengar halus, tapi jelas dari nada ucapan itu cukup ketus. "Kelelawar sudah terjaga." katanya lagi yang menandakan hari memang sudah malam.
"Ah....aku hanya lupa, di mana aku dapatkan informasi itu." kata sastrawan itu tanpa beban. Malah ia mengeluarkan satu buntalan yang kemudian ia gelar di pinggiran tembok, mepet dengan bangunan mewah di belakangnya.
"Sepenting itu? Aku tanya akan syair-syairmu tadi siang, maksud dari syair itu, bukan tempat di mana engkau dapatkan informasi pembentuk syair itu!"
Sastrawan berpakaian rapih yang agaknya memang tidur di pinggir jalan itu menguap, "Tapi informasi itu juga penting, kau harus tahu di mana aku mendapatkannya."
__ADS_1
"Itu tidak penting!" tukas Sung Han mulai tak sabar, "Cepat katakan!"
Orang itu mengangguk-angguk, "Baiklah." kemudian ia mulai berkata, "Beberapa waktu lalu entah kapan aku lupa, aku dapatkan informasi ini. Bahwasannya tiga kitab pusaka Raja Dunia Silat dan Pedang Gerhana Bulan sudah ditemukan."
"Satu di antaranya milik Naga Hitam." hati Sung Han membatin.
"Entah benar, entah keliru, tapi orang-orang sibuk membicarakan hal ini. Yang paling kuat tentang kebenaran informasi ini adalah soal Pedang Gerhana Bulan. Katanya memang sudah terlihat, hanya saja tempatnya yang cukup merepotkan."
Sung Han makin tertarik, "Di mana?"
Sastrawan itu menunjuk dengan dagunya, ke arah utara. "Di Lembah Setan, katanya tepat pada kedalaman jurang itu, terhimpit di antara batu-batu."
Sung Han mengerutkan kening sebelum menggaruk-garuk kepalanya. Hal ini juga membingungkan si sastrawan, maka dia bertanya, "Kenapa?"
Sung Han menjawab, "Melihat dari namanya, tentu Lembah Setan memiliki jurang yang teramat dalam dan gelap, kenapa orang tahu ada pedang di sana?"
"Entah." jawab sastrawan cepat, "Aku yang orang awam pun tahu, apalagi dirimu pasti lebih tahu. Yang jelas, kata orang pedang gerhana itu memiliki kekuatan aneh di dalamnya, bilahnya saja seperti bersinar-sinar. Karena itulah mungkin sekali pedang itu mengeluarkan sinar pantulan matahari atau bulan dari kedalaman jurang itu, sehingga orang bisa tahu."
"Lantas kenapa seseorang yang melihat pedang itu dapat menyimpulkan bahwa yang dipandangnya memang Pedang Gerhana Bulan?"
"Itu hanya dugaanku, entah bagaimana kebenarannya aku pun tak tahu dan tak peduli. Kau pikir aku sanggup mengayunkan pedang? Lalu kenapa aku memusingkan hal itu?"
Sung Han makin bingung.
"Kau tak paham? Kalau begitu datangi saja Lembah Setan. Tempatnya ada di sebelah utara dari sini, setelah berjalan sekitar setengah hari, kau tanya-tanya kepada orang di desa sekitar untuk bisa menemukan letak pastinya." jelas sastrawan itu. Ia merebahkan diri, "Hanya itu yang kau perlukan? Aku mulai ngantuk."
Orang ini tersenyum dan menarik selimutnya, kemuian menutup mata. Makin heran hati Sung Han.
"Paman, kulihat di dalam kotakmu tadi, tak jarang ada uang emas. Bahkan pendapatanmu hari ini saja sudah banyak, mengapa tak cari penginapan?"
"Hemat." katanya singkat tanpa membuka mata.
Sung Han menghela nafas dan tak mau ambil pusing, ia pergi dari sana. Sebentar saja ia menoleh, dari kejauhan sudah terdengar suara dengkuran khas orang kelelahan. Pemuda ini hanya mampu menggeleng ringan.
Sepanjang perjalanan mencari tempat yang cocok untuk melewatkan malam, Sung Han tanpa sengaja dan disadari atau dikehendaki alias diluar kendalinya, ia berpikir keras.
Jika memang pedang itu tertancap di antara bebatuan dasar jurang, seharusnya hanya orang-orang setingkat Gu Ren saja yang dapat melihat sampai sejeli itu, sungguhpun pedang gerhana mengeluarkan sinar terang. Karena tentu saja, dapat dibayangkan betapa curam dan dalam jurang di Lembah Setan itu.
Sung Han belum pernah ke sana, tapi mendengar namanya saja ia sudah dapat membayangkan.
"Apakah sastrawan itu bohong?" tanyanya pada diri sendiri, "Atau dia yang sudah menerima berita bohong?" gumamnya sambil merenung.
"Ctak!"
Sung Han melirik, kiranya ia menginjak sebatang ranting kering di tengah jalan. Dengan seenaknya ia tendang ranting itu ke pinggir dan lanjut berjalan.
__ADS_1
Tapi beberapa saat kemudian, tempat di sekeliling Sung Han menjadi terang. Ia membalik dan melihat tiga orang berpakaian prajurit mendatanginya sembari membawa obor.
"Maaf tuan muda, tidak diperkenankan keluar rumah selarut ini." tegur salah satu dari mereka sopan dan halus, "Anda sepertinya juga orang luar, menginaplah di penginapan. Itu lebih nyaman dan aman tentunya."
"Aman?"
"Aman dari maling." jawab orang lainnya yang berbadan agak gemuk.
"Malinglah yang tidak aman saat bertemu denganku." batinya dengan ekspresi datar, tapi tentu saja ia tak katakan hal itu.
Sung Han melongok untuk melihat ke belakang tiga prajurit itu untuk melihat di mana sastrawan tadi tidur. Karena jalan ini masih lurus, sehingga dari jauh masih tampak bangunan tempat sastrawan tadi beristirahat.
"Hah....?" ekspresi wajah Sung Han berubah aneh.
Dapat dilihatnya beberapa petugas lain sedang membereskan tikar dan beberapa alat milik sastrawan itu. Tapi Sung Han tak melihat si sastrawan, kecapinya juga kotak uang. Diam-diam dia mengumpat.
"Orang aneh! Uang banyak kenapa tak dipakai!?"
Melihat Sung Han hanya diam, orang pertama tadi menegur, "Tuan, ini peraturan, mohon ditaati."
"Peraturan sejak kapan?"
"Sudah dari dulu tuan."
"Lalu, tolong jelaskan apa maksudnya itu?" katanya menunjuk dua orang yang berjalan mabuk sambil membawa wanita di ujung jalan. Lalu ia menunjuk ke lain arah untuk menemukan seorang gadis kecil bermain dengan kunang-kunang di halaman rumah, di sebelahnya ada seorang wanita paruh baya yang sedang memandang ke arah Sung Han.
"Ah, mereka warga sini...." kata orang ketiga yang daritadi hanya diam.
Namun Sung Han tahu maksud sebenarnya adalah, "Ah, mereka bangsawan..." tentu saja para prajurit itu tak berani bikin ribut. Entah benar begitu atau para petugas ini hanya iseng saja menjahili orang asing.
Dua orang lainnya menjadi kikuk dan bingung hendak menjawab apa.
"Kami hanya mengingatkan tuan, jika tuan memang sangat ingin menyelesaikan urusan pada malam hari ini, maka satu koin emas cukup bagi kami guna memberi ijin khusus."
"Hah!!!!"
Dua orang mabuk itu segera tersadar dari hasratnya dan menarik si wanita ke sebuah gang, entah ke mana. Dan wanita bersama putrinya itu jatuh di atas tilam rumput halaman sebelum dengan buru-buru masuk ke rumah.
Sedangkan tiga orang prajurit itu, sudah menjatuhkan obornya dengan muka pucat dan badan kaku.
"Peraturan? Hah, peraturan apa? Siapa yang buat? Kalian ini menegakkan hukum atau cuma mau cari uang?"
Suaranya bergema, beberapa orang di sekitar tempat itu tergugah dari mimpinya. Sedang tiga prajurit itu sudah lari pergi dengan sejuta permohonan maaf.
"Maaf mengganggu tuan muda!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG